Lettu Pnb Marko “Fawkes” Andersen: 
Peranakan Tionghoa Kedua yang Jadi Penerbang Tempur TNI AU
lesat02/03/2018HankamNavigasi 
poshttps://mylesat.com/2018/03/02/lettu-pnb-marko-fawkes-andersen-peranakan-tionghoa-kedua-yang-jadi-penerbang-tempur-tni-au/
 Berikut

Tak pernah terbayangkan bagi Lettu Pnb Marko “Fawkes” Andersen Sasmita terpilih 
untuk menerbangkan salah satu pesawat tempur terbaik di jagat ini, F-16 
Fighting Falcon.

Ketika masih sekolah di SMA Terpadu Krida Nusantara, Bandung, hanya menjadi 
penerbang yang terlintas di benaknya. “Hanya pengen jadi penerbang,” ujarnya 
singkat.

Maka ketika teman-temannya mengajaknya untuk ikut mendaftar di Akademi TNI, ia 
ikut saja. Pendidikan model militer yang diterapkan di sekolahnya, memang 
menjadikan Akademi TNI dan Polri sebagai tujuan utama lulusan SMA Terpadu Krida 
Nusantara. Tidak pula ada kekhawatiran di batinnya meski ia seorang peranakan 
Tionghoa.

Jadilah kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1989 ini sebagai taruna Akademi Angkatan 
Udara (AAU) pada tahun 2008 dan diwisuda tahun 2012.

“Sewaktu taruna dia pernah menjadi Kepala Sekretariat Wing Korps Karbol dan 
kami biasa panggil dia Acong,” kenang Lettu Pas Kholik Maulana, teman 
seangkatan Marko yang saat ini menjadi ADC Panglima TNI.

Tuhan sudah mentakdirkan dirinya sebagai penerbang, bahkan jauh di luar 
angannya, menjadi penerbang tempur TNI AU. Setidaknya saat ini, sudah 100-an 
jam terbang dikantonginya di pesawat F-16.

“Waktu itu bareng teman mendaftar TNI, dari kecil memang ingin jadi pilot, ya 
pilot apa aja sih,”katanya enteng.

Sebagai penerbang tempur zaman now, Marko memakai nickname Fawkes yang 
diambilnya dari nama burung Phoenix (burung api) dalam film Harry Potter 
garapan studio Hollywood.

Saat ini Marko bersama rekan-rekannya dari Skadron Udara 16 Lanud Roesmin 
Nurjadin, Pekanbaru, sedang berlatih terbang di Lanud Iswahyudi, Madiun. “Saya 
bangga bisa menjadi penerbang tempur F-16,” kata Marko .

“Kami latihan terbang di F-16C/D, karena di Pekanbaru kami pakai yang A/B,” 
ujar Marko kepada mylesat.com yang menjumpainya usai penyerahan 24 pesawat 
F-16C/D Block 52ID di Lanud Iswahyudi, Rabu (28/2/2018).

Saat ini ia bersama rekan-rekannya dari Pekanbaru, sedang berlatih terbang di 
pesawat F-16C/D hingga Mei mendatang.

Dari lulusan AAU 2012, Marko menjadi satu dari delapan perwira muda yang 
terpilih masuk skadron tempur. “Tapi di F-16 hanya berdua, teman saya di 
Skadron 3,” akunya. Menurutnya, generasi di bawahnya mulai ada peningkatan 
dengan masuknya dua penerbang muda ke skadron tempur.


F-16C/D Block 52ID TNI AU. Foto: beny adrian 
Sebelum bergabung di Skadron 16, Marko ditempatkan di Skadron Udara 1 Lanud 
Supadio, Pontianak yang mengawaki pesawat BAE Hawk 109/209.

Seiring meningkatnya kebutuhan penerbang di Skadron 16 dan Skadron 3 pasca 
pembelian 24 pesawat F-16C/D, ia pun terpillih untuk menjalani konversi ke 
pesawat supersonik itu. “Ya enak, saya sangat menikmati saat terbang,” 
ungkapnya.

Seperti pernah disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, TNI AU mulai 
merasakan kebutuhan penerbang seiring semakin banyaknya jumlah pesawat yang 
dimiliki saat ini. Untuk itu, TNI AU pun terus berupaya memenuhi kebutuhan 
penerbang di skadron udara dari masukan perwira lulusan AAU.

Marko mengaku bersyukur karena kedua orang tuanya mendukung penuh keputusan 
yang diambilnya sejak SMA. Apalagi sampai detik ini, ia menjadi satu-satunya di 
keluarga besarnya yang menjadi tentara.

“Dari keluarga, ya, bangga, dan saya satu-satunya dari keluarga yang masuk 
tentara,” urai anak kedua dari pasangan Joni Hendra Sasmita dan Shirley Miranti 
Kurniawan ini. “Keluarga memberikan dukungan penuh kepada saya,” jelasnya lagi.

Pertengahan tahun ini, rencananya Marko akan memboyong keluarganya ke 
Pekanbaru. Saat ini istrinya Maria Anastasya Siringo Ringo dan anaknya Olivia 
Eleanor Sasmita masih tinggal di Jakarta.

Sebagai penerbang muda TNI AU, Marko berharap ke depannya agar TNI AU semakin 
maju dan kuat dalam menjaga wilayah kedaulatan NKRI.

Di lingkungan skadron tempur TNI AU, boleh jadi Marko adalah penerbang kedua 
dari keturunan Tionghoa. Semasa tahun 1960-an, predikat itu dipecahkan oleh 
Marsda (Pur) Rudi “Tarantula” Taran yang memiliki nama kecil Rudi Tjong.

Rudi Taran adalah penerbang pesawat MiG-21 Fishbed yang kemudian menjadi 
komandan Wing 300 Buru Sergap.

Menurut catatan Iwan “Ong” Santosa, wartawan Kompas yang banyak menulis buku 
tentang kiprah peranakan Tionghoa dalam sejarah perjuangan Indonesia, 
setidaknya ada 1.000 nama peranakan Tionghoa bertugas di TNI pada masa pasca 
Kemerdekaan hingga 1960-an.

“Hanya memang peran peranakan Tionghoa menurun drastis pasca 1960-an,” ujarnya 
sambil menambahkan sebagai dampak kebijakan politik masa Orde Baru.

Kiranya profil Lettu Pnb Marko Andersen Sasmita mewakili pemikiran kebangsaan 
kita tentang Hak dan Kewajiban setiap warga negara, yang berhak dan wajib ikut 
serta dalam upaya pembelaan negara.

Dalam konteks itulah, TNI menjadi salah satu rumah kebangsaan bagi setiap 
komponen Bangsa Indonesia untuk terlibat dalam upaya bela negara serta 
membangun persaudaran tanpa melihat perbedaan.



Teks: beny adrian

Kirim email ke