Jawapos, Fahri Hamzah dan Fadli Zon Sebar Hoax Ketua MCA adalah Ahoker
   
   - Alifurrahman 
    
   - Media 
    
   - 3 hours ago 
    
   - 5 min read 
    
   -  0
  Trending
Sebagian admin Muslim Cyber Army atau MCA sudah diciduk oleh Polri. Mereka 
terbukti menyebar hoax 15 juta PKI bangkit dan siap membantai ulama. Selain itu 
mereka juga terbukti menyebar konten hoax nan SARA.

Respon cepat Polri untuk menangkap MCA terbukti cukup berdampak. Setidaknya, 
hoax soal pembantaian ulama oleh PKI sudah mereda beberapa minggu ini. Marbot 
masjid yang sebelumnya mengaku dianiaya oleh PKI, satu persatu mengaku bahwa 
mereka hanya pura-pura. Ada juga yang mengaku dianiaya oleh makhluk halus.

Setelah hoax soal kebangkitan PKI mereda, sepertinya ada yang berusaha untuk 
memainkan isu MCA. Tidak tanggung-tanggung, yang berperan (sercara sengaja 
maupun tidak) mengarahkan MCA kepada kubu Ahoker adalah Jawapos. Salah satu 
media mainstream terbesar di Indonesia. Jawapos menurunkan berita bahwa ketua 
MCA yang ditangkap Polri adalah Ahoker atau pendukung Ahok.

Berita di Jawapos tersebut sebenarnya sangat tidak standar untuk disebut 
berita. Sebab isinya hanya kutipan dari akun-akun twitter yang minim follower.. 
Tidak jelas juga siapa orangnya, bukan tokoh, bukan pula aktivis sosial media. 
Benar-benar dari akun yang tidak jelas dan bahkan mungkin adalah akun 
kloningan. Namun, karena yang memberitakan adalah Jawapos, salah satu media 
mainstream terbesar di Indonesia, maka banyak orang terpengaruh dengan yang 
diberitakan.

Bahkan, pimpinan DPR, Fahri Hamzah mentweet link berita dari Jawapos tersebut. 
“Dari web resmi @jawapos menemukan bahwa ketua MCA adalah Ahoker. Jadi maling 
teriak maling dan ngaku Muslim segala. Ayok @DivHumas_Polri selesaikan abrang 
ini. Jangan mau merusak nama Polri dengan menyerang identitas agama.”

Bagaimanapun pihak Jawapos sudah menghapus berita hoax tersebut dan pimpinan 
readaksi meminta maaf atas keteledoran jurnalisnya dalam menayangkan berita 
yang tidak sesuai standar. Sementara Fahri? Belum. Sampai sekarang, setelah 11 
jam berlalu, dia masih sibuk dengan tweet lainnya dan tidak lagi membahas MCA 
adalah Ahoker.

Sebagai pimpinan Seword, jujur saya merasa sangat prihatin atas kejadian ini. 
pada akhirnya kita sedang melihat sebuah kenyataan, bahwa salah satu media 
mainstream terbesar di Indonesia, dan pimpinan DPR RI yang terhormat, sama-sama 
menyebarkan berita hoax.

Orang lain mungkin menganggap ini sebuah kebetulan dan kesalahan yang biasa 
saja. Tapi bagi saya, sebagai orang yang aktif memantau media dan sedikit paham 
bagaimana sebuah produk jurnalis dibuat, penyebaran hoax bahwa ketua MCA adalah 
Ahoker merupakan sebuah “agenda setting politik” yang terstruktur, sistematis 
dan massif. Katakanlah Jawapos memang hanya kebetulan saja memiliki jurnalis 
yang teledor, katakanlah Fahri juga hanya kebetulan saja mentweet, tapi tetap 
saja, dalam teori politik, tidak ada yang benar-benar kebetulan. Ketika 
kebetulan-kebetulan itu tersusun begitu rapi, kita patut curiga bahwa semuanya 
direncanakan dengan sangat matang.

Buat teman-teman pembaca Seword dan aktif di sosial media, kita semua pasti 
sudah tahu bahwa penggiringan opini ketua MCA adalah Ahoker atau bahkan ada 
yang menyebut orang Polri sendiri. Narasinya sama persis seperti yang Fahri 
tweetkan, maling teriak maling. Mereka menyebar hoax bahwa MCA yang ditangkap 
oleh Polri adalah MCA ‘bikinan’ Polri sendiri atau dari kubu pemerintah. Ini 
semua hanya rekayasa untuk menjatuhkan nama MCA.

Postingan tersebut cukup menyebar di beberapa grup WA dan Facebook. Pada saat 
konten tersebut disebar, publik boleh saja tidak percaya dan menganggap bahwa 
itu adalah hoax. Namun publik tidak bisa mengelak dan menghapus ingatan mereka 
dengan cepat soal hoax tersebut. Sehari dua hari kita masih terngiang dengan 
hoax yang menyebut bahwa ketua MCA yang ditangkap Polri adalah Ahoker.

Dan saat kita masih terngiang, Jawapos menayangkan berita bahwa ketua MCA 
adalah Ahoker. Sekali lagi, sangat terstruktur, sistematis dan massif. Kita 
mungkin tidak percaya bahwa ketua MCA adalah Ahoker, bahkan kita bisa menyebut 
berita yang ditayangkan Jawapos tidak sesuai standar pers. Tapi kita tidak bisa 
menafikan bahwa yang memberitakan adalah salah satu media mainstream yang cukup 
terpercaya. Dan tidak penting lagi apakah beritanya sesuai standar atau tidak, 
sebagian orang yang terngiang bahwa ketua MCA adalah Ahoker merupakan hoax, 
akan langsung berubah dan percaya bahwa itu adalah sebuah fakta. Sebab apa? 
sebab yang memberitakannya adalah Jawapos.

Kalaupun sekarang Jawapos telah menghapus link berita tersebut dan meminta 
maaf, namun sebagian orang pasti tidak tahu dan masih percaya bahwa ketua MCA 
adalah Ahoker. Dan ini adalah goal yang sangat sempurna.

Lihatlah alur dan proses sebuah berita hoax bahwa ketua MCA adalah Ahoker. 
Mereka membuat konten di sosial media dan menuduh ketua MCA yang ditangkap oleh 
Polri adalah Ahoker. Disebar dan diviralkan. Sampai akhirnya Jawapos mengutip 
konten dari akun-akun tersebut.

Hoax yang semula dibuat oleh akun-akun tidak jelas, mendapat ‘verifikasi’ dari 
Jawapos, salah satu media mainstream terbesar di Indonesia, yang kemudian 
ditweet oleh Fahri Hamzah sang pimpinan DPR RI sebagai sebuah fakta dan 
kenyataan tak terbantahkan. Yang kemudian diretweet oleh pimpinan DPR lainnya, 
Fadli Zon. Luar biasa.

Apakah editor Jawapos adalah bagian dari agenda setting politik untuk 
menyelamatkan MCA? Apakah Fahri dan Fadli adalah orang yang tidak bisa menilai 
kualitas sebuah berita? Mengapa pimpinan DPR RI tidak mengkritik Jawapos yang 
menayangkan berita tidak sesuai standar? Malah mengaminkan dan ikut 
memviralkan. Apakah lagi-lagi ini semua hanya kebetulan belaka? Haha

Saya pikir Polri perlu memasukkan kejadian ini sebagai materi investigasi MCA 
dan Saracen. Perlu ada tracking ke akun-akun penyebar hoax dan investigasi 
reporter Jawapos. Jika memang tidak terkait, alhamdulillah. Tapi kalau ternyata 
ada foto mereka lagi satu meja, ya publik berhak tau. Sebab kita semua percaya, 
di atas MCA masih ada MCA. Begitulah kura-kura.
SUMBER: Special Word, Opini Indonesia - SEWORD

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Special Word, Opini Indonesia - SEWORD

Special Word, Opini Indonesia - SEWORD
 |

 |

 |




Kirim email ke