http://www.sinarharapan.co/news/read/1802068885/kelesuan-ekonomi-bisa-berlanjut


KELESUAN EKONOMI BISA BERLANJUT

*TINGKAT KONSUMSI RUMAHTANGGA MENURUN TAHUN LALU. BEBERAPA PERITEL ASING
TUTUP TOKO*

06 Februari 2018 07:42 BC <http://www.sinarharapan.co/news/author/BC>
Editorial <http://www.sinarharapan.co/news/tajuk/editorial> dibaca: 1103


inShar



istimewJAKARTA--Paparan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai penurunan
tingkat konsumsi rumah tangga nasional selama tahun lalu hanya
mengkonfirmasi perkiraan yang sudah dikemukakan para pengamat dan pelaku
usaha. Kecenderungan itu bisa terus berlanjut tahun ini bila tidak ada
langkah-langkah antisipatif yang memadai.

BPS Senin (5/2) mempublikasikan penelitiannya mengenai pelambatan tingkat
konsumsi rumah tangga secara nasional tahun lalu dibandingkan tahun
sebelumnya. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pelambatan tersebut terjadi
di kuartal IV-2017 yang berada di level 4,97% dibanding dengan kuartal
IV-2016 yang sebesar 4,99%.

"Kalau dibanding triwulan III-2017 lebih tinggi, tapi dibanding triwulan
IV-2016 4,99% memang sedikit terlambat di sana. Semuanya tumbuh tapi ada
yang tumbuh tinggi dan ada yang tumbuh lambat," katanya.

Hampir semua sektor mengalami pelambatan. Sektor makanan dan minuman,
kemudian komponen pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya, komponen
perumahan dan perlengkapan rumah tangga, demikian pula transportasi dan
komunikasi. Sektor yang tumbuh lebih baik adalah restoran dan hotel,
 tumbuh 5,53% atau lebih bagus dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 5,40%,
demikian pula jasa kesehatan dan pendidikan.

Konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang paling tinggi dalam struktur
pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 56,13%, disusul investasi dan ekspor.
Indikasi penurunan tingkat konsumsi rumah tangga tahun lalu sudah lama
disuarakan oleh pengamat dan dunia usaha. Masyarakat juga melihat
indikasinya pada penutupan beberapa toko ritel, baik yang kelas menengah
maupun kelas atas.

Awal tahun ini penutupan sejumlah toko ritel terus berlanjut. Pekan ini
manajemen PT Anglo Distrindo Antara memastikan akan merumahkan seluruh
karyawan setelah penutupan seluruh gerai Clarks Indonesia berlangsung mulai
28 Februari nanti. “Kami akan menutup seluruh gerai. Imbasnya, seluruh
karyawan akan dirumahkan. Kami memastikan menyelesaikan seluruh kewajiban
kepada seluruh karyawan dan pelayan toko,” kata Rubby Destrison, Perwakilan
Manajemen Anglo Distrindo Antara, seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Clarks Indonesia menutup seluruh operasionalnya di Indonesia setelah
penjualan sepatu anjlok hingga 50 persen. Beberapa toko ritel yang juga
dikabarkan akan tutup antaralain adalah pemegang merk asal  Amerika, Banana
Republic, yang memiliki gerai di Pondoh Indah Mall 2, Jakarta Selatan.
Ritel  Dorothy Perkins yang menjual pakaian anak-anak asal Inggris juga
menutup tokonya di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

PT Gilang Agung Persada selaku distributor dan pemegang merek produk
pakaian asal Amerika Serikat, GAP dan Banana Republic di Indonesia
dikabarkan akan menutup seluruh gerai kedua merek tersebut pada akhir bulan
ini.  Dua gerai GAP yang tersisa, yaitu di Tunjungan Plaza, Surabaya dan
Grand Indonesia, Jakarta, juga ditutup.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa para peritel belum mau mengambil resiko
untuk melanjutkan usaha mereka karena terus merugi. Setidaknya mereka belum
melihat “Tahun Politik” ini memberikan rangsangan positif untuk bertahan.
Tahun ini dan tahun depan tampaknya belum memberikan harapan lebih cerah
bagi investor sehingga mereka memutuskan tindakan yang cukup drastis.

Kita mengkhawatirkan kecenderungan ini akan menimbulkan akibat yang makin
negative. Hal tersebut semesatinya dicermati dengan seksama oleh pemerintah
dan pelaku usaha. Dunia usaha dan pengamat sejak tahun lalu melihat
indikasi ketidaksinkronan antara indikator makro dan kondisi mikro.
Indikator makro yang membaik nyatanya tidak dirasakan para pengusaha
retail. Salah satu sebabnya adalah penurunan daya beli masyarakat sehingga
kurang mendorong pertumbuhan sektor riil.

Masalah ini harus disikapi dengan tepat dan bijaksana oleh pemerintah.
Maksudnya, bila kelesuan belanja rumahtangga disebabkan karena penurunan
daya beli masyarakat hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Kiranya
telah terjadi kesenjangan (*gap*) antara berbagai indikator makro yang
bagus dengan kondisi mikro yang menunjukkan sebaliknya.

Bila asumsi ini benar, maka timbul pertanyaan sejauhmana tingkat
keberhasilan kebijakan pemerintah dalam menggerakkan perekonomian nasional
dan imbasnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. Jangan sampai
kondisi perekonomian hanya bagus dalam angka, namun tidak demikian halnya
dalam realita di lapangan.

Kita mengkkawatirkan bila tidak ada langkah-langkah yang tepat maka kondisi
ini akan semakin menurun. Tentu saja hal tersebut bukan kredit yang bagus
bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi Pilpres tahun depan..
  • [GELORA45] KELESUAN EKONOMI B... Sunny ambon ilmeseng...@gmail.com [GELORA45]

Kirim email ke