Sidang KRN dan MPPR Tiongkok Di Mata Sarjana Indonesia 
        2018-03-06 11:24:53  CRI 
      Sidang pertama Kongres Rakyat Nasional (KRN) ke-13 Tiongkok kemarin (5/3) 
dibuka di Balai Agung Rakyat Beijing. Perdana Menteri Li Keqiang dalam laporan 
pekerjaan pemerintah menyimpulkan keberhasilan yang dicapai selama 5 tahun yang 
lalu, sementara merumuskan rancangan untuk pekerjaan pemerintah selanjutnya. 
Setelah mendengar laporan Perdana Menteri Li Keqiang, para sarjana Indonesia 
menyatakan, perkembangan Tiongkok selama 5 tahun yang silam telah mengundang 
perhatian dunia, proposal "satu sabuk satu jalan" diharapkan dapat mendorong 
kerja sama internasional, termasuk Indonesia di atas dasar saling menguntungkan 
dan menang bersama.

      Redaktur senior majalah Tempo, Nur Haryanto menyatakan, yang paling 
menarik perhatian ialah perkembangan Tiongkok di bidang energi baru. Pemerintah 
Tiongkok berupaya mengatasi polusi lingkungan, menaruh perhatian sepenuhnya 
terhadap perkembangan berkelanjutan, oleh karena itu dengan sekuat tenaga 
mengembangkan energi bersih selama tahun-tahun belakangan ini. Kini, otomotif 
energi baru, industri papan surya, pembangkitan listrik tenaga angin serta 
berbagai bidang energi bersih telah berkembang dengan menempati urutan terdepan 
di dunia.

      Inspektur Jenderal Radio Elshinta untuk media baru, Mario Vau menyatakan, 
sidang KRN dan MPPR Tiongkok sangat penting tidak saja bagi Tiongkok sendiri, 
tetapi juga secara tak langsung mempengaruhi Indonesia serta negara-negara di 
kawasannya. Karena perkembangan Tiongkok pasti mendorong perkembangan bersama 
negara-negara lainnya di kawasan tersebut. Yang menyenangkan ialah 
negara-negara tetangga, termasuk Indonesia telah mengadakan kerja sama yang 
saling menguntungkan dan menang bersama berkat Tiongkok mempertahankan 
kebijakan pokok keterbukaan selama 5 tahun yang lalu serta di bawah dorongan 
proposal "satu sabuk satu jalan" dan dukungan Bank Investasi Infrastruktur Asia 
(AIIB).

      Ketua Umum Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia, Titi Raharjanti 
menyatakan, Indonesia perlu mengambil pengalaman dari Tiongkok, bekerja sama 
erat dengan Tiongkok, mengikuti lokomotif perkembangan ekonomi dunia, dengan 
aktif berpartisipasi dalam pembangunan "satu sabuk satu jalan", untuk 
selanjutnya mengembangkan ekonomi Indonesia sendiri.
     

Kirim email ke