http://koransulindo.com/aliarcham-tokoh-pki-yang-belajar-dari-samin/
Aliarcham, Tokoh PKI yang Belajar dari Samin

Meski menjalani periode pergerakan yang sangat singkat, Aliarcham sempat
menjadi musuh utama pemerintah kolonial sekaligus masuk daftar orang-orang
yang harus segera disingkirkan.

5 hari lalu

BERBAGI

Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Faliarcham-tokoh-pki-yang-belajar-dari-samin%2F>

Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Aliarcham%2C+Tokoh+PKI+yang+Belajar+dari+Samin&url=http%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Faliarcham-tokoh-pki-yang-belajar-dari-samin%2F&via=Koran+Sulindo>

<http://koransulindo.com/wp-content/uploads/2018/02/Ali-archam.jpg.jpg>*Koran
Sulindo –* Batuk yang semula dianggapnya hanya biasa bertambah hari
ternyata kondisinya makin parah. Wajah makin pucat sementara matanya juga
makin cekung. Bujukan teman-temannya agar mau berobat dianggap angin lalu.
Ia bahkan punya keyakinan, alih-alih mengobatinya pemerintah pasti bakal
membunuhnya.

Belakangan ketika akhirnya mau berobat ke Tanah Merah, hal itu dilakukannya
semata untuk membuat kawan-kawannya senang. Nyatanya, toh tak lama kemudian
ia kembali lagi.

“Saya sangat merindukan kawan-kawan. Kalau saya mati biarlah kematian saya
di hadapan kawan-kawan di sini yang sangat dibenci oleh Belanda ini,”
jawabnya ketika dituntut penjelasan seperti ditulis *Aliarcham, Sedikit
tentang riwayat dan perjuangannya*.

Ya, Aliarcham memang kepala batu meski ia tahu tanpa pengobatan memadahi
penyakit paru-paru cuma memastikan satu hal. Kematian!.

Ketika keadaannya makin payah, pada tanggal 1 Juli 1933 kawan-kawan
sepembuangan memaksanya melanjutkan pengobatan ke Tanah Merah. Ia bahkan
harus dipapah untuk naik kapal yang digunakan untuk menghilir mengikuti
Sungai Digul.

Di tengah deru motor kapal dan disaksikan teman-temannya itulah akhirnya
Aliarcham menutup mata untuk selamanya. Ia masih sangat muda, baru 32
tahun. Tanah Merah tempatnya mencari pengobatan akhirnya justru menjadi
kuburnya.

Mengenang keteguhan hatinya selama itu, kawan-kawan Aliarcham menulis
sebuah sajak Henriette Roland Holst di nisannya yang sederhana.

*Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan
kami yang neneruskan/Kerja agung jauh hidupmu/Kami tancapkan kata
mulia/Hidup penuh harapan/Suluh dinyalakan dalam malammu/Kami yang
meneruskan sebagai pelanjut*

Lahir 1901 dari keluarga penghulu dan tokoh agama di Asemlegi, Juwana,
Pati, Aliarcham sempat menikmati pendidikan pesantren. Tujuannya jelas,
kelak ia mesti mengikuti jejak sang ayah.

Namun, dari guru-guru agama itulah Aliarcham justru berkenalan dengan paham
Samin yang mengajarkan persamaan, persaudaraan manusia dan gotong-royong
tanpa penindasan yang dianggapnya sebagai sosialisme model Jawa. Ketika
Samin Surosentiko ditangkap Belanda dan dibuang ke Sawahlunto hingga
akhirnya meninggal tahun 1914, di benak Aliarcham kecil tertanam kuat
kebencian dan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang tamak.

Selain pendidikan tradisional, karena orang tuanya lahir dari keluarga
terkemuka Aliarcham juga dibolehkan bersekolah di *Hollands Inlandse School*
(HIS). Di sekolah itu, ia segera tampil sebagai salah satu murid yang
paling cerdas dan rajin.

Ketika para penerus gerakan Samin melanjutkan ‘perlawanan sipil’ yang
berpuncak di tahun  1917, Aliarcham sudah duduk di sekolah calon guru
bumiputera atau *Kweekschool voor Inlands *Onderwijs di Ungaran.

Di sekolah guru Aliarcham mulai membaca koran-koran seperti *Sinar Hindia,
Suara Rakyat* hingga *de Express *yang membawanya berkenalan dengan
Sosialisme ilmiah. Ia juga kemudian mendaftar sebagai anggota Sarekat Islam
di Salatiga yang berubah menjadi Sarekat Islam Merah. Di SI Merah inilah
Aliarcham secara pribadi berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan kiri kala
itu seperti Semaun atau Sneevliet.

Ia juga dengan cermat mengikuti semua peristiwa seperti Revolusi Sosialis
Oktober Besar tahun 1917 di Rusia, pemberontakan tani di Garut,
pemberontakan Kelambit di Jambi, pemberontakan Sarekat Abang di Palembang
hingga pemberontakan tani di Pontianak dan Ternate.

Benang merah yang dipahami Aliarcham pada semua pemberontakan itu cuma
satu, penindasan!

Belajar dari bacaan, ia mulai mendebat gurunya dan mulai mendidik
kawan-kawan dekatnya agar memusuhi sikap merendahkan diri atau membungkuk
pada atasan atau orang Belanda. Tak hanya mendidik, Aliarcham
menunjukkannya langsung dalam sikap sehari-hari.

Belakangan sikapnya itu memicu reaksi balasan para guru yang jelas-jelas
pro pemerintah. Ia tak dizinkan ikut ujian akhir sebelum meninggalkan
propaganda politiknya. Menganggap ancaman hanya angin lalu, Aliarcham cuek
dan akibatnya ia kembali dipanggil untuk dinasihati kepala sekolahnya.

Meski sepanjang sesi nasihat itu tetap bungkam, kegeraman Aliarcham baru
ditunjukkan ketika keluar ruang kepala sekolah. Pintu ruang kepala sekolah
dibantingnya keras-keras, *jedeer! *Merasa disepelekan sang kepala sekolah
itu benar-benar *muntab, *Aliarcham dipanggilnya kembali dan berkata sejak
hari itu ia resmi dikeluarkan dari sekolah.

Aliarcham yang cuek dengan dingin hanya berkata, “tuan takkan dapat
mematikan semangat perjuangan saja. Saya akan berjuang melawan penjajahan
Belanda.”

Dipecat dari sekolah guru, ternyata adalah berkah Aliarcham. Tertutup pintu
menjadi guru, peluang-peluang lain justru terbuka. Di bidang politik masa
depannya justru  membentang dan langsung menuju Semarang bergabung dengan
kantor Pengurus Besar PKI dan SI Merah.

Di Semarang, latar belakang sebagai calon guru justru membuat Aliarcham
merasa menemukan dunianya dengan aktif mengajar Marxisme untuk
anggota-anggota PKI dan SI Merah. Sebagai intelektual, berkali-kali yang
ditegaskan Aliarcham adalah kebenciannya pada intelektual yang bersikap
masa bodoh terhadap nasib rakyat yang terjajah.

“Ada kaum intelektual yang tidak suka campur dengan pergerakan kita karena
merasa malu, tetapi mereka juga akan berhubungan dengan pihak sana juga
tidak laku, paling-paling jadi orang suruhan. Jadinya lalu berdiri jadi
kelas menengah,” tuding Aliarcham.

Menurutnya, intelektual proletar harus berjuang untuk mendirikan kultur
baru tempat di mana tak ada lagi orang ‘minum darah’ orang lain. Kultur itu
harus dimulai dari pendidikan di sekolah-sekolah rendahan untuk anak-anak
rakyat kebanyakan. “Di sekolah ini bukannya mengajar orang takut sama
pemerintah tapi mendidik rasa merdeka dan rasa berkumpul dan nafsu berjuang
melawan pemerintahan,” kata Aliarcham melanjutkan.

Semarang di era Aliarcham mengajar di sekolah-sekolah PKI awal awal-awal
1920-an, adalah pusat gerakan buruh revolusioner yang Berjaya dengan
aksi-aksi pemogokan. Di sisi lain, pertentangan antar faksi di Serekat
Islam memuncak antara SI Putih di Yogyakarta dan SI Merah di Semarang.
Perpecahan itu makin tak terjembatani setelah pemberlakuan disiplin partai
yang diusung SI Yogyakarta.

Belakangan, atas usul Aliarcham SI Merah berganti nama menjadi Sarekat
Rakyat untuk menarik batas tegas dengan golongan kolaborator yang bergerak
menjauhi massa rakyat. Ia juga sekaligus ditunjuk sebagai ketua SR.

Tak cuma aksi mogok dan boikot, masa-masa itu juga ditandai dengan
gelombang penangkapan pemimpin-pemimpin gerakan seperti Haji Misbach.
Aliarcham akhirnya ditangkap tanggal 20 Oktober 1923 atas tuduhan menghina
alat-alat negara pamongpraja yaitu para priyayi yang disebutnya sebagai
Togog.

Ketika kasusnya disidangkan, Aliarcham menggunakan pembelaannya untuk
menangkis tuduhan-tuduhan jaksa sekaligus meledek bahwa bukan dia biang
keladi semua kekacauan itu. Aliarcham justru balik menunjuk hidung
pemerintah kolonial sebagai pihak yang bersalah dan harus bertanggung jawab
atas kemelaratan penghidupan rakyat.

“Pergerakan buruh tidak dibikin-bikin tetapi timbul sendiri dari
penindasan. Pihak reaksi berkata, yang orang Jawa bodoh dan sabar hati.
Sesuka Belanda menghina kita dan dipandang kita seperti binatang yang
menurut saja buat dikerjakan. Dimana ada penindasan di situ timbul satu
pergerakan yang hendak menghilangkan penindasan itu,” kata Aliarcham.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis selama 4 bulan penjara dan diperberat
menjadi 6 bulan ketika Aliarcham naik Appel ke pengadilan tinggi.

Seolah hendak mengejek pemerintah, segera tak lama setelah keluar penjara
Aliarcham langsung aktif di pergerakan. Ia bahkan ditunjuk sebagai ketua
presidium Kongres PKI ke-2 di Jakarta yang digelar bulan Juni 1924.

Selain mengubah anggaran dasar, kongres juga memutuskan untuk memindahkan
kantor pimpinan Central PKI dari Semarang ke Jakarta sekaligus menujuk
Winanta sebagai ketua dan Budisucipto sebagai sekretaris. Kongres juga
menunjuk Alimin dan Aliarcham sebagai komisaris daerah Jakarta.

Ketika pemerintah makin kuat menindas pergerakan, secara rahasia pimpinan
central PKI dipindahkan ke Bandungan sementara kegiatan revolusioner
sehari-hari di Jakarta langsung di bawah pimpinan Aliarcham dan Alimin.

Sayangnya, hanya berselam lima bulan setelah kongres ke-2, pemerintah
menangkap Winanta pada tanggal 29 November 1924 yang memaksa PKI menggelar
Kongres ke-3 di Yogyakarta yang memilih Sarjono sebagai pengganti Winanta.

Dalam kongres itu, Aliarcham kembali menekankan pentingnya pendidikan dan
semangat untuk berkuasa kepada massa. Pidato itu langsung disambut peserta
kongres dengan hunjan interupsi, “Berontak saja. *Praktische daad* …
revolusi”.

Menjawab seruan itu, Aliarcham mendesak agar pemberontakan jangan untuk
dipermain-mainkan. Pemberontakan memerlukan kepimpinan partai kelas buruh
yang kuat, selain sebagai sebagai pelopor partai, PKI harus bersih dari
elemen non proletar dan setengah proletar yang ragu-ragu dan bimbang.

“Kelas buruh tidak saja harus berdisiplin tetapi ia wajib berdisiplin lebih
kuat dan lebih keras daripada musuhnya. Sebab kaum kerja boleh dikata sama
sekali tidak bersenjata, sedang pembela kapitalisme bersenjata lengkap,
mulai dari kaki sampai ke rambut,” kata Aliarcham.

“Oleh sebab itu kita Komunisten sebagai pasukan armada kaum kerja yang
terkemuka, yang harus mendidik berdisiplin itu di kalangan angkatan
proletar wajiblah menundukkan diri kita sendiri di bawah disiplin besi,”
kata Aliarcham.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa sebelum pemberontakan dimulai
diperlukan melatih massa dalam aksi ekonomi, yang harus ditingkatkan pada
aksi-aksi politik. Aksi ekonomi seperti mogok akan menarik sekaligus
membangkitkan massa rakyat ke dalam kehidupan politik.

Sebagai petinggi partai, belakangan gerak-gerik Aliarcham terus dipantau
alat-alat pemerintah dan berkali-kali harus menghadap polisi kolonial atau
pemerintah setempat. Suatu kali ia mendatangi panggilan kontroleur dengan
memakai pakaian rakyat yang melarat. Pakaian itu memicu kemarahan sang
kontroleur karena merasa tak dihargai. Ia memaki-maki dan bahkan mengusir
Aliarcham ke luar ruangan.

“Tuan ketakutan kepada rakyat. Pakaian yang seperti ini terhitung pakaian
rakyat yang terbaik. Dan beginilah kemelaratan rakyat sekarang,” kata
Aliarcham mengejek. “Saya tidak punya pakaian putih-putih. Itu pakaian
buruh halus, buruh ningrat, priyayi-priyayi yang menjadi togog menjilat
gubernemen”.

Dengan enteng Aliarcham pergi dan meninggalkan tuan kontroleur itu begitu
saja.

Menyusul meluasnya pemogokan di Jawa Timur pada bulan November 1925, agar
tak menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Barat, pemerintah pada tanggal 5
Desember memutuskan menangkap Aliarcham di Solo ketika tengah mengikuti
kongres Organisasi Perguruan dan Pendidikan Indonesia.

Meski mengalami siksaan selama penahanan, Aliarcham memilih sikap bungkam
dan tak menjawab satupun pertanyaan untuk proses verbal. Ia hanya berkata
sekali ketika menjelaskan pendiriannya. “Tuan-tuan sudah mengetahui siapa
saya ini. Proses verbal ini dilakukan hanya secara formil saja, karena toh
saya akan dihukum juga.”

Jika dihitung keterlibatan Aliarcham di dunia pergerakan sejak dipecat dari
sekolah guru hingga masa pembuangan hanya selama 3,5 tahun. Meski menjalani
periode yang sangat singkat, Aliarcham sempat menjadi musuh utama
pemerintah kolonial sekaligus masuk daftar orang-orang yang harus segera
disingkirkan.

Berpacu dengan waktu, pemerintah buru-buru memutuskan membuang Aliarcham ke
Merauke di Papua menggunakan kapal van der Wijck. Seminggu di Merauke, ia
dipindah ke Okaba selama 1,5 tahun. Dari tempat itulah Aliarcham dipindah
ke Tanah Merah.

Tiga bulan di tempat itu,  ia kembali dipindah ke Gudang Arang sebuah
tempat di tengah rawa tak jauh dari Tanah Merah. Hingga akhirnya pada bulan
Januari 1928 Aliarcham dipindah ke pedalaman di Tanah Tinggi, sebuah tempat
enam jam perjalanan menyusuri sungai dari Tanah Merah. Di tempat inilah
hidup Aliarcham berakhir, tetap dengan keteguhannya. [Teguh Usia]

Kirim email ke