From: 'j.gedearka' j.gedea...@upcmail.nl [GELORA45] 
Sent: Monday, March 12, 2018 3:25 AM
  

Bayang-Bayang Kebangkrutan Timor Leste
https://tirto.id/bayang-bayang-kebangkrutan-timor-leste-cFZB


 Ilustrasi perjanjian tapal batas Timor Leste-Australia. FOTO/Geoscience 
Australia 
62 Shares 
Reporter: Husein Abdulsalam 
11 Maret, 2018 dibaca normal 3:30 menit 
  a.. Timor Leste dan Australia bisa berbagi 10,2 miliar dari hasil migas 
Greater Sunrise. 
Cadangan migas Bau-Undan Timor Leste diperkirakan habis antara tahun 2020 
hingga 2022. Namun ada harapan samar dari ladang gas Greater Sunrise. 

tirto.id - Timor Leste adalah negara yang amat bergantung pada cadangan minyak 
bumi dan gas alam (migas) untuk menghidupi 1,3 juta penduduknya.

Anthony Fensom dalam artikel "Time (and Oil) Running Out for Timor-Leste" 
mencatat 78 persen dari 1,38 miliar dolar total anggaran belanja pemerintah 
Timor Leste tahun 2017 dibiayai dari pemasukan negara sektor migas. Selama 10 
tahun terakhir, sektor migas memberi pemasukan negara sebesar 20 miliar dolar.

Tapi masa itu bisa segera berakhir. Dengan 30 persen penduduk dikategorikan 
miskin, tingkat pengangguran tinggi, dan tingkat pendidikan rendah, kini Timor 
Leste  dihadapkan pada persoalan pelik: Bayu-Undan yang selama ini menjadi 
ladang migas sumber utama pemasukan negara diperkirakan bakal kering dua hingga 
empat tahun mendatang.


Baca juga: Sejarah Timor Leste dan Hikayat Mario Carrascalao

Dalam laporan "Timor Leste: Consistent Decline in Oil Revenues" yang dirilis 
oleh The Extractive Industries Transparency Initiative, disebutkan bahwa sektor 
migas menyumbang 1 miliar dolar pada 2015, 85 persen dari total pendapatan 
negara. Jumlah itu turun dari 3,8 miliar pada 2012. Turunnya pendapatan ini 
adalah hasil dari rendahnya harga minyak plus produksi yang juga menurun. 

Pemerintah Timor Leste pun bersiasat. Xanana Gusmao, pejuang kemerdekaan 
sekaligus mantan presiden Timor Leste, mengusulkan proyek "Tasi Mane". Itu 
merupakan proyek industri petrokimia pengolahan gas alam yang rencananya 
dialirkan dari Greater Sunrise, ladang migas yang terletak di Laut Timor namun 
masih menjadi rebutan antara Timor Leste dan Australia.

Pada Selasa 6 Maret 2018 sore waktu New York, Pemerintah Timor Leste dan 
Australia menandatangani perjanjian tapal batas laut. Keduanya sepakat tapal 
batas laut terletak segaris tengah jarak kedua negara. Greater Sunrise pun akan 
dikelola bersama. Namun, benarkah 'sang matahari terbit' dapat menyelematkan 
Timor Leste?

Menghitung Untung Dari Greater Sunrise
Jurnalis Forbes, Damon Evans mencoba menghitung pemasukan dan pengeluaran 
cadangan gas alam dan minyak bumi terkahir yang belum dikelola Timor Leste 
tersebut. Dalam artikel berjudul "Overblown Expectations For East Timor's 
Greater Sunrise Oil And Gas", Evans mencatat Greater Sunrise bisa memproduksi 
92,6 juta ton gas alam dengan harga penjualan 432 dolar per ton. 

Dari penjualan itu, uang yang dapat dihasilkan Greater Sunrise dapat mencapai 
40 miliar dolar AS. Greater Sunrise juga disebut mengandung minyak bumi yang 
dapat menghasilkan 12,5 miliar dolar AS dengan asumsi harga minyak bumi 70 
dolar AS per barel.

Tentu, melihat besar pemasukan itu membuat pengelolaan Greater Sunrise begitu 
menjanjikan. Namun, benarkah demikian?


Baca juga: Upaya Indonesia Mencaplok Timor Lorosae lewat Operasi Seroja

Pada kenyataannya, menurut perhitungan ahli migas Peter Strachan, untuk 
memproduksi gas Greater Sunrise yang kemudian diolah dalam bentuk cair (biasa 
disebut liquid natural gas atau LNG) dibutuhkan biaya sebesar 12,5 miliar dolar 
plus modal awal sebesar 15,7 miliar dolar. Sedangkan biaya operasional minyak 
bumi bakal menghabiskan dana sebesar tiga sampai empat miliar dolar AS.

Alhasil, pendapatan bersih yang dihitung berdasarkan selisih antara pemasukan 
dan biaya produksi gas Greater Sunrise adalah sebesar 11,8 miliar dolar AS. 
Sedangkan dari minyak bumi sebesar 8,6 miliar dolar AS. Sementara nilai 
pendapatan bersih dengan total 20,4 miliar dolar AS tersebut belum dikenai 
pajak, ia pun masih harus dibagi lagi untuk perusahaan pengelola, pemerintah 
Australia, dan Timor Leste.

Menurut Evans, untuk pengelolaan gas alam biasanya perusahaan mengambil 50 
persen pendapatan bersih atau setara 5,9 miliar dolar AS. Sementara untuk 
minyak bumi, Evans menyebutkan kedua pemerintah dapat mengambil separuh 
pendapatan bersih atau setara 4,3 miliar sebagai royalti.

Dengan menjumlahkan dua pendapatan bersih pemerintah tersebut, ada jatah 
sebesar 10,2 miliar dolar AS yang mesti dibagi antara Timor Leste dan 
Australia—jika Greater Sunrise benar-benar akan digarap.

Lantas, apakah sudah ada kesepakatan antara Timor Leste dan Australia soal 
persentase pembagian jatah pemasukan?

 
share infografik


Pembagian Jatah yang Belum Disepakati
The Guardian melaporkan perjanjian batas laut termutakhir yang ditandangani 
Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop dan Menteri Timor Leste Agio 
Pereira, mengakui Timor Leste dan Australia memiliki hak untuk membangun, 
mengeksploitasi, dan mengelola Greater Sunrise. Namun, persentase jatah 
pemasukan yang diterima kedua negara dari Greater Sunrise masih menjadi 
persoalan..

Australia mengusulkan 80 persen pemasukan Greter Sunrise untuk Timor Leste 
dengan skema gas dialirkan melalui pipa ke Darwin untuk diproses lebih lanjut. 
Sedangkan Xanana Gusmao menghendaki gas dialirkan ke Timor Leste. Dengan skema 
ini, Timor Leste rela mengambil hanya 70 persen pemasukan Greater Sunrise.


Baca juga: Australia Bertanggung Jawab Atas Pencemaran Laut Timor

Mengutip studi yang dilakukan konsultan minyak bumi dan gas alam Poten & 
Partners, Damon Evans mengatakan keuntungan sosial-ekonomi yang didapat dengan 
membangun pengelohan LNG di Timor Leste mencapai 154,48 juta dolar selama lima 
tahun. Menurutnya, ada 600 lapangan pekerjaan terbuka selama pembangunan dan 50 
sampai 100 pekerja dibutuhkan untuk mengelola saat pabrik pengolahan LNG sudah 
terwujud.

Meski demikian, Evans juga memperingatkan: membangun jaringan pipa sepanjang 
286 kilometer dari Greater Sunrise ke Timor Leste bukan hal mudah, karena 
jaringan itu harus melewati Palung Timor yang kedalamannya sekitar 2.800 meter. 
Dari segi biaya, juga tak murah. Konsultan minyak bumi dan gas alam, Jeffry 
Feynman mengatakan butuh 24 miliar dolar untuk membangun pengolahan LNG di 
Timor Leste.

Untuk mencapai kata sepakat soal pembagian jatah dan jalur pipa migas Greater 
Sunrise, akan banyak perundingan yang mesti dilalui Timor Leste dan Australia. 
Namun demikian, kejelasan tapal batas dengan Australia bisa disebut prestasi 
bagi pemerintahan Timor Leste. Organisasi penghimpun pegiat dan peneliti tapal 
batas Australia-Timor Leste, Movimentu Kontra Okupasaun Tasi Timor (MKOTT), 
menyatakan apresiasi kepada seluruh pihak terlibat.

"Akan tetapi, kesepakatan ini hanya akan berdampak setelah Parlemen kedua 
negara meratifikasinya. Oleh karena itu, MKOTT menuntut Parlemen Australia 
untuk meratifikasi kesepakatan ini tanpa syarat. Kami ingat, di masa lalu, 
Australia meratifikasi Traktat Laut Timor  pada 2003, setelah Timor Leste 
menandatangani Unitization Agreement for Greater Sunrise," MKOTT mengingatkan 
dalam rilisnya.

Ini juga menjadi angin segar tersendiri bagi politik Timor Leste yang selama 
enam bulan terakhir ini bergejolak. Pada Juli 2017, Timor Leste menggelar 
pemilihan umum. Hasilnya, Fretilin keluar sebagai partai pemenang dengan 
perolehan kursi parlemen sebanyak 23. Berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) 
yang meraih 7 kursi, Fretilin pun menunjuk Francisco “Lú-Olo” Guterres sebagai 
Presiden.


Baca juga: Timor Leste: Lu-Olo Memikul Harapan Rakyat Lewati Masa Sulit

Namun, jumlah kursi koalisi partai pendukung pemerintah itu masih kurang dari 
jumlah kursi koalisi partai oposisi yang berjumlah 35 dengan komposisi: CNRT 
(22 kursi), PLP (8 kursi), dan KHUNTO (5 kursi). Koalisi partai oposisi ini 
kemudian menolak usulan anggaran program yang diajukan pemerintah. Itu berujung 
pengunduran diri Lú-Olo sebagai presiden pada akhir Januari 2018.

Selama masa kecamuk itu, posisi Xanana Gusmao dipertanyakan. Guru Besar Ilmu 
Politik dan Hubungan Internasional Swinburne University of Technology, 
Australia Micheael Leach dalam artikelnya "Timor-Leste’s Parliamentary Endgame" 
menyebutkan partai Fretilin kerap mengolok Xanana dengan sebutan peregrinação 
atau tukang tamasya karena menjadi ketua negosiator perundingan tapal batas 
Timor Leste-Australia dan tak ikut campur politik dalam negeri. 

Baca juga artikel terkait TIMOR LESTE atau tulisan menarik lainnya Husein 
Abdulsalam 

(tirto.id - hsa/nrn) 












  • [GELORA45] ... 'j.gedearka' j.gedea...@upcmail.nl [GELORA45]
    • Fw: [G... 'Chan CT' sa...@netvigator.com [GELORA45]
    • [GELOR... 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]' ineng...@chevron.com [GELORA45]
      • Fw... Chalik Hamid chalik.ha...@yahoo.co.id [GELORA45]

Kirim email ke