Rusia: al-Nusra Gunakan Senjata Kimia di Ghouta Timur Muhaimin Selasa, 13 Maret 2018 - 17:43 WIBviews: 36.622Dia juga memperingatkan bahwa AS dapat mengambil tindakan sepihak jika DK PBB gagal menangani situasi di Suriah. Diplomat tersebut merujuk pada serangan sepihak AS pada tahun lalu di pangkalan Shairat Suriah, setelah rezim Suriah dituduh melakukan serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun.
Saat itu, AS menembakkan sejumlah rudal jelajah Tomahawk yang diklaim menghancurkan beberapa pesawat jet tempur Suriah. Saat itu, Moskow tidak melakukan respons militer, namun hanya melontarkan kecaman dan peringatan keras. Rusia Peringatkan AS Hari ini (13/3/2018), Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov memperingatkan AS untuk tidak menyerang Suriah dengan dalih palsu, yakni penggunaan senjata kimia. Jika nekat menyerang, kata dia, militer Rusia akan merespons. ”Menurut laporan, setelah serangan berbendera palsu, AS berencana untuk menuduh pasukan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia, dan untuk memberi komunitas dunia apa yang disebut sebagai bukti kematian massal warga sipil di tangan pemerintah Suriah dan Rusia mendukungnya,” kata Gerasimov, seperti dikutip RIA Novosti. Serangan berbendera palsu yang dimaksud itu adalah serangan yang dilakukan kelompok militan pemberontak Suriah, tapi dituduhkan ke rezim Suriah. Operasi semacam ini melibatkan para aktivis pro-oposisi untuk mendokumentasikannya. Sebagai pembalasan, Washington, menurut Gerasimov, berencana meluncurkan serangan rudal ke distrik-distrik yang diduduki pemerintah di Damaskus. Pada saat yang sama di Damaskus, yakni di kantor dan fasilitas Kementerian Pertahanan Suriah, sekarang ada penasihat militer Rusia, perwakilan dari Pusat Rekonsiliasi Pihak yang Berperang dan polisi militer. ”Kami memiliki informasi yang dapat dipercaya tentang militan yang bersiap untuk memalsukan serangan kimia pemerintah terhadap warga sipil. Di beberapa distrik di Ghouta Timur, kerumunan berkumpul dengan wanita, anak-anak dan orang tua, dibawa dari daerah lain, yang mewakili korban serangan bahan kimia tersebut,” ujar Gerasimov.(mas)
