Pertanyaan yang dibalik itu lebih masuk akal karena babak-belurnya AS bukan semata gara-gara RRC kuattapi juga lantaran AS diganyang liberalismenya sendiri.Anak sekolah saja bisa membantai teman-temannya kok. Makan teman bahkan makan keluarga sendiri demi mencapai tujuan itu hal yang lumrah dalam kapitalisme-imperialisme. --- lusi_d@... wrote: Pertanyaannya: mengapa AS mengeluarkan Surat Utang Negara? Atau dibalik pertanyaannya: Apa yang terjadi kalau AS tidak menerbitkan Surat Utang Negara?. Ada dua kemungkinan. Beaya perang imperialisme AS terhadap negeri-negeri Timur-Tengah disabot atau diperpanjang bukan. Kalau begitu jadinya kan bisa disimpulkan: Tiongkok paling getol mendukung beaya perang AS di luarnegeri. Hehehe.
Am Sat, 17 Feb 2018 10:20:31 +0800 schrieb Chan CT : > Cina Perkokoh Posisi Pembeli Terbesar Surat Utang Negara ASReporter: > AntaraEditor: Yudono YanuarSabtu, 17 Februari 2018 09:06 WIB > Ilustrasi mata uang dolar AS dan yuan Cina. REUTERS/Jason Lee > > TEMPO.CO, Jakarta - Cina, yang selama ini menjadi pembeli terbesar > surat-surat utang negara Amerika Serikat, meningkatkan kepemilikannya > pada Desember tahun lalu setelah memangkas 12,6 miliar dolar AS bulan > sebelumnya, demikian diumumkan Departemen Keuangan AS, Kamis, 15 > Februari 2018. > > Cina menambah kepemilikannya atas surat utang negara AS sebesar 8,3 > miliar dolar AS menjadi 1,1849 triliun dolar AS pada Desember 2017. > Cina mempertahankan posisi sebagai pemegang surat utang AS terbesar. > > Jepang, pemegang terbesar kedua surat utang AS, terus mengurangi > kepemilikannya selama lima bulan berturut-turut. Kepemilikannya turun > 22,6 miliar dolar AS menjadi 1,0615 triliun dolar AS. > > Pada akhir Desember 2017, kepemilikan asing secara keseluruhan > terhadap surat utang negara AS, sedikit turun menjadi 6,3103 triliun > dolar AS dari revisi November 6,3331 triliun dolar AS. > > Cadangan devisa Cina meningkat untuk 12 bulan berturut-turut mencapai > 3.1615 triliun dolar AS pada akhir Januari 2018. > > Cadangan devisa akan terus bertahan stabil di masa depan, kata > regulator valuta asing Cina, mengutip fundamental ekonomi positif dan > pemulihan ekonomi global.
