*Di Bintuni terdapat sumber gas alam yang sangat besar yang diolah oleh
British Petroluem.Sumber gas yang diolah oleh BP dinamakan Tangguh, dari
sini dieksport gas keberbagai negeri termasuk ke Tiongkok (Fujian) dalam 2
juta ton per tahun selama 20 tahun. Kontrak export ke Taiwan, Korea Selatan
dan USA/Mexico juga dalam jangka 20 tahun.*


http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/perusahaan-tiongkok-investasi-petrokimia-us-25-m-di-bintuni/123088


*Perusahaan Tiongkok Investasi Petrokimia US$ 2,5 M di Bintuni*
*ID* | Selasa, 6 Maret 2018 | 11:39



[JAKARTA] Perusahaan Tiongkok, Shanghai Huayi Group, berencana berinvestasi
sebesar US$ 2,5 miliar untuk membangun pabrik petrokimia di Kawasan
Industri teluk Bintuni, Papua Barat. Pabrik itu akan mengolah gas alam
menjadi metanol, yang akan dipasok ke pasar domestik dan ekspor.

Huayi Group dibawa oleh Genting Oil Natuna Pte Ltd, yang akan menjadi
pemasok gas ke pabrik petrokimia. Proyek ini diharapkan dapat mengikis
impor petrokimia yang tiap tahunnya menembus Rp 220 triliun.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit
Dwiwahjono mengatakan, investasi tahap pertama meliputi pembangunan pabrik
pengolahan metanol berkapasitas 1,8 juta ton per tahun. Pada tahap ini,
Huayi bakal melakuan tes penerimaan pasar. Saat ini, kebutuhan metanol
domestik mencapai 600 ribu ton per tahun, sehingga kelebihan produksi bisa
diekspor ke Tiongkok.

“Nantinya perusahaan itu lebih ke hilir. Mereka akan melihat pasar dulu.
Saat ini, Tiongkok membutuhkan banyak metanol. Saya kira tahun ini atau
paling lambat 2019, Shanghai kan mulai *ground breaking *pabrik itu,” kata
Sigit, di Jakarta, Jumat (2/3).

Sigit mengatakan, Huayi masih melakukan studi kelayakan yang rencananya
selesai dalam tiga minggu mendatang. Dia berharap ada mitra lokal yang bisa
bergabung dalam proyek tersebut.

“Mereka mempertimbangkan tiga opsi tempat di kawasan tersebut, dan sedang
mencari yang paling efisien,” kata dia.

Selain itu, dia menegaskan, Huayi meminta dukungan infrastruktur, seperti
pelabuhan dan insentif fiskal seperti *tax allowance*. Harga gas, menurut
dia, sudah tidak menjadi masalah, yakni sekitar US$ 5,21 per mmbtu.

“Negosiasinya begitu, tapi mungkin nanti bisa berubah lagi. Kami
mengharapkan bisa ada mitra lokal juga masuk,” kata Sigit.

Dia menambahkan, proyek petrokimia di Bintuni bisa menjadi subtitusi impor
bahan baku sebesar Rp 100 triliun. Saat ini, impor bahan baku dan produk
petrokimia setiap tahunnya mencapai Rp 220 per tahun.

Sebelumnya, Deputi GM Genting Energy Wandy Wanto mengatakan, pihaknya
mendukung rencana pemerintah menarik investor pertrokimia. Genting tidak
akan menjadi investor, melainkan membawa investor ke sini. “Dengan begitu,
proyek kita di hulu dan hilir jalan,” kata Wandy. [ID/M-6]

Kirim email ke