Kalau usaha jenis baru, memang indonesia tengah dan timur agak lambat perkembangannya, mengingat SDM nya masih kurang. Tapi kalau saya lihat di bali tak jauh beda dengan dengan dijawa kenapa???? Karena bali pintu masuknya orang barat/bule sehingga apa yang ada diluar negeri, bali mendapat bagian terlebih dahulu. Contoh yang paling mudah dan sederhana saja soal model. Dulu tahun 1980 dibali sudah ada yang namanya cukuran rambut copang-camping dengan memakai giwang dikupingnya terutama para laki-laki . Begitu juga model celana jean robek-robek, di jaman saya kuliah sudah ada, makanya saya kaget begitu tinggal dibalikpapan saat ini model ini baru ada. Belum lagi sepeda lipat sewaktu saya SMP tahun 1982, banyak tamu yang membawa sepeda ini dari negaranya, kalau di indonesia baru ada tahun 2000 an. Soal teknologi juga begitu seperti HP, TV, Tape dll, tamunya membawa sendiri dari negaranya karena bosan memakai barang tersebut ditinggal di bali sebagai souvenir Semasih saya SD tahun 1970 an ada tamu gelarnya dokter sebanyak 3 orang belajar dukun/balian dibali, mereka sudah ganti nama menjadi made Gari , mereka membawa solar sel dari negaranya untuk penerangan dikampung saya, karena tempat ini agak jauh dan letaknya di pinggir sungai
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, February 28, 2018 1:31 PM Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Daftar masalah industri kreatif Indonesia, termasuk masih terkonsentrasi di Jawa Mengapa pulau Jawa diutamakan selama ini? Apa komentar Anda yang bersorak-sorak NKRI harga mati? https://www.merdeka.com/uang/daftar-masalah-industri-kreatif-indonesia-termasuk-masih-terkonsentrasi-di-jawa.html Daftar masalah industri kreatif Indonesia, termasuk masih terkonsentrasi di Jawa Selasa, 27 Februari 2018 21:22 Reporter : Dwi Aditya Putra<https://www.merdeka.com/reporter/dwi-aditya-putra/> * [https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2018/02/27/945402/670x335/daftar-masalah-industri-kreatif-indonesia-termasuk-masih-terkonsentrasi-di-jawa.jpg]Kepala BPS Suhariyanto. ©2018 Merdeka.com Merdeka.com - Ketua Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, mengatakan pentingnya ekonomi kreatif bagi Indonesia ke depan. Selain menyerap tenaga kerja, juga merupakan sebuah alat untuk mengangkat citra dan martabat bangsa sekaligus untuk melestarikan budaya. BERITA TERKAIT * 'Silicon Valley' Yogya segera diresmikan Jokowi, diharap serap puluhan ribu pekerja<https://www.merdeka.com/uang/silicon-valley-yogya-segera-diresmikan-jokowi-diharap-serap-puluhan-ribu-pekerja.html> * Cerita pembuat helm berbentuk tabung gas 3 Kg asal Yogyakarta<https://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-pembuat-helm-berbentuk-tabung-gas-3-kg-asal-yogyakarta.html> * Lewat Italia, Menlu Retno rayu Uni Eropa cabut larangan ekspor CPO<https://www.merdeka.com/uang/lewat-italia-menlu-retno-rayu-uni-eropa-cabut-larangan-ekspor-cpo.html> "Karena itu ke depan ekonomi kreatif merupakan hal yang harus kita giatkan karena ekonomi kreatif ini berbasis sumber daya yang terbarukan karena itu tadi berbasis kepada kreativitas dan inovasi," kata Suhariyanto, di XXI Club, Djakarta Theater, Jakarta<http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/>, Selasa (27/2). Meski begitu, dikatakan dia masih ada beberapa persoalan yang perlu dipikirkan secara bersama. Dalam hal ini, mengenai data dari hasil sensus pada 2016, di mana sangat terlihat jumlah ekonomi kreatif yang ada di Indonesia mencapai 8,2 juta. "Persoalan pertama yang kita pikirkan 65 persennya masih terkonsentrasi di Jawa. Padahal kalau kita bilang kuliner, kita bilang kriya semuanya sangat potensial di seluruh pelosok Indonesia," imbuhnya. Bagaimana ke depan, lanjut dia, harus menggerakkan ekonomi kreatif ini ke seluruh daerah terutama di Indonesia bagian Timur. "Kalau itu bisa dilakukan ekonomi kreatif akan menjawab keresahan dari bapak Presiden Jokowi, bagaimana menurunkan ketimpangan. Saya yakin ekonomi kratif akan mampu menurunkan ketimpangan antar Indonesia Barat dan Timur. Jadi PR kita yang pertama adalah bagaimana kita menggairahkan ekonomi kreatif di daerah Indonesia Timur," tutur Suhariyanto. Dia juga menjelaskan, dari data pertumbuhan ekonomi kreatif yang mencapai 8,2 juta, jumlah tenaga kerjanya baru sekitar 17 juta. Artinya, satu usaha ekonomi kreatif jumlah tenaga kerjanya hanya satu sampai dua orang saja. "Apa artinya di sana? Terlihat bahwa 96 persen usaha ekonomi kreatif itu kecil sekali dan mereka belum memiliki badan usaha, lebih bersifat informal, tidak punya laporan keuangan bahkan yang badan usaha PT itu hanya satu persen," ungkap dia. Menariknya, lanjut dia, adalah dari 8,2 juta usaha ekonomi kreatif yang ada di Indonesia, 20 persennya itu merupakan start up yang dimulai pada 2014 yang digerakan oleh generasi milenial. "Terlihat sekarang kalau kita melihat potensi utama dari ekonomi kreatif itu baru di kuliner, fesyen, dan kriya tetapi yang pertumbuhan sangat menjanjikan ke depan meskipun sharenya belum banyak itu adalah animasi dan video design komunikasi visual aplikasi game dan sebagiannya," ujarnya. Kemudian, lanjut Suhariyanto dari sisi ekspor, ekonomi kreatif mencapai Rp 20 milliar atau sekitar 15 persen dari total ekspor yang ada. Namun, yang perlu diwaspadai, 55 persen ekspor ekonomi kreatif itu baru terpaku di lima negara, yakni Amerika Serikat, Swiss, Singapura, Jepang, dan Jerman. "Padahal pasar yang terbuka luas sekali kita harus memikirkan bagaimana memasarkan ekonomi kreatif itu membuka pasar pasar yang nontradisonal kita perlu menyediakan berbagai barang kebutuhan kratif yang diunginkan oleh negara negara lain sehingga ekspor kita akan makin lama makin berkembang," tandasnya. [bim]
