Evi Sutrisno menambahkan 4 foto baru.
9 Maret pukul 18:21 · 
Mengenang Perempuan Menginspirasi 
BU KINAH – AKTIVIS ANTI-POLIGAMI YANG TERHALANG PULANG

Kami menjumpaimu di pinggiran kota Nanchang saat musim rontok 2015. Engkau 
telah berusia 105 tahun dan tak lagi banyak bicara. Namun, dari beberapa kawan 
lamamu, kudengar kisah dirimu. “Cantik jelita” begitu mereka menggambarkanmu. 
Sebagai perawan muda nan cantik, engkau dinikahkan dengan seorang priyayi. 
Dijadikan istri ke sekian…“Biasalah begitu, apalagi di zaman tahun 30-an,” 
demikian orang memberi permakluman. Seolah wajar bila di balik kecantikan 
seorang perempuan, tersembunyi kutukan.

Namun engkau menolak takluk. Dengan segenap keberanian, kau pergi meninggalkan 
perkawinan walaupun saat itu engkau telah melahirkan seorang bocah laki-laki. 
Ia kau bawa lari. Aku terbayang betapa banyak ejekan, cacian, tekanan yang 
harus kau pikul atas keputusanmu. Tapi kau lebih memilih menghadapi semua itu 
daripada hidup dimadu.

Kemudian kudengar kau menggabungkan diri dalam Gerwani. Bersama kawan-kawan 
aktivis, engkau berjuang demi pendidikan anak perempuan, persamaan upah untuk 
buruh perempuan dan menghentikan praktik poligami.

Engkau memutuskan menikah kedua kali dengan seorang kader PKI Jawa Timur – pak 
Mamat – demikian ia dikenal. Kalian membentuk keluarga baru dengan seorang anak 
laki-laki dan seorang anak perempuan.

Awal September 1965, engkau menemani pak Mamat berkunjung ke Cina sebagai 
“delegasi sakit.” Sebutan ini adalah candaan di antara para kawan bagi mereka 
yang datang ke Cina untuk berobat. Saat itu memang ada banyak yang melawat ke 
Cina dalam berbagai rombongan. Ada delegasi wakil rakyat, guru, pemuda, 
olahragawan, seniman, dan wartawan untuk merayakan 1 Oktober - hari nasional 
Cina. Kunjungan berubah menjadi pengasingan saat meletus G-30-S di tanah air. 
Atas pertimbangan keselamatan, pemerintah Cina memberikan perlindungan bagi 
para tamu yang terhalang pulang.

Tak terbayang deritamu sebagai ibu yang tak dapat mengetahui keselamatan 
anak-anak dan keluarga. Juga, pedihmu saat mendengar teman seperjuangan di 
Gerwani satu demi satu ditangkapi, dianiaya dan diperkosa. Dengan licik Orde 
Bau memutarkan balikkan sejarah perjuangan kalian. Dari pejuang persamaan hak 
perempuan, Gerwani dituduh jadi perempuan pembantai dan penyiksa para jenderal. 
Sebuah pelintiran sejarah yang membuat generasi muda Indonesia menyamakan 
Gerwani dengan kebuasan dan kekejian.

Sekitar tahun ’80-an, pak Mamat meninggal dunia. Engkau melanjutkan hidup 
bersama ratusan kawan yang juga terhalang pulang. Satu demi satu mereka gugur 
di Cina atau mengungsi ke Eropa. Engkau merasa terlalu tua untuk pergi ke 
tempat baru dan memutuskan untuk menetap di pinggiran Nanchang – di sebuah 
pemukiman yg disediakan untuk kaum terhalang pulang. Saat kami mengunjungimu, 
tinggal satu kawan senasib di situ. Sayangnya, ia pun lebih banyak diam membisu.

Anak-anakmu ternyata selamat dari pembantaian massal. Mereka pernah beberapa 
kali datang menengokmu dan membawa serta cucu dan cicitmu. Kunjungan terakhir 
sekitar tahun 2000, saat engkau berulangtahun ke-90. Kemudian putramu meninggal 
dunia.

Saat ragamu tak berdaya, pemerintah Cina menyediakan seorang perawat. Di usia 
tua engkau sulit berbahasa Cina. Sang perawat harus belajar beberapa kata 
Indonesia. “Manti (mandi), makan, titur (tidur), minum” empat kata itu 
dilafalkannya dengan logat yang kental.

Saat kita berjumpa, kau telah banyak lupa Bahasa Indonesia. Hanya dalam Bahasa 
Jawa kau masih mampu bicara walau terbata-bata. Kugenggam tanganmu, antara 
sedih dan haru. Di hari tuamu, engkau harus menghabiskan hidup dalam sunyi. 
Sungguh berat saat kami harus berpamitan. Aku berbisik di telingamu bak 
memanjatkan doa 
“Kulo pamit rumiyin nggih, Bu. (Saya pamit dulu, Bu) 
Mugi-mugi bu Kinah terus kuat, seger lan waras (Semoga bu Kinah terus kuat, 
segar dan sehat)
Kulo nyuwun sun nggih, kersane ketularan awet ayu kados Ibu… (Saya minta cium 
ya, supaya ketularan awet cantik seperti ibu)”

Tak kami sangka, engkau tertawa lebar mendengar kalimat terakhir. Sebuah tawa, 
yang menurut sang perawat, telah bertahun-tahun tak lagi menghias wajahmu. 
Empat bulan kemudian, kami mendengar kabar duka. Engkau pergi menyusul suami 
dan anakmu tercinta.

Ibu Kinah, kami merasa sangat terhormat dapat berjumpa denganmu
Mendengar lika-liku kisah hidup dan perjuanganmu
Pedih mendengar hidupmu berakhir getir seorang diri 
Namun semangat perjuanganmu demi persamaan hak perempuan terus kami warisi.

Seattle, 8 Maret 2018

Photos by: Adrian Sudjono

  • [GELORA45] BU ... Chalik Hamid chalik.ha...@yahoo.co.id [GELORA45]
    • SV: [GELO... S Manap rana...@yahoo.se [GELORA45]
      • Re: S... Rachmat Hadi-Soetjipto nc-hadis...@netcologne.de [GELORA45]

Kirim email ke