----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45] 
<GELORA45@yahoogroups.com>Kepada: GELORA45@yahoogroups.com 
<GELORA45@yahoogroups.com>Terkirim: Jumat, 9 Februari 2018 19.08.42 GMT+1Judul: 
Re: [GELORA45] Entas Rakyat Miskin melalui Pemberdayaan Ekonomi
     

MengentaskanRakyat miskin sebenarnya gampang saja buat pemerintahanmana pun.. 
Tinggal genjot satu-dua perkampungan denganbantuan ini-itu maka diberitakanlah 
jumlah Rakyat miskin di negerinyaberkurang satu-dua kampung. Ada data statistik 
bahkankondisi faktual yang bisa membuktikan bahwa Rakyat miskinmemang 
terentaskan sebanyak itu, dua kampung. Ya, cuma 2kampung dari total ribuan 
kampung.
Begitulahyang selama ini dikerjakan pemerintahan di mana pun.Orientasinyahanya 
pengurangan jumlah orang miskin, dan bukan betul-betulmemberantas kemiskinan.
RRCbarangkali termasuk beruntung kalau betul bisa mengentaskan seluruh 
Rakyatmiskinnya, kendati kemiskinan tentu saja bukan hanya soaluang dan harta. 
Keberhasilan RRC itu pun tidak lepas dari adanyapemerintahan yang langgeng 
selama puluhan tahun. Itulahkelebihan dari sistem partai tunggal dibanding 
multi-partai. Partaitunggal otomatis menjadi penguasa tunggal jangka panjang, 
sekalipun penguasa tunggal belum tentu juga Merakyat ataudipastikan 
dengan sendirinya memberdayakan Rakyat. Desa Huaxi yang kita bahas 
tempohari itu misalnya, kemakmuran desanya kan tidak (atau belum?) 
membuat warganya berdikari, berdaulat. Sebab, kemewahan harta 
benda yang dinikmati warga ternyata bukan milik mereka pribadi 
melainkan milik bersama, milik desa. Karena itu harus ditanggalkan 
danditinggal di desa itu jika ia keluar / pindah ke desa lain.
Jadi, sayasetuju, pembangunan di Indonesia haruslah berdasarkan pada kondisidi 
Indonesia sendiri. Tidak perlu mencomot begitu saja sistempembangunan negara 
lain. Kalau kebetulan cocok bolehlah dicoba.Jangan sudah tidak cocok tapi tetap 
dipaksakan demi kepentingan pihak lainseperti yang sekarang berjalan dan mulai 
mengarah kepadaterbentuknyakemiskinan kultural.
--- SADAR@... wrote:
Masalah pokok yang dihadapi setiap negara sebetulnyayaaa sama saja, kekuasan 
Pemerintah itu ditangan siapa? Ditangan RAKYAT dalamarti sesungguhnya atau 
hanya mengatasnamai rakyat, ... Tiongkok bersandar padaPartai Komunis 
menegakkan Republik Rakyat TIongkok, dimana sampai sekarangTETAP mempertahankan 
prinsip Dikatatur Proletariat, kekuasaan tunggal PKT! 
Sekalipun dihujat sementara orang yang menuduh PKT sudah berubah menjadi Partai 
KAPITALIS Tiongkok, menghianati RAKYAT, ... tapi dalam kenyataan, masih 
menunjukkan kemampuannya membawa maju 1,4 milyar RAKYAT TIongkok hidup lebih 
sejahtera dan BEBAS dari kemiskinan. Selalu menekankan keberhasilan 
mengentaskan kemiskinan RAKYAT sepenuhnya tergantung dari komite Partai 
setempat. Lebih dahulu membenahi organisasi Partai didesa-desa 
terbelakang/miskin itu, ... mengirimkan kader, teknokrat dan dana untuk 
membangun desa terbelang/miskin menjadi desa maju dan makmur, ... Pengalaman 
dinegara lain, seperti Indonesia tentu harus bersandar pada kondisi di 
Indonesia sendiri, tidak bisa bersandar pada Partai Komunis yang sampai 
sekarang tetap saja dijadikan momok yg ditakut-takuti, semua orang yang bela 
RAKYAT jadi takut dituduh komunis! Sebelum pemerintah yang berkuasa sungguh2 
pemerintah RAKYAT, tentu tidak bisa dituntut seperti RRT, memusatkan kerjanya 
utk RAKYAT! Yaa, harus bangkitkan kesadaran masyarakat, termasuk kesadaran 
pengusaha berjiwa sosial, ... agar bersedia tanamkan modal utk mengentaskan 
kemiskinan RAKYAT disekitarnya saja? Atau ada gerak pengusaha berhasil 
kumpulkan dana, entah sekian % dari keuntungan setiap tahunnya dalam satu 
foundation, lalu menemukan organisasi sosial macam Lion Club untuk kerjakan 
usaha membantu RAKYAT miskin. Syukur pemerintah ikut memberikan rangsang dan 
kemudahan pengusaha utk buka usaha didaerah miskin, ...! Jadi BETUL-BETUL 
menggerakan sumber daya, SDM sebaik-baiknya dan bisa meningkatkan kesejahteraan 
dgn usaha yang berhasil, ... bukan hanya sedekah dengan memberi 10-20Kg beras 
saja!

From: ajeg
Mengentaskan Rakyat miskin ya Rakyatnyalah yang harus 
didekati, diberi motivasi, dibimbing, didampingi sampai 
betul-betul berdaya untuk keluar dari kemiskinan. Berdikari.
Kalau yang didekati pengusaha, tidak ada jaminan kerja itu 
betul-betul memberdayakan Rakyat. Biasanya hanya 
memberdayakan si kepala pemerintahan dengan memperdaya 
Rakyat.
Kalau pun pengusaha berinisiatif melakukan gerakan sosial,juga tidak ada 
jaminan bakal memberdikarikan Rakyat karenagerakan sosialnya terbatas pada satu 
atau dua program dan 
berjangka waktu pendek. Walhasil bantuan sosialnya jatuhnyahanya sekaliber 
sedekah.
Jadi, harus ada pengembalian pola pikir bahwa Rakyatlah 
pemilik tanah / negeri sesungguhnya. Rakyat bukanlah entitasyang terstruktur 
untuk berada di bawah sementera penguasa, 
pengusaha, dan konco adalah kaum yang di atas. Ini yang 
diperjuangkan orang sejak perang dunia pertama, lalu seenaknyadijungkirbalik 
oleh para "pemenang" perang dunia kedua.

Manusianyalah yang harus dibangun. Bukan desanya, kotanya, 
apalagi sekedar rel kereta.

--- djiekh@... wrote:
Kalau di beberapa kota kalau bupatinya mau melakukan pendekatan pada organisasi 
sosial dan pengusaha untuk membantu memajukan pedesaan melalui proyek2 kecil 
dulu, yang mereka sanggup lakukan,saya kira bisa berhasil.Kalau sudah 
berpengalan, ditawari kerjaan yang lebih besar. Jasa merekapaling sedikit 
dipasang nama dan bantuannya di kabupaten, dan di desayang proyeknya 
berhasil.Pengusaha biasanya suka mendekati bupati.Teman saya (dua tahun yang 
lalu meninggal) memimpin sendiri proyek dari Lion Club Malang, menyalurkan air 
minum dan air mandi darigunung dengan pipa plastik dan bak tandon air di Blitar 
Selatan. Wah,mereka omong enak saja, ngoko satu sama lain antara teman 
denganpak carik.Teman saya angkut dan stuur sendiri bawa pipa2 plastik, dengan 
sambungan dan fittingnya, lalu ajari penduduk desa bikin ulir dan nyambungpipa2 
plastik. Waktu saya diajak, pipa2 di kamar mandi masih ditutupi gabus.Minggu 
depan dia akan datang lagi, bawa dan pasang kran2nya bersama penduduk.Penduduk 
langsung dapat ajaran bikin ulir, nyambung pipa pakai packing,bikin konstruksi, 
bangun bak.Pendeta Kristen di situ minta teman, supaya disebut proyek itu 
bantuan gereja.Teman saya menolak, tidak bisa, ini proyek banuan Lion Club 
Malang, dan dibaknya sudah ditatah nama Lion Club sebagai penyumbangnya..
2018-02-08 3:32 GMT+01:00 ajeg :

Buat RRC segalanya lebih mudah karena program-program 
disusun dan digarap partai tunggal selama puluhan tahun. 
Partai lainnya tetap boleh hidup, sekedar untuk pembuktian 
menganut sistem multipartai 

Usul Anda agar pemerintah memberi rangsang kepada pengusahauntuk tanam modal di 
pedesaan (seperti di RRC?) menimbulkan 
banyak pertanyaan, dan pernyataan. Pernyataan teratas, pemerintah 
tidak bisa memberi rangsang kepada pengusaha karena yang terjadi 
selama ini justru sebaliknya.
--- SADAR@... wrote:

Betuuul, yang harus dipikirkan bagaimana memberdayakan warga miskin, ... bukan 
sekadar bansos, memberikan 10Kg beras/bulan saja! Pemerintah disamping harus 
berani memberikan DANA untuk mereka menjalankan usaha, juga harus bisa 
memberikan bimbingan keahlian untuk berusaha, teknologi pertanian, peternakan, 
perkebunan yang hendak dikerjakan mereka dan tentunya untuk mendorong warga 
bisa tergabung dalam kerja kolektif, membentuk koperasi-desa yang baik. Begitu 
yang dijalankan Tiongkok dalam mengentaskan desa-desa miskin menjadi desa-desa 
makmur, dan tentu sandaran-utama yang mengerjakan adalah organisasi partai 
komunis didesa itu! Komite PKT yang baik tentu akan BERHASIL membawa desa itu 
berhasil menjadi makmur, ...
Jalan lain, Pemerintah berikan rangsang bagi pengusaha-pengusaha berhasil untuk 
tanamkan modal didesa-terbelakang itu membuka usahanya, ... jadi dana, 
teknologi dan manajemen diserahkan pada pengusaha berhasil utk meningkatkan 
sejahtera warga desa itu. Agak lebih lambat, mungkin karena kalah militansi 
dengan kader PKT, tapi juga ada yang berhasil, .........

From: Sunny ambon

Apakah ada kemungkinan besar untuk memberi pekerjaan kepada 26 juta orang 
miskin. Pada umumnya orang miskin melakukan pekerjaan manual yang dewasa ini 
makin berkurang, karena diambil alih oleh adaptasi kemajuan teknologi di 
berbagai bidang. Memakai alat modern dan automatisasinya jauh lebih murah dari 
pada tenaga manusia.
http://mediaindonesia.com/ index..php/news/read/144205/ 
entas-rakyat-miskin-melalui- pemberdayaan-ekonomi/2018-02- 07
Entas Rakyat Miskin melalui Pemberdayaan Ekonomi
Rabu, 7 February 2018 09:30 WIB Penulis:TENAGA pendamping sosial dalam program 
pengentasan rakyat miskin idealnya bukan sekadar bertugas mengantarkan bantuan. 
Mereka harus dibekali motivasi untuk memberdayakan masyarakat miskin, minimal 
harus bisa meluruskan pandangan masyarakat bahwa bantuan sosial (bansos) tidak 
cukup untuk meningkatkan taraf hidup.“Pendamping bukan hanya bertugas 
mengantarkan beras 10 kilogram setiap bulan. Lebih dari itu, mesti meluruskan 
pikiran masyarakat agar bisa naik kelas, tidak lagi jadi fakir miskin,” kata 
Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham pada Bimbingan Pemantapan Pendamping 
Sosial di Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin.Acara tersebut merupakan 
pembekalan bagi tenaga penyalur bantuan pangan nontunai (BPNT) dan bantuan 
sosial beras sejahtera (rastra). Ia mengungkapkan jumlah rakyat miskin di 
Indonesia saat ini sebanyak 26 juta jiwa. Angka itu tidak bisa ditekan lewat 
berbagai bantuan, tetapi harus melalui pemberdayaan ekonomi yang modelnya 
tengah dirumuskan pemerintah.“Tenaga pendamping juga bukan sekadar menelusuri 
keluarga yang mendapatkan bantuan, melainkan juga di sekitarnya, yang mungkin 
belum tersentuh bantuan,” kata Idrus.Mensos juga menegaskan Februari merupakan 
bulan pencanangan penuntasan bansos kepada masyarakat penerima manfaat. Oleh 
karena itu, ia akan turun ke daerah dan mengajak anggota komisi VIII DPR guna 
memastikan seluruh bansos yang diberikan kepada masyarakat tuntas bulan 
ini.Khusus terkait dengan rastra, pada Februari ini sudah 80% hingga 100% 
disalurkan bertahap. “Kita pastikan nanti berjalan dengan baik sampai kepada 
rakyat dan di sinilah urgensi kehadiran pada pendamping, tidak hanya memastikan 
bansos sampai. Tapi paling penting pemanfaatannya di tengah masyarakat dan 
tugas lain diberikan menelusuri kemungkinan ada yang tidak mendapatkan,” 
ujarnya.Bimbingan tenaga pendamping diikuti 589 peserta dari empat provinsi, 
yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. 
Para peserta diberi materi seputar fungsi dan tugas pendampingan sosial, dalam 
penyaluran bansos.“Kita ingin mempersiapkan tenaga berkompetensi dan 
berpengetahuan dalam penanganan bantuan BPNT dan rastra,” kata Dirjen 
Penanganan Masyarakat Miskin Kemensos Andi ZA Dulung. (RO/Ant/H-2)
    

Kirim email ke