Turki serukan perlindungan hukum bagi hak perempuan
 Kamis, 8 Maret 2018 09:10 WIB
 
Seorang anak perempuan Muslim Syiah memukul dadanya saat ia mengikuti prosesi 
Asyura di Istanbul, Turki, Senin (3/11). Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 
Muharram, memperingati tewasnya cucu Nabi Muhammad SAW Imam Hussein dalam 
pertempuran Karbala. (REUTERS/Murad Sezer)

Ankara, Turki (ANTARA News) - Hari Perempuan Internasional, yang jatuh pada 8 
Maret, dirayakan di seluruh Turki melalui bermacam kegiatan termasuk pawai dan 
lokakarya, dengan penekanan pada kekerasan yang telah membuat sakit kepala 
masyarakat modern Turki.

Sebanyak 40 juta perempuan dan anak perempuan di Turki menikmati perlindungan 
hukum yang jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak sebaya mereka di negara 
lain Timur Tengah.

Namun pandangan konservatif yang membatasi dan berurat-akar mengenai peran 
perempuan di masyarakat Turki seringkali mengakibatkan masalah serius dan 
kekerasan dalam rumah tangga, dan menurut data resmi, 409 perempuan meninggal 
pada 2017 saja.

Baca juga: Twitter rayakan Hari Perempuan Sedunia dengan emoji

Beberapa organisasi masyarakat yang melibatkan hak perempuan menciptakan 
jejaring www.kadincinayetleri.org (Pembunuhan perempuan) --yang juga adalah 
gerakan hak asasi perempuan yang bersuara lantang, tempat statistik mengenai 
pembunuhan perempuan, peta kejahatan yang dilakukan, informasi mengenai 
pembunuh dan penyebab pembunuhan itu tersaji.

Menurut jejaring tersebut, pembunuhan mungkin dilakukan setelah seorang 
perempuan mengajukan perpisahan atau cerai, demikian laporan Xinhua --yang 
dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Dalam kasus lain, pembunuhan seringkali 
dilatar-belakangi oleh kecurigaan mengenai selingkuh, cemburu atau pembunuhan 
untuk kehormatan.

Meskipun Turki telah membuat kemajuan besar ke arah kesetaraan gender, Turki 
tetap menjadi negara yang dikendalikan oleh tradisi dan agama.

Baca juga: Google Doodle rayakan Hari Perempuan Sedunia

Hak yang sama dan perlindungan buat perempuan termaktub di dalam peraturan, 
tapi keadaan berbeda ketika sampai pada masalah agama.

Aysen Ece Kavas, Wakil Ankara di Kadincinayetleri.org, mengatakan kepada Xinhua 
pegiat hak perempuan dari seluruh Turki dijadwalkan bertemu pada 11 Maret di 
Istanbul untuk membahas dan mengusulkan perubahan mengenai hak perempuan.

Kavas mengatakan 28 perempuan dibunuh oleh suamia, mitra dan kerabat mereka 
dalam satu bulan pada Januari 2018, dan jumlah itu bertambah jadi 47 pada 
Februari, jumlah paling banyak dalam beberapa bulan belakangan.

Baca juga: Perempuan Mesir ubah limbah jadi "harta" dengan mendaur-ulang sampah

"Kasus pembunuhan perempuan kebanyakan terjadi di tempat perempuan merasa aman 
dan oleh kerabat mereka," katanya. Ia mengatakan kekerasan dalam rumah tangga 
adalah masalah yang paling menantang dalam masyarakat Turki.

Pada 25 November, Hari Internasional bagi Penghapusan Kekerasan Terhadap 
Perempuan, Pusat bagi Ilmu Penyakit Jiwa di Turki mengeluarkan pernyataan 
mengenai kekerasan terhadap perempuan.

"Kekerasan bukan tak terelakkan. Itu bisa dicegah, dan ini sangat penting buat 
kehidupan anak perempuan," katanya.

Pusat itu percaya seluruh anggota masyarakat harus dikerahkan guna menangani 
masalah tersebut.

Meskipun ada hukum anti-kekerasan, pencegahan terbatas sebab lelaki yang 
melakukan kekerasan dalam rumah tangga seringkali menerima hukuman lunak jika 
hakim memandang perbuatan mereka di pengadilan positif dan penuh hormat.

Baca juga: PBB: anak perempuan pengungsi hadapi hambatan pendidikan sangat 
besar 
Pewarta: Chaidar Abdullah
Editor: Ida Nurcahyani

Kirim email ke