From: 'j.gedearka' j.gedea...@upcmail.nl [GELORA45] 
Sent: Tuesday, February 13, 2018 11:29 PM



https://news.detik.com/kolom/d-3865069/tentang-ibu-muslimah-penyapu-gereja-dan-virus-dengki-di-atas-kasus-intoleransi



Selasa 13 Februari 2018, 15:06 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Tentang Ibu Muslimah Penyapu Gereja dan 

Virus Dengki di Atas Kasus Intoleransi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
Iqbal Aji Daryono 

 Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono) 

Jakarta - Baru saja terjadi peristiwa geger di Gereja St. Lidwina, Sleman, 
Jogja. Seorang lelaki muda membacok jemaat gereja yang sedang beribadah. Memang 
belum ada keterangan resmi dari polisi tentang siapa pelakunya. Namun sudah 
tersebar ke khalayak dari para saksi di sekitar, bahwa si pembacok melakukan 
itu dengan motif keyakinannya, dan membenci umat yang berbeda agama dengan 
dirinya.

Mendengar peristiwa itu, seorang dokter yang aktivis Muhammadiyah datang ke TKP 
bersama istrinya. Dokter Ahmad Muttaqin Alim namanya, datang untuk menyatakan 
simpati dan belasungkawa. Kebetulan Pak Dokter datang masih berkain sarung, 
karena rumah mereka cuma sepelemparan molotov dari gereja. Sebagai keluarga 
muslim yang taat, istri Pak Dokter juga memang berjilbab.

Maka, ketika dalam kunjungan mereka Bu Alim ikut bebersih lantai gereja yang 
masih berdebu karena remah-remah patung Yesus yang dihancurkan si penyerang, 
Pak Dokter gatal memotretnya. Foto itu tersebar cepat. Saya sendiri ikut 
menyebarkannya di akun Facebook saya, dan ada ribuan orang yang ikut membaginya.

Inilah visualisasi foto itu: Seorang ibu berjilbab memegang sapu dan pengki, 
membersihkan lantai gereja. Di hadapannya ada salib besar, dan di sebelahnya 
ada patung Yesus yang wajahnya sudah hancur. Adakah pemandangan yang lebih 
dramatis dari ini?

Bayangkan saja. Dada ribuan orang tengah dagdigdug karena ada kabar buruk 
tersebar tentang seorang pemuda muslim yang menyerang gereja dan menyabetkan 
parang ke beberapa jemaat termasuk ke pasturnya. Maka, foto ibu penyapu itu 
ibarat hydrant yang disemprotkan ke tumpukan bara. Ia setara dengan segelas es 
teh yang disuguhkan saat Anda megap-megap karena saking hausnya.

Adakah yang buruk dari pesan perdamaian yang tersebar lewat foto itu? Saya kira 
tidak sama sekali. Ia bukan ajakan kepada umat muslim untuk murtad pindah 
keyakinan. Ia tidak menunjukkan seorang muslimah yang ikut beribadah dengan 
cara Katolik. Ia juga tidak membawa secuil pun pesan agar penonton foto itu 
membenci Islam, membenci umat Islam, mendiskreditkan kaum muslimin, atau saling 
berkonspirasi untuk melemahkan ghirah keislaman yang berkobar-kobar. Sama 
sekali tidak.

Yang saya bayangkan akan muncul sebagai efek dari foto itu sesederhana 
mekanisme komunikasi publik dalam logika marketing-informasi yang paling 
gampang. Pertama, umat Katolik jadi percaya bahwa si pembacok bukan 
representasi umat Islam, dan tidak semua orang Islam berpandangan sama dengan 
si pembacok. Kedua, umat Islam dari kalangan awam jadi paham bahwa agamanya 
bukan agama yang mendukung tindakan si pembacok, dengan bukti bahwa seorang 
muslimah bersimpati kepada korban pembacokan. Ketiga, secara lebih luas foto 
itu membela kehormatan Islam dan umat Islam. Apa yang sekilas terkesan buruk 
dari perilaku berislam seorang oknum muslim dengan segera dinetralisasi oleh 
citra dalam foto itu.

Namun malang sekali, ternyata tak semua orang mengambil kesan positif seperti 
itu. Banyak di antara kerumunan itu yang lebih suka mengambil buruknya (entah 
dari warung mana mereka mengambilnya), dan justru mengekspresikan sikap-sikap 
dengki yang jauh dari proporsional. Saya heran luar biasa.

Lalu kenapa banyak orang Islam sendiri yang konon mengaku pencinta damai justru 
tidak suka dengan tersebarnya foto ibu muslimah penyapu gereja? Apakah mereka 
ingin proses netralisasi citra dalam benak publik awam tidak berjalan, sehingga 
nantinya secara "hukum marketing informasi" si tukang bacok bisa-bisa malah 
menjadi representasi tunggal atas Islam?

Simak saja beberapa tulisan yang tersebar luas di media sosial. Di situ 
dikatakan bahwa umat Islam juga korban, terbukti dari dua kasus yang terjadi di 
Jawa Barat beberapa waktu lalu, tentang ulama yang dipukuli dan dibunuh. Dengan 
kenyataan itu, kenapa para pejabat dan tokoh seperti Buya Syafii Maarif hanya 
mendatangi Gereja St. Lidwina? Begitu mereka menggugat, sembari mengatakan 
bahwa semua itu merupakan sikap tidak adil kepada umat Islam.

Lebih nyelekit lagi ketika tak kalah banyaknya orang membagi unggahan dangkal 
di Facebook yang secara spesifik menghujat Buya Syafii Maarif. Buya digugat 
karena mengunjungi Gereja St. Lidwina untuk menyatakan prihatin, padahal beliau 
tidak mendatangi para ulama yang dianiaya. "Ulama dianiaya dan dibunuh ente 
diam saja. Tapi begitu ada yang nyerang gereja, ente ribut!"

Suara-suara dengki seperti itu menyebar dengan cepat, gampang, diiringi 
umpatan-umpatan. Saya berdecak kagum dan tak habis pikir. Betulkah segampang 
itu umat Islam mendengki? Apa iya mereka tidak berpikir sebentaaaar saja, lalu 
secara lebih cermat mengukur porsi masalahnya?

Begini lho, Mas, Mbak. Membandingkan antara dua kasus di Bandung kemarin hari 
dengan peristiwa di Gereja St. Lidwina Jogja itu ngawur dan waton suloyo.. Kiai 
Umar Basri alias Mama Sentiong dipukuli, Ustaz Prawoto dianiaya hingga akhirnya 
meninggal. Siapa pelaku-pelakunya? Tidak ada kabar jelas tentang itu, selain 
keterangan resmi bahwa salah satu pelakunya gila (kabar terakhir, penganiaya 
Ustaz Prawoto tidak gila dan bisa diproses hukum). Artinya, tidak ada isu 
benturan antara dua agama yang berbeda pada kedua kasus tersebut. Sekali lagi: 
tidak ada potensi isu benturan antaragama.

Bandingkan dengan peristiwa di Jogja. Korbannya jelas jemaat gereja Katolik, 
identitas pelakunya sudah tersebar di masyarakat sebagai muslim dan motifnya 
juga terkait dengan keyakinan dia. Iya, iya, saya paham, belum ada keterangan 
resmi dari polisi. Tapi kita sedang bicara tentang komunikasi publik dan 
mekanisme riil persebaran informasi di zaman medsos, bukan? Artinya apa? Jelas 
sekali, kasus di Jogja membawa potensi gesekan, potensi kecurigaan, potensi 
prasangka, dan potensi remuknya kohesi sosial karena melibatkan dua agama yang 
berbeda.

Maka, kedatangan para pamong masyarakat ke Gereja St. Lidwina adalah upaya 
meredam potensi konflik yang lebih besar. Saya mendukung-mendukung saja jika 
para pejabat dan Buya Syafii datang ke Bandung. Tapi skala persoalannya beda 
jauh, Bro. Kalaulah datang ke Bandung, yang akan dijalankan adalah ekspresi 
simpati berbelasungkawa. Tidak ada misi peredaman potensi konflik antaragama di 
sana. Dengan istilah lain, dalam kacamata skala prioritas, tidak ada yang 
keliru ketika kehadiran ke Jogja lebih diprioritaskan daripada ke Bandung.

Akan beda kasusnya ketika yang terjadi adalah seorang radikalis Kristen 
menghajar seorang mubaligh di sebuah masjid. Itu baru perbandingan kasus yang 
setara. Nah, jika itu terjadi (semoga itu tidak pernah terjadi), haqqul yaqin 
kasus itu pun akan menjadi prioritas dalam upaya komunikasi publik dalam 
meredam potensi konflik.

Maka pertanyaannya, rasa dianaktirikan dan imajinasi bahwa umat Islam mengalami 
ketidakadilan itu datang dari mana? Saya bantu menjawabnya: dari rasa dengki 
yang muncul dari kacamata yang buram dalam melihat persoalan.

Yang lebih parah lagi sebenarnya ketika kedatangan Buya Syafii ke St. Lidwina 
dipersoalkan. Sebab ada faktor teknis yang tidak diketahui publik luas terkait 
itu, yakni fakta keras bahwa memang rumah Buya Syafii di bilangan Nogotirto 
hanya sejarak lima menit perjalanan dari lokasi Gereja St. Lidwina hahaha! Anda 
juga pasti baru tahu sekarang, to? Mereka memang tetanggaan. Dan kalau Buya 
bertetangga dengan Ustaz Prawoto, dengan jarak rumah yang sama-sama lima menit 
perjalanan, mustahil beliau tidak datang melayat.

Hufff. Ya sudah. Mungkin sikap-sikap dengki semacam itu akan selalu muncul 
sebagai fitrah dalam sebuah negeri yang penuh keragaman. Entah, apakah ajakan 
untuk menalar persoalan secara lebih proporsional akan bermanfaat ataukah 
tidak, di saat imajinasi dan teori konspirasi menguasai alam pikiran kita 
sehari-hari. Namun saya sendiri lebih suka berdiri bersama Bu Alim yang menyapu 
lantai Gereja St. Lidwina, bersama Haji Bambang di Kuta Legian, bersama 
bapak-bapak Relawan Pembersih Masjid at-Taqwa yang ikut memperbaiki Gereja 
Oikumene Samarinda.

Dengan cara-cara merekalah, Islam menemukan pembelaannya yang sangat nyata.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di kampung sejarak 30 menit perjalanan dari 
Gereja St. Lidwina


(mmu/mmu)










Kirim email ke