Semua sel radikalisme sudah menyusup ke kampus
 Sabtu, 10 Februari 2018 16:07 WIB 
 
Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius, memberikan paparan ilmiah 
saat kuliah umum di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Jawa Barat, 
Sabtu (10/2/2018). (ANTARA FOTO)
.... semua sel-sel itu sudah masuk tapi tingkatannya berbeda... Bandung (ANTARA 
News) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan, infiltrasi 
atau penyusupan paham radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus. Sebagian pelaku 
dan sekaligus sasaran mereka jelas: mahasiswa.

 "Jadi semua sel-sel itu sudah masuk tapi tingkatannya berbeda," ujar Kepala 
BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius, saat menyampaikan kuliah umum, 
di Gedung Sasana Budaya Ganesa ITB, Bandung, Sabtu.

 Dia mengatakan, infiltrasi paham radikalisme juga diduga dilakukan staf 
pengajar atau dosen kepada mahasiswanya. BNPT sudah mulai memetakan sejumlah 
dosen atau tenaga pengajar yang diduga memiliki paham radikalisme dan tidak 
sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

 Ia pun meminta Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi maupun Kementerian 
Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperketat penerimaan dosen sebagai antisipasi 
penyusupan paham-paham radikalisme di dunia pendidikan.

 "Saya punya tanggung jawab moral untuk menjaga betul tingkat pendidikan kita 
jangan sampai disusupi hal-hal yang tidak baik," kata dia.

 Menurut dia, penyusupan paham radikalisme sangat mudah penyebar di lembaga 
pendidikan, hal ini berkaitan erat dengan semakin mudahnya akses teknologi 
komunikasi digital.

 "Kemudian dengan teknologi informasi digital itu menyebar cepat, sangat sulit 
memonitornya. Kalau dulu kita gampang secara fisik memonitor. Kalau sekarang 
orang diam, yang dibukanya konten-konten semacam itu," kata dia.

 Untuk mendeteksi hal itu, kata dia, diperlukan kerja sama berbagai pihak baik 
kalangan kampus maupun mahasiswa dengan menginformasikan aktivitas yang 
dianggap mencurigakan.

 "Kami bisa mengidentifikasi kelompok yang memisahkan diri, bikin kelompok 
ekslusif dan tidak boleh dimasuki orang lain selain golongannya. Khan mudah 
mendeteksinya tinggal identifikasi," katanya.

 Di tempat sama, Rektor ITB, Kadarsah Suryadi, mengatakan, pencegahan 
penyusupan paham radikalisme ke kampusnya telah dilakukan dengan berbagai cara. 

 Mahasiswa yang baru masuk dilantik untuk cinta NKRi juga diberikan nilai-nilai 
kebangsaan, cinta Tanah Air, dan dilantik untuk tetap setia pada NKRI. Hal itu 
juga berlaku juga bagi dosen.

 Apabila mereka melanggar nilai-nilai kebangsaan maka ITB melalui komisi 
disiplin akan memberikan sanksi. Adapun sanksi yang paling berat yakni 
dikeluarkan dari kampus.

 "Kami punya kode etik dosen, kami jaga itu. Kami punya komisi kedisiplinan 
untuk mahasiswa, semua kami jaga. Mereka (dosen) juga dilantik ada janji 
seperti mahasiswa setia pada NKRI, Pancasila, Undang-undang. Sanksinya sama 
dikeluarkan apabila menganggar kode etik," katanya. 
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Ade P Marboen
 COPYRIGHT © ANTARA 2018

  • [GELORA45] Fw: Semua sel rad... 'K. Prawira' k.praw...@ymail.com [GELORA45]

Kirim email ke