*Sudah sekian lama rezim berkuasa menerima pajak dan royality dari
Freeport, sekalipun demikian dapat dibilang tidak ada lapangan kerja yang
diciptakan untuk dapat menampung tenaga kerja yang membanjiri wilayah
sekitar Freeport. Jumlah penduduk di kabupaten Mimika kurang lebih 300.000.
Jadi kalau emas habis ditambang maka penduduk dan para pekerja tambang yang
di-phk sulit mencari nafkah untuk hidup.*



https://tirto.id/nestapa-buruh-freeport-di-antara-negosiasi-jokowi-trump-cFkh?utm_source=PushNotif&utm_campaign=1113&utm_medium=Notification


Nestapa Buruh Freeport di antara Negosiasi Jokowi-Trump
<https://tirto.id/nestapa-buruh-freeport-di-antara-negosiasi-jokowi-trump-cFkh?utm_source=PushNotif&utm_campaign=1113&utm_medium=Notification#>

Bak gajah mati meninggalkan gading: perundingan setengah nasionalisasi
pemerintah Indonesia dengan Freeport menyulut PHK ribuan buruh.

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
<https://tirto.id/author/dieqyhasbi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

26 Februari, 2018 *dibaca normal 10 menit *

   -

   Keluarga buruh Freeport yang kena PHK, berantakan; menjual semua
   perkakas penting, ada yang bunuh diri

*Bak gajah mati meninggalkan gading: perundingan setengah nasionalisasi
pemerintah Indonesia dengan Freeport menyulut PHK ribuan buruh.*

*tirto.id <http://tirto.id> - *Jakarta menjadi lawatan kunci bagi Wakil
Presiden AS Mike Pence. Pada 20 April 2017, dalam pertemuan dengan Presiden
Joko Widodo (Jokowi), Pence membawa misi untuk mengendurkan ketegangan
bilateral. Muasalnya: Jokowi telah melumpuhkan operasi raksasa tambang emas
dan tembaga PT Freeport Indonesia (PT FI).

Pence datang di antara bayang-bayang pendukung utama dan penasihat Presiden
AS Donald Trump, miliarder Carl Icahn, yang menganggap Indonesia telah
berlaku curang dan menghina.

“[Pemerintah Indonesia] bersembunyi di balik undang-undang bermotif politik
yang disahkan setelah kontrak diteken,” ujar Icahn sebagaimana ditulis
dalam laporan The New York Times
<https://www.nytimes.com/2017/03/31/business/energy-environment/indonesia-gold-mine-grasberg-freeport-mcmoran.html>.
Icahn adalah salah satu pemilik saham terbesar di Freeport-McMoRan Copper &
Gold Inc., perusahaan induk PT Freeport Indonesia yang berkedudukan di New
Orleans.

Misi Pence agaknya berhasil. Sehari setelah pertemuannya dengan Jokowi, PT
Freeport Indonesia mendapatkan izin ekspor konsentrat. Namun, ketegangan
belum reda.

Di Kota Timika, enam jam perjalanan dengan pesawat dari Jakarta, saat Pence
dan Jokowi menyampaikan keterangan pers di Istana Merdeka, para buruh
Freeport melayangkan surat rencana mogok kepada manajemen perusahaan.

Muasalnya adalah kebijakan “furlough”—istilah perburuhan dari Amerika
Serikat yang tidak dikenal dalam hukum Indonesia. Praktiknya adalah
“merumahkan karyawan” ketika perusahaan terbelit masalah keuangan atau
bisnisnya tengah lesu. Juru bicara PT Freeport Indonesia, Riza Pratama,
menyebut kebijakan ini sebagai langkah “efisiensi”.

Selama tiga bulan, dari Februari hingga April 2017, Freeport “merumahkan”
823 buruh, salah satunya adalah Edison Manurung.

Pada 20 Maret, atau sebulan sebelum kedatangan Mike Pence ke Jakarta,
Manurung menerima surat *furlough* dari atasannya yang menjabat*
superintendent* dan *general superintendent*.

Dalam dekapan suhu 20 derajat celsius di Grasberg, areal tambang Freeport,
Manurung disuruh turun kembali ke Furlough Center di Tembagapura, sebuah
kota yang dibangun Freeport di ketinggian 2.500-an meter di atas permukaan
laut.

“Saya dikasih waktu dua hari untuk meninggalkan barak,” ujar Manurung.

Manurung adalah Komisaris Pengurus Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Kimia,
Energi, dan Pertambangan (SP KEP) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)
di Departemen Grasberg Maintenance. Ia adalah komisaris pertama di serikat
yang terkena *furlough. *Menyusul berikutnya adalah tiga komisaris di
departemen yang sama dengan Manurung. (SPSI memiliki 300 komisaris di tiap
departemen PT FI.)

“*Furlough* untuk membonsai serikat supaya tidak ada penyambung lidah dari
lapangan,” ujar Manurung, yang telah bekerja selama 14 tahun.

[image: Nestapa Buruh Freeport di antara Negosiasi Jokowi-Trump]

share infografik


*Salah satu misi yang dibawa Wakil Presiden AS Mike Pence dengan Presiden
Joko Widodo adalah membahas Freeport Indonesia. Setelah pertemuan, larangan
ekspor konsentrat PT FI dicabut. Pada 23 April, PT FI menghentikan langkah
"merumahkan" karyawan tapi tak memberi pekerjaan kembali. FOTO/Biro Pers
Istana*

Di PT FI, buruh yang terlibat serikat seperti Manurung hanya pada jabatan
pratama. Secara struktural, pratama disebut buruh non-staf dalam urutan
terendah. Buruh non-staf menerima makan, barak, dan gaji yang lebih rendah
dari level staf. Meski 20 tahun bekerja, misalnya, buruh non-staf seperti
Manurung yang ikut serikat sangat sulit bisa naik ke level staf.

Riza Pratama, jubir PT Freeport Indonesia, menolak tuduhan buruh bahwa
kebijakan “efisiensi” via *furlough* dipakai perusahaan untuk menekan
serikat.

“Tentu kami merumahkan yang tidak berhubungan langsung dengan operasi,
misalnya yang tidak *critical* untuk produksi kami. Kami mempunyai
kriteria-kriteria tertentu untuk merumahkan,” kata Pratama via telepon di
Jakarta, 12 Februari lalu.

Namun, tudingan Manurung dan koleganya juga besar. “Kalau ditanya [kenapa
melakukan *furlough* dan kenapa ke orang-orang serikat], mereka jawab cuma
perintah dari atasan,” kata Manurung.

Saat kebijakan “merumahkan” karyawan itu berjalan, serikat mengajukan tiga
kali perundingan. Namun, perusahaan lewat divisi personalia (EVP Human
Resources) yang diwakili oleh Achmad Didi Ardianto menjawab bahwa
perundingan tak perlu direspons karena prosedur ini, menurut hukum tenaga
kerja di Indonesia, hanya untuk buruh yang menerima pemutusan hubungan
kerja (PHK).

Riza Pratama justru membantah perusahaan menolak perundingan soal *furlough*.
Ia mengklaim telah memanggil buruh untuk berunding sekitar 18 kali.

“Sebelum kami melakukan *furlough,* kami panggil serikat beberapa kali. Itu
18 kali … Tapi mereka tidak pernah nongol,” kata Pratama.

Belakangan, kebijakan *furlough* diikuti langkah lebih dramatis agar buruh
bersedia diputus kontrak kerjanya lewat Program Pengakhiran Hubungan Kerja
Sukarela. Pada 4 April 2017, divisi personalia PT FI dan Tongoi Papua
menyepakati pekerja dari orang asli Papua pun kena target *furlough*.

Riza Pratama berkata kebijakan *furlough *dihentikan pada 23 April 2017.
Alasannya, jumlah buruh yang mengikuti “PHK sukarela”—sebanyak 1.523
buruh—dinilai sudah cukup memenuhi rencana operasional baru PT FI.

Praktis, sejak ada langkah “efisiensi memotong kontraktor dan merumahkan
sebagian karyawan”, dari sekitar 12.000 buruh PT FI, yang masih bekerja
kini sekitar 7.200 buruh.
*Dalih “Merumahkan” Pekerja*

Selama nyaris 50 tahun, Freeport-McMoRan menikmati privilese sebagai
maskapai tambang emas terbesar di Papua, yang dijalankan oleh anak
perusahaannya PT Freeport Indonesia.

Pada 7 April 1967, atau tiga pekan setelah dilantik sebagai pejabat
presiden, Soeharto meneken “kontrak karya” kepada Freeport yang berlaku
selama 30 tahun.

“Freeport adalah perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak
dengan rezim baru di Jakarta dan menjadi aktor ekonomi dan politik utama di
Indonesia,” tulis Denise Leith dalam *Politics of Power: Freeport in
Suharto's Indonesia* (2003).

Langkah politik dan bisnis antara Jakarta dan Freeport semakin solid
setelah 1969 Papua bergabung dengan Indonesia lewat sebuah mekanisme “Act
of Free Choice”—yang diplesetkan menjadi “Act of No Choice” oleh para
nasionalis Papua karena digelar di bawah paksaan dan todongan senjata
aparat keamanan Indonesia.

Semula hanya memiliki konsesi seluas 10 ribu hektare, pada 1989, Freeport
Indonesia diberi hak istimewa selanjutnya oleh rezim Soeharto berupa izin
konsesi hingga 2,5 juta hektare. Belakangan, Freeport menemukan cadangan
emas bernama Grasberg setelah cadangan di Ertsberg telah habis, menyisakan
kerusakan ekologis kronis. Seharusnya berakhir pada 1997, kontrak karya
baru telah telanjur diteken, yang bakal jalan terus sampai 2021.

Kontrak karya inilah yang coba diubah oleh pemerintahan Jokowi pada awal
2017.

Lewat undang-undang terbaru pertambangan bernama UU Mineral dan Batu Bara,
pemerintahan Jokowi mendesak maskapai-maskapai tambang di Indonesia,
termasuk Freeport, untuk mengubah status kontrak menjadi Izin Usaha
Pertambangan Khusus.

Pokok lain: Freeport harus merevisi jumlah pajak dan royalti, selain
membangun *smelter* di Indonesia dan melakukan divestasi saham 51 persen.

Postur kepemilikan sekarang: pemerintah Indonesia memegang saham 9,36
persen; Rio Tinto 36,25 persen saham, dan Freeport-McMoRan 54,39 persen.
Rio Tinto, perusahaan pertambangan yang berpusat di London, memegang hak
partisipasi pendanaan dan pengoperasian dalam proyek Freeport Indonesia di
tambang Grasberg pada 1990-an.

Artinya, Indonesia masih perlu mengantongi 41,64 persen saham PT FI jika
ingin mencapai langkah “setengah nasionalisasi” tersebut.

Pada Januari 2017, pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan larangan izin
ekspor konsentrat—larangan sudah mulai berlaku pada 2014 sejak UU
Minerba efektif. Ini bikin Freeport menghentikan ekspor selama Januari
hingga April 2017. Kendati kemudian memperoleh rekomendasi ekspor sejak 17
Februari 2017, PT FI baru kembali melakukannya sejak 21 April 2017
<https://tirto.id/freeport-indonesia-akhirnya-kantongi-izin-ekspor-konsentrat-cng7>
..

PT FI menilai perubahan menuju Izin Usaha Pertambangan Khusus akan
“menghilangkan kepastian hukum” untuk investasi jangka panjang. Jika
sebelumnya pembayaran pajak dan royalti secara *flat*, skema baru ini
berubah sesuai perundingan atau perizinan pembaharuan dengan jangka waktu
lebih pendek.

Richard C. Adkerson, Presiden dan CEO Freeport-McMoRan, mengatakan kontrak
jangka panjang “sangat penting bagi para pekerja dan pemegang saham
untuk kepastian
hukum dan fiskal
<https://ptfi.co.id/media/files/press/58aac531be1f0_siaran_pers_pernyataan_dari_richard_c._adkerson_ind.pdf>.”
Ia tetap ngotot bahwa kontrak karya berlaku melalui payung hukum UU Minerba
tahun 2009
<http://humas.minerba.esdm.go.id/1515821500/Capaian-Tahun-2017-dan-Outlook-2018-Subsektor-Mineral-dan-Batubara>—sebelum
ada revisi hukum tentang minerba tahun 2015 melalui peraturan menteri.
<http://jdih.esdm.go.id/peraturan/Permen%20ESDM%2033%20Th%202015.pdf>

Desakan agar PT FI membuat *smelter* di dalam negeri juga bikin maskapai
ini kelabakan. Selama ini PT FI memakai pabrik pemurnian konsentrat milik
PT Smelting Gresik di Jawa Timur. Perusahaan mengklaim, gara-gara kewajiban
tersebut, 60 persen total produksi konsentrat PT FI belum bisa diekspor
sejak 12 Januari 2017 ketika gudang penyimpanan konsentrat sudah penuh.

Situasi ini diperumit oleh aksi mogok oleh 309 buruh PT Smelting Gresik
pada 18 Januari 2017. Belakangan, para buruh yang mogok dikenai PHK.
Dampaknya, PT FI menghentikan penjualan konsentrat tembaga ke pembeli
domestik.

Riza Pratama, jubir PT FI, mengatakan sampai sekarang perusahaan “belum
mendapat kepastian beroperasi” selagi masih berunding dengan pemerintah
Indonesia.

“Setiap enam bulan kami diberikan izin rekomendasi ekspor. Kalau enam bulan
lagi kami tidak diberikan rekomendasi ekspor, kami tetap akan beroperasi
lagi pada 40 persen,” ujar Pratama.

Kondisi “sulit” dan negosiasi antara pemerintahan Jokowi dan pemerintahan
Trump inilah yang dipakai Freeport Indonesia memutus kontraktor dan
“merumahkan” pekerja.


share infografik


*Personel Brimob dari Satgas Amole III 2015 berjaga di areal PT Freeport
Indonesia di Timika. Sejak beroperasi pada 1967, aparat keamanan memakai
fasilitas perusahaan sebagai penyedia jasa proteksi dan terkadang terlibat
kekerasan yang berdampak dugaan pelanggaran hak asasi manusia. ANTARA
FOTO/Muhammad Adimaja/nz/15*
Aksi Mogok Dilawan dengan PHK Ribuan Buruh

Tingkat permintaan cuti dan absen di tempat kerja meningkat sejak 11 April
2017. Tujuh hari kemudian, selagi Mike Pence dan Jokowi bertemu di Jakarta,
serikat pekerja Freeport Indonesia mengirim surat untuk rencana mogok
kerja. Pada saat bersamaan, PT FI terus menolak berunding soal *furlough*.

"*Tra *ada instruksi mogok kerja,” kata Gibi Kenelak, ketua pengurus
serikat yang pro-mogok. “Itu bentuk protes tindakan manajemen. Kami
pengurus minta buruh bekerja, tapi mereka mengatakan tidak aman karena
*furlough *masih jalan.”

Namun, menurut Lukas Saleo, ketua serikat pekerja yang kontra-mogok (bikin
SPSI PT FI pecah), aksi tersebut atas komando kelompok Kenelak.

“Instruksinya lewat komisaris-komisaris,” katanya kepada saya di Timika,
akhir Januari lalu.

Lukas menilai langkah *furlough* adalah “wajar” karena PT FI perlu
“efisiensi” untuk menyesuaikan dengan regulasi Jakarta yang membatasi
kontrak karya dan ekspor konsentrat.

Semula rencana mogok digelar pada 1 Mei 2017, tetapi buruh kadung nekat
melancarkan aksi tersebut dengan alasan perundingan terkait *furlough *ditolak
oleh manajemen Freeport Indonesia.

Setelah sebelas hari mogok, PT FI melayangkan surat yang menilai mogok
“tidak sah”—UU No 13 tahun 2013 tentang ketenagakerjaan mengatur soal hak
mogok buruh pada pasal 139 dan 140. Esok harinya, manajemen menegaskan tak
akan menambah lagi karyawan yang akan dikenai *furlough*.

Namun, melalui surat edaran internal, PT FI menegaskan belum memiliki
rencana memanggil buruh yang terkena *furlough* untuk bekerja kembali.
Manajemen justru menyarankan buruh mengambil “PHK sukarela” dengan bujukan
“paket kompensasi di atas normatif.”

Sebagian buruh mengambil paket “PHK sukarela” tersebut. Sebagian lagi
menolak. Saat negosiasi di Papua Hotel Timika—sebuah hotel milik anak
perusahaan PT FI—pada 25 April 2017, kelompok Gibi Kenelak menolak tawaran
PT FI yang membolehkan peserta mogok kembali bekerja asalkan harus menerima
sanksi indisipliner.

Karena buntu, dua hari kemudian, perundingan bergeser ke ranah tripartit.
Bertempat di Rimba Papua Hotel, kelompok Gibi Kenelak meminta PT FI tak
cuma menghentikan tapi juga mencabut *furlough*. Mereka juga menuntut
kepastian buruh yang “dirumahkan” bisa kembali bekerja. Tuntutan tersebut
ditolak.

Mak, bertepatan dengan momentum Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2017, sekitar
8.200 buruh menggelar aksi demonstrasi di Timika. Jumlah ini mencakup
mereka yang terkena *furlough*, buruh dari serikat yang ikut
bersolidaritas, plus 1.044 buruh dari lebih 20 perusahaan kontraktor dan
privatisasi PT FI yang di-PHK pada Februari 2017. (Berdasarkan data
Freeport McMoRan Copper & Gold Inc. pada tahun fiskal 2016, ada dua serikat
buruh PT FI dengan total 9.456 anggota.)

Aksi mogok ini terus diperpanjang oleh buruh setiap bulan, hingga kini.

Sejalan itu pula, mulai 2 Mei hingga 2 Juni 2017, manajemen Freeport
Indonesia mengirimkan surat pemanggilan bagi para buruh yang mogok kerja.
Buntutnya, Freeport Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja secara
paksa terhadap 3.274 buruh.

Pada Juni 2017, bukannya menghormati proses perundingan, PT Freeport
Indonesia justru merekrut tenaga kerja baru. Ia mengabaikan hukum tenaga
kerja di Indonesia yang melarang perusahaan melakukan aksi “balasan dalam
bentuk apa pun kepada pekerja dan pengurus serikat” selama dan sesudah
melakukan mogok kerja.

[image: Nestapa Buruh Freeport di antara Negosiasi Jokowi-Trump]

share infografik



Ladang Emas yang Menyimpan Nestapa

Saya datang ke Timika pada pekan terakhir Januari lalu. Berbeda dari
kawasan permukiman baru yang dibangun oleh Freeport, baik di Kuala Kencana
maupun Tembagapura, daerah-daerah yang tak terjamah oleh “areal vital”
perusahaan adalah hamparan lahan gersang, sekalipun itu di pusat kota.
Sampah-sampah menumpuk di pinggir aspal. Bangunan tua tak terawat. Aspal
berlubang.

Sejak 1967, gunung, hutan, dan rawa Kabupaten Mimika dicacah oleh PT
Freeport Indonesia menjadi “ladang emas” sekaligus—dalam istilah kolega
saya—“istana para desertir.” Suram dan menegangkan. Masyarakat lokal
melihat saya seperti orang Jakarta menonton bioskop. Ketika malam,
udara Timika berubah menjadi raungan knalpot motor dan teriakan para
pemabuk.

Di Timika, ada empat lapisan sosial: masyarakat asli Suku Kamoro dan
Amungme; orang Indonesia dari luar Papua, ekspatriat; dan orang Papua yang
bukan dari dua suku tersebut. Saat saya di sana, saya melihat ada kerusakan
sosial akibat panggilan emas di kawasan ini.

Almarhum Muridan S. Widjojo, seorang peneliti Papua dalam salah satu
risetnya, “Konflik Papua Pasca Orde Baru,” mengungkapkan bahwa lahan
Amungme untuk berkebun, membuat kampung, dan untuk berburu semakin sempit.
Freeport merongrong gunung-gunung dan mengambilalih lahan tradisional
secara luar biasa.

Yelsegel Ongopsegel atau Ertsberg sudah ditambang sejak 1967 dan mulai
berproduksi sejak 1972. Amungme menyaksikan gunung keramatnya, tempat
bersemayam terakhir bagi para roh, sudah rata dan meninggalkan lubang
raksasa pada 1996.

Protes dilawan dengan kekuatan bersenjata. Perlawanan bersenjata, yang
muncul lewat Organisasi Papua Merdeka pada 1977, dilawan pula dengan
kekuatan aparat keamanan Indonesia secara berlebihan. Peristiwa ini terjadi
nyaris saban tahun.

Terakhir adalah drama baku tembak di Kampung Banti di Mile 68 pada akhir
tahun 2017 dan awal Januari 2018. Peristiwa ini, selain menewaskan polisi,
juga memicu Martinus Beanal, seorang karyawan PT Pangansari Utama,
perusahaan kontraktor katering untuk PT FI. Sampai kini jenazah Beanal
belum ditemukan; keluarganya masih terus mencari keadilan.

Di barak penambangan buruh di Grasberg, sekitar 4.285 meter di atas
permukaan laut, cerita buruh yang menerima surat *furlough *adalah kisah
yang mengalir bak gelombang.

Mereka menyaksikan pintu dan lemari pribadi dibongkar, isinya dimasukkan ke
dalam kardus, lalu dibawa dalam mobil kontainer. Di Mile 32, Distrik Mimika
Baru, ratusan kardus berisi perkakas buruh ditumpuk setinggi 1,5 meter di
tiga lapangan bulu tangkis.

Sainal Arifin, 44 tahun, pekerja di Departemen Konstruksi PT FI, kepada
saya mengisahkan bahwa kini baraknya telah dirombak lalu ditempati oleh
pekerja level staf. Ia tak tahu sekarang barang-barangnya ada di mana.

Persi Indra Henok Mebri, 47 tahun, yang telah 14 tahun bekerja, juga tak
tahu keadaan barang pribadinya di barak. “Di situ *sa pu* ijazah SD, SMP,
sama SMA. Ada di lemari. Lainnya pakaian,” ujarnya.

Begitu juga Andri Santoso, 33 tahun, pekerja di bagian Grasberg
Maintenance. Di kamarnya ada beberapa barang elektronik seperti TV 14 inci,
TV layar LCD 20 inci, dan pelantang suara. Jika dijual, ia bilang, nilainya
sekitar Rp4,5 juta—jumlah uang yang kini sangat ia butuhkan setelah tanpa
kerja tetap.

Sebagian kecil barang-barang pribadi mereka yang mogok kerja memang telah
dikirim ke alamat buruh. Tapi sebagian lain entah di mana dan
ditelantarkan.

Jabir Bugis, 49 tahun, telah 16 tahun bekerja di bagian Mile Maintenance.
Ia pernah dua kali menerima telepon dari pihak PT FI. Ia diminta untuk
memberikan alamat. “Tapi sampai sekarang barang-barang saya belum sampai
juga,” ujar Bugis.

Bugis menerima PHK sepihak setelah tiba-tiba ada kiriman satu kali gaji
pokok ke rekening tabungannya. Setelahnya ia tak pernah menerima gaji
bulanan lagi.

Begitu juga Persi Indra Henok. Ketika santer isu PHK sepihak, bersama
rekannya, ia menuju ke Bandara Mozes Kilangin, Timika. Di salah satu
komputer bandara, Henok melakukan *login* memakai *username* dan sandi
sebagai karyawan PT FI. Tapi ternyata gagal. Saat itulah ia tahu termasuk
menjadi bagian dari buruh yang kena PHK sepihak.

Kartu pengenal mereka—dipakai untuk mengakses ke wilayah perusahaan—sudah
diblokir. Mereka juga tak bisa akses ke Shopping Center di Kuala Kencana,
permukiman baru untuk karyawan PT FI yang bergelimang cahaya.

Henok membuang amarah: “Kalau kami bukan rakyat Indonesia, ya merdekakan
kami sudah. Kami urus diri sendiri di Papua. Kasih lepas kami sudah.”

Henok kini bekerja sebagai tukang ojek. Sore itu sebelum menemui saya,
anaknya meminta uang sekolah Rp1,5 juta yang belum dibayar. Jika tidak,
anaknya terancam tak bisa ikut ujian.

“Langsung pikiran saya kacau,” ujarnya.

Di jalan raya, usai mengantar penumpang, ia tak sadar ada seekor anjing
melintas. Ban depan motornya menabrak anjing itu. Ia tersungkur. Ada bekas
luka terseret aspal di dengkul kaki kirinya. Ia memperlihatkannya, “*Sa*
taburi pakai daun-daunan ditumbuk.”

Henok telah dua kali telat bayar uang sekolah anaknya. Selama dua bulan,
dari jam 7 pagi hingga sore dan petang hingga jam 2 dini hari, ia bekerja
serabutan dengan membabat rumput, lalu menarik ojek pangkalan. Ia terlilit
kredit macet hingga pihak *dealer* menarik salah satu motor dia.

Ia memohon: “Presiden Jokowi ... tolong perhatikan kami rakyat yang
menderita."



*Warga mengolah tailing Freeport untuk mendulang emas di sungai dekat
Kwamki Lama, Timika. Menurut JATAM, organisasi pemantau pertambangan, lima
sungai di Mimika telah tercemar sianida dan merkuri akut. Reuters/Muhammad
Yamin*

Ada banyak pekerja PT FI setelah diputus hubungan kerjanya yang bernasib
seperti Henok.

Koleganya, Ama Nurjaman Hobrouw, pekerja di Departemen Tailing Reclamation
Management Project, juga menjadi tukang ojek, bisnis rental mobil, dan
berjualan keripik. Tapi usaha ini belum cukup. “Saya jual kulkas, televisi,
meja makan, sofa, mobil. Itu untuk penuhi kebutuhan harian dan modal
usaha,” keluhnya.

Lodik M. Padwa, yang bekerja 15 tahun di Departement Underground Mine
Maintenance, terpaksa menjual tiga koin emas senilai Rp21 juta yang dibuat
oleh PT Antam dari emas PT FI. Koin ini adalah “safety award” yang rutin ia
dapatkan saban 5 tahun sekali. Ia juga menjual komputer, televisi, dan
laptop.

Andri Santoso, mantan pekerja PT FI yang kini berjualan buah di pasar,
berkata kepada saya soal bagaimana pemerintah “menguber-uber pajak saat
mereka masih bekerja” tapi sekarang “diabaikan.”

Ia menghitung: rata-rata gaji kotor mereka dipotong antara 20 persen hingga
40 persen atau Rp3 juta hingga Rp6 juta, belum termasuk pajak bonus dan
BPJS Kesehatan.

Cerita lain mengenai rumah tangga yang berantakan.

Itu terjadi pada keluarga Hanok Emanratu, pria 43 tahun, yang bekerja di
Departemen Fire Maintenance Grasberg PT FI.

Pada 26 Januari 2018, tetangga mereka mendengar cekcok antara Emanratu dan
istrinya. Emanratu terlihat membawa pisau, lalu menutup pintu rumah. Selang
sekitar setengah jam, warga membuka rumah dan melihat Emanratu gantung
diri; sementara istrinya tergeletak dengan luka sayat di leher.

Seorang ketua rukun warga mengatakan kepada saya bahwa sebelum kejadian
itu, Emanratu berkata bingung untuk memenuhi biaya listrik rumah sebesar
Rp300 ribu.

“Ke rumah mengeluh uang, dia pinjam,” ujarnya.

Nasib serupa adalah Marcel Sualang, pekerja di Departemen Grasberg
Maintenance PT FI. Keluarga menganggap Sualang malu karena tak mampu
membiayai pendidikan dan anaknya yang sakit. Sualang ditemukan gantung diri..

Upah minimum kabupaten di sini sebesar Rp3,3 juta pada 2018, meski biaya
hidupnya bisa dua sampai tiga kali lipat dari Jakarta. (Ketika saya di
Timika, harga seporsi nasi pecel lele Rp45 ribu.) Jika setiap hari orang
makan tiga kali menu tersebut, upah bulanan itu sudah ludes dalam waktu 25
hari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, harga daging sapi di Timika
pada Desember 2017 sebesar
<https://mimikakab.bps.go.id/publication/download.html?nrbvfeve=ZmE4MzViMDU2MmZhOWZhNjMwZDNjMTQz&xzmn=aHR0cHM6Ly9taW1pa2FrYWIuYnBzLmdvLmlkL3B1YmxpY2F0aW9uLzIwMTcvMDkvMjIvZmE4MzViMDU2MmZhOWZhNjMwZDNjMTQzL2tlY2FtYXRhbi1taW1pa2EtYmFydS1kYWxhbS1hbmdrYS0yMDE3Lmh0bWw=&twoadfnoarfeauf=MjAxOC0wMi0xOSAxMzowMDo1NQ==>
Rp135 ribu; di Jakarta, pada bulan yang sama, sebesar Rp120 ribu.

Pada satu malam, saya bertemu dengan Edison Manurung, komisaris serikat
yang terkena *furlough*. Ia telah bekerja selama 14 tahun di Departemen
Grasberg Maintenance. Bajunya lembab keringat. Ia baru pulang dari
mondar-mandir mencari pekerjaan. Utangnya menumpuk, sementara uang yang ia
dapatkan hanya sekitar 30 persen dari pemasukan sebelumnya saat masih
bekerja di Freeport Indonesia.

Ia berkata bahwa kompor dan televisi sudah ia jual. Kini ia berencana
menjual rumah, lalu balik ke kampung halamannya di Sulawesi.

Lebih dari tujuh kali Manurung memegang kepalanya sambil berkata “pusing.”

“Saya bingung,” ujarnya, dengan bibir kelu.

Kirim email ke