Disebut Fitnah SBY, Anas: Saya Tak Makan Bangkai Saudara SendiriReporter:  M 
Yusuf ManurungEditor:  Kodrat SetiawanRabu, 14 Februari 2018 12:08 WIB 
SBY (kanan) dan Anas Urbaningrum. REUTERS/Supri

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum 
membantah soal pertemuan di Sukamiskin antara dia, Setya Novanto, Firman 
Wijaya, dan Saan Mustopa untuk merancang skenario fitnah kepada Susilo Bambang 
Yudhoyono atau SBY dan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas terkait kasus korupsi 
proyek e-KTP.

"Surat hoax itu disebarkan oleh sebagian orang di lingkungan Pak SBY tanpa 
klarifikasi terlebih dahulu dan kemudian malah digoreng sedemikian rupa," kata 
Anas melalui surat yang dititipkan kepada Divisi Komunikasi Publik Pimpinan 
Nasional Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Bobby Triadi, Senin, 12 Februari 
2018.

Baca juga: 3 Elemen Partai Demokrat Laporkan Advokat Firman Wijaya ke Polisi

Sebelumnya beredar surat diduga ditulis Mirwan Amir kepada salah satu media 
massa tentang pertemuan dengan Saan Mustopa, Anas Urbaningrum, dan Firman 
Wijaya di Lapas Sukamiskin. Pertemuan itu disebut untuk merencanakan fitnah 
terhadap SBY.

Selasa, 6 Februari 2018, politikus Partai Demokrat Andi Arief mencuit bahwa 
Firman diduga melakukan pemufakatan jahat sehubungan disebutnya nama SBY. Andi 
mengungkapkannya melalui akun Twitter @andiarief_ dengan mencantumkan nama 
beberapa politikus. Dalam akun itu tertulis:

'Pagi ini dikejutkan dengan beredarnya surat Mirwan Amir bahwa persidangan 25 
Januari 2018 lalu yang menyebut nama SBY adalah hasil permufakatan jahat Firman 
Wijaya, Saan Mustofa, Anas Urbaningrum, dan Setnov. Kami masih klarifikasi 
kebenarannya.'

Anas mengatakan dapat membuktikan bahwa pertemuan di Sukamiskin itu tidak 
pernah terjadi. Caranya, menurut dia, yaitu dengan memeriksa buku tamu dan CCTV 
atau menanyakan langsung kepada warga di Sukamiskin.

"Tidak ada tempat kunjungan tamu yang tertutup, tidak ada warga yg bisa 
merahasiakan tamunya. Apalagi kalau itu sebuah pertemuan," katanya.

Anas menyebut orang yang menyebarkan serta mempercayai surat itu menyedihkan. 
Dia menyebut langkah itu sangat picik dan mengkhianati semangat dan kampanye 
anti fitnah dan hoax.

"Saya mengerti bahwa jihad mencari keadilan adalah tindakan mulia. Tetapi 
mencari keadilan yang disertai dengan pembiaran penyebaran hoax dan fitnah 
justru berarti membelakangi keadilan itu sendiri dan terkesan lebih 
mementingkan gincu," katanya.

Anas menganggap bahwa dia yang merupakan korban fitnah. Fitnah yang dimaksud 
Anas adalah tentang gratifikasi berupa mobil Toyota Harrier dan uang Rp 100 
miliar dalam kasus korupsi pembangunan kompleks olahraga Hambalang yang 
menjerumuskannya ke dalam penjara saat ini. "Sakitnya masih harus saya dan 
keluarga jalani sampai hari ini," katanya.

Selaku korban fitnah, dia mengatakan tidak akan menyakiti orang lain termasuk 
SBY dengan fitnah. Anas beralasan bahwa dia percaya takdir dan datangnya hari 
keadilan. "Saya tidak tega dan tidak suka memakan bangkai saudaranya sendiri. 
Itu menjijikkan!" katanya.

Kirim email ke