*Agaknya ekspor dari perusahaan-perusahaan ini dimasukan dalam statistik
NKRI, jadi memberikan gambaran yang bagus bagi negara di mata umum.
Bagaimana dengan laba, siapa-siapa yang mendapat deviden di NKRI. Apakah
perusahaan-perusahaan ini bayar pajak atau masih mendapat tax holiday?
Pajaknya berapa %?*


*Pernah salah satu perusahaan sepatu raksasa yang beroperasi di NKRI
memberikan hadiah kepada TAPOL (London), tetapi TAPOL menolak untuk
diterima. Tentu alasan penolakan berkaitan dengan masalah perburuhan.*


http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/
Sneakers Jokowi dan Buruh Nike

By: Sugeng Riyadi <http://majalahsedane.org/author/sugeng-riyadi/>

On: 31/01/2018

In: Analisis <http://majalahsedane.org/post/analisis/>

Tagged: industri sepatu <http://majalahsedane.org/tag/industri-sepatu/>,
Nike <http://majalahsedane.org/tag/nike/>, Pemasok Nike
<http://majalahsedane.org/tag/pemasok-nike/>, Sneakers
<http://majalahsedane.org/tag/sneakers/>


Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat ramai berita media massa.
Kali ini Jokowi berpenampilan nyentrik, menggunakan kaos lengan panjang dan
sepatu *casual* merah *maroon* saat peresmian Kereta Bandara
Soekarno-Hatta, pada 2 Januari 2018. Pakaian demikian di luar kebiasaan,
untuk kegiatan pejabat negara, yang biasa menggunakan stelan jas, kemeja
atau batik serba resmi alih-alih kaku.

Yang mencolok dari penampilan Jokowi adalah sepatunya. Para jurnalis pun
menelusuri merek sepatu yang dipakai Jokowi. Ternyata, sepatu yang
dikenakan Jokowi bermerek Nike dari jenis Roshe One. Sepatu tersebut
diperkirakan harganya Rp 1 juta per pasang (Detik Online, 2/1/2018).

Ini bukan kali pertama Jokowi tampil dengan *sneakers* Nike saat acara
kenegaraan. Sebelumnya, ketika melakukan kunjungan kerja ke Tasikmalaya
Jokowi tampil dengan *sneakers* Nike berwarna keabuan. Ketika ditanya awak
media soal *sneakers–*nya, Jokowi menjelaskan layaknya bintang iklan, bahwa
*sneakers* yang ia kenakan agar mempercepat gerak saat melakukan *blusukan*
ke daerah (Detik Online, 9/6/17). Usut punya usut, sepatu Nike seri Lunar
Egic Low Flyknit 2 yang digunakan Jokowi di Tasikmalaya memang didesain
khusus untuk para pelari yang sepasangnya Rp 1,8 juta.

Jokowi sebagai pejabat negara, secara tidak langsung telah mempromosikan
merek dan model sepatu baru. Entah kebetulan atau tidak, beberapa hari
setelah penampilan Jokowi dengan *sneakers–*nya, iklan Nike bertebaran di
berbagai media. Tentu saja bintang iklannya bukan Jokowi. Di pasar-pasar
tradisional dan di toko-toko, model sepatu *sneaker *dengan atau tanpa
merek Nike menjadi pajangan utama.

Terlepas dari cerita Jokowi dan *sneaker*-nya, industri sepatu di Indonesia
sudah berlangsung sejak 1980-an hingga sekarang. Ketersediaan tenaga kerja
murah di Indonesia menjadi daya panggil utama bagi perusahaan-perusahaan
pembuat sepatu untuk mendirikan pabrik di Indonesia. Dalam beberapa tahun
terakhir industri sektor alas kaki dinilai merupakan industri berkontribusi
besar terhadap perekonomian nasional. Penilaian diukur dari peningkatan
kinerja ekspor alas kaki Indonesia pada kuartal pertama 2017 sebesar 3,3
persen. Nilai ini menurut Kementerian Perindustrian Indonesia melebihi
pertumbuhan nilai ekpor dunia yang hanya sekitar 0,19 persen. Dengan angka
tersebut Indonesia menduduki peringkat kelima negara eksportir produk alas
kaki setelah China, India, Vietnam dan Brazil.



Predikat negara eksportir inilah yang mungkin membuat kepercayaan diri
Jokowi tampil dengan *sneakers* Nike dalam beberapa acara kenegaraan.
Apalagi produk sepatu Nike sebagian besar diproduksi di Indonesia. Di balik
model sepatu yang kekinian, kontribusi produksi sepatu terhadap
perekonomian nasional, jangan lupakan para pembuat sepatunya, apalagi
pembuat sepatu Nike.

Nike merupakan satu merek sepatu dan perlengkapan olahraga asal Amerika
Serikat yang beredar di pasar internasional. Perusahaan multinasional ini
melimpahkan seluruh produksinya melalui pihak ketiga. Nike dan merek-merek
lainnya mengandalkan pabrik-pabrik di Asia, sebagai negara berupah murah,
ramah investor dan kejam terhadap buruhnya. Penghasilan Nike 2014, sebesar
27,8 miliar dolar Amerika Serikat. Total buruh di perusahaan Nike sebanyak
48 ribu orang, sementara jumlah buruh di perusahaan pemasoknya sebanyak 2,5
juta orang. Para buruh pembuat Nike tersebar di Banglades, Kamboja,
Indonesia, Hongkong, Filipina, China dan Indonesia (ITUC, 2016).

Tulisan ini mencoba menelusuri bagaimana Nike masuk ke Asia, termasuk
Indonesia serta bagaimana Nike dan pemasoknya meraup keuntungan dengan dari
keringat buruh.

*Nike, Si Pemburu Upah Murah*

Produk sepatu Nike pertama kali di produksi di Jepang pada 1970-an. Saat
itu, upah di Jepang lebih murah dibanding Amerika Serikat (AS). Dengan
biaya produksi yang murah Nike dapat menyaingi harga jual produk merek
Jerman seperti Adidas dan Reebok. Dari keuntungan upah murah di Jepang,
Nike berhasil menguasai seperlima pasar AS dengan pendapatan mencapai 149
juta dolar AS pada 1979. Nike nyaris memenangkan persaingan di pasar alas
kaki dunia dengan mengupah murah buruh.

Pada 1972 Nike meluaskan produksinya ke Korea Selatan dan Taiwan.[1]
<http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftn1> Selain
Nike, di dua negara tersebut, beroperasi pula merek-merek lain, seperti
Adidas. Korea Selatan dan Taiwan merupakan bagian terpenting dari rantai
pasok global industri alas kaki dunia. Itulah kenapa perusahaan-perusahaan
di Indonesia yang memasok dan memproduksi merek Amerika Serikat dan Eropa
berasal dari Korea dan Taiwan.

Konteks lain yang lebih luas, ekspansi perusahaan multinasional merupakan
satu bagian dari cerita memenangkan Perang Dingin. Merek-merek asal Amerika
Serikat maupun Eropa memainkan peran penting untuk memperluas dan
memperkuat Blok Barat di Asia.

Akhir 1980-an di Korea Selatan terjadi gejolak politik yang memprotes rezim
militer Part Chung-hee. Gejolak itu disambut gerakan buruh menuntut
kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja buruh. Di saat yang sama, *General
System Preference* alias sistem bebas tarif dari Korea Selatan ke
negara-negara maju dicabut. Sejak itu, investor-investor mulai melirik
negara-negara yang masih mendapatkan GSP dan menyediakan buruh murah. Nike
pun memindahkan operasinya ke Thailand, Indonesia dan beberapa negara lain.

Perpindahan industri alas kaki dari Korea Selatan disambut baik oleh
Pemerintah Indonesia. Saat itu Indonesia sedang gencar menarik investasi
asing setelah jatuhnya harga minyak dunia pada pertengahan dekade 80-an.
Sampai akhir 1980-an, Indonesia tidak memiliki peraturan teknis pelaksanaan
upah minimum, tapi sudah memiliki peraturan mengenai penanaman modal asing
dan mulai membuka kawasan-kawasan berikat. Sejak itulah, industri
manufaktur alas kaki terhubung dengan rantai pasokan global dengan lokasi
geografi yang strategis untuk menjangkau pasar Asia sekaligus sumber besar
bagi buruh murah yang tidak terorganisasi.

Pada 2014, seluruh produksi Nike di buat oleh 569 pabrik yang tersebar di
42 negara dengan melibatkan 1.012.700 buruh.[2]
<http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftn2> Pada 2017,
Nike memimpin pasar untuk industri alas kaki dan garmen lebih dari 160
negara.

Di Indonesia Nike mulai beroperasi sejak 1988 melalui 11 perusahaan
pemasok. Perusahaan-perusahaan pemasok tersebut, diantaranya merupakan
pemegang lisensi pembuat Nike di Korea Selatan dan Taiwan. Selain
memproduksi Nike perusahaan-perusahaan tersebut pun memproduksi merek-merek
lain seperti Reebok, Adidas, Puma, dan lain-lain.

*Meraup Keuntungan dengan Mengeluh*

Pada 2012 Nike di Indonesia diproduksi oleh 20 pabrik dengan mempekerjakan
131.958 buruh. Per 2013 jumlah pemasok Nike menjadi 38 dengan 175.000
buruh. Hampir 75 dari buruh Nike adalah perempuan. Pabrik tersebut tersebar
di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Per 2013, ketika siaran-siaran pers Apindo mengeluh kenaikan upah minimum
merugikan industri padat karya, perwakilan Nike di Indonesia bertemu dengan
Menteri Perindustrian saat itu, MS Hidayat di Kantor Kementerian
Perindustrian. Kepada MS Hidayat, Perwakilan Nike menyatakan akan
menjadikan Indonesia sebagai basis produksi Nike di dunia. MS Hidayat
merekomendasikan agar Nike merelokasi manufakturnya ke luar Jabodetabek
(Antara Online, 19/4/2013). Per 2017, perwakilan Nike pun bertemu Menteri
Ketenagakerjaan di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan. Nike  menyampaikan
akan meningkatkan produksinya di pemasok-pemasok Indonesia (Kemnaker
Online, 28/2/2017).

Untuk produk Sepatu, Nike menggunakan 16 perusahaan yang kesemuanya
berstatus Perusahaan Modal Asing (PMA) dari Korea Selatan dan Taiwan. Total
buruh dari 16 perusahaan yang memproduksi sepatu Nike di Indonesia 147.366
atau sekitar 70% dari total buruh yang bekerja di sektor alas kaki
Indonesia.[3]
<http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftn3>

Tabel Perusahaan pemasok Sepatu Nike di Indonesia

*No*

*Nama Perusahaan*

*Status*

*Modal*

*Alamat*

*Total*

*Buruh*

*Presentase perempuan*

*Perusahaan pemasok (Sub-kontrak)*

*Perusahaan Pemegang Kontrak (Contract Manufacturer)*

1

PT Adis Dimension Footwear

PMA

 asal Taiwan

Tangerang

8415

52%



PT. YC Tec Indonesia

Shoetown

2

PT Asia Dwimitra Industri

PMA asal Korea

Tangerang

2695

47%

PT Adis Dimension Footwear,

PT. YC Tec Indonesia

Shoetown

3

PT Chang Shin Reksajaya

PMA asal Korea Selatan

Garut

6711

91%

Chang Shin

4

PT Dean Shoes

PMA asal Taiwan

Karawang

5737

77%

Dean Shoes

5

PT KMK Global Sports

PMA asal Korea Selatan

Tangerang

12499

76%

KMK

6

PT Nikomas Gemilang

PMA asal Taiwan

Serang

19797

83%

Pou Chen

7

PT Pratama Abdi Industri Tangerang

PMA Asal Korea Selatan

Tangerang

7760

78%

Hapco Screen Printing, PT. YC Tec Indonesia

Pratama

8

PT Pratama Abdi Industri Sukabumi

PMA Asal Korea Selatan

Sukabumi

17682

68%

Pratama

9

PT Victory Chingluh Indonesia

PMA asal Taiwan

Tangerng

15273

75%

Cingluh

10

PT Adis Dinamika Sentosa

PMA asal Taiwan

Majalengka

2473

69%

PT Asia Dwimitra Industri

Shoetown

11

PT Feng Tay Indonesia Enterprises

PMA asal Taiwan

Bandung

11924

62%

Feng Tay

12

PT Pou Yuen Indonesia

PMA asal Taiwan

Cianjur

7351

62%

Pou Chen

13

PT Seo Heung Indonesia

PMA asal Korea Selatan

Karawang

1912

73%

Chang Shin

14

PT Taekwang Industrial

PMA asal Korea

Subang

12973

93%

Tae Kwang

15

PT YC Tec Indonesia

PMA asal Korea Selatan

Purwakarta

457

60%

–

16

Chang Shin Indonesia

PMA asal Korea Selatan

Karawang

13707

86%

Chang Shin

Sumber: Disarikan dari Nike global manufacturing data eksport yang
dikeluarkan pada November 2017.

Berikut adalah enam dari delapan group perusahaan multinasional kontraktor
langsung dengan Nike. Berikut ini adalah profil dari group perusahaan
kontraktor Nike yang memiliki pabrik di beberapa negara Asia.

   1.

   *Pou Chen Group*

PT Pou Chen Group (PCG) perusahaan asal Taiwan ini memiliki relasi dengan
pabrik pemasok di beberapa negara seperti Indonesia, China, Vietnam,
Bangladesh dan Mexico. Dalam situs resminya PCG  memproduksi sekitar 20
persen sepatu olahraga di dunia dengan brand internasional seperti Nike,
Adidas, Puma, Reebok dan sebagainya. PCG mengklaim Omset dan labanya lebih
besar dibanding dengan pemilik merek. Sepanjang Januari-September 2015 PCG
memiliki pemasukan sebesar 198,840 miliar dolar Taiwan.

PCG pertama kali mendirikan pabriknya pada 1992 di Serang Banten. Saat ini
PCG Indonesia memiliki 4 pabrik, yaitu PT Nikomas Gemilang  (1992) yang
bertempat di Serang, Banten, Glostar Indonesia (GSI I) dan GSI II di
Sukabumi, yang beroperasi pada 2007 dan 2008; dan PT. Pou Yuen Indonesia di
Cianjur, yang beroperasi pada 2015. Jumlah buruh PCG di empat pabrik
diperkirakan mencapai 133.000 orang,[4]
<http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftn4> dengan
sebanyak 80 persen adalah perempuan.

   1.

   *Feng Tay Group*

Feng Tay Enterprises Co, ltd didirikan pada 1971 di Taiwan. Nike memesan
produknya ke Grup Fen Tay sejak 1979. Pada 1988, Feng Tay memperluas
operasinya ke China, Indonesia, Vietnam dan India. Pada 1992 Feng Tay Group
berkolaborasi dengan Nike mendirikan pusat penelitian dan pengembangan
manufaktur sepatu berbasis Asia yang pertama. Pada 2003, Feng Tay Gorup
mendirikan Shoe Majesty Co., Ltd., perusahaan ini didirikan khusus untuk
memproduksi sepatu kasual merek seperti Clarks, Rockport dan Dr. Martens.

Di Indonesia Feng Tay Group mendirikan pabriknya di Bandung pada 1992
dengan nama PT Feng Tay Indonesia Enterprises. Rata-rata Feng Tay Indonesia
memproduksi lebih dari  9,5 juta pasang sepatu per tahun atau 14 persen
dari total produksi Feng Tay Group. Jumlah buruh di Feng Tay Indonesia
11.924 orang. Persentase buruh perempuannya sebesar 62 persen.

   1.

   *Taekwang Group*

Taekwang Co, Ltd merupakan Perusahaan Korea Selatan yang berdiri pada 1971.
Sejak berdiri Taekwang memproduksi dan memasok sepatu lari merek Nike untuk
dipasarkan ke seluruh dunia. Perusahaan ini memulai lompatannya sebagai
perusahaan global dengan mendirikan Taekwang VINA di Dong Nai pada 1995 dan
“Qingdao Taekwang” di Qingdao, China pada 1995. Sejak itu, Taekwang membagi
pekerjaannya dengan membentuk sistem divisi kerja, pengembangan dan produk
baru dan kualitas produk di kantor pusat di Korea dan manufaktur massal di
pabrik-pabrik luar negeri.

Taekwang Industri mulai meluaskan produksinya ke Vietnam pada 2009 dengan
mendirikan dua pabrik. Pada 2013, Taekwang membuka pabrik di Subang, Jawa
Barat. Total buruh di Group Taekwang 68 ribu buruh di 4 negara (Korea,
China, Vietnam dan Indonesia) yang menghasilkan 64 ribu pasang sepatu per
bulan dengan pendapatan sebesar 1,33 miliar dolar Amerika Serikat.

   1.

   *Chang Shin Group*

Chang Shin didirikan pada 1981 dengan nama perusahaan perdagangan Dae Shin
di Korea. Pada 1994 Chang Shin Group mendirikan pabrik di Vietnam yang
memproduksi sepatu Nike. Chang Shin juga memperluas pabriknya di China dan
Indonesia pada 2010. Total buruhnya 47.000 orang.

Pabrik Chan Shin di Indonesia pertama kali didirikan di Kabupaten Karawang
dengan nama PT Chang Shin Indonesia, pada 22 Januari 2011. Chang Shin
Indonesia membuka anak usahanya dengan nama PT Chang Shin Reksajaya di
Garut, Jawa Barat pada tahun 2015.

   1.

   *Dean Shoes Group*

Dean Shoes yang berkantor pusat di Taichung, Taiwan mengoperasikan beberapa
pabrik di Asia. Tiga pabrik besar Dean Shoes di China, Indonesia dan
Vietnam dengan total tenaga kerja lebih dari 29.000 Pekerja. Dean Shoes
hanya memproduksi Nike. Di Indonesia PT Dean Shoes berada di Karawang yang
mempekerjakan lebih dari 8.600 pekerja, menangani antara 300 dan 500 faktur
per bulan.

   1.

   *Cingluh Group*

Chingluh Group pabrik pembuat sepatu olahraga. Cinglung memulai operasi
bisnisnya pada 1969 di Taiwan. Anak usahanya tersebar  di China, Vietnam
dan Indonesia. Rata-rata pendapatan Chingluh Group 1 miliar dolar Amerika
Serikat per tahun. Total buruh yang bekerja di Chingluh Grup sekitar 80.000
orang.

Selain memproduksi sepatu olahraga merek Nike, Chingluh pun membuat Adidas,
FootJoy, Mizuno, dan Reebok. Cingluh memulai ekspansinya di Indonesia sejak
2007 di Tangerang. Fasilitas produksi di Indonesia ada dua pabrik yang
jumlah buruhnya sekitar 24.0000.

*Buruh Nike Tidak Senyentrik Gayamu*

Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC/International Trade Union
Confederation), dalam *Scandal Inside The Global Supply Chain of 50 Top
Companies: Frontlines Report 2016, *melaporkan bahwa Nike merupakan satu
dari limapuluh perusahaan multinasional yang meraup keuntungan dengan
mengeksploitasi jutaan buruhnya yang terus miskin.

Tidak asing lagi bahwa para pemasok Nike di Asia seringkali mempekerjakan
buruh tidak manusiawi. Pada 1990-an, terungkap bahwa pemasok-pemasok Nike
di Asia melanggar standar internasional perburuhan. Terdapat cerita pemasok
Nike yang mempekerjakan buruh anak, upah buruh yang rendah, lembur paksa,
kekerasan verbal maupun nonverbal dan kondisi kerja yang buruk. Pada 2002,
Nike bersedia membuat Kode Etik Bisnis untuk semua pemasoknya, namun nyaris
tidak berimplikasi positif terhadap para buruhnya.

Pada April 1997, sekitar 6000 buruh pembuat sepatu Nike di PT HASI mogok.
Para buruh menuntut pembayaran premi hadir dan kenaikan upah minimum.
Pemogokan dibubarkan oleh pasukan antihuru-hara (Kompas Online, 26/4/1997).
Pada Oktober 1997, 5000 buruh pembuat sepatu Nike di PT Garuda Indawa
mogok. Mereka memprotes pemecatan ilegal kepada 2000 buruh (Kompas Online,
14/10/1997)

Januari 2012, satu pemasok sepatu Nike, PT Nikomas Gemilang terbukti
memaksa 4.437 buruh lembur dan tanpa dibayar selama 18 tahun. Tak hanya
itu, buruh-buruh pun kerap mendapatkan kekerasan fisik dan verbal (BBC
Online, 12/1/2012)

Januari 2013, pabrik pemasok sepatu Nike di Sukabumi, PT Pratama Abadi
Industri,  memaksa buruh agar menandatangani pengajuan penangguhan upah
minimum 2013. Pemaksaan tersebut bahkan melibatkan militer (Radio Australia
Online, 15/1/2013. Para pengurus serikat buruh dipanggil satu per satu ke
pos keamanan. Di gedung produksi, general manajer berkeliling meminta tanda
tangan buruh sembari mengatakan, tidak perlu memercayai serikat buruh yang
menolak penangguhan upah (KBR Online, 16/1/2013).

Diinformasikan, lembaga anti kemiskinan global SumOfUs mengecam Nike karena
menjual kaos tim olahraga Inggris seharga US$ 150 atau Rp 1,7 juta, tapi
hanya menggaji buruh pabrik di Indonesia dengan bayaran 50 sen atau Rp
5.600 per jam untuk memproduksi kaos tersebut. (Liputan6 Online, 4/5/2014)

Satu pemasok Nike PT Chang Shin diduga melakukan pemberangusan serikat
buruh dan perampasan hak mogok dengan memecat para organisator mogok dan
mengerahkan kekuatan paramiliter. Tak hanya itu, di PT Chang Shin hak
mendapatkan ekonomi berupa upah layak, asuransi kesehatan dan bonus tidak
dipenuhi (Solidaritas.net, 16/6/2014)

Begitulah penguasa merek Nike menguasai desain, pasar sepatu dan
perlengkapan olahraga internasional. Semua produksinya dilimpahkan kepada
para pemasok, kemudian dipecah-pecah lagi kepada pemasok lain dengan
menikmati berbagai kemudahan investasi, perampasan hak buruh dan pasokan
daya dukung alam yang melimpah. Di balik sepatumu yang keren dan gaul, ada
buruh dan keluarganya yang menderita!



*Rujukan*

International Trade Union Confederation (ITUC). *Frontlines Report 2016
Scandal: Inside the global supply chains of 50 top companie. *Tersedia:
https://www.ituc-csi.org/frontlines-report-2016-scandal, diakses pada 30
Januari 2018

Dahana, Bambang T., et.al. *Dari Mana Pakaianmu Berasal? Upah dan Kondisi
Kerja Buruh Industri Garmen, Tekstil dan Sepatu di Indonesia.* Bogor. TAB
dan LIPS. 2016

Citra Fitri Mardiana. *Industri Alas Kaki RI Peringkat ke-5 Dunia.* Detik,
21 Mei 2017.
https://finance.detik.com/industri/d-3507246/industri-alas-kaki-ri-peringkat-ke-5-dunia,
diakses pada 17 Januari 2018

*Manufacturing Disclosure/567 Factories Listed.* Manufacturingmap Nike,
November 2017. Tersedia: http://manufacturingmap.nikeinc.com/, diakses pada
13 Januari 2018

Anton Pieper, et.al., *No excuses for homework: Working Condition in the
Indonesian Leather and Footwear Sector*. Change Your Shoes. Bonn, 2017.



*Catatan Kaki*

[1] <http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftnref1>
Sebagai catatan, kedua negara ini merupakan bekas koloni Jepang. Meletusnya
bom atom Hiroshima dan Nagasaki menjadi momen penting bagi AS untuk
melakukan intervensi ekonomi di negara-negara jajahan Jepang serta sebagai
pintu masuk bagi Amerika serikat melakukan hegemoni ekonomi terhadap
negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara. Selain itu Amerika Serikat
pun tengah bersiap menghadapi krisis ekonomi dunia pada dasawarsa 70-an dan
80-an. Dari momen inilah beberapa perusahaan multinasional asal Amerika
Serikat dan Eropa berbondong-bondong membuat pabrik beberapa negara Asia.

[2] <http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftnref2>
Manufacturing Disclosure / 567 Factories Listed, November 2017

[3] <http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftnref3>
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menyatakan terdapat sekitar
256.000 buruh yang bekerja di sektor kulit dan alas kaki di Indonesia.

[4] <http://majalahsedane.org/sneakers-jokowi-dan-buruh-nike/#_ftnref4> Abu
Mufakhir mencatat pada 2012 jumlah buruh Pou Chen Group di dua pabrik
(Serang dan Sukabumi) sebesar 120.000 orang. Jumlah ini belum ditambah
dengan jumlah pekerja PT Pou Yuan Indonesia, Cianjur yang pada 2015 berdiri
dan diperkirakan akan menyerap 13.000 buruh.

Kirim email ke