*Apa yang harus dikerjakan agar supaya udara Jkt nyaman dan sehat? Apakah MUI menmpuyai solusi yang mujarab?*
http://sp.beritasatu.com/home/kualitas-udara-di-jakarta-semakin-buruk/123048 *Kualitas Udara di Jakarta Semakin Buruk* Sabtu, 3 Maret 2018 | 12:18 [JAKARTA] Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Budi Haryanto menilai, kualitas udara di Jakarta semakin buruk. Indikatornya sederhana, setiap tahun jumlah kendaraan selalu bertambah sedangkan kualitas bahan bakarnya buruk. Sementara 75 persen polusi di Jakarta disumbang dari transportasi. "Trennya selalu meningkat kalau kita mengukur emisinya, karena jumlah kendaraan bermotor selalu bertambah setiap tahun sedangkan kualitas bahan bakarnya buruk," kata Budi dalam diskusi publik bertajuk "Polusi Udara dan Kota Jakarta" yang digelar Climate Institute, di Jakarta, Jumat (2/3) malam. Menurutnya, kualitas bahan bakar Indonesia masih buruk karena masih menggunakan standar Euro 2. Sedangkan negara-negara tetangga sudah menerapkan standar Euro 4. Negara-negara maju bahkan sudah menaikan standar bahan bakar Euro 6. "Negara tetangga dan dunia sangat peduli (concerm) bahwa kalau kualitas bensin yang jelek menyebabkan banyak penyakit-penyakit. Penyakit yang ada di Jakarta akibat pencemaran udara diderita 58 persen warga atau lebih dari separuh warga DKI," ungkap Budi. Budi mengatakan, setiap tahunnya kendaraan roda dua di Jakarta selalu bertambah mencapai 12 persen, kendaraan roda empat naik 7-8 persen, semuanya merupakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar Euro 2 dengan partikel yang dihasilkan adalah debu 10 mikron. Debu 10 mikron jika terus-menerus dihirup menyerang saluran pernafasan atas sehingga mengakibatkan flu dan batuk atau virus ISPA. Celakanya, Euro 2 tidak bisa menyaring debu PM 2,5 yang tercampur logam dan menyasar paru-paru dan menyebabkan asma dan pneumonia. Debu-debu tersebut menyebar dengan mudah karena kondisi lalu lintas di Jakarta macet sehingga pembakaran kendaraan tidak sempurna. Pembakaran yang sempurna terjadi jika kendaraan melaju di atas kecepatan 30-110 km/jam. Pemerintah, lanjut Budi, bukan tanpa upaya menurunkan tingkat polusi yang akut di Jakarta, dengan membangun infrastruktur berupa jalan tol, jembatan layang atau jalan tak sebidang lain. Begitu juga dengan realisasi pemenuhan kuota 30 persen ruang terbuka hijau (RTH) dari total luas Jakarta. Namun semuanya tidak cukup untuk menciptakan udara bersih di Jakarta. "Kita butuh upaya yang revolusioner bagaimana menciptakan kualitas bensin yang bagus dan membangun satelit monitorinh udara. Di Jakarta melalui Kementerian Lingkungan Hidup ada lima satelit tetapi hanya dua yang berfungsi. Singapura punya 42, Tokyo 72 dan Los Angeles punya 142 satelit," katanya. Climate and Energy Campaigner Green Peace Indonesia Adila Isfandiari mengatakan, berdasarkan data dari stasiun pemantau udara AS, dalam satu tahun terakhir, Jakarta hanya memiliki 26 hari kualitas udara yang bagus. Adila menilai, debu PM 2,5 tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor tetapi kondisi Jakarta yang menjadi kota di dunia yang paling banyak dikelilingi PLTU dalam radius ratusan kilometer. Akibat polusi PLTU, kematian dini di Jakartabterjadi setiap tahunnya dengan jumlah korban 5500 jiwa. 2000 jiwa bayi di Jakarta berbadan kurus. Namun dirinya mendorong solusi yang pasti untuk mengurangi polusi udara Jakarta dimulai dari mengurai kemacetan. "Udara bersih hak semua orang dan kita masyarakat Jakarta berhak mendapat udara bersih," jelasnya. [E-11]
