SMRC: Isu Kebangkitan PKI Dimobilisasi Kekuatan Politik Tertentu
   Estu SuryowatiKompas.com - 29/09/2017, 17:56 WIB            Saiful Mujani 
Research & Consulting (SMRC) merilis survei nasional yang menunjukkan opini 
masyarakat terhadap isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), Jakarta, 
Jumat (29/9/2017). Hasilnya, mayoritas penduduk (86,8 persen) tidak setuju 
dengan pendapat yang mengatakan bahwa saat ini sedang terjadi kebangkitan 
PKI.(KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI)     
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Saiful Mujani Research and Consulting ( SMRC) 
Sirojudin Abbas mengatakan, opini kebangkitan Partai Komunis Indonesia ( PKI) 
di masyarakat tidak terjadi secara alamiah. 

Menurut dia, opini soal kebangkitan PKI dimobilisasi kekuatan politik tertentu.

"Hasil mobilisasi opini kekuatan politik tertentu, terutama pendukung Prabowo, 
mesin politik PKS dan Gerindra," kata Sirojudin, di Kantor SMRC, Jakarta, Jumat 
(29/9/2017). 

Kesimpulan tersebut diperoleh dari temuan-temuan survei opini publik nasional 
yang dilakukan SMRC terkait isu kebangkitan PKI. 

Sirojudin mengatakan, gejala hasil mobilisasi terlihat pada warga yang 
cenderung memiliki akses media massa, terutama media sosial. 

Baca: Survei SMRC: Lebih Banyak Pendukung Prabowo Percaya PKI Bangkit Dibanding 
Jokowi

Hasil survei SMRC menunjukkan, orang-orang yang percaya isu kebangkitan PKI 
(12,6 persen dari responden) adalah mereka yang tergolong intensif mengakses 
berbagai media.

"Terutama media internet dan koran," kata Sirojudin dalam paparan hasil survei. 

Hasil tabulasi silang dengan preferensi partai politik juga menunjukkan, mereka 
yang percaya PKI 'bangkit' kebanyakan merupakan pemilih PKS (37 persen), 
Gerindra (20 persen), dan PAN (18 persen). 

Lucunya, kata Sirojuddin, mereka yang percaya PKI 'bangkit' justru berusia di 
bawah 21 tahun. Temuan ini mengonfirmasi bahwa isu kebangkitan PKI merupakan 
hasil mobilisasi opini kekuatan politik dengan menggunakan media sosial.

"Harusnya yang lebih tahu bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI adalah 
kalangan warga yang senior. Sebab, mereka (para senior) lebih dekat masanya 
dengan masa PKI hadir di pentas politik nasional dibandingkan warga yang lebih 
junior, atau produk masa reformasi," kata dia.

Dari sebaran wilayahnya, mereka yang percaya PKI 'bangkit' mayoritas berada di 
wilayah DKI Jakarta, Banten, Sumatera Barat, dan Jawa Barat. 

Sirojuddin menuturkan, semua demografi tersebut beririsan dengan pendukung 
Prabowo. 

Baca: Survei SMRC: Hanya 9,2 Persen WNI Setuju Indonesia Jadi Negara Khilafah

Hasil survei SMRC juga menunjukkan mayoritas yang percaya isu PKI bangkit 
adalah muslim (14 persen), ketimbang pemeluk agama lain (satu persen). 

Menurut sosiolog Universitas Indonesia Tamrin Amal Tomagola, mereka yang 
percaya isu kebangkitan PKI, yaitu Muslim yang berasal dari Sumatera Barat, 
Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten konsisten dengan hasil survei SMRC 
sebelumnya tentang berdirinya negara khilafah. Survei SMRC tentang negara 
khilafah itu dirilis pada Juni 2017. 

"Pada saat itu temuannya, mereka yang mendukung khilafah dan bersimpati kepada 
ISIS di daerah Sumatera Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, memang 
menunjukkan kelompok Muslim, kelas menengah, cukup santri, cukup fanatik. Jadi 
hasil survei ini konsisten," kata Tamrin.

Kirim email ke