BUYA SYAFII MAARIF: RADIKALISME ADALAH "RONGSOKAN PERADABAN"
HIKAM READER1:09 PM No comments:

"Inilah rongsokan yang diimpor ke sini, oleh suatu wilayah yang kalah. Daki 
kotoran peradaban ini celakanya dimanfaatkan politisi busuk. Mereka meyakini 
'Teologi Maut', tak berani hidup, kelompok putus asa sejatinya."(Buya Syafi'i 
Maarif, mantan Ketum PP Muhammadiyah)
Metafora yg digunakan oleh Buya Syafii Maarif (BSM) untuk radikalisme dan aksi 
kekerasan, menurut hemat saya, sangat 'cespleng' dan sekaligus mudah dipahami 
publik. Kata "rongsokan" dan "daki" keduanya merepresentasikan suatu kondisi 
yang merupakan bekas, sampah, dan/atau limbah. Walaupun demikian, 'rongsokan' 
masih punya potensi utk diselamatkan dan dimanfaatkan. Itu berbeda halnya 
dengan daki (scum) yang berkonotasi kotor dan mesti dilenyapkan.
Radikalisme dan aksi kekerasan, sebagaimana yang kita lihat masih terus 
berkecamuk di negeri ini dan berbagai negara di dunia lain, adalah ibarat 
rongsokan dan sampah peradaban. Ia adalah produk peradaban manusia yang 
bersifat destruktif, dimulai dari tataran gagasan sampai pada tingkat 
praksisnya. Sepanjang sejarah peradaban, entah sudah berapa banyak rongsokan 
yang menjadi produk samping dr kemajuan dan keunggulan manusia, yang kemudian 
dimanfaatkan utk kepentingan-kepentingan tertentu.
Ketika suatu rongsokan dari peradaban didaur ulang, ia bisa menjadi produk baru 
yang bisa berpotensi positif tetapi juga destruktif. Positif apabila dari 
rongsokan tersebut dapat diperoleh pelajaran bagi manusia agar tak mengulangi 
kesalahan-kesalahan yang akan merusak peradaban. Negatif jika hasilnya adalah 
hanya daki yang makin mengotori kemanusiaan.
Radikalisme dan aksi kekerasan (seperti aksi terorisme) adalah rongsokan 
peradaban yang derajatnya adalah "daki" . Ia bukan rongsokan yang ada 
manfaatnya untuk di daur ulang karena dipandang masih ada gunanya. Radikalisme 
dan kekerasan, karenanya, harus dihilangkan once and for all.
Memberantas radikalisme dan kekerasan bukan ihwal yang mudah, karena banyaknya 
pihak-pihak yang merasa diuntungkan sehingga akan membelanya, baik 
terang-terangan atau sembunyi. Dan yang sembunyi biasanya jauh lebih susah dan 
lama prosesnya ketimbang yang terang-terangan. Yang sembunyi bukan hanya tampak 
"wadhag" (lahiriah)nya saja, tetapi ada dalam pikiran manusia pendukung dan 
pemujanya.
BSM menunjuk pada para politisi busuk dan pengusung serta pendukung "Teologi 
Maut" sebagai para pengguna radikalisme dan kekerasan. Hemat saya, mereka itu 
pun ada yang terang-terangan, seperti JI, Al-Qaeda, ISIS, JAD, dll., tapi juga 
ada yg sembunyi-sembunyi dan tak transparan seperti kelompok HTI dan 
sejenisnya. Belum lagi mereka yang tampak wadhag seakan-aka anti radikalisme, 
pro-demokrasi, dsb., tetapi perilakunya malah mendukung ideologi dan praktik 
kekerasan! Diperlukan kewaspadaan, kewaskitaan, ketegasan, dan keberanian serta 
kekuatan untuk menghadapi, menangkal, dan menanggulangi kedua jenis users tsb.
Itu sebabnya deradikalisasi BUKAN hanya sebuah program apalagi proyek saja; 
tetapi sebuah GERAKAN nasional (a national movement) yang sistemik, 
terstruktur, dan massif dalam jangka panjang. Gerakan deradikalisasi nasional 
(GDN) bukan hanya dilakukan sepenuhnya oleh negara, tetapi juga melibatkan 
organisasi masyarakat sipil (OMSP) dan setiap warganegara. Gerakan 
deradikalisasi bukan hanya soal pemberantasa atau eliminasi, tetapi juga 
rehabilitasi dan penyelamatan serta perlindungan dari ancaman radikalisme dan 
kekerasan dari batang tubuh bangsa Indonesia.
Simak tautan ini:
1. 
https://oknews.co.id/buya-syafii-maarif-tentang-toleransi-otentik-dan-rongsokan-peradaban/2.
 
http://www.muslimoderat.net/2017/07/buya-syafii-rongsokan-peradaban-arab.htmlSUMBER:
 http://www.hikamreader.com/2018/02/buya-syafii-maarif-radikalisme-adalah.html

Kirim email ke