Bikin Hoax juga pekerjaan kalam (tulis menulis). 2018-02-27 11:20 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > ?????? > > > https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/ > 2018/02/26/136496/kewajiban-jihad-dengan-qalam.html > > > > Kewajiban Jihad dengan Qalam > > Senin, 26 Februari 2018 - 14:58 WIB > > “Sesungguhnya kami (pena, red) laksana pelayan bagi pedang,” kata penyair > Al-Mutanabbi > > > Terkait > > - > > Sebuah Perpustakaan di Ankara Memberi Arti Buku Selalu Kekal > > <https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2018/02/05/134776/sebuah-perpustakaan-di-ankara-memberi-arti-buku-selalu-kekal.html> > - > > Hamas, Baitul Maqdis dan Izzah Islam > > <https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2017/12/18/130805/hamas-baitul-maqdis-dan-izzah-islam.html> > - > > Tulisan: Senjata Peradaban > > <https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2017/11/23/128705/tulisan-senjata-peradaban.html> > - > > Peran “Para Murid” Al Ghazali dalam Jihad Shalahuddin > > <https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/19/125982/peran-para-murid-al-ghazali-dalam-jihad-shalahuddin.html> > > *IBNU* Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendapat informasi penting dari > Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai indikator akhir zaman. > Salah satunya –sebagaimana riwayat Ahmad- adalah “*wa dzuhûru al-Qalam*” > (dan bermunculannya pena atau menyebarnya alat tulis). Pembahasan ini > begitu menarik karena menyoal masalah yang sedang dihadapi umat pada masa > sekarang. > > Terkait makna kalimat ini, Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh dalam buku > “*al-Mausû’ah > fî al-Fitan wa al-Malâhim*” (2006: 243-244) mengetengahkan beberapa > kemungkinan makna, yaitu: perkembangan karya tulis dan buku begitu pesat > dengan kecanggihan teknologi yang ada; pertambahan pengetahuan kumulatif > bersama penyeberannya dengan alat-alat penunjangnya; dan banyak orang > menuntut ilmu, tapi bukan karena Allah, hanya untuk mencari kedudukan dan > kepentingan dunia semata. > > Pada era kontemporer, ketiga kemungkinan makna itu benar-banar terjadi di > tengah kecanggihan teknologi dan informasi yang begitu pesat seperti saat > ini. Terkait hal ini, kata Al-Barzanji dalam buku “*al-Isyâ’ah*” (128) > pada saat itu –sebagaimana hadits tersebut- juru tulis begitu banyak, > sedangkan ulama sedikit. Mereka mencukupkan diri belajar dari buku untuk > bergaul dengan para penguasa. Artinya, banyak penulis tapi sedikit yang > memiliki ilmu, khususnya agama dan lebih berorientasi dunia. > > Dengan kecanggihan media yang ada saat ini, memang banyak tersebar > tulisan. Melalui akun media dan gadget yang dimiliki misalnya, > masing-masing individu dengan leluasa menyebarkan, membagikan tulisannya ke > dunia maya. Banyak sekali tulisan menjadi viral, namun pada saat yang sama > tidak dibarengi dengan pertimbangan matang, tabayyun (klarifikasi) berita, > serta dasar keilmuan yang jelas, sehingga tulisan lebih banyak menimbulkan > perpecahan, hujatan, cacian, bahkan fitnah sehingga merusak hubungan sosial. > > Bertolak dari kondisi demikian –sebagaimana yang tertera dalam hadits > mengenai perkembangan pesat *qalam* di akhir zaman tadi- maka wajib ada > dari kalangan umat Islam yang berjihad dalam bidang *qalam* (tulisan). > Sebab, adanya tanda akhir zaman ini seyogianya bukan malah membuat umat > Islam berpangku tangan, tapi justru bersemangat dengan jihad via tulisan. > Jihad yang dilakukan melalui tulisan di era digital sekarang ini, tidak > lebih kecil nilainya dibandingkan dengan jihad-jihad yang lain. > > *Lisan Penyair Ibarat Pedang* > > Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, salah satu media > yang paling berpengaruh di masyarakat ialah: sya`ir. Syair digukanakan para > penyair sebagai penggugah semangat berjihad. Di antara pakar dalam bidang > ini, seperti: Abdullah bin Rawahah, Ka`ab bin Malik dan Hassan bin Tsabit.. > > Dalam sirah nabawiah, media sya`ir digunakan umat Islam untuk: *Pertama*, > pendorong semangat umat berjihad. Ketika menggali parit –sebagai persiapan > Perang Ahzab(5 H)-, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mendendangkan > sya`ir: “Ya Allah tidak ada kehidupan [sejati], melainkan kehidupan > akhirat, maka ampunilah Kaum Anshar dan Muhajirin.” Dalam kondisi lapar, > panas seperti itu, sya`ir yang disenandungkan beliau mempu membangkitkan > semangat sahabat. > > Baca: Pentingnya Jihad Bil Qalam > <https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwi28tz8gcPZAhWBKY8KHQraBsEQFggsMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fartikel%2Fghazwul-fikr%2Fread%2F2015%2F05%2F06%2F69247%2Fpentingnya-jihad-bil-qalam.html&usg=AOvVaw24GMakOQTY_OXSGJS0VNRt> > > *Kedua*, menampilkan izzah umat. Saat Fathul Makkah, di shaf depan > Abdullah bin Rawahah menyenandungkan sya`ir di hadapan kaum kafir Qurays. > Terbukti, izzah umat menjadi terangkat. > > *Ketiga*, membela agama Islam. Ketika umat Islam dijelek-jelekkan oleh > penyair kafir Qurays –pada Perang Badar dan Perang Uhud- seperti: Hubairah > bin Abi Wahab, Abdullah bin Za`bari, dan Dhirar bin al-Khattab. Dengan > sigap Abdullah bin Rawahah, Ka`ab bin Malik dan Hasan bin Tsabit berdiri di > garda depan membela Islam dan meluruskan anggapan miring mereka. > > *Keempat*, sebagai sarana perekat umat. Ketika Islam disudutkan dengan > berbagai fitnah melalui media sya`ir, para penya`ir nabi bukan saja > meluruskan, tapi merekankan umat supaya tak berpecah belah akibat pengaruh > mereka. > > *Kelima*, untuk menjawab syubhat buatan musuh. Propaganda kafir melalui > syubhat-syubhat yang dibuat untuk menghancurkan citra Islam dan Muslim, > mampu dijawab dengan baik dengan media sya`ir yang dikuasai. > > Saat ini, kita jarang menemukan penyair sekelas Ka`ab bin Malik dan Hassan > bin Tsabit. Namun fungsi-fungsinya bisa dijalankan oleh wartawan dan media > massa yang akrab disebut ‘*jihad bil qalam*’. > > Mengenai jihad via *qalam*, banyak sekali ulama yang mengungkap > urgensinya. Beberapa di antaranya akan penulis sebut dalam tulisan ini. > Ibnu Qayyim rahimahullah misalnya, dalam buku “*al-Tibyân fî Aqsâm > al-Qur`ân*” (212) menyebut jihad dalam medan ini dengan istilah “*Jihad > Hujjah*” (Jihad Argumentasi). Perjuangan dengan tulisan bagi beliau untuk > membantah syubhat orang-orang yang menebar kebatilan, menegakkan kebenaran > dan mengungkap kebatilan dengan berbagai macam jenisnya. > > Baca: Tulisan: Senjata Peradaban > <https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjSm56PgsPZAhWMMI8KHafvC-oQFggzMAE&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fartikel%2Fghazwul-fikr%2Fread%2F2017%2F11%2F23%2F128705%2Ftulisan-senjata-peradaban.html&usg=AOvVaw3Gm5ylmc8Ic-wqKwpkU_96> > > Tidak jauh dari Ibnu Qayyim rahimahullah, Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam buku > “*Fiqh al-Jihâd*” (2009: 225) menunjukkan vitalnya jihad dalah ranah ini. > Allah subhanahu wata’ala –sebagaimana tertera dalam Ar-Rahman [55]: 4- > telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan ‘*bayân*’ (menjelaskan > atau menerangkan). Sedangkan kemampuan ini mencakup lisan maupun tulisan. > Karena itu menurut beliau jihad *qalam* masuk dalam kategori jihad lisan. > Makanya pada masa sekarang bagi beliau percetakan dan yang terkait > dengannya seperti komputer, internet dan semacamnya adalah masuk dalam > kategori jihad *qalam* yang perlu diperjuangkan. > > Senada dengan Syekh Al-Qardhawi, Dr. Muhammad bin Muhammad bin Abu Syuhbah > dalam buku “*Difâ’ ‘an al-Sunnah*” (1989: 383) mengutarakan keniscayaan > jihad dengan *qalam*. Berdasarkan hadits nabi riwayat Abu Daud berikut: > “*Berjihadlah > melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan-lisan kalian*.” > (HR. Abu Dawud) beliau menandaskan, bahwa yang masuk dalam cakupan jihad > melawan orang kafir dengan lisan adalah jihad dengan *qalam*. Misalnya > dengan membuat buku, makalah dan semacamnya. Makanya, pada era kontemporer, > jihad dengan *qalam* sangat dibutuhkan. > > Sedangkan Dr. Sayyid bin Husain Al-‘Affani dalam buku “*A’lâm wa Aqzâm fî > Mîzân al-Islaâm*” (h.7) mengatakan bahwa jihad semacam ini adalah jihad > istimewa untuk membantah syubhat-syubhat yang dilancarkan musuh-musuh Islam. > > Baca: Jadilah Penulis Seperti Imam Bukhari > <https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2017/11/01/126971/jadilah-penulis-seperti-imam-bukhari.html> > > Adapun Sa’ad Rasyid Al-Muthiari dalam akun *twitter*nya menulis bahwa > jihad dengan *qalam* dan bayan (penjelasan verbal) untuk saat ini lebih > baik dengan jihad dengan pedang karena dakwah dengan tulisan dampaknya > lebih lama, lebih besar kedudukannya dan lebih tinggi nilainya. > > Lebih dari itu, Dr. Abu Al-Yusr Rasyid Kahus menekankan dalam buku *“Ittihâf > al-‘Ibâd Bihaqîqah al-Jihâd*” (2010: 87) bahwa di antara yang masuk > kategori jihad kata dan hujjah adalah jihad dengan *qalam*. Dengan > menulis buku, makalah, daurah dan lain sebagainya untuk menjawab kesesatan > dan kebatilan; menebarkan dakwah Islam; dan menjelaskan hakikat syariat > Islam yang cemerlang. Sarana ini, menurut beliau, begitu efektif dalam > menyampaikan dakwah. > > Sebelum kemerdekaan Indonesia ulama dan pejuang Islam di Nusantara juga > menyadari pentingnya jihad lewat tulisan. Sebut saja misalnya, Haji Abbas > bin Muhammad Taha (Aceh) bersama Syekh Al-Hadi dan Tahir Jalaluddin > menerbitkan “Al-Imam” di Singapura; Haji Abdullah Ahmad di Sumatera > mendirikan majalah “*Al-Munir*” (1911); Soenting Melajoe (1912); Sarekat > Islam (pada 1913) menerbitkan “*Oetoesan Hindia*”; pada tahun 1916 > menerbitkan ‘Al-Islam’; Haji Agus Salim menerbitkan *Hindia Baru* > (1925-1926), *Bendera Islam* dan *Fajar Asia* (1927-1930); A. Hassan, > Fachrudin Al-Kahiri dan M. Natsir menerbitkan *Majalah Pembela Islam* > (1929); dan tahun 1941 terbit “*Soeloeh NU*” dan lain sebagainya yang > menunjukkan bahwa mereka sangat perhatian dalam jihad via tulisan. > > Kemudian, kalau jihad dengan *qalam* tidak begitu penting, bagaimana > mungkin Allah sampai bersumpah dengan *qalam* dan apa yang ditulsnya (QS. > Al-*Qalam* [68]: 1)? Sedangkan di ayat lain malah menyebutnya sebagai > perantara ilmu-Nya (QS. Al-‘Alaq [96]: 4-5)? Sebagai penutup, potongan > sya’ir Al-Mutanabbi yang dicatat oleh Turki bin Hasan dalam buku “*Nuzhah > al-Adîb wa al-Kâtib al-Balîgh*” (2013: 67) berikut bisa menjadi renungan: > > فَإِنَّمَا نَحْنُ لِأَسْيَافِ كَالْخَدَمِ > > “Sesungguhnya kami (pena, red) laksana pelayan bagi pedang.” Jadi, jihad > dengan pena (media) sekarang, tidak kalah pentingnya dengan jihad dengan > pedang di medan perang. Maka, jihad bil-*qalam* adalah keniscayaan.*/*Mahmud > Budi Setiawan* > > Rep: Admin Hidcom > > Editor: Cholis Akbar > > > > >
