Mauluddin Harahap Gigih Mengajar di Balik KeterbatasanBysidic manggalaPosted on 
March 15, 2018 @5:51 am
https://fajar.co.id/2018/03/15/mauluddin-harahap-gigih-mengajar-di-balik-keterbatasan/
 MAULUDDIN HARAHAP, GURU PENYANDANG DISABILITAS DI PELOSOK SUMUT.. (FOTO: 
PRAYUGO UTOMO/JAWAPOS.COM)Sebagai penyandang disabilitas, semangat Mauluddin 
Harahap untuk mengabdi di dunia pendidikan patut diberi penghargaan.

===============

DIRINYA cukup berjasa karena memberi pendidikan kepada murid sekolah dasar yang 
tinggal di kawasan pelosok Sumatera Utara, tepatnya di Desa Napa Gadung Laut, 
Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).

Dengan keterbatasannya, tak membuat keinginannya mengajar menjadi surut. 
Mauluddin mengajar murid kelas I sampai VI. Semua mata pelajaran diajarkan 
bergantian dengan guru lain di SDN 101190 Napa Gadung Laut.

Sejak pagi buta Mauluddin Harahap sudah bergegas merapikan pakaian dinasnya.. 
Setelah menyisir rambut dia langsung bergegas pergi ke sekolah untuk mendidik 
murid yang sudah menunggu.

Langkahnya tergopoh-gopoh saat menuruni tangga rumah panggung khas Mandailing 
yang sudah mulai reot. Tongkat besi berbalut kain menyerupai ulos dipakai 
sebagai alat bantu berjalan. Setelah memakai sepatu yang sudah mulai rusak, dia 
bergegas pergi ke sekolah.

Dengan segala keterbatasannya, lelaki kelahiran 46 tahun silam itu tetap gigih 
mengajar. “Rumus persegi adalah empat kali sisi,” kata Mauluddin ketika 
JawaPos.com mendatangi sekolah tersebut, Rabu (14/3/2018).

Suaranya lantang saat mengajar. Dia lebih banyak menggunakan bahasa daerah 
Angkola ketika menerangkan pelajaran. Hal itu dilakukan karena, jika hanya 
menggunakan Bahasa Indonesia banyak murid yang tidak mengerti.

SD tempat Mauluddin mengajar tidak seperti sekolah di perkotaan. Kondisi 
bangunan sudah rusak parah. Beberapa bagian dinding papan sudah banyak yang 
bolong. Lantai semen juga sudah rusak. Beruntung jarak sekolah hanya beberapa 
meter dari tempat tinggalnya.

Awalnya, dia bekerja sebagai penjaga sekolah. Namun, hatinya tergerak untuk 
memberikan ilmu kepada para murid karena, sekolah tersebut kerap ditinggal 
tenaga pengajar dari luar desa. Hatinya pun tergerak untuk memberikan ilmu 
kepada para murid.

“Perasaan saya semenjak mengajar ini kadang-kadang senang. Mengajar itu sudah 
seperti sebuah hobi,” katanya.

Menjadi pengajar murid SD bukanlah hal mudah. Apalagi Mauluddin hanyalah 
lulusan SMP. Pendidikan SMA yang dienyamnya di daerah Rantau Prapat tidak 
selesai karena kesulitan ekonomi usai ayahnya meninggal.

Kisah Mauluddin sampai menjadi pengajar di kampung halamannya cukup panjang.. 
Tahun 1992 Mauluddin sempat merantau Pekanbaru dan Kota Medan. Namun, dia 
kembali lagi ke kampung. Dua tahun berada di kampung, akhirnya dia berangkat ke 
Jakarta. Di sana Mauluddin bekerja serabutan.

Nahas, Mauluddin menjadi korban tabrak lari ketika mengendarai sepeda motor.. 
Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter mengamputasi kaki kirinya. Mauluddin 
frustasi, bahkan dia nyaris bunuh diri setelah sadar kakinya sudah diamputasi.

“Saya bisa bangkit lagi karena mengikuti bimbingan rohani. Kebetulan 
pembimbingnya itu dari daerah Tapanuli Selatan. Jadi katanya, nanti kalau udah 
sehat jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kalau sudah sehat dikasih kerja 
katanya,” ujar Mauluddin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Pascakecelakaan tragis itu, Mauluddin ikut bimbingan anak disabilitas. Dia 
mendapat pengajaran keterampilan grafika. Kemudian dia kembali ke kampung pada 
1997. Tak banyak yang dilakukannya di kampung halaman. Keterampilan bidang 
grafika yang dimilikinya seakan sia-sia.

Rasa bosan membuat Mauluddin berangkat ke Medan untuk mengadu nasib pada tahun 
2000. Dia pergi ke daerah Pelabuhan Belawan. Mauluddin kembali bekerja 
serabutan untuk memenuhi penghidupannya.

15 tahun dia berada di Kota Medan. Pahitnya kehidupan ibu kota menjadi 
pelengkap hidupnya. Akhir 2015 Mauluddin memutuskan untuk kembali pulang ke 
kampung halaman.

Ketika pulang, dia melihat sekolah dasar yang letaknya dekat rumah tidak 
memiliki tenaga pengajar. Semangat murid yang bersekolah mendorongnya untuk 
menjadi tenaga pengajar.

“Tapi melihat murid-murid di sini terlalu prihatin, terus berniat untuk 
mengajar. Saya kasihan,” tuturnya.

Selama mengajar, Mauluddin diupah Rp 500 ribu perbulannya. Pendapatan yang 
diperolehnya tidak sebanding dengan jasanya sebagai tenaga pendidik. Mauluddin 
juga tidak berstatus sebagai honorer. Hanya masyarakat yang diangkat sebagai 
tenaga pengajar.

Mauluddin mengaku, punya keinginan diangkat sebagai PNS. Sama seperti tenaga 
pengajar lainnya. Namun cita-citanya itu ibarat mimpi belaka. Karena, tempat 
dia mengajar seakan luput dari perhatian pemerintah. Dinas pendidikan juga 
tidak pernah datang untuk melihat kondisi sekolah.

“Dari sejak saya sekolah di sini, kondisi sekolah dulu dan sekarang tidak ada 
bedanya. dari dibangun sampai sekarang memang sudah seperti ini,” ungkapnya.

Seperti pengajar pada umumnya, dia menginginkan anak-anak yang diajarinya punya 
cita-cita yang tinggi. Kelak lulusan dari SD mereka harus menjadi orang-orang 
yang tangguh.

Dia berharap besar pemerintah bisa menaruh perhatian kepada dunia pendidikan 
khususnya di daerah pelosok dan tertinggal. “Pemerintah harus bisa lihat ke 
sini. Masih banyak sekolah di pelosok yang butuh perhatian,” kata Mauluddin 
menutup pembicaraan. (pra/JPC)

Kirim email ke