http://id.beritasatu.com/national/romi-duga-penyerangan-gereja-st-lidwina-dilakukan-sistematis/171864



*Romi Duga Penyerangan Gereja St Lidwina Dilakukan Sistematis*
Senin, 12 Februari 2018 | 9:57

[image: Muhammad Romahurmuziy- PPP] Muhammad Romahurmuziy- PPP

Berita Terkait

   -

   Ketua DPR: Tindak Tegas Pelaku Penyerangan Gereja St Lidwina
   
<http://id.beritasatu.com/home/ketua-dpr-tindak-tegas-pelaku-penyerangan-gereja-st-lidwina/171863>
   -

   Negara Tidak Boleh Kalah dengan Orang Gila!
   
<http://id.beritasatu.com/home/negara-tidak-boleh-kalah-dengan-orang-gila/171853>
   -

   Sultan HB X: Perketat Penjagaan Tempat Ibadah!
   
<http://id.beritasatu.com/home/sultan-hb-x-perketat-penjagaan-tempat-ibadah/171852>
   -

   PBNU: Hentikan Kekerasan terhadap Pemuka Agama
   
<http://id.beritasatu.com/home/pbnu-hentikan-kekerasan-terhadap-pemuka-agama/171851>
   -

   ISKA: Prioritaskan Membangun Solidaritas Tanpa Sekat
   
<http://id.beritasatu.com/home/iska-prioritaskan-membangun-solidaritas-tanpa-sekat/171849>

*JAKARTA*- Ketua Umum PPP M Romahurmuziy atau Romi menduga penyerangan yang
dilakukan oleh seseorang terhadap pastur dan jemaat Gereja Katolik St
Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, dilakukan secara sistematis karena
sebelumnya juga terjadi terhadap seorang ustad di Jawa Barat.

"Melihat kejadian ini begitu berantai, saya menduga ini bukan kebetulan,
ini adalah serangkaian kegiatan sistematis yang ditujukan untuk
mendestabilisasi situasi dan kondisi," kata Romi dalam keterangan tertulis
yang diterima *Antara* di Jakarta, Senin.

Dia juga menduga kejadian tersebut merupakan prakondisi atau cipta kondisi
untuk mendestabilisasi Pilkada 2018 maupun Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Karena itu, dia mengingatkan kepada seluruh aparat keamanan dan ketertiban
masyarakat (kamtibmas) pemerintah khususnya Polri dan Badan Intelijen
Negara (BIN) untuk bisa melakukan pengawasan melekat kepada seluruh
komponen komponen.

"Selain itu mereka juga harus bisa mendeteksi kejadian di lapangan sebelum
peristiwa itu terjadi," ujarnya.

Romi menilai rentetan kejadian tersebut bukan sekadar fenomena orang gila
"beneran" akan tetapi orang gila buatan dan bisa juga ini memang diniatkan
untuk melakukan cipta kondisi akan terjadinya destabilitas pemerintahan.

Kalau itu terjadi, menurut dia, masyarakat akan dikondisikan untuk
merasakan bahwa "oh ternyata kita butuh pemimpin yang kuat, kita butuh
pemimpin dari yang memiliki latar belakang tertentu yang diharapkan bisa
mengatasi semua kegaduhan dan instabilitas yang muncul".

"Sebagai pimpinan parpol dugaan itu tentunya didasarkan dari pengalaman
sejarah karena jelang Pak Harto jatuh pada tahun 1998, cipta kondisi
beraneka rupa, misalnya, operasi hitam untuk mempertahankan rezim yang
menjadi korban para ulama sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang
memiliki latar belakang kuat, yaitu Soeharto," katanya.

Menurut dia, PPP membentuk tim untuk melakukan investigasi mengenai
asal-muasal kejadian itu sekaligus menelusuri apakah ini memang murni
alamiah kejadian atau kejadian non alamiah yang dialamiahkan.

Peristiwa penganiayaan berupa pembacokan terhadap empat orang terjadi di
Gereja St Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta pada
Minggu (11/2) pagi.

"Betul, kejadian sekitar pukul 07.30 WIB pagi tadi," kata Kapolda DI
Yogyakarta Brigjen Pol Ahmad Dofiri saat dihubungi dari Jakarta, Minggu
(11/2).

Dari empat korban, dua orang merupakan jemaat gereja, seorang pastur dan
seorang polisi.

Ahmad mengatakan, awalnya pelaku masuk ke gereja melalui pintu barat gereja
dan menyerang seorang jemaat bernama Martinus Parmadi Subiantoro dan
melukai punggung Martinus.

Selanjutnya, pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun-ayunkan
parang sehingga para jemaat ketakutan dan membubarkan diri.

Pelaku lantas menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa dan seorang
jemaat, Budi Purnomo, yang ketika itu masih berada di gereja.

Romo Prier menderita luka di kepala bagian belakang sementara Budi
mengalami luka di kepala bagian belakang dan leher. (gor)

Kirim email ke