China Bantah akan Ambil Alih Maladewa karena Tak Bayar Utang


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
China Bantah akan Ambil Alih Maladewa karena Tak Bayar Utang

Beijing sebut tuduhan dari mantan presiden Maladewa Mohamed Nasheed 
berkepentingan politik terkait krisis...
 |

 |

 |




Muhaimin
Sabtu, 17 Februari 2018 - 16:35 WIB

Presiden China Xi Jinping saat bertemu Presiden Maladewa Abdulla Yameen. 
Foto/REUTERS

NEW DELHI - Pemerintah China membantah tuduhan bahwa Beijing akan mengambil 
alih wilayah Maladewa karena negara itu tidak bisa membayar utang. Tuduhan itu 
dilontarkan mantan presiden Maladewa, Mohamed Nasheed.

Tuduhan ini muncul di tengah krisis politik di negara kepulauan di Samudra 
Hindia. Nasheed yang berada di pengasingan mengisyaratkan diri meminta bantuan 
India untuk membantu memecahkan krisis di negaranya.

“Baru-baru ini, mantan Presiden Maladewa Nasheed membuat banyak komentar salah 
di media India. Dia mengarahkan jari pada kerja sama praktis antara China dan 
Maladewa dan menuduh bahwa China terlibat dalam apa yang disebut perebutan 
tanah di pulau-pulau Maladewa, yang merongrong keamanan Wilayah Samudra 
Hindia,” kata juru bicara Kedutaan Besar China di India, Ji Rong, dalam sebuah 
pernyataan.

”Tuduhan ini tampaknya tidak berdasar tanpa memperhatikan fakta,” lanjut Ji 
Rong, seperti dikutip NDTV.

Baca: Nasheed: Tak Bisa Bayar Utang, Maladewa Terancam Diambil Alih China

Seperti diberitakan sebelumnya, Nasheed dalam wawancara dengan media Asia 
lainnya mengatakan bahwa utang besar-besaran kepada China membuat negaranya 
terancam diserahkan kepada Beijing pada awal tahun 2019. Dia memperingatkan 
bahwa pemilihan presiden yang cacat pada tahun ini akan mengarah pada 
pengambilalihan China terhadap Maladewa.

”Kami tidak dapat membayar utang sebesar USD1,5 sampai USD2 miliar ke China,” 
kata Nasheed kepada Nikkei Asian Review dalam sebuah wawancara di Sri Lanka. 

Dia berargumen bahwa negara di Samudra Hindia yang dikenal sebagai tempat 
tujuan wisata itu berpenghasilan kurang dari USD100 juta sebulan. Angka yang 
dia maksud itu adalah pendapatan pemerintah.

Nasheed, yang menjabat dari tahun 2008 sampai 2012, melarikan diri ke Inggris 
pada tahun 2016 karena hendak ditangkap dan dihukum di bawah undang-undang 
anti-terorisme. Dia dituduh telah memerintahkan penangkapan seorang hakim. Dia 
sekarang membagi waktunya di pengasingan antara Inggris dan Sri Lanka.

Menurut Nasheed, pada Januari lalu Maladewa memiliki kewajiban menyumbang ke 
China hampir 80 persen dari total hutang luar negerinya.

Sebagian besar utang masuk ke infrastruktur, termasuk jalan, jembatan dan 
bandara. “Tapi ini adalah proyek kesombongan,” kritik Nasheed.”Jalan tidak ke 
mana-mana, bandara yang (akan mangkrak) kosong,” ujarnya.

Sementara itu, lanjut Nasheed, utang Maladewa dibebani bunga tinggi. 
Menurutnya, Maladewa harus mulai melakukan pembayaran atas utangnya pada tahun 
2019 atau 2020.

“Jika Maladewa jatuh, China akan ‘menuntut keadilan’ dari pemilik berbagai 
pulau dan operator infrastruktur, dan Beijing kemudian akan bebas memegang 
tanah itu,” katanya.

Ji Rong, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, 
atas dasar saling menghormati, kesetaraan dan keuntungan bersama, China dan 
Maladewa telah bekerja sama dalam proyek infrastruktur dan penghidupan.”Dan 
langkah-langkah ini telah disambut secara luas oleh orang-orang Maladewa,” 
ujarnya.

”Sebenarnya, ketika Nasheed menjabat Presiden, China dan Maladewa telah 
meluncurkan proyek kerja sama yang relevan. Tuduhan yang disengketakan oleh 
Nasheed tampaknya dimaksudkan untuk melayani tujuan politik tertentu,” imbuh 
pernyataan Ri Jong.
  • [GELORA45] China Bantah ... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke