Mereka yang berjingkrak dengan proyek MIFEE, seperti Chalik, sebaiknya baca 
tulisan seperti ini. Begitu mabok dengan Jokowi, apapun yang datang dari sang 
presiden, kontan disambut gembira. Mana tuh "lumbung padi"nya yang katanya akan 
membuat rakyat kenyang makan???? Patut nggak diteruskan tulisan seperti ini??? 
Ha..ha.. soalnya tulisan yang selalu  diteruskan Chalik adalah yang datang dari 
Chan tentang  bagusnya dan positifnya  "Sosialisme dengan ciri Tkk"!!!
Tiga tahun MIFEE (bagian1): Tumbuhnya perlawanan terhadap perkebunan di Papua

By ADMIN | Published: OCTOBER23, 2013





“Kami, masyarakat adat Malind Anim KampungYowied menolak perusahaan masuk 
wilayah kami / wilayah distrik Tubang denganalasan:

Wilayah kami Kampung Yowied sempit.

Hidup kami selalu tergantung di hasil alam.

Generasi besok kami akan kemana?”

Spanduk tersebut diikat oleh daun kelapa,pertanda bahwa spanduk tersebut adalah 
tanda‘sasih’, tanda tradisional untuklarangan. Spanduk serupa dapat ditemui 
hampir diseluruh desa sekitar. Hal ini didukungoleh kesepakatan bersama antar 
desa di area tersebut bahwa tidak seorangpunboleh menyerahkan tanahnya, dengan 
nyawa sebagai taruhannya. Ini merupakantindakan penolakan terhadap dunia modern 
yang diketahui tidak ada tempat bagimereka. Sebuah mega proyek perkebunan telah 
diberlakukan di Merauke, PapuaBarat, dan 2,5 juta hektar hutan, lahan rumput 
dan rawa – tanah leluhur sukuMarind – menjadi target bagi kelapa sawit dan tebu.

Saat ini ekosistem alami di pedalamandistrik Tubang masih dalam keadaan baik, 
dan suku Marind Woyu Maklew yangtinggal di wilayah tersebut bisa dengan mudah 
mendapatkan kebutuhan mereka dihutan dengan berburu, meramu, dan memancing. 
Mantan kepala suku Desa Yowiedmengatakan bahwa ia dapat hidup hanya dengan 
setara 20.000 Rupiah dalamsebulan, yang akan ia gunakan untuk membeli tembakau 
dan sirih – selebihnyabisa didapatkan dari hutan.

Diseluruh Kabupaten Merauke bagian selatanPapua Barat, tanah telah dikuasai 
oleh Indonesia selama 50 tahun, masyarakatadat harus belajar cepat bagaimana 
cara melawan manipulasiperusahaan-perusahaan. Pada tahun 2009 politisi-politisi 
ambisius lokalmengajukan Merauke sebagai pusat pertumbuhan industri agrikultur 
baruIndonesia. Ini terjadi paska krisis pangan global 2008 saat pemerintah 
diseluruhdunia mengkhawatirkan mengenai ketahanan pangan nasional, mendorong 
gelombangperampasan tanah secara global. Merauke Intergrated Food and Energy 
Estate atau dikenal dengan MIFEEresmi diberlakukan 3 tahun lalu pada Agustus 
2010. Sekitar 50 izin lokasi telahdikeluarkan bagi 20 kelompok perusahaan, 
kebanyakan dari Indonesia atau KoreaSelatan.


 
 Kelaparan dan penolakan saatperusahaan-perusahaan masuk


 
Pernahdiklaim bahwa MIFEE akan ‘memberi makan Indonesia, kemudian memberi 
makandunia’. Hal ini dengan cepat terbukti sebagaiironio besar. Di desaZanegi, 
salah satu desa pertama yang terkena dampak pembangunan proyek MIFEEE,5 anak 
telah meninggal pada paruh awal tahun 2013 akibat gizi buruk danpenyakit yang 
mungkin terkait dengan polusi. Medco, perusahaan yangterlibat bahkan belum 
memproduksi pangan. Perkebunan hutan tanaman industrilahyang menjadikan hutan 
leluhur masyarakat Zanegi menjadi kayu serpih. Kayu-kayu serpih ini 
kemudiandimuat dalam kapal-kapal dan di ekspor ke Korea oleh rekanan kerja 
Medco, LGInternasional untuk kemudian dibakar di pembangkit tenaga listrik 
ataudijadikan papan fiber.

Kampung Zanegi juga kemudian telah belajaruntuk melawan. Masyarakat desa ditipu 
untuk keluar dari tanah mereka oleh Medcoyang memberikan mereka ‘Piagam 
Penghargaan’ dan uang sebanyak 300 juta Rupiah.Masyarakat tidak paham jika 
mereka telah menandatangani kesepakatan untukmelepas hutan mereka, sumber 
penghidupan mereka, identitas mereka. Kemudianperusahaan mulai mengambil kayu, 
memberikan ganti rugi kayu yang sangat rendahserta melanggar janji mereka untuk 
meninggalkan hutan primer disekitar hutansagu dan lokasi-lokasi sakral. 
Akhirnya masyarakat memutuskan untuk memblokirakses perusahaan. Jika mereka 
mendengar suara mesin gergaji, mereka akan lari mendatangisumber suara, dengan 
cara ini mereka berhasil membuat perusahaan tidakberaktivitas di tanah mereka 
selama lebih dari setahun.

Lepas dari perlawanan mereka, KampungZanegi telah menderita. Hutan telah hilang 
dan saat ini desa-desa kosongbersamaan dengan perginya orang-orang, tinggal di 
gubuk-gubuk sementara mencobaberburu beberapa hewan buruan yang masih tersisa. 
Yang lainnya bekerja diperusahaan, namun bayaran mereka hanya cukup untuk 
membeli makan bagi keluargadalam sehari. Rawa-rawa sudah teracuni oleh residu 
pestisida dari pembibitanpohon, ikan berenang dengan arah tak menentu seperti 
sedang mabuk kemudianmati. Masyarakat tidak memiliki cukup makanan, terutama 
para perempuan yangselalu member makan suami dan anak mereka sebelum memberi 
makan mereka sendiri.Kepercayaan tradisional di daerah ini dimaknai bahwa 
kematian terkait dengansuanggi atau ilmu hitam dan kepercayaan ini berujung 
pada konflik yangmengakibatkan beberapa kepala suku dipenjara, dituduh membunuh 
seseorang yangdipercaya sebagai ahli nujum. Tiga orang telah meninggal di 
penjara setahunbelakangan ini dan masyarakat setempat percaya itu juga akibat 
ilmu hitam atau‘suanggi’.

Kisah desa Zanegi telah dikenal di seluruhwilayah Merauke; ini merupakan 
peringatan bagi orang-orang jika mereka menjualtanahnya, dan hal ini mendorong 
masyarakat di desa lain untuk mengambiltindakan. Perusahaan lainnya; Rajawali, 
mencoba membangun perkebunan gula tebudekat pantai. Perusahaan ini berhasil 
membeli tanah dari desa Domande, tapidesa lain; Onggari dan Kaiburze berhasil 
mempertahankan tidak menjual tanahnya,lepas dari tekanan dari perusahaan 
Rajawali, yang juga telah dituduh ataspembalakan illegal pohon-pohon di kawasan 
desa Onggari.

Pada Juni 2013 di desa Domande, masyarakatlokal yang marah melakukan 
pemalangan, beberapa hari kemudian memerintahkanpara penebang kayu untuk 
meninggalkan wilayah mereka. Seperti di Zanegi,masyarakat Kampung Domande telah 
tertipu untuk menyerahkan tanahnya, namunmasih memperjuangkan untuk paling 
tidak mendapatkan kompensasi ataspohon-pohon. Sebelumnya warga sudah melakukan 
tindakan terhadap perusahaanRajawali setelah perusahaan melanggar persetujuan 
dan membabat pula kuburankeramat. Hidup di zona perkebunan artinya warga harus 
terus menerus waspadaterhadap perusahaan yang melanggar batas.

Ketakutan dan konflik tidak pernah jauhdari keberadaan perusahaan. Di Yowied, 
satpam yang bekerja untuk PT Mayoramenuduh masyarakat sebagai pemberontak 
separatis dari Organisasi Papua Mereka(OPM). Melihat warga sudah takut dan mau 
lari ke dalam hutan, beberapa kepalaadat akhirnya terpaksa menandatangani surat 
yang dibawa oleh PT Mayora. DekatWoboyu, penduduk desa ketakutan akan terjadi 
konflik mematikan setelah rumorberedar bahwa penduduk dari desa lain 
bekerjasama dengan PT Astra dalammensurvey batas wilayah tanah ulayat. Kedua 
perusahaan ini berencana membangunperkebunan gula.

Aktivis masyarakat lokal yang terlibatdalam Forum SSUMAWOMA merekam video 
wawancara di dua desa ini yang kemudianmereka bawa ke kota Merauke. Setelah 
mendiskusikan masalah ini pada hariMingggu sore, sekitar 100 orang memutuskan 
untuk bertindak, keesokan harinyamereka menduduki kantor PT Mayora di kota, 
menuntut jika perusahaan inginmembangun perkebunan baru, mereka harus 
mendatangi warga dengan cara yangpantas, bukan tiba-tiba datang dan menciptakan 
kekacauan, pemisahan, intimidasidan kebingungan. Bupati setempat setuju untuk 
menemui perwakilan setelah aksitersebut dan setuju untuk memerintahkan PT 
Mayora agar meninggalkan lahansecara temporer, namun perusahaan masih mencari 
strategi baru untuk meyakinkanpenduduk desa.

Forum SSUMAWOMA adalah kelompok yang hadirbeberapa bulan ini, kebanyakan 
terdiri atas lulusan universitas yang berasaldari bagian barat Kabupaten 
Merauke. Dengan dukungan masyarakat, merekamenyatakan oposisi mereka terhadap 
seluruh rencana perkebunan, paling tidaksaat masyarakat tidak memiliki 
kemampuan atau pengalaman untuk bekerja sebagaipegawai di perusahaan, sehingga 
akan mengakhiri posisi tenaga kerja palingbawah di tanah mereka sendiri. Mereka 
menunjukkan betapa masyarakat tidak akanmendapatkan apapun dari perkebunan, 
sebaliknya akan kehilangan banyak sekali:hutan mereka, penghidupan mereka, 
kebudayaan, serta identitias mereka.

Masyarakat Malind bukan hanya bergantungpada hutan untuk kebutuhan harian 
mereka, namun juga menentukan segala aspektentang siapa mereka. Dalamkosmologi 
Malind, manusia merupakan generasi ketiga, dua generasi pertama daribuyut 
mereka tetap abadi dalam lingkungan alam sekitar mereka, dan bumidiyakini 
sebagai ibu. Setiap klan terhubung secara erat dengan dema atau 
totemmereka—sebagai bagian dari ekosistem: Gebze dengan kelapa, Mahuze 
dengansagu, Basik-basik dengan babi liar, Samkakai dengan kanguru pohon. 
Sulitditerima bagi masyarakat Marind jika hutan mereka hilang, jika 
kebudayaanmereka ini menjadi sekedar simbol menyedihkan, esensi keberadaan 
mereka akanterkoyak.

 “Budaya Malind Anim bukan sekedartarian atau ritual atau ukiran yang di 
perankan melalui pehiasan lumpur, hiasandedaunan, anggin, pak, dan tali kayu 
lainnya.”(Forum SSUMAWOMA)

Saat kelapa sawit mengenakan seragam


 
Bagian Timur Merauke merupakan perbatasandengan Papua Nugini. Area ini 
merupakan area militer, dibawah dalihperlindungan zona perbatasan. Selama 
beberapa dekade masyarakat harus hidupdibawah intimidasi konstan dari militer 
di puluhan posko yang tersebar disepanjang perbatasan. Masyarakat tradisional 
disini berhadapan dengan lebihbanyak tantangan; banyak perempuan diperkosa, 
pangan pokok menjadi lebih sulitsaat militer memburu banyak hewan di hutan.

Militer merupakan sumber trauma dan terrordi Papua Barat, menciptakan perang 
terhadap masyarakat selama lebih dari 50tahun, melindungi kepentingannya 
sendiri dan agenda ekonomi Indonesia. Insidenpenembakan merupakan hal yang 
umum, gerakan kemerdekaan dihancurkanhabis-habisan, penyiksaan, pemenjaraan, 
dan pemukulan secara acak merupakanpemandangan yang umum. Tindakan rasis 
terhadap masyarakat Papua berkulit hitamterus terjadi. Suasana ketakutan dan 
kebencian telah terbangun sekian lama diseluruh Papua, jadi meskipun Merauke 
bukan merupakan kawasan gerakanpro-kemerdekaan akhir-akhir ini, namun hidup 
berdampingan dengan militer masihmerupakan tekanan yang konstan.

Seluruh perusahaan MIFEE menggunakanmiliter (atau Brimob) sebagai tenaga 
pengamanan, menambah tekanan bagimasyarakat untuk menyerahkan tanah mereka, 
namun di wilayah timur inikeberadaan militer terasa lebih kuat. Kawasan ini 
telah dialokasikan untukperkebunan sawit, dengan paling tidak 4 kelompok 
perusahaan mendorongperkebunan besar. Tidaklah mengherankan 
perusahaan-perusahaan ini lebih mudahberoperasi di kawasan ini, dan beberapa 
diantaranya saat ini sudah membalakhutan. Namun, beberapa marga masih tetap 
berjuang, menolak menjual tanahmereka, dan sudah ada beberapa aksi pemalangan 
juga disini..

Kompensasi rata-rata untuk pengilangankehidupan masyarakat adat berkisar 
sekitar 300,000 Rupiah per hektar. Jumlahini menyedihkan jika melihat ini 
sebagai bentuk penggantian atas seluruh kehidupanmereka yang bisa tersokong 
oleh hutan, terutama sekali saat jumlah ini dibagidengan beberapa keluarga. 
Namun saat uang tersebut diberikan untuk ribuanhektar, ini merupakan jumlah 
yang besar untuk diberikan bagi orang, yang secarakondisi keuangannya, sangat 
miskin. Dalam beberapa kasus, ini telah menjadipenyebab konflik antar desa, 
marga, atau individu-individu, memecah belahkomunitas selama bertahun-tahun.

Jauh di Jakarta, Master Plan Percepatandan Perluasan Pembangunan Ekonomi 
Indonesia (MP3EI) masih menceritakan kisahyang resmi : MIFEE merupakan rencana 
pembangunan terencana dan terstrukturdengan baik yang akan menyediakan bahan 
pangan seperti beras, jagung, kedelai,dan daging bagi Negara. Hal ini 
benar-benar mengabaikan kenyataan, dimana tanah-tanahtelah dirampas oleh kelapa 
sawit, gula dan perhutanan multinasional yang samayang telah menghancurkan 
banyak tempat di pulau-pulau lain di Indonesia. Dansejak demam investasi 
menyebar, perusahaan kelapa sawit juga telah mengantriuntuk memulai perkebunan 
mereka di hampir seluruh Tanah Papua.

Perlawanan masyarakat adat kadang terlihatputus asa – kesempatan apa yang 
dimiliki oleh masyarakat di hutan dalam melawanperusahaan multinasional dan 
militer? Tapi perusahaan juga masih waspada dalammelangkah di Papua, khwatir 
terhadap kemarahan masyarakat setempat, dan banyakrencana investasi besar telah 
gagal disini. Melawan mereka memberikan dampakyang sangat besar bagi masyarakat 
Malind, namun ini benar-benar kesempatansatu-satunya mereka untuk bertahan 
sebagai sebuah budaya, dan melindungi tanahmereka, yang juga secara global 
penting sebagai hutan tropis terbesar ketiga dibumi.

…

 Daftar perusahaan terlibat dalamMIFEE:

·         Medco (Perusahaan gas dan minyakIndonesia)

·        LG International (TNC Korea, terkenaldengan produk-produk 
elektroniknya)

·        Rajawali (Konglomerasi bisnis Indonesia)

·        Daewoo International (Bagian dari TNCPosco Korea Selatan)

·        Korindo (Konglomerasi bisnis Korsel denganberagam bisnis di Indonesia)

·        Wilmar International (Perkebunan Asia danraksasa perdagangan komoditas 
pangan)

·        AMS Plantations (Perusahaan perkebunanyang dimiliki oleh Ganda 
Sitorus, adik pendiri Wilmar Martua Sitorus)

·        Astra Agro Lestari (Perusahaan perkebunanIndonesia, dimiliki oleh 
perusahaan Inggris yang terdaftar di Bursa EfekLondon; Jardine Matheson)

·        Mayora (Perusahaan makanan Indonesia)

·        China Gate Agriculture Development(Perusahaan misterius, juga dari 
Korea Selatan)

·        Moorim Paper (Perusahaan kertas Korea)

·        Central Cipta Murdaya (KonglomerasiIndonesia – sang bos dipenjara 
karena menyogok izin perkebunan namun bisnisnyamasih berjalan lancar)

·        Texmaco (Konglomerasi Indonesia yang focuspada perhutanan)

Kirim email ke