http://www.suara-islam.com/read/kabar/laporan-khusus/25018/Cerita-Safari-Dakwah-DDII-ke-Mentawai-Sampai-Ada-Masjid-Menjadi-Kandang-Babi


*Cerita Safari Dakwah DDII ke Mentawai: Sampai Ada Masjid Menjadi Kandang
Babi*

08 Februari 21:40 | Dilihat : 643

[image: Cerita Safari Dakwah DDII ke Mentawai: Sampai Ada Masjid Menjadi
Kandang Babi] Tim DDII di Mentawai

*Mentawai (SI Online)* - Ahad (4/2) siang terik, Tim Safari Dakwah Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menginjakkan kaki di Desa Berkat Ilahi.
Bukan, gentar bukan lantaran desa ini mayoritas penduduknya non-Muslim,
melainkan kisah yang meremas hati tentangnya.

Pada 1954, desa di seberang Ibukota Kecamatan Sikakap, Kab Kepulauan
Mentawai, Sumatera Barat, ini diresmikan oleh Wakil Presiden Mohamad Hatta.
Wapres Hatta menamakannya sebagai Desa Berkat Ilahi, lantaran saat itu
penduduknya 100% Muslim.

Namun, sepuluh tahun kemudian, seluruh warga Desa Berkat berbalik aqidah.
Satu-satunya masjid di desa itu roboh tak terpakai dan akhirnya jadi (maaf)
kandang babi. Tragedi tersebut karena tiadanya da’i yang ditempatkan di
sana. Umat mualaf akhirnya ‘’diopeni’’ pihak lain.

Siswono Yudohusodo, sewaktu menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman
Perambah Hutan, pernah mengingatkan agar Mentawai tidak dilalaikan. “Kita
sangat berdosa jika membiarkan masyarakat Mentawai hidup tertinggal sangat
jauh dari saudara-saudaranya yang ada di Sumatera Barat sendiri maupun di
daerah lain di Indonesia,” tutur Siswono saat memberi pengarahan pada
Seminar Nasional ‘‘Pulau-Pulau Kecil, Terpencil, dan Strategis di
Bukittinggi’’ pada Maret 1997.

Pada 2013, melalui Gerakan Muslim Minang (GMM) donatur dari Kajang,
Malaysia, membangun Mushola Berkah Ilahi di sana. Ini menandai aktifnya
gerakan dakwah. Alhamdulillah, saat ini sudah ada tujuh keluarga muslim
dari total 97 KK penduduk Berkat Ilahi. Mereka dibina Ustadz Sulaiman, da’i
asal Pulau Siberut, Mentawai, yang ditugaskan GMM.

Secara historis, menurut mantan Ketua Dewan Dakwah Sumbar, Buya Mas’ud
Abidin, Islam lebih dulu masuk ke Mentawai. Agama Islam dibawa suku-suku
tetangga Mentawai, terutama Enggano, Bengkulu, Aceh dan Minangkabau.

Orang Mentawai telah berasimilasi dengan pendatang-pendatang Muslim dari
Melayu, Aceh, Bugis terutama di Pasapuat (Pagai Utara) sejak 1879. Juga di
Labuhan Bajau (Siberut Utara) yang sudah sejak dulu didiami orang Bugis dan
Aceh.

Sedangkan Misionaris Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah
Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. Dan Pastor Katolik
baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio
Cannizzaro.
Buya Mas’ud dalam bukunya ‘’Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai – 30 Tahun
Perjalanan Dakwah Ilallah 1967-1997’’ menuturkan, Program Dakwah Khusus
Mentawai dicanangkan Mohammad Natsir pada 1968.

Pada 1970, Dewan Dakwah mulai mengirimkan para da’i ke Mentawai.
Diantaranya Abdul Hadi, Aruni, Usmar Marlen, dan Najib Adnan serta Buya
Batubara dari Sumatera. Juga sejumlah da’i asal Pulau Jawa.

Sejak 1973, Dewan Dakwah mendidik kader kader da’i dari putra daerah
Mentawai. Misalnya Zulkifli, yang bertugas di Sipora. Mereka dikirim ke
Pesantren Darul Fallahxe “Darul Fallah”, Ciampea, Bogor, untuk menjalani
pendidikan kepesantrenan dan pertanian, sebelum kembali ke daerah asalnya
untuk bertugas.

Mulai 2011, da’i Dewan Dakwah yang ditugaskan ke Mentawai adalah sarjana
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Diantaranya: Mahmud
(Siberut), Heri Sitorus (Sikakap), Surachman (Makalo), Yasir dan
dilanjutkan oleh Nurul Mihardja (Tubeket), serta Agus Nadi (Sikakap).

Begitupun, kerja para da’i Dewan Dakwah dan lembaga lainnya, masih belum
meng-cover kebutuhan Mentawai. Masih banyak dusun bahkan desa muslim yang
belum mendapat jatah da’i. “Di Sikakap ini saja ada 13 dusun, belum
semuanya ada da’i,” ungkap Agus Nadi yang bersama istrinya membina 43 anak
muallaf Mentawai di Asrama Dewan Dakwah Sikakap.

Ketua Umum Dewan dakwah, M Siddik, menyeru kaum muslimin untuk terus
mendukung Program Dakwah Pedalaman, sejak pendidikan kader da’i,
penempatan, hingga pengembangan jamaah binaan.
Kunjungan Laznas Dewan Dakwah Pusat

Kedatangan rombongan yang terdiri dari LAZNAS Dewan Dakwah Pusat, Sumatera
Barat, dan perwakilan LAZ Bank Syariah Mandiri (BSM), disambut gembira
semua warga muslim. Mereka menjemput di dermaga perahu, dan mengiringi
langkah kaki Tim sejauh lebih kurang 2 km menuju ke mushola.

‘’Menjadi umat minoritas, di sisi lain patut disyukuri. Biasanya kita
menjadi lebih bersemangat dalam beribadah dan bersatu dengan saudara
seiman,’’ pesan Nurbowo dari LAZNAS Dewan Dakwah saat menyampaikan sambutan
di hadapan jamaah Mushola Berkah Ilahi.

Tim kemudian membagikan cindera hati berupa paket sembako, mukena, dan kain
sarung persembahan LAZ BSM. Jamaah pria juga menerima bingkisan berupa baju
batik Pekalongan bawaan Mudatsir dari Komunitas Petani Bawang Merah
Nusantara.

Ustadz Sulaiman terharu sangat siang itu. ‘’Terima kasih, tolong
sering-seringlah kami dikunjungi,’’ katanya dalam bahasa sederhana.

Kirim email ke