22 Februari 1967
Bagaimana Soeharto Mengambil Alih Kekuasaan dari Sukarno?

Ilustrasi Sukarno & Soeharto. tirto.id/Gery Reporter: Husein Abdulsalam
22 Februari, 2018
https://tirto.id/bagaimana-soeharto-mengambil-alih-kekuasaan-dari-sukarno-cEXma..
 Sukarno secara resmi menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada Soeharto pada 22 
Februari 1967.
Anak petani. 
Tangan besi mengganti 
kuasa peci.tirto.id - Pada hari ketujuh bulan Februari 1967, Presiden Sukarno 
mengirim dua surat kepada Soeharto. Dalam salah satu surat, Sukarno mengatakan 
bersedia menyerahkan kekuasaan eksekutifnya kepada Soeharto. Penyerahan itu 
dengan syarat: Sukarno tetap dipertahankan sebagai kepala negara yang berwenang 
menyatakan perang, serta mengangkat dan menerima duta besar.

Tawaran Sukarno tersebut sebenarnya tidak begitu mengherankan. Setelah 
penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal Angkatan Darat pada 30 September 
1965, posisinya sebagai presiden semakin lemah.

Bung Karno, Esa Hilang Dua Tak Berbilang 
Pelaku utama penculikan dan pembunuhan itu adalah Letnan Kolonel Untung—seorang 
komandan Cakrabirawa, pasukan khusus pengawal presiden. Untung tidak bermaksud 
menggulingkan Presiden Sukarno, tetapi dia dituduh melancarkan kudeta untuk 
kepentingan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tiga hari setelah peristiwa 
tersebut, Sukarno menunjuk Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Komando 
Cadangan Strategis AD (Pangkostrad), untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan 
ketertiban.

Soeharto menindaklanjuti penunjukan tersebut dengan membentuk Komando Pemulihan 
dan Ketertiban (Kopkamtib) pada 10 Oktober 1965. The Smiling General itu pun 
menjadi panglima pertamanya.

Dalam Soeharto: A Political Biography (2001), sejarawan R.E. Elson menyebutkan, 
salah satu langkah awal yang dilakukan Kopkamtib adalah menamai peristiwa 
tersebut "Gestapu" (Gerakan September Tiga Puluh). Nama itu, menurut Elson, 
memang kurang berbudi bahasa tetapi cukup untuk menggambarkan bahwa peristiwa 
tersebut merupakan sebuah gerakan politik.

Setelahnya, Untung dihukum mati. Sementara organisasinya diberangus, anggota 
dan simpatisan PKI pun ditangkap lalu beberapa di antaranya dihukum mati atau 
dibunuh. Seoharto juga menyingkirkan anggota PKI dari jajaran birokrasi 
kementerian dan lembaga pemerintah lainnya. 

Elson mencatat sebanyak 1.334 orang terkait PKI ditangkap di Jakarta per 16 
Oktober 1965. Diperkirakan lebih dari 400.000 anggota dan simpatisan partai ini 
tewas dibunuh tentara atau anggota organisasi masyarakat yang berafiliasi 
dengan musuh-musuh politik PKI pada periode 1965-1966.

Menurut Elson, cepat dan masifnya tindakan Soeharto dimotori dua motif. 
Pertama, motif pengakuan bahwa zaman telah berubah secara mendasar sejak 1 
Oktober 1965. “PKI (yang sebelumnya kuat) terbaring bingung, tidak pasti, 
sangat lemah dan terkapar,” sebut Elson (hlm. 124).

Kedua, motif perhatian yang lebih strategis: kebutuhan untuk menciptakan 
solidaritas dan meningkatkan legitimasi. Soeharto memanfaatkan momentum Gestapu 
untuk menyatukan kelompok anti-komunis di belakangnya dengan memusatkan 
perhatian mereka kepada PKI yang dijadikan kambing hitam kudeta.


Baca juga: 
  a.. Keterlibatan Muhammadiyah dalam Pembantaian 1965 
  b.. Pindah Agama Karena Tragedi 1965 
  c.. Riwayat Rewang Mengumpulkan Sisa-Sisa PKI 1965


Lemah Politik dan Ekonomi
Konstelasi politik Indonesia pun tidak lagi sama setelah PKI tiada. Karen 
Brooks dalam “The Rustle of Ghost: Bung Karno in the New Order” (1995) 
mengatakan, Sukarno bertumpu bersama dua kekuatan politik besar, Angkatan 
Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan PKI, dalam menciptakan stabilitas 
pemerintahan Demokrasi Terpimpin yang dicanangkannya sejak 1959. Menurut 
Brooks, Presiden Sukarno mesti berebut kekuasaan dengan tentara setelah PKI 
diberantas.

“Dengan keluarnya PKI dan tentara bertekad untuk menegaskan kontrol, Sukarno 
mendapati dirinya dan kebijakannya semakin diabaikan,” sebut Brooks.

Itu semakin terlihat sejak Sukarno meneken Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 
pada 1966. Surat perintah itu memberi mandat kepada Soeharto untuk menjamin 
jalannya pemerintahan dan menjaga keselamatan presiden.

Kronik ’65 (2017) yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan mencatat, 
Supersemar memiliki kekuatan yuridis yang mengikat semua orang—bahkan Presiden 
Sukarno pun tidak bisa mencabutnya—ketika MPRS memutuskannya sebagai TAP MPRS 
Nomor IX/1966 pada 21 Juni 1966. Pada hari itu juga MPRS mencabut gelar Sukarno 
sebagai presiden seumur hidup. 

Sementara itu, MPRS memberikan kewenangan kepada Soeharto, sebagai pengemban 
Supersemar, untuk membentuk kabinet pada 5 Juli 1966.


Baca juga: 
  a.. Perjumpaan dan Perpisahan Dwitunggal Sukarno-Hatta 
  b.. Fatmawati, Cinta Sukarno dari Pengasingan


Dualisme Sukarno versus Soeharto di puncak kekuasaan pun tidak terhindarkan.. 
Soeharto mampu memanfaatkan momentum sejak peristiwa Gestapu dengan menjadi 
Pangkopkamtib hingga mendapat mandat Supersemar. Di sisi lain, lemahnya kondisi 
ekonomi semasa Demokrasi Terpimpin dan berbagai demonstrasi menentang Sukarno 
turut membuat posisi politik presiden pertama itu semakin terdesak.

Ekonom sekaligus Wakil Presiden RI 2009-2014 Boediono dalam Ekonomi Indonesia 
(2017) mencatat, perkembangan dan program politik seperti Operasi Pembebasan 
Irian Barat dan Konfrontasi Malaysia memaksa pemerintahan Sukarno 
mempertahankan tingkat pengeluaran yang berakibat kian besarnya defisit APBN.

Pemerintah menggelontarkan Rp21 miliar (1963), Rp90,5 miliar (1964), hingga 
Rp567,1 miliar (1965) untuk membiayai Operasi Pembebasan Irian Barat dan 
Konfrontasi Malaysia. Angka tersebut mencakup 17,1 persen pengeluaran APBN 1964 
dan 39 persen persen pengeluaran APBN 1965.

“Defisit harus dibiayai. Cara yang paling mudah adalah dengan meminjam kepada 
bank sentral (Bank Indonesia) yang memenuhinya dengan mencetak uang.. Inilah 
sumber paling utama peningkatan uang beredar,” sebut Boediono..

Selain untuk menutup defisit APBN, Bank Indonesia juga menyuplai uang baru 
untuk pembiayaan BUMN yang kala itu menjadi pilar utama Sistem Ekonomi 
Terpimpin ala Sukarno. Akibatnya, peredaran uang pun membludak.

Dua kombinasi peredaran uang tersebut menciptakan inflasi yang dicatat Boediono 
sebesar 445 persen (1964), 592 persen (1965), hingga 635 persen (1966)..

Brooks mengatakan ribuan mahasiswa turun ke jalan pada awal Januari 1966 guna 
menuntut penghentian kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta 
pembubaran PKI. Menurut Brooks, saat itulah tentara telah berhasil 
menggambarkan PKI sebagai kekuatan brutal dan jahat di balik G30S.

Terdesak Kudeta Merangkak
Sebulan sebelum Sukarno mengirim surat kepada Soeharto, lelaki yang mendaku 
penyambung lidah rakyat itu mengirim surat untuk MPRS pada 10 Januari 1967.. 
Saat itu, MPRS diketuai Jenderal A.H. Nasution.

Dalam surat bertajuk “Pelengkap Nawaksara” itu, Sukarno menjelaskan ada tiga 
alasan terjadi Gestok (Gerakan Satu Oktober, nama yang disematkan Sukarno untuk 
menyebut peristiwa 30 September 1965 malam), yakni keblingernya 
pemimpin-pemimpin PKI, keahlian subversi neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, 
dan adanya oknum yang tidak benar.

Istilah Nawaksara pernah digunakan Sukarno sebagai judul pidato 
pertanggungjawabannya kepada MPRS pada 22 Juni 1966 yang sama sekali tidak 
menyinggung soal G30S dan PKI. Dengan adanya surat tersebut, pidato 
pertanggungjawaban presiden menjadi lengkap. Namun, MPRS menolaknya.

 share infografik

Pada 9 Februari 1967, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) mengajukan 
pelaksanaan sidang MPRS untuk memberhentikan Sukarno. Menurut Elson, saat itu 
lah Soeharto mendapatkan apa yang dia cari sudah hampir berada dalam 
genggamannya.

Sementara itu, Sukarno, sebagaimana diceritakan O.G. Roeder dalam Anak Desa: 
Biografi Presiden Soeharto (1984), tidak memiliki pilihan selain mengundurkan 
diri. "Tindakan yang menarik diri dengan sukarela—sekalipun dengan maksud 
tersembunyi tertentu—akan lebih baik baginya, daripada diberhentikan dari 
jabatan oleh lembaga tertinggi negara tersebut" (hlm. 117).

Pada 20 Februari 1967, Soeharto mencoba meyakinkan Sukarno dan para 
pendukungnya bahwa kekuasan sang Pemimpin Besar Revolusi telah usai. Sukarno 
pun berkenan menyerahkannya.

Namun, Soeharto masih curiga soal pernyataan Sukarno itu. Penyebabnya ada dalam 
surat yang dikirim Sukarno pada 7 Februari 1967. Di situ Sukarno menulis nama 
dan gelarnya secara lengkap: Presiden Republik Indonesia/Mandataris 
MPRS/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata dan mengarahkan Soeharto untuk 
"melaporkan pada Presiden tentang pelaksanaan pemindahan kekuasaan ini apabila 
dipandang perlu". Apa yang diinginkan Soeharto adalah penyerahan kekuasaan 
presiden secara konstitusional.


Baca juga: 
  a.. Modus Soeharto Mencatut Uang Publik Lewat Yayasan 
  b.. Harta Soeharto: Lika-Liku Penyitaan Aset Yayasan Supersemar 
  c.. Gurita Bisnis Keluarga Soeharto

Akhirnya, Sukarno bertekuk lutut. Ia menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada 
pengemban Supersemar Soeharto di tanggal 22 Februari 1967, tepat hari ini 51 
tahun lalu.

Tak lama kemudian, MPRS mencabut kekuasaan Presiden Sukarno dan menetapkan 
Soeharto sebagai pejabat presiden. Ketetapan itu tertuang dalam TAP MPRS No.. 
XXXIII tahun 1967.

Kontroversi Supersemar dalam Transisi Kekuasaan Sukarno-Soeharto (2007) yang 
disusun Lembaga Analisis Informasi mengungkapkan manuver Seoharto mengisolasi 
Presiden Sukarno dari para pendukungnya. 

“Sulit dikatakan Jenderal Soeharto mengkudeta Presiden Sukarno. Sebaliknya, 
tidak bisa juga disimpulkan jika Jenderal Soeharto sama sekali tidak mengincar 
jabatan Presiden,” catat buku tersebut (hlm. 11).

Sementara itu, John Roosa dalam Pretext for Mass Murder (2006) mengatakan, 
Soeharto menggunakan Gestapu sebagai pretext (dalih) untuk mendelegitimasi 
Sukarno dan mendorong dirinya sendiri ke kursi presiden. Menurut Roosa, 
pengambil alihan kekuasaan negara oleh Soeharto bisa disebut creeping coup  
d'etat (kudeta merangkak). 

"Soeharto menyelesaikan pengambilalihan kekuasaan negara di balik tabir 
prosedur hukum. Dia menyamarkan kudeta merangkaknya sebagai upaya yang didukung 
oleh Sukarno—yang secara serampangan bertentangan—untuk mencegah kudeta oleh 
PKI," sebut Roosa (hlm. 32). 

Baca juga artikel terkait SUKSESI KEKUASAAN atau tulisan menarik lainnya Husein 
Abdulsalam 

(tirto.id - hsa/ivn)

Kirim email ke