https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221
Jumat 16 Februari 2018, 17:32 WIB
Kolom Kalis
Tidak Cukup Seorang Buya Ahmad Syafii Maarif
Kalis Mardiasih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
Kalis Mardiasih
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
31 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
Tidak Cukup Seorang Buya Ahmad Syafii Maarif Kalis Mardiasih (Ilustrasi:
Kiagoos Auliansyah/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#><https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#><https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#><https://news.detik.com/kolom/d-3870944/tidak-cukup-seorang-buya-ahmad-syafii-maarif?_ga=2.256640782.426526177.1518891221-556031207.1518891221#>
*Jakarta* - Yogyakarta adalah juga Jalan Kaliurang yang masih lengang di
subuh hari. Ia jadi saksi jamaah muslim selepas salat yang berpapasan
dengan para suster biarawati yang berangkat ke seminari tinggi St.
Paulus mengayuh sepeda atau berjalan kaki bersama-sama. Di Yogya, Alm.
Gus Dur bersahabat dengan Alm. Romo Mangun, menjadi juru selamat tak
hanya di kota ini, tapi untuk semua yang dilukai.
Pagi ketika tersiar kabar penyerangan di Gereja St. Lidwina pada Minggu
(11/2) adalah pagi pengecualian yang begitu kelabu. Teman-teman dari
Jaringan Gusdurian saling bertukar informasi via aplikasi pesan instan.
"Sedih sekali. Kita kecolongan, justru di rumah sendiri."
Pesan dari Rifqi Fairuz, salah satu pegiat jaringan sangat dimaklumi.
Belum ada satu pekan acara puncak Haul Sewindu Gus Dur digelar di
Yogyakarta yang dihadiri oleh tak kurang tiga ribu hadirin lintas iman.
Pengisi acara adalah para tokoh dan remaja lintas iman, yang membawa
pesan bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa, yang dapat diperas
nilai-nilai luhurnya untuk kebaikan bersama. Selama tiga bulan, sejak
Desember, rangkaian acara Haul Gus Dur digelar di berbagai kota, mulai
dalam bentuk tahlilan keliling pesantren, pemberdayaan masyarakat, lomba
antarsekolah, seminar dan diskusi ilmiah, hingga pengajian budaya.
Tak lama, foto Buya Syafii Maarif yang menengok lokasi gereja, lalu
dilanjutkan dengan menjenguk pelaku dan korban di RS Panti Rapih beredar
di media dan linimasa. Rupanya, jika kepedulian spontan dilakukan oleh
seorang Buya Ahmad Syafii Maarif, manusia Indonesia merasa memiliki
harapan. Ketakutan akan bayangan senjata tajam yang melukai korban dan
menghancurkan patung di dalam gereja, seakan sirna begitu saja, berubah
menjadi kepercayaan kolektif bahwa "kami tak takut teror".
Pesan solidaritas mulai muncul, bahwa semua pihak diharapkan untuk
mengendalikan diri dan komunitasnya. Bahkan, situasi linimasa sangat
terkendali. Pesan-pesan marah berlebihan yang berpotensi membangkitkan
kemarahan lainnya hampir tak ada. Sebentar kemudian, beredar foto viral
milik Dr Ahmad Muttaqin Alim, memotret istrinya yang berjilbab sedang
menyapu di sisi patung Bunda Maria. Masyarakat sekitar juga
berbondong-bondong datang ikut membersihkan gereja dan mengirim simpati.
Belakangan, diketahui bahwa pelaku yang berusia sangat muda, yakni 22
tahun mengakui motif penyerangannya adalah pemahaman yang eksklusif dan
sempit dalam menginterpretasikan agama. Pertama-tama, kondisi ekonominya
lemah. Selanjutnya, ia belajar agama pada kelompok yang ingin menukar
nyawa manusia dengan bidadari surga. Faktor keterbatasan ekonomi yang
mempertemukan faktor keyakinan akan eksklusivitas agama, konon adalah
paduan paling berbahaya yang melahirkan seorang ekstremis.
Keyakinan seseorang, sekalipun ia adalah seorang penyembah lampu gantung
adalah hak pribadi, tapi ketika ia mencederai hak-hak orang lain yang
dilindungi konstitusi dalam sebuah negara sesungguhnya adalah tanggung
jawab hukum. Sayangnya, jejak kasus kekerasan Hak Asasi Manusia di
Indonesia tidak cukup baik.
Beberapa peristiwa terakhir, seperti kekerasan yang dialami pemimpin
Pondok Pesantren di Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri hingga
Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto yang meninggal dunia akibat
mengalami penganiayaan oleh seorang pria. Menarik bagaimana narasi orang
gila selalu dimunculkan untuk menutup kasus. Awal Februari 2018, muncul
video seorang biksu Budha yang dipaksa meninggalkan kediamannya di
Tangerang. Alih-alih dilakukan penyelidikan mendalam terhadap kelompok
mana yang terlibat atau menggerakkan aksi persekusi, berita hilang
seiring terbit rilis berita yang mengabarkan semua telah selesai dengan
baik-baik.
Menurut Sidney Jones dalam /Pelintiran Kebencia/n karya Cherian George
(2017), masalah terbesar bagi demokrasi Indonesia bukanlah terorisme,
tetapi intoleransi yang menjalar dari kelompok radikal yang pinggiran ke
arah arus utama (/mainstream/).
Tahun 2018 dan 2019 masih cukup panjang. Tetapi, baru saja kita berharap
berbagai kebaikan, awal tahun langsung disambut dengan gegap gempita
teror di berbagai daerah. Entah itu peristiwa yang terjadi begitu saja
secara organik atau rekayasa kebencian yang sengaja dioperasikan
penguasa dalam dinamika tahun politik, sebagaimana analisis George,
adalah alarm tanda bahaya.
Kemarin, kehadiran Buya Ahmad Syafii Maarif yang menyimbolkan potret
toleransi mungkin cukup membuat kita mampu menekan kecemasan,
mengendalikan emosi dan membangun solidaritas swa-rekonsiliasi. Hari
esok, jaminan bukan lagi ada pada sosok Buya. Kita perlu menjadi Buya.
Kita harus membangun kesadaran bahwa sejarah kekerasan atas nama
politik, agama maupun sentimen ras, tak pernah menyenangkan melainkan
mewariskan dendam dan trauma yang sulit dicari obatnya meskipun puluhan
tahun telah terlewati. Sehingga, yang utama adalah prinsip membela
harmoni kebangsaan dibanding membela hak-hak pribadi maupun kelompok kecil.
Mohamad Sobary dalam /Spiritualitas Baru, Agama dan Aspirasi Rakyat/
(2004) memunculkan istilah kepemimpinan kultural. Ini adalah sebuah
konsep kesepakatan bahwa agama apa pun bersetuju pada nilai yang
membangun kehidupan yang damai. Tanggung jawab berikutnya adalah
bagaimana masing-masing agama memunculkan tokoh atau sosok yang tidak
hanya menjalankan visi misi teologis, namun juga misi sosial. Orang
Islam punya sosok kiai rakyat, yakni tokoh pemimpin muslim yang selama
ini dinilai dapat mendampingi masyarakat dalam menghadapi konflik sosial
yang bersifat horisontal maupun vertikal.
Ada baiknya jika semakin banyak muncul romo rakyat, biksu rakyat, suster
rakyat dan lain-lain sebagai simbolisasi mengakarnya kepemimpinan
kultural pada level /grassroots/. Tidak cukup seorang Buya Ahmad Syafii
Maarif. Oleh karenanya, jika terjadi teror, kabarkan kepada keluarga,
tetangga, jamaah tempat ibadah, teman kantor, dan siapa saja orang yang
Anda temui di jalanan, bahwa kita semua tak pernah takut. Alih-alih
keberagaman ini dikoyak, ikatan justru akan semakin rekat dan padat.
*Kalis Mardiasih* /menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset
dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan
pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa
lewat @mardiasih
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!