Menyajikan lontong Cap Go Meh pada hari kelima belas setelah Imlek bukanlah 
hal baru. Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun dari generasi ke generasi 
dalam keluarga Tionghoa di Indonesia. Sementara itu, di Jakarta dan kota-kota 
besar lainnya lontong Cap Go Meh dengan mudah ditemukan di depot-depot lawas. 
Tradisi semacam ini justru tidak ada di Tiongkok. Cap Go Meh di negeri asalnya 
hanya dirayakan dengan makanan khas yang disebut Yuan Xiao atau Tang Yuan. 
Makanan ini di Indonesia dimodifikasi menjadi wedang ronde.

 ...
 Kamis 1/3/2018 | 01:00 Cap Go Meh Rasa Indonesia 
http://www.koran-jakarta.com/cap-go-meh-rasa-indonesia/ 
 


Foto : koran jakarta/ones
 A   A   A   Pengaturan Font
 
 Oleh Hendra Kurniawan
 Berbicara seputar Tionghoa cenderung musiman. Misalnya, ketika Imlek tiba 
barulah nuansa Tionghoa ramai-ramai hadir hampir di setiap ruang publik. 
Situasi ini tidak lepas dari latar belakang sejarah yang menorehkan rentetan 
aturan dan berbagai kebijakan diskriminatif terhadap Tionghoa. Jiwa zaman yang 
kini telah berubah membutuhkan perspektif baru dalam memandang Tionghoa agar 
senantiasa tidak menjadi korban.
 Keberadaan Tionghoa dalam relasi sosial di masyarakat dewasa ini perlu 
disadari telah menjadi bagian dari keharmonisan hidup bersama. Gus Dur dengan 
tegas menolak persepsi Tionghoa sebagai foreign subject atau outsider. 
Keharmonisan yang masih terus diupayakan sekarang sejatinya telah dihidupi 
nenek moyang Nusantara sejak zaman kuda gigit besi. Salah satunya mewujud dalam 
khazanah kuliner Nusantara.
 Kekayaan kuliner Nusantara tidak lepas dari interaksi sosial berbagai etnis 
sehingga budaya-budaya mereka saling memengaruhi. Ini termasuk pula budaya 
Tionghoa dan kultur setempat. Pengaruhnya tampak dalam budaya material maupun 
nonmaterial. Proses ini bersifat alamiah dan tidak dapat dihindari. Adanya 
akulturasi dalam makanan juga menjadi simbol sikap saling menghargai dan 
toleransi yang terbina indah.
 Selain pengaruh barat, Tionghoa diakui mengambil porsi besar dalam membentuk 
citra kuliner Indonesia. Perpaduan unsur-unsur ini saling mengisi dalam 
memanjakan lidah setiap generasi turun-temurun. Kuliner menjadi warisan budaya 
yang sulit dihapuskan karena telah menjadi bagian dari budaya kolektif 
masyarakat. Warisan akulturasi ini tampak dari bahan dan bumbu yang digunakan, 
citarasa yang dihasilkan, hingga gaya penyajian makanan.
 Pengaruh barat diperlihatkan dari perubahan kebiasaan makan lesehan sembari 
muluk (makan langsung dengan jari tangan) menjadi gaya buffet style ala Eropa 
alias prasmanan. Bahkan kini dalam resepsi-resepsi lumrah digelar konsep 
standing party yang menyuguhkan berbagai “etalase” makanan untuk dinikmati 
sambil berdiri. Tentu tak ketinggalan dengan ragam variasi menu ala barat. 
Fadly Rahman (2016) menyebut, wujud modifikasi dan perpaduan bahan makanan 
serta etiket makan antarbudaya ini dengan istilah rijsttafel.
 Dari segi citarasa, pengaruh barat boleh dibilang masih terasa agak canggung. 
Tidak demikian dengan anasir Tionghoa. Sebab banyak budaya kuliner Tionghoa 
yang mudah beradaptasi dengan citarasa setempat. Bahkan keduanya saling 
mengisi. Boleh jadi ada ratusan olahan bergenre Tionghoa yang begitu akrab di 
lidah banyak orang seperti tahu, mie, bakso, capcay, bakpia, dan bakpao. 
Makanan-makanan ini begitu universal dan mudah menyesuaikan diri dengan selera 
masyarakat lokal.
 Lontong
 Adaptasi cita rasa makanan antarkelompok masyarakat memang begitu cair. 
Makanan tradisi bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, misalnya, ketika Imlek, 
juga tidak lepas dari pengaruh setempat. Imlek merupakan perayaan panjang yang 
tidak lekas usai. Paling tidak masyarakat Tionghoa merayakan Imlek selama 15 
hari sampai Cap Go Meh tiba. Dalam perayaan malam kelima belas di bulan pertama 
tahun Imlek ini disajikan makanan khas lontong Cap Go Meh.
 Pada malam tersebut seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan bersama 
sebagai puncak sekaligus penutupan perayaan Imlek. Mereka menyantap lontong Cap 
Go Meh yang merupakan wujud budaya Tionghoa peranakan Indonesia. Makanan ini 
dapat disebut sebagai hasil negosiasi antara budaya Tionghoa yang dibawa dari 
negeri Tiongkok dan budaya Jawa. Tradisi kuliner ini identik dengan Bakdo Kupat 
(Lebaran Ketupat) di kalangan masyarakat Jawa yang dirayakan sepekan setelah 
Idul Fitri.
 Bahan utama lontong Cap Go Meh tentu saja beras yang ditanak dengan bungkus 
daun pisang bulat memanjang. Lontong disajikan dengan cara dipotong-potong 
berbentuk bulat menyerupai bentuk bulan purnama. Teksturnya kenyal dan lengket 
dimaknai sebagai rekatnya kebersamaan dan kekeluargaan melalui perjumpaan. Di 
beberapa daerah, lontong kadang diganti dengan ketupat yang semakin menegaskan 
kuatnya pengaruh lokal. Gurihnya kuah opor dan sambel goreng rebung atau waluh 
dengan ati ampela ayam juga menjadi unsur lokal yang mendominasi penganan lezat 
ini ditambah taburan bubuk kedelai.
 Menyajikan lontong Cap Go Meh pada hari kelima belas setelah Imlek bukanlah 
hal baru. Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun dari generasi ke generasi 
dalam keluarga Tionghoa di Indonesia. Sementara itu, di Jakarta dan kota-kota 
besar lainnya lontong Cap Go Meh dengan mudah ditemukan di depot-depot lawas. 
Tradisi semacam ini justru tidak ada di Tiongkok. Cap Go Meh di negeri asalnya 
hanya dirayakan dengan makanan khas yang disebut Yuan Xiao atau Tang Yuan. 
Makanan ini di Indonesia dimodifikasi menjadi wedang ronde.
 Sepiring lontong Cap Go Meh menyimpan memori multikultural dan keharmonisan 
masyarakat yang berpadu mesra. Ini bukti bahwa relasi Tionghoa telah begitu 
erat dengan budaya lokal hingga membentuk kultur dan identitas baru. Bahasa 
makanan ternyata menjadi sarana ampuh yang mampu menerabas sekat-sekat ruang 
geografis dan etnis.
 Maka melalui edukasi sejarah yang baik, masyarakat akan lebih memahami 
kenyataan ini kendati praktiknya, tanpa sadar sebenarnya telah terinternalisasi 
dalam keseharian.
 Penulis Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
 
 


 
 Share on Facebook 
http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://www.koran-jakarta.com/cap-go-meh-rasa-indonesia/Tweet
 This 
http://twitter.com/home?status=http://www.koran-jakarta.com/cap-go-meh-rasa-indonesia/Share
 on Google Plus 
http://plus.google.com/share?url=http://www.koran-jakarta.com/cap-go-meh-rasa-indonesia/
 



 

Kirim email ke