From: 'j.gedearka' j.gedea...@upcmail.nl [GELORA45] 
Sent: Thursday, March 8, 2018 2:48 AM
  



https://sport.detik.com/sport-lain/d-3904148/selain-kemacetan-kematangan-volunter-jadi-pr-utama-inasgoc-di-asian-games


Rabu 07 Maret 2018, 20:11 WIB
Selain Kemacetan, Kematangan Volunter 

Jadi PR Utama INASGOC di Asian Games
Mercy Raya - detikSport

 Foto: Agung Pambudhy/detikSport 
FOKUS BERITA: Menuju Asian Games 2018 
Jakarta - Macet dan transportasi Asian Games 2018 menjadi fokus utama menjelang 
Asian Games 2018. Panitia penyelenggara (INASGOC) dan pemerintah diminta lebih 
serius mempersiapkannya. 

Asian Games 2018 menjadi hajatan besar Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan sekitar 
15 ribu volunter untuk menjamu tamu undangan dari 45 negara tersebut.

Berkaca dari hasil evaluasi test event Asian Games yang berlangsung Februari 
lalu, ajang tersebut menyisakan sejumlah catatan. Masalah volunter menjadi 
salah satunya.

Untuk test event Asian Games 2018, INASGOC merekrut hampir 1.000 sukarelawan 
yang berusia 18-40 tahun dan memiliki profesi yang beragam mulai dari mahasiswa 
hingga pekerja swasta. 

Sebelum tugas mereka lebih dulu dites kemudian diberi pelatihan khusus sebelum 
menjalani tugas dari mulai membantu atlet hingga menjamu penonton.

Namun jumlah volunter yang banyak itu justru menimbulkan persoalan di lapangan. 
Selain kerap berkumpul dan gugup ketika ditanya, mereka bahkan terkesan tidak 
menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara benar. Alhasil cukup banyak yang 
mengeluhkan kondisi tersebut.

Asisten Keuangan INASGOC Gatot S. Dewa Broto mengakui kondisi tersebut. Bahkan 
saat rapat evaluasi isu soal volunter muncul

"Kami akui pada saat rapat evaluasi disebutkan ada kegagapan banyak volunter. 
Mereka tidak tahu fungsinya apa padahal mereka sudah ditraining, tapi saat di 
lapangan mereka tak menjalankan tugasnya. Itu makanya ada yang harusnya 
menjalankan tugas A tapi mereka menggerombol main hp sendiri," kata Gatot di 
sela-sela acara talkshow live salah satu radio dengan tema "Mampukan Indonesia 
menjasi tuan rumah yang baik saat Asian Games?" di Hotel Ibis, Harmoni, Rabu 
(7/3/2018).

"Ini baru test event. Bagaimana saat game timesnya. Dan volunter ini bukan 
hanya berpikir untuk Asian Games tapi Asian Para Games juga karena perlakuan 
untuk atlet difabel akan sangat beda dengan yang biasa," ujar dia kemudian.

Menurut Gatot, INASGOC telah melakukan evaluasi termasuk tidak mengikutsertakan 
kembali volunter yang perfomance-nya buruk.

"Yang pertama volunter yang ada, kami anggap the best karena seleksinya ketat. 
Pengurangan sih enggak kecuali saat test event dianggap kurang perfomance ada 
yang dipertimbangkan untuk tidak diikutkan tapi sampai drastis tidak," ungkap 
Gatot, yang juga Sekretaris Menpora ini.

Gatot juga menyadari waktu yang menyisakan sekitar 150 hari sehingga INASGOC 
akan bekerja lebih cepat terkait volunter. Termasuk mengumpulkan kembali para 
relawan untuk kemudian dimatangkan kembali kemampuannya.

"Di sisi lain untuk long distance-nya, kami berikan modul-modul persiapan 
sambil apa yang harus dilakukan sekarang karena perkembangan tentang Asian 
Games sangat cepat," tuturnya. 

Selain itu, INASGOC melalui bagian Sumber Daya Manusia menyiapkan beberapa 
psikolog untuk membantu volunter agar tidak gugup ketika menghadapi pejabat 
publik atau tamu undangan.

"Karena nanti tekanan saat Asian Games tinggi, selain itu kekecewaan kontingen 
juga tinggi, mereka akan menjadi orang yang pertama disemprot. Ibaratnya, kami 
akan menyiapkan mereka seperti kondisi perang yakni kondisi yang tidak sehat 
secara psikologi," dia menegaskan.

"Poinnya adalah do the best meski tidak bisa seperti China dan Korea yang sudah 
menyiapkan volunter 2 tahun sebelumnya," dia menambahkan. 



(mcy/fem) 
asian games 2018










Kirim email ke