CIPLUKAN.
Teman2 trima kasih, setelah melihat video,  ya sewaktu kecil saya pernah
makan buah ciplukan kalau main diladang tapi ndak tahu namanya.
Salam. Lin

On 10 Mar 2018 3:05 p.m., "'Lusi D.' lus...@rantar.de [GELORA45]" <
GELORA45@yahoogroups.com> wrote:

>
>
> Coba klik ciplukan ke Googgle.
>
> Salam
> Lusi.-
>
> Am Sat, 10 Mar 2018 11:26:11 +0530
> schrieb "Hsin Hui Lin ehh...@gmail.com [GELORA45]"
> <GELORA45@yahoogroups.com>:
>
> > *Sumartini Dewi Raih Gelar Doktor Berkat Ciplukan*
> >
> > (Kliping Jawa Pos 17 Juli 2017)
> >
> >
> > MATA Sumartini Dewi basah ketika Prof Saleha Sungkar SpParK menyatakan
> > bahwa dirinya lulus dan mendapatkan gelar doktor. Dalam sidang
> > terbuka di gedung IMERI FK Universitas Indonesia (UI) Rabu lalu
> > (12/7), puluhan orang menjadi saksi Sumartini mempertahankan hasil
> > penelitiannya.
> >
> > Perempuan 47 tahun itu tidak menyangka bahwa saran kepada salah satu
> > pasiennya tujuh tahun lalu tersebut membawa dampak luar biasa. Saran
> > yang sebenarnya diberikan lantaran dia sudah angkat tangan atas
> > penyakit scleroderma yang membuat kulit dan paru-paru pasiennya kisut.
> >
> > ”Kondisi pasien saya waktu itu sedang hamil dan drop. Tidak bisa napas
> > karena paru-parunya tidak mengembang,” tutur konsultan reumatologi di
> > RS dr Hasan Sadikin, Bandung, tersebut. Awalnya, dia menyarankan si
> > pasien untuk ikut kemoterapi. Namun, ekonomi si pasien tergolong tak
> > mampu. Memaksanya tinggal di rumah sakit akan memperberat keadaan.
> >
> > Pasien pun menyerah dan minta pulang. Si pasien juga mendesak agar
> > diberi obat herbal. Sebab, berbulan-bulan dia mengonsumsi obat kimia
> > tapi tak kunjung membaik. Scleroderma merupakan kelainan sistem imun
> > atau kekebalan tubuh. Kulit penyandang scleroderma biasanya akan
> > mengeras. Ujung jari pasien juga akan mengalami luka karena pembuluh
> > darahnya menyempit. Bahkan scleroderma bisa menyerang paru-paru,
> > jantung, ginjal, dan saluran pencernaan. Jika menyerang organ dalam,
> > tentu membahayakan. Misalnya menyerang paru-paru, bisa mengakibatkan
> > kesulitan bernapas. Sebab, paru-paru tidak bisa kembang kempis.
> >
> > ”Saya ingat, pernah nonton di YouTube bahwa ciplukan mengandung zat
> > yang mengurangi dampak kanker payudara. Saya juga ingat, ada zat
> > dalam ciplukan yang sebenarnya bisa mengurangi dampak scleroderma.
> > Karena itu, saya sarankan mengonsumsi rebusan buah ciplukan,” imbuh
> > istri Soerachman Dwiwaloejo itu.
> >
> > Beberapa hari kemudian, si pasien kembali datang ke tempat praktik
> > Sumartini. Pasien tersebut bertanya, apa boleh merebus daun dan
> > tangkai ciplukan. Alasannya, kalau hanya buahnya, pasien tersebut
> > kesusahan mencari. Selain itu, cepat habis begitu dikonsumsi. ”Saya
> > sebenarnya sudah angkat tangan. Lalu, saya perbolehkan pasien itu
> > mengonsumsi daun dan batang ciplukan juga,” ungkap ibu empat anak
> > tersebut. Sejak konsultasi itu, si pasien tidak kembali lagi.
> > Sumartini berpikir si pasien sudah meninggal.
> >
> > Tiga bulan berlalu. Pasien tersebut kembali ke klinik Sumartini.
> > Dosen FK Universitas Padjadjaran itu pangling. Kulit pasiennya yang
> > semula kaku dan kisut menjadi tampak segar. Tak ada lagi wajah kaku
> > seperti topeng. Yang terlihat adalah kulit yang halus dan terdapat
> > lemak di dalamnya. Seperti kulit orang kebanyakan.
> >
> > Pasien tersebut juga mengatakan tidak lagi merasakan sesak. ”Dalam
> > tiga bulan, berat badannya naik 5 kilogram (kg). Bagi penyandang
> > scleroderma, itu merupakan perkembangan bagus,” ujar Sumartini... Hal
> > tersebut tentu memberikan angin segar. Sebab, selama ini tidak ada
> > perbaikan signifikan pada pasien dengan riwayat scleroderma yang
> > menggunakan pengobatan biasanya..
> >
> > Untung, Sumartini memiliki kebun di dekat rumahnya. Dia pun
> > mengembangkan ciplukan. Anggota Asia Pacific League of Association
> > for Rheumatology itu pun berniat melakukan penelitian. Tujuannya,
> > membuktikan secara ilmiah ciplukan yang dapat menjadi obat
> > scleroderma.
> >
> > Sejak 2015, penelitian mulai dijalankan. Dia mengambil sampel secara
> > acak pada pasien yang berobat jalan di RS Cipto Mangunkusumo dan RS
> > dr Hasan Sadikin. Namun, waktu itu dia tidak lagi meminta pasiennya
> > untuk merebus sendiri ciplukan. Dia menggunakan ekstrak ciplukan.
> >
> > Untuk mengamati, Sumartini mengategorikan dua kelompok pasien.
> > Kelompok yang diberi ekstrak ciplukan dan yang tidak. ”Ekstrak
> > ciplukan saya berikan sehari tiga kali dengan dosis 250 mg. Lama
> > konsumsi 12 minggu,” katanya. Obat kimia metotreksat pun tetap
> > diberikan. Ekstrak ciplukan tersebut merupakan pendamping obat kimia.
> > ”Hasilnya memperkuat metotreksat dan efek sampingnya sangat minim.
> > Biasanya, kalau minum metotreksat, ada efek samping. Tapi, dengan
> > minum ekstrak ciplukan, efek sampingnya tidak ada,” ucapnya.
> >
> > Sejak penelitian tersebut, sekitar 20 pasien sudah terlihat membaik.
> > Bahkan, mereka yang belum parah cenderung seperti orang sehat. Untung,
> > Sumartini mendapat dukungan dari sejawatnya. Apalagi, tumbuhan
> > tersebut khas Indonesia. ”Ko-promotor saya, Prof dr Nyoman Kertia
> > SpPD-KR, juga melakukan penelitian di UGM,” ucapnya.
> >
> > Dia pun mendapatkan info bahwa ada pasien yang sudah berobat hingga
> > Amerika tapi akhirnya menggunakan ekstrak ciplukan. Sebelum
> > menggunakan ekstrak tersebut, kulit pasien masih kaku. Dia juga
> > sering merasakan sesak karena scleroderma sudah menyerang
> > paru-parunya. Untuk berobat hingga Amerika itu, tentu ongkosnya tidak
> > kecil. Tapi, hasilnya nihil.
> >
> > Kini Sumartini sedang berfokus mengurus hak kekayaan intelektual
> > (HKI) dari penelitiannya itu. Penelitian pun terus dikembangkan. Dia
> > ingin mengembangkan pengobatan tersebut hingga seluruh Indonesia.
> >
> > Pujian terhadap Sumartini pun datang dari guru besar ilmu penyakit
> > dalam FK Universitas Gadjah Mada Prof dr Nyoman Kertia SpPD-KR.
> > Menurut dia, uji klinis yang dilakukan Sumartini membuat khasiat
> > ciplukan terbukti secara ilmiah.
> >
> > Kertia menuturkan, di UGM sendiri memang berkembang pusat produksi
> > herbal. Salah satunya adalah ekstrak ciplukan seperti yang digunakan
> > Sumartini. ”Mungkin ke depan ada yang meneliti lebih lanjut,”
> > katanya. Penelitian Sumartini memang masih menggunakan ekstrak
> > ciplukan sebagai pendamping obat kimia. Kertia berharap bisa ada
> > penelitian ciplukan sebagai obat utama.
>
> 
>

Kirim email ke