Syahwat Politik Meritokrasi Kaum Muda PSI
CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 09:51 WIB
Partai Solidaritas Indonesia menerapkan prinsip meritokrasi dalam mengukur 
kinerja, bukan berdasarkan kulit, ras, suku, atau agamanya. (CNN 
Indonesia/Safir Makki)Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Solidaritas Indonesia 
(PSI) diinisiasi oleh Grace Natalie di sebuah kafe pada medio 2014. Bersama 
Ratu Isyana Bagoes Oka dan Raja Juli Antoni, Grace bersepakat membentuk partai 
dengan prioritas menggandeng kalangan muda.

Grace menganggap anak muda memiliki idealisme yang masih kental dan cenderung 
tidak mudah terkontaminasi oleh pratik politik kotor. Dia mengklaim ingin 
mengubah paradigma politik Indonesia, yang cenderung dicap kotor akibat 
maraknya praktik korupsi, terutama lembaga legislatif.

Mantan jurnalis televisi itu menganggap kaum muda suka menghadapi tantangan, 
bekerja lebih cepat, serta tidak memposisikan uang sebagai segala-galanya..

"Dari pengalaman itu kami tidak mendiskreditkan mereka yang senior, mereka 
punya pengalaman dan jam terbang yang lebih tinggi tentunya," kata Grace saat 
ditemui CNNIndonesia.com di kantor DPP PSI beberapa waktu lalu.

      Lihat juga: Sunny Eks Staf Ahok Jabat Dewan Pembina PSI 

Filosofi Meritokrasi

Grace berkali-kali menyebut soal politik berasas meritokrasi kala berbincang 
dengan CNNIndonesia.com. Kata Grace, prinsip Meritokrasi merupakan salah satu 
asas yang menjadi landasan berpikir PSI sebagai partai politik.

"Kami terapkan prinsip meritokrasi dalam mengukur orang berdasarkan kinerjanya, 
bukan berdasarkan warna kulit, ras, suku atau agamanya dan ini berlaku dalam 
kita merekrut pengurus, dukung pilkada," tutur Grace.

Meritokrasi pertama kali digaungkan oleh politikus yang juga sosiolog Inggris, 
Michael Young. Dia menuangkan pikirannya mengenai filosofi politik meritokrasi 
lewat buku berjudul The Rise of the Meritocracy yang terbit pada 1958.

Filosofi meritokrasi sudah diterapkan berabad-abad sebelumnya di sejumlah 
peradaban. Namun, baru Michael Young yang menuangkan dan memberikan nama 
meritokrasi terhadap filosofi politik tersebut.

Makna meritokrasi yang dimaksud Young, sama dengan yang diucapkan Grace, yakni 
memberi penghargaan lebih kepada seseorang yang berprestasi atau memiliki 
kemampuan lebih. Hal-hal seperti suku, agama, dan ras tidak menjadi indikator.
      PSI mendapat nomor urut 11 di Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino) 
      Lihat juga: Gerindra Duga Jokowi Istimewakan PSI 

PSI, kata Grace, menerapkan prinsip meritokrasi dalam proses merekrut kader dan 
calon anggota legislatif PSI. Grace mengatakan partainya melihat sejauh mana 
prestasi dan kemampuan yang dimiliki calon kader. Hubungan saudara pun tidak 
akan diperhitungkan.

"Kalau tidak memenuhi syarat yang ditentukan ,ya mohon maaf, meski saudara pun 
tidak bisa lewat," kata Grace.

Di samping merekrut kader dan caleg, PSI juga menerapkan prinsip meritokrasi 
untuk menentukan dukungan kepada calon presiden.

PSI dalam hal ini telah mendeklarasikan dukungan kepada Presiden Joko Widodo 
untuk maju kembali pada Pilpres 2019 yang akan datang.

"Kembali lagi ke prinsip kami meritokrasi. Kami mengukur orang berdasarkan 
kinerjanya," kata Grace.

Salah satu indikator keberhasilan Jokowi di mata Grace berkaitan dengan 
pencapaian pembangunan infrastruktur, yang dia anggap bisa mendongkrak 
perekonomian nasional berkat infrastruktur yang memperlancar distribusi 
antardaerah.

"Menurut kami dia on the track jadi kita mendukung Pak Jokowi agar pembangunan 
yang sudah baik bisa kembali dilanjutkan pada periode selanjutnya," ucap Grace.
      Isyana Bagus Oka saat mempromosikan aplikasi GoAhok, sebuah aplikasi 
untuk menggalang dukungan bagi Basuki Tjahaja Purnama yang sempat maju 
independen di Pilkada 2017. (CNN Indonesia/Andry Novelino) 
      Lihat juga: Perang Cuitan Soal Hoaks, Fadli Zon Akan Polisikan Sekjen PSI 

Politik Partisipatif

Tidak hanya menerapkan prinsip meristokrasi, PSI juga memberlakukan asas 
partisipatif. Partisipatif yang dimaksud yakni semua kader mesti turut berperan 
langsung di segala aspek kepartaian. Termasuk juga segi finansial.

Menurut Grace, mendirikan partai politik di Indonesia membutuhkan biaya yang 
sangat mahal. Dengan politik partisipatif, besarnya dana tidak akan terlalu 
terasa karena semua kader turut berperan demi kepentingan partai.

"Jadi politik partisipatif dibutuhkan di situ agar biaya-biaya bisa dicut, 
ditekan sekecil mungkin," katanya.

Prinsip partisipatif, kata dia, telah diterapkan PSI agar bisa mendapat 
pengesahan sebagai partai politik berbadan hukum oleh Kemenkumham.

      Lihat juga: Seteru dengan Fadli Zon dan Strategi Tenar PSI 

Dia menjelaskan, Kemenkumham mewajibkan sebuah partai memiliki kantor di 
seluruh provinsi di Indonesia, 75 persen kabupaten/kota, dan 50 persen 
kecamatan. Jika dihitung, maka jumlahnya mencapai ribuan. Grace mengaku tidak 
akan sanggup menanggung biaya yang harus ditanggung jika harus menyewa ribuan 
bangunan untuk dijadikan kantor.

"Kalau semua kantor itu harus kita sewa tentu mahal banget. Tapi dengan prinsip 
partisipatif, kantor-kantor kami adalah rumah pengurus yang dikontribusikan 
secara gratis," katanya.

PSI resmi tercatat sebagai partai politik berbadan hukum di Kementerian Hukum 
dan HAM sejak 7 Oktober 2016. PSI, bersama partai Berkarya, Garuda, dan 
Perindo, menjadi partai baru yang akan menghadapi Pemilu 2019 mendatang. PSI 
dinyatakan memenuhi syarat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan mendapat nomor 
urut 11. (lalu/gil)

Kirim email ke