http://nasional.kompas.com/read/2017/10/17/10321011/pribumi-dan-politik-populisme



[image: Aji Chen Bromokusumo]

Aji Chen Bromokusumo <http://kolom.kompas.com/837/Aji.Chen.Bromokusumo>

Budayawan

Head of Cultural Research & Study, Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia

http://aspertina.org
Pribumi dan Politik Populisme

Aji Chen Bromokusumo
<http://indeks.kompas.com/profile/837/Aji.Chen.Bromokusumo>

Kompas.com - 17/10/2017, 10:32 WIB

[image: Rute ekspansi pengaruh Hindu dari subkontinental India ke
Nusantara. Tidak ada satupun etnis di Nusantara yang memiliki galur
genetika murni single ethnic. Secara umum, genetika orang Indonesia
kira-kira adalah 74% Asia Tenggara dan Oseania, 9% Asia Selatan, 5% Asia
Timur, 6% Arab dan 6?rika.]

Rute ekspansi pengaruh Hindu dari subkontinental India ke Nusantara. Tidak
ada satupun etnis di Nusantara yang memiliki galur genetika murni single
ethnic. Secara umum, genetika orang Indonesia kira-kira adalah 74% Asia
Tenggara dan Oseania, 9% Asia Selatan, 5% Asia Timur, 6% Arab dan 6?rika.
(Wikipedi

*PRIBUMI <http://indeks.kompas.com/tag/pribumi>* dan non- pribumi
<http://indeks.kompas.com/tag/pribumi>. Sudah cukup lama rasanya
terminologi ini absen dari khasanah tulis menulis, media, pidato, artikel
ataupun perpolitikan nasional. Benar masih ada tapi hanyalah sepoi angin
lewat saja.

Apalagi didukung oleh Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tegas-tegas
berjudul: “Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi
<http://indeks.kompas.com/tag/pribumi> dan Non Pribumi dalam Semua
Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, Ataupun
Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggara Pemerintah.”

Sumber resmi dari kepustakaan Kepresidenan Republik Indonesia.
<http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/government_regulation/?box=detail&id=393&from_box=list_245&hlm=1&search_tag=&search_keyword=&activation_status=&presiden_id=4&presiden=habibie>

Hari kemarin, Senin tanggal 16 Oktober 2017 dalam forum resmi nasional,
pidato pertama Anies Baswedan <http://indeks.kompas.com/tag/Anies-Baswedan>
sebagai Gubernur DKI Jakarta, beberapa kali menegaskan dan menekankan
kepribumian ini.

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan (dijajah). Kini telah
merdeka, saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Anies,
dalam pidato politiknya di Halaman Balai Kota DKI Jakarta, Senin
(16/10/2017) malam.



*Baca juga: Anies: Janji Kemerdekaan Harus Lunas untuk Warga Jakarta
<http://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/17/06032661/anies-janji-kemerdekaan-harus-lunas-untuk-warga-jakarta>*Sontak
netizen bereaksi beramai-ramai di seluruh linimasa media sosial. Istilah
yang sempat populis ini kembali diperbincangkan.

Populisme dalam politik bukanlah barang baru. Para ahli ilmu sosial politik
sendiri mengalami kesulitan mendefinisikan mahluk ajaib bernama populisme
ini.

Mengutip dan menyarikan beberapa literatur tentang populisme, Isaiah Berlin
mengatakan, “Memang ada sebuah sepatu berbentuk populisme, namun tak ada
satupun kaki yang cocok mengenakannya.”

Paul Taggart mengumpamakan bahwa populisme seperti bunglon yang bisa
berubah-ubah warna kulitnya menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di mana
dia berada.

Margaret Canovan (1981) mendefinisikan dan membagi populisme dalam tiga
bentuk. Ketiga bentuk populisme dan ditambah populisme keempat khusus versi
Indonesia, dikemas dengan apik dalam pidato tersebut.

*Pertama*, populisme *wong cilik*. Ini seakan-akan berorientasi kepada para
rakyat kecil untuk mencapai tujuan politiknya. Seakan berpihak kepada *wong
cilik*, pengusaha kecil, mengondisikan prasangka terhadap pengusaha dan
pemerintah adalah jenis ini.

Ciri khas jenis ini adalah memuja “kejayaan masa lalu” dan meratapi masa
kini. Segala jenis kebijakan pemerintah dicerca dengan berbagai mantera
ajaib “neolib”, “kapitalisme”, “kesenjangan sosial” dan lagi-lagi benturan
yang digaungkan “pribumi – non pribumi”.

*Kedua,* populisme otoriter yang berharap lahirnya pemimpin kharismatik.
Pemimpin yang seakan akan memimpin di garis depan “peperangan” melawan
kapitalisme, asing-aseng, pengusaha besar.

Kemasan populisme ini akan melahirkan pemimpin yang seakan-akan terpilih
secara demokratis tapi bukan berdasarkan rasionalitas politik, melainkan
karena isu-isu sensitif lainnya. Dalam hal ini isu agama, sentimen etnis,
asing-aseng, hantu palu arit kebangkitan PKI dsb.

*Ketiga,* populisme revolusioner yang mengemas ide-ide kolektif
ketidakadilan sosial, ketimpangan sosial, kelesuan ekonomi, nasionalisme
semu, dominasi elite politik, pemerintah otoriter.

Oleh karenanya pengusung populisme jenis ini menyerukan semua ketimpangan
dan ketidakadilan itu harus diruntuhkan oleh sosok pemimpin revolusioner
yang (dianggap) mewakili kepentingan rakyat.

Yang mungkin terlewat oleh para pakar ilmu sosial politik kelas dunia itu
adalah ada yang *keempat,* (yang mungkin) khusus di Indonesia yaitu
populisme primordial. Definisi primordialisme adalah: sebuah pandangan atau
paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai
tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di
dalam lingkungan pertamanya. Sumber Wikipedia
<https://id.wikipedia.org/wiki/Primordialisme>.

Dalam hal ini yang terkuat adalah primordialisme agama. Kita semua mafhum
apa yang terjadi beberapa tahun belakangan semenjak Pilpres 2014 sampai
sekarang yang baru lewat Pilgub 2017.

Sebaran grup etnik di Indonesia (Reddit.com)

Kembali lagi ke istilah pribumi (non-pribumi otomatis menyertai walaupun
tak terucap), definisinya menurut Wikipedia adalah: Pribumi atau penduduk
asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara,
dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (*indigenious*)
sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari
negeri lainnya.

*Baca juga: Faktanya, Semua Orang Indonesia "Imigran", Tidak Ada yang
Pribumi
<http://sains.kompas.com/read/2017/10/17/070700023/faktanya-semua-orang-indonesia-imigran-tidak-ada-yang-pribumi>*

Pribumi bersifat *autochton* (melekat pada suatu tempat). Secara lebih
khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan
orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut. Lihat di Wikipedia
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi>.

Mengutip lebih jauh dari Wikipedia, istilah "pribumi" sendiri muncul di era
kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari *inlander* (bahasa
Belanda untuk "pribumi").

Istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial Belanda
tahun 1854 oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk menyamakan beragam
kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan
diskriminasi sosial.

Selama masa kolonial, Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan)
rasial tiga tingkat: ras kelas pertama adalah "Europeanen" ("Eropa" kulit
putih); ras kelas kedua adalah "Vreemde Oosterlingen" ("Timur Asing") yang
meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas
ketiga adalah "inlander", yang kemudian diterjemahkan menjadi "pribumi".

Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah
apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras ("wet van wijkenstelsel") dan
interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum "passenstelsel".

Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah
Indonesiërs <https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara> ("Orang
Indonesia").

“Tidak ada gen murni Indonesia,” kata Prof Dr. Herawati Supolo-Sudoyo M.S.
Ph.D, ahli genetika dari Lembaga Eijkman, dalam seminar Kebinekaan, Warisan
Budaya Nusantara, yang diadakan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda
Jabodetabek, di Jakarta, Selasa (16/5).

Peta migrasi etnik dunia (rstb.royalsocietypublishing.org)

“Kita merupakan pencampuran genetika dan semua berasal dari Afrika,”
katanya. Profesor Herawati menyampaikan bahwa dengan kedatangan berbagai
ras manusia dan pencampuran genetika, yang dibuktikan oleh berbagai
penelitian lintas ilmu, dari ilmu arkeologi, sejarah, antropologi,
etnografi, menunjukkan bahwa sebetulnya tak ada gen murni Indonesia.

Di luar banyak etnis Indonesia yang jumlahnya sudah ratusan sendiri, para
pendatang dari luar terbesar terdiri dari tiga etnis: India, Tionghoa dan
Arab; yang datang secara bergelombang dari berbagai kurun waktu ke berbagai
tempat di seluruh penjuru Nusantara.

Secara umum, genetika orang Indonesia kira-kira adalah 74 persen Asia
Tenggara dan Oseania, 9 persen Asia Selatan, 5 persen Asia Timur, 6 persen
Arab, dan 6 persen Afrika.

Jadi, tidak ada satupun etnis di Nusantara yang memiliki galur genetika
murni *single ethnic*.

Kirim email ke