http://www.ihram.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/18/03/15/p5mly7385-bpkh-harus-bicara-panjang-dengan-rakyat-aceh

*BPKH Harus Bicara Panjang dengan Rakyat Aceh*

Kamis , 15 Maret 2018, 16:49 WIB


Antara/Irwansyah Putra

Nyak Sandang (kanan) memperlihatkan bukti obligasi pengumpulan uang untuk
membeli pesawat pertama Indonesia di Desa Lhuet, Jaya, Aceh Jaya, Aceh,
Rabu (14/3).

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh,
Ghazali Abbas Adan, mengatakan, rencana investasi BPKH atas tanah wakaf
milik rakyat Aceh harus dilakukan dengan cermat, sabar, dan dalam jangka
panjang. Selain, itu harus pula melalui sebuah dialog yang panjang dengan
rakyat Aceh dan hasilnya terbuka, yakni dibisa dilakukan atau tidak bisa
dilakukan invesntasi.

''Mengapa harus dilakukan dengan banyak tahapan itu. Jawabnya, karena ada
perasaan trauma yang mendalam di benak rayat Aceh terhadap semua janji yang
dahulu diberikan oleh pemerintah pusat di Jakarta. Dan kini adanya trauma
itu paling terasa pada benak anak muda sehingga menolak keras adanya
rencanya itu. Makanya, saya kirim surat ke BPKH untuk meminta keterangan
apa yang sebenarnya terjadi. Syukurlah koordinator BPKH sudah datang ke
kantor saya di DPD RI,'' kata Ghazali Abbas Adan kepada *Republika.co.id
<http://Republika.co.id>*, Rabu (15/3).

Ghazali mengatakan, pada pertemuan itu telah mendengar maksud dari
pernyataan Anggito Ambinyu tentang tanah wakaf Acef di Makkah bahwa sama
sekali tidak ingin memiiki atau menguasai tanah tersebut. Pihaknya hanya
ingin melakukan investasi.  Hasilnya nanti diberikan kepada warga Aceh,
yakni jamaah haji Aceh, orang Aceh yang di Makkah, hingga orang Aceh yang
berlajar di Makkah.

''Adanya pernyataan itu saya sarankan bicaralah dahulu dengan tokoh-tokh
dan warga Aceh. Dan itu dilakulan dengan forum dialog yang panjang.
Hasilnya akhirnya pun bisa saja disetujui atau ditolak. Jadi, pasti
berkeringat, panjang, dan tak bisa dipaksakan serbaharus,'' ujar Ghazali.

Menurut Ghazali, sampai kini memang terasa ada ketidakpercayaan pihak Aceh
kepada janji pihak Jakarta. Ini imbas dari janji Pemerintah Indonesia ke
Aceh yang tak terbukti. "Dahulu ada janji berkali-kali dari Presiden
Sukarno kepada Tengku Daud Bereueh bahwa akan ada pelaksanaan syariat Isam
untuk Aceh. Namun, itu tidak dilaksanakan, malah wilayah Aceh digabngkan
dengan provinsi Sumutra Utara. Juga di zaman Orde Baru ketika Aceh meminta
keadilan, yang datang malah mesin peranang. Dan banyak janji lainnya. Maka
itu, yang membuat rakyat Aceh keras menolak rencana BPKH melakukan
investasi tanah wakaf Aceh di Makkah. Mereka, terutama kaum mudanya, merasa
trauma,'' katanya menegaskan.

Kirim email ke