https://www.kompasiana.com/salju/pajak-gereja-di-jerman-penilaian-iman-dengan-materi_552b850c6ea
834777d8b45a4
Pajak Gereja Di Jerman: Penilaian Iman Dengan Materi
17 Maret 2015   14:22 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:32  236  9 0
[image: Pajak Gereja Di Jerman: Penilaian Iman Dengan Materi]
<https://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/14265247231685290297.jpg?t=o&v=760>
14265247231685290297

Hmm....udara masih bagus & cukup terang, daripada langsung pulang ke rumah
& harus masak, lebih baik mampir dulu ke supermarket untuk isi perut yang
sudah keroncongan dari tadi, pikir saya di kereta yang mulai memasuki
Berlin. (Biarin aja suami nunggu di rumah lebih lama, toh  masih ada stok
camilan ini).
Saya baru kembali dari nengok kolega yang belum lama melahirkan bayi
pertamanya. Sebelumnya saya pikir, di rumahnya akan disediakan banyak
makanan (seperti ultahnya dulu), makanya sebelum berangkat perut dibiarkan
kosong. Nggak taunya.....hanya ada sepotong kue, yang banyak hanya minum
kopinya aja selama 4 jam ngobrol ngalor-ngidul. Dia yang diet (badannya
yang sudah gemuk, lebih melar lagi setelah melahirkan), saya yang sengsara
wwwkkkk.....
Rencana nikahnya juga jadi nggak jelas, karena katanya nunggu langsing dulu
untuk enak dilihat kalau pakai baju pengantin.(Kapan ya ....wong selama
saya mengenalnya, badannya selalu 'lebih' he...he...). Waktu saya tanya
apakah dia nanti mau nikah di gereja, jawabnya "ich bin doch nicht blöd
(emangnya gue goblok)!". Wwwkkk....

Gereja yang dianggap sebagai tempat ibadah & sekaligus rumah Tuhan, memang
sudah lama ditinggalkan para pengikutnya di sini. Sepertinya sudah tidak
ada yang 'menarik' lagi di dalamnya, kecuali dari segi sejarah &
arsitekturnya.
Dari orang-orang terdekat (keluarga suami, teman & kolega) yang pernah saya
tanya, apa alasan mereka keluar dari agama (gereja), jawabannya sama semua,
selain nggak percaya agama, juga untuk menghindari bayar pajak gereja
(Kirchensteuer). (Pajak gereja adalah pajak yang ditarik dari anggota
komunitas agamanya, dalam hal ini katholik & protestan, untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran komunitasnya).
Siapa sih yang mau, kalau setiap bulannya gaji berkurang untuk pajak yang
nggak jelas? Belum lagi pajak-pajak lainnya yang harus dibayar para pekerja..



Foto:KNA (hmmm... berkurang lagi nih jatah).

Pajak Gereja (Kirchensteuer) yang sampai saat ini masih terus diperdebatkan
kelangsungannya, baik di kalangan orang politik maupun masyarakat biasa,
tidak lahir begitu saja. Tetapi ada peristiwa sejarah yang
melatar-belakanginya. Pajak ini merupakan kelanjutan dari
"Reichsdeputationshauptschluss" (Keputusan terakhir sidang kekaisaran
Jerman) di Regensburg  25 Februari 1803. Di dalamnya ditetapkan rencana
ganti-rugi yang disepakati antara Perancis & Rusia (1802) sesuai perjanjian
damai Luneville (1801).
Karena menurut perjanjian damai itu para bangsawan/raja-raja di Jerman
harus menyerahkan semua daerah di kiri Rhein ke Perancis, yang
dikompensasikan juga dengan aset-aset gerejanya. Makanya gereja ikut juga
disita (Säkularation). Dengan itu gereja tidak hanya kehilangan
harta-bendanya, tetapi juga basis 'jatah basahnya' yang berupa pemasukan
dari jemaatnnya. Karena kerugian ini, akhirnya gereja meminta kembali
haknya kepada para bangsawan tersebut. Mereka diwajibkan untuk setoran
tahunan, agar gereja bisa meneruskan kembali kegiatan pastoralnya.
Pelunasan hutang sejarah ini akhirnya menemukan jalan masuknya ke dalam
konstitusi kekaisaran Republik Weimar & UU Rep.Jerman. Dan tahun 1953 pajak
gereja ini dikelola langsung oleh kantor pajak.

'Hutang warisan' yang masih harus terus dibayar para umatnya (yang masih
setia & menyatakan keimanannya di atas secarik kertas), besarnya 8%-9% dari
pajak penghasilan anggotanya yang dipotong secara otomatis oleh kantor
pajak. Dan setiap tahun terkumpul kira-kira 9-10 milyar €. Uang itu tidak
langsung semuanya disalurkan untuk gereja (gereja katholik maupun
protestan), tetapi mengendap dulu di kantor pajak. Pemerintah dapat jatah
3% dari jumlah tersebut (enak kaleee....), karena sudah ngurusin
administrasinya. Baru setelah itu disalurkan ke gereja-gereja yang
membutuhkan. Kata seorang aktivis gereja, Lutz Andelewski, pajak itu
salah-satu tujuannya untuk bayar gaji pendeta/pastur. Alasan yang
mengada-ada. Kita semua tau kok, kalau hanya untuk gaji mereka sendiri,
pemerintah sudah mengambilnya dari pajak kita yang lain. (Pajak dari semua
orang yang menetap & bekerja di sini, baik beragama maupun tidak).

Walaupun hubungan bisnis antara gereja & pemerintah terasa aneh, tetapi
masih cukup banyak orang yang masih mau memenuhi kewajibannya, entah secara
suka-rela (?) atau terpaksa (takut tekanan dari agamanya). Orang-orang
(pemerintah & gereja) yang terlibat di dalam hubungan bisnis yang saling
menguntungkan ini (simbiosis mutualisme), jelas aja ogah untuk menghapuskan
pajak gereja, walaupun sudah banyak suara yang protes. (Nggak baik,
ngilangin 'rejeki' yang masuk, begitu pikirnya wwwkkkk.....).

Saya jadi ingat 15 tahun lalu ketika kita mendaftarkan pernikahan kita di
Indonesia ke Standesamt (catatan sipil) Berlin. Waktu itu suami ditanya
pegawainya, apakah mau merayakannya kembali di gereja? Jawabnya cukup
singkat, "saya tidak percaya agama & sudah lama keluar dari gereja". Waktu
itu saya pikir, (mungkin) suami melakukannya untuk menghormati keyakinan
saya, ternyata ada alasan lain di baliknya. Ada udang di balik  rempeyek
wwwkkk...

Di sini sekali kita mencantumkan keyakinan kita (katholik atau kristen),
entah keluarga sendiri yang melakukannya atau sebab pernikahan di gereja,
maka kita dianggap bagian dari mereka & diwajibkan untuk bayar pajak
gereja, jika kita sudah cukup umur untuk itu & berpenghasilan. Jika kita
sudah lama ikut ke dalam sistem tersebut & kita mau keluar, kita harus
datang ke Standesamt (catatan sipil)  untuk menandatangani formulir
hengkangnya kita dari gereja. Pihak gereja tidak langsung otomatis
mengucilkan kita, tetapi meminta kita untuk memikir ulang keputusan itu.
Mereka melakukan ini, bukan karena cinta tulusnya, tapi takut kehilangan
'sumber mata airnya'. Kalau kita tetap bersikeras untuk keluar,
konsekuensinya kita akan dibuang dari lingkungan mereka (gereja katholik).
Dianggap kita nggak ada lagi. Mau jadi wali baptis, pernikahan atau
kematian sudah nggak dilirik lagi. (Sudah untung kalau nggak ada proses,
sebab dituduh menghujat agama wwwkkk....).

Tujuan agama yang awalnya untuk mendekatkan umat dengan Penciptanya,
semakin lama semakin abstrak & keluar dari relnya. Di dalam sistem yang
seperti ini, yang lebih ditonjolkan & dipentingkan justru sifat
keduniawiannya (uang) daripada keimanan seseorang. Secara tidak langsung,
mereka menerapkan sistem baku seperti dulu, siapa yang bisa (mau) bayar,
dialah bagian dari kita. Mereka lupa atau menutup mata, bahwasannya
keimanan seseorang tidak bisa diukur atau dibeli dengan harta duniawi,
begitu juga sebaliknya. Dan orang yang keluar dari agama, belum tentu dia
tidak beriman.
Itulah susahnya, jika agama sudah banyak dicampuri tangan manusia, yang
mengakui dirinya lebih tahu dari Sang Pencipta.

Berbahagialah pemeluk agama di tanah air, yang belum dikenakan pajak agama.
(Mudah-mudahan nggak pernah ada).


2018-02-10 5:41 GMT+01:00 Chalik Hamid chalik.ha...@yahoo.co.id [GELORA45] <
GELORA45@yahoogroups.com>:

>
>
>
>
> ----- Pesan yang Diteruskan -----
> *Dari:* Marco 45665 comoprim...@gmail.com [sastra-pembebasan] <
> sastra-pembeba...@yahoogroups.com>
> *Kepada:* Chalik Hamid <nasional-l...@yahoogroups.com>
> *Cc:* Sastra Pembebasan <sastra-pembeba...@yahoogroups.com>; DISKUSI
> FORUM HLD <diskusifo...@googlegroups.com>; Sunny ambon <
> ilmeseng...@gmail.com>; wahana-n...@yahoogroups.com <
> wahana-n...@yahoogroups.com>; Billy Gunadi <billyguna...@rogers.com>; kh
> djie <dji...@gmail.com>; Dharma Hutauruk <dharma.hutau...@gmail.com>;
> Hubert Tanzil <huberttan...@gmail.com>; Jun Artemas <jartem...@gmail.com>;
> Jakarta Globe <jgdir...@jg.thejakartaglobe.com>
> *Terkirim:* Sabtu, 10 Februari 2018 04.46.57 GMT+1
> *Judul:* #sastra-pembebasan# Re: [nasional-list] Fw: Re: [GELORA45] Gaji
> PNS Dipotong, Fahri: Pemerintah Panik, Hak Rakyat Jangan Dirampas
>
>
>
> *..... Anehnya FAHRI waktu masih keci*l*.... *DIPOTONG " ANU" NYA pun
> (biar sambil nangispun ) *Tidak banyak Protest dan tidak meng-atas
> namakan Rakyat, ....lha kok kalau di POTONG GAJIH BUTANYA yang sudah SUPER
> TINGGI itu Malah jadi PANIK SAMPAI BAWA2 RAKYAT ...yang katanya HAKnya
> dirampas......  ?*
>
> *Bang Fahri ...Rakyatmu* yang kau wakili itu TIDAK AKAN MERASA HAKNYA
> DIRAMPAS ......karena,
> *Pertama :* Gajih Rakyat dan PNS golongan paling bawah ( Floor employee )
> sudah sedemikian kecil untuk bisa dirampas lagi ...
> *Kedua    :  Gajih Mereka ( Hak Rakyat ) sudah lama sebelumya dan setiap
> saat  sudah DIRAMPAS Kalian para WAKIL RAKYAT...  yang dapat GAJIH SUPER *
> *                  TINGGI +**TUNJANGAN JABATAN + TUNJANGAN KELUARGA +
> TUNJANGAN ANAK + TUNJANGAN PENSIUNAN+ TUNJANGAN TRANSPORT*
> *                  +TUNJANGAN **KESEHATAN + **BEAYA TRANPORT , RUMAHM
> GRATIS + BEAYA LISTRIK,AIR,TELEFON, MOBIL DINAS, SUPIR , BERYA*
> *                   PERBAIKAN RUMAH GRATIS + BONUS BULANAN  atau KWARTALAN
> dan BONUS TAHUNAN + STUDY BANDING di LN , +..+..+... BONUS TIDUR*
> *                   ( BONUS KHUSUS ) **di SIDANG DPR  RI...*
> * Ketiga: Jadi yang menjadi Pertaannya ialah:  " SIAPA YANG SEBENARNYA
> yang paling  PANIK -  dan SIAPA*
> *                   PULA  YANG MERAMPAS** HAK RAKYAT ...??*
>
> Bang Said, Juru Kunci  Gedung Parlemen......
>
>
> 2018-02-08 5:11 GMT+01:00 Chalik Hamid chalik..ha...@yahoo.co.id
> <chalik.ha...@yahoo.co.id> [nasional-list] <nasional-l...@yahoogroups.com>
> :
>
>
>
>
>
> ----- Pesan yang Diteruskan -----
> *Dari:* kh djie dji...@gmail.com [GELORA45] <GELORA45@yahoogroups.com>
> *Kepada:* Gelora45 <GELORA45@yahoogroups.com>; ajeg <ajegil...@yahoo.com>
> *Terkirim:* Kamis, 8 Februari 2018 05.00.42 GMT+1
> *Judul:* Re: [GELORA45] Gaji PNS Dipotong, Fahri: Pemerintah Panik, Hak
> Rakyat Jangan Dirampas
>
>
>
> Di Jerman, kalau orang tulis beragama Kristen, ya dikenai pajak
> extra untuk keperluan gereja seluruh Jerman. Tetapi tidak ada
> kementerian agama, yang habiskan banyak uang dari APBN.
> Sekarang kalau orang menyatakan diri Islam, mau dibebani
> "pajak" untuk zakat, kok pada protes ? Barangkali ada yang
> takut, akan banyak orang menyatakan diri bukan Islam, untuk
> menghindari pungutan 2.5% ??????
> Bagaimana di Saudi Arabia dan negeri2 Islam lainnya ?
>
> 2018-02-08 2:42 GMT+01:00 ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45] <
> GELORA45@yahoogroups.com>:
>
>
>
> Begitu ya bahasa para wakil? Kalau di realita hari-hari belakangan ini
> Rakyatnya blak-blakan saja bilang kepanikan itu lantaran aliran dari
> pengembang semakin seret, apalagi KPK bikin investor pada KaPoK.
> --- ilmesengero@... wrote:
>
>
> Politik <https://www.jawapos.com/berita/20/politik>
> *Gaji PNS Dipotong, Fahri: Pemerintah Panik, Hak Rakyat Jangan Dirampas*
> Rabu, 07 Feb 2018 18:15 | editor : Dimas Ryandi
>
> <https://www.jawapos.com/uploads/news/2018/02/07/gaji-pns-dipotong-fahri-pemerintah-panik-hak-rakyat-jangan-dirampas_m_187019.jpeg>
> Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. *(JawaPos.com)*
> Berita Terkait
>
>    - Alasan Zakat Gaji PNS Dipotong, PBNU: Negara Tak Boleh Memaksa
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2018/02/07/187065/alasan-zakat-gaji-pns-dipotong-pbnu-negara-tak-boleh-memaksa>
>    - Ingatkan Masyarakat, Menteri Agama Sebut Ada Dua Aliran Ekstrem
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2018/01/30/185066/ingatkan-masyarakat-menteri-agama-sebut-ada-dua-aliran-ekstrem>
>    - Menag Usulkan Dana Haji 2018 Naik Jadi Rp 900 Ribu
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2018/01/24/183671/menag-usulkan-dana-haji-2018-naik-jadi-rp-900-ribu>
>
> *JawaPos.com* - Gaji pegawai negeri sipil (PNS) yang beragama Islam akan
> dipotong gajinya sebesar 2,5 persen untuk pembayaran zakat. Untuk
> merealisasikan hal itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin kini
> mulai menyiapkan peraturannya.
> Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menduga saat ini
> ‎pemerintah sedang panik, sehingga sampai nekat melakukan pemotongan gaji
> PNS dengan alasan zakat.
> ‎”Ini bentuk kepanikan pemerintah. Bukan solusi yang baik dan ini akan
> berefek buruk bagi kehidupan sosial, bahkan dalam kehidupan beragama,” ujar
> Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/2).
> ‎Oleh sebab itu, Fahri berharap pemotongan gaji PNS
> <http://www.jawapos.com/read/2018/02/07/186948/bamsoet-minta-pemerintah-urungkan-niat-pemotongan-gaji-pns-untuk-zakat>itu
> bukan karena uang negara sudah mulai habis. Kemudian, negara nekat merampas
> hak PNS.
> "Jadi jangan motifnya adalah karena kas negara mulai kering lalu semua
> sumber-sumber negara dirampas dari hak masyarakat termasuk dari kegiatan
> agama," tegas Fahri.
> Sekadar informasi, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan
> sedang menyiapkan aturan ihwal pungutan zakat bagi PNS. Zakat
> <http://www.jawapos.com/read/2018/02/07/186978/soal-pns-zakat-25-persen-dpr-desak-pemerintah-perhatikan-ini>
> itu berasal dari pemotongan gaji PNS yang beragama Islam sebesar 2,5 persen.
> Pemotongan, kata dia, hanya berlaku bagi muslim. Sebab, hanya umat Islam
> yang memiliki kewajiban membayar zakat. Namun, menurut Lukman, pemotongan
> gaji untuk zakat tak bersifat wajib. PNS atau ASN  boleh mengajukan
> keberatan bila tak bersedia gajinya dipotong.‎
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke