Selama ini, Dharma Jaya memang memiliki tugas untuk menyuplai daging kepada 
pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP). Setiap bulannya, perusahaan BUMD 
ini menyiapkan 150 ton daging dengan harga Rp85 ribu per kilogram yang kemudian 
disubsidi Pemprov DKI sebesar Rp50 ribu per kilogram. 

Namun, dana subsidi yang disalurkan lewat Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan 
Perikanan (DKPKP) itu tak turun. Di sisi lain mereka harus tetap memasok daging 
subsidi ke peserta KJP. Akibatnya, arus kas yang dimiliki PD Dharma Jaya tidak 
berputar.
....


Subsidi Daging DKI Berujung Pengajuan Mundur Dirut PD Dharma Jaya


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Subsidi Daging DKI Berujung Pengajuan Mundur Dirut PD Dharma Jaya

Hendra Friana

Dirut BUMD PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi Kusuma mengeluh ihwal pencairan dana 
subsidi daging di masa kepemimpi...
 |

 |

 |






Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno keluar dari ruang pemeriksaan 
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya usai diperiksa dalam kasus 
dugaan penipuan dan penggelapan tanah di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis 
(18/1/2018). ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Reporter: Hendra Friana15 Maret, 2018dibaca normal 3 menit   
   - Pencairan PSO harus dilandasi oleh Peraturan Gubernur sebagaimana diatur 
dalam Pergub No. 208/2016
Dirut BUMD PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi Kusuma mengeluh ihwal pencairan dana 
subsidi daging di masa kepemimpinan Anies-Sandi di DKI Jakarta. tirto.id - “Bu 
Marina (Dirut PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi Kusuma) nangis-nangis ke saya, 
bilang 'belum turun uangnya', terus saya bilang saya bantu, sabar Bu.” 

Ucapan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno ini terlontar kepada awak media 
sebelum meninggalkan Balai Kota, Rabu malam (14/3/2018). Sandiaga merespons 
kabar macet pencairan dana Public Service Obligation (PSO) atau subsidi daging 
yang dikelola oleh PD Dharma Jaya.

Namun, Marina mengaku tak terima pernyataan Sandiaga bahwa ia “menangis-nangis” 
lantaran PSO untuk PD Dharma Jaya tak kunjung dicairkan. Marina bahkan 
menyatakan akan mundur dari jabatannya saat dikonfirmasi oleh awak media. 

“Kalau kamu baca di koran, di media online, bahwa saya datang nangis-nangis ke 
Pak Sandi, itu tidak lho. Saya datang ke sana mengajukan pengunduran diri. 
Tolong catat itu. Serius. Saya tidak pernah menangis,” kata Marina saat 
dihubungi bersama oleh para awak media pada Kamis (15/3/2018). 

Marina mengeluhkan sulitnya mengurus pencairan PSO di era Gubernur dan Wakil 
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. PSO ini ditawarkan untuk 
mengganti Penyertaan Modal Daerah (PMD) Dharma Jaya sebesar Rp35 miliar yang 
dihilangkan saat penyusunan Rancangan APBD DKI 2018.  

Padahal, PMD itu akan dipakai untuk menjaga ketersediaan stok daging selama 
pemerintah belum mencairkan uang subsidi daging. Namun, Pemprov masih menolak 
dengan alasan uang PMD akan digunakan untuk program prioritas lain. 

Selama ini, Dharma Jaya memang memiliki tugas untuk menyuplai daging kepada 
pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP). Setiap bulannya, perusahaan BUMD 
ini menyiapkan 150 ton daging dengan harga Rp85 ribu per kilogram yang kemudian 
disubsidi Pemprov DKI sebesar Rp50 ribu per kilogram. 

Namun, dana subsidi yang disalurkan lewat Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan 
Perikanan (DKPKP) itu tak turun. Di sisi lain mereka harus tetap memasok daging 
subsidi ke peserta KJP. Akibatnya, arus kas yang dimiliki PD Dharma Jaya tidak 
berputar.

BUMD ini harus merogoh kas untuk membayar piutang yang belum dibayarkan Pemprov 
DKI pada November dan Desember lalu. Uang itu dijanjikan akan di-reimburse 
(bayar balik) beberapa bulan beriringan dengan cairnya PSO. 

“Coba deh teman-teman lihat masuk akal enggak sih dari bulan November PSO DP 
belum keluar sampai tanggal segini? Masuk akal enggak?” kata Marina 
mengeluhkan. 

Baca juga: Dana PSO Belum Cair, PD Dharma Jaya Setop Beli Ayam untuk Subsidi
Kesulitan Mengurus PSO 

Marina mengaku kerap mondar-mandir ke Balai Kota agar pencairan PSO dapat 
segera dilakukan oleh Pemprov DKI. Ia bahkan mengklaim dirinya sempat kesulitan 
menemui Anies dan Sandi Uno agar keduanya segera mendorong pencairan PSO. 

“Saya mau masuk tidak diperbolehkan ke kantor Pak Sandi. Waktu itu saya bilang 
'aduh sombong sekali' saya enggak dikasih masuk, saya berdiri di dekat tangga. 
Tapi ada satu mbak yang kenalin saya, terus saya bilang tolong dong lima 
menit,” kata Marina mengisahkan. 

Setelah bertemu dengan Sandiaga, Marina juga telah menyampaikan keputusannya 
untuk mundur dari jabatan Dirut PD Dharma Jaya. Namun, Sandiaga menahannya 
untuk keluar dan berjanji untuk membantu penyelesaian masalah yang dialami 
perusahaan pelat merah itu. 

“Semenjak saya datang ke sana, saya tidak menangis, malah pas keluar saya masih 
ketawa-tawa sama beliau,” katanya. 

Marina berencana meminjam dana pengganti ke bank. Namun, ia khawatir bila 
meminjam uang di bank akan berdampak pada bunga yang harus ditanggung 
perusahaan. Apalagi baru dua tahun terakhir ini perusahaan pelat merah itu 
menikmati surplus. 

“Tahun lalu kami untuk pertama kalinya sumbang dividen. Besarnya Rp468 juta,” 
kata Marina. 

Dharma Jaya sedang mengadapi masalah dengan pemasok yang mengurangi suplai 
akibat piutang usaha Rp80 miliar yang belum lunas sejak Januari 2018. 
Menurutnya, para pemasok yang rata-rata usaha kecil menengah (UKM) tak bisa 
terus-menerus memberikan piutang kepada Pemprov DKI.

“Anak-anak [karyawan Dharma Jaya] sudah dimaki-maki sama supplier, sampai 
nangis-nangis. Saya sampai minta tolong [ke Pemprov], supplier-nya sudah 
nangis. Karena kan saya merangkul UKM kan, saya enggak merangkul orang besar. 
Kan katanya saya harus merangkul rakyat kecil,” kata Marina.. 

Baca juga:   
   - Ayam Geprek di Dunia yang Menggilai Ayam
   - Harga Acuan Telur dan Daging Ayam di Tingkat Produsen Akan Diatur

Prosedur Pencairan PSO

Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI, Michael Rolandi mengakui 
keluhan Marina soal pencairan uang muka PSO yang dikelola Dharma Jaya.. 
Menurutnya, uang muka subsidi Rp41 miliar itu terlambat cair lantaran 
kelengkapan berkas administratif. Dana itu akan dipakai untuk membayar subsidi 
daging yang ditalangi kas Dharma Jaya pada November dan Desember. 

Pencairan PSO harus dilandasi oleh Peraturan Gubernur (Pergub) sebagaimana 
diatur dalam Pergub Nomor 208 Tahun 2016 Tentang Penyediaan Pangan dengan Harga 
Murah Bagi Masyarakat Tertentu. 

“Diajukannya, Bu Marina ngomong ke Pak Wagub itu November. Ngomong-ngomong di 
rapat, kan rapat enggak bisa dibuat berita acara untuk administrasi pencairan. 
Kan harus ada Pergub, Pergub-nya dulu nih untuk bayar,” kata Michael Rolandi 
saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat. 

Menurut Michael, Pergub baru ditandatangani pada 2 Februari, bernomor 6 tahun 
2018. Namun, PD Dharma Jaya masih perlu menandatangani Perjanjian Kerja Sama 
(PKS) serta mengajukan proposal pencairan uang subsidi pangan ke Kepala Dinas 
Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP). Setelah disetujui, akan ada 
pemeriksaan administratif sebelum pencairan. 

Saat ini, PKS memang sudah ditandatangani oleh DKPKP dan PD Dharma Jaya. 
Proposal juga sudah diterima BPKD dari Dinas KPKP DKI pada awal Maret. Namun, 
karena masih kurang lengkap, instansinya mengembalikan proposal tersebut ke 
Dinas KPKP DKI pada 8 Maret 2018. 

“Kami lihat lengkap tidak dokumen administrasinya? Kalau belum lengkap, 
dikembalikan ke Dinas KPKP selaku dinas teknis. Nanti sama Dinas KPKP akan 
dikoordinasikan dengan BUMD bersangkutan untuk diperbaiki. Nah, baru masuk lagi 
perbaikannya pada 13 Maret kemarin,” katanya. 

Kepala Dinas KPKP Darjamuni menyebut bahwa uang muka PSO memang tidak bisa 
diberikan pada November karena sudah tutup buku, PSO baru bisa diproses pada 
2018. 

Menurut Darjamuni, pencairan subsidi yang menggunakan PSO memang dipastikan 
terlambat setiap bulan. “Januari itu seharusnya kan Februari kita bayar,” 
ujarnya. Ia menyebut keterlambatan pencairan terjadi karena pihak Dharma Jaya 
lamban melengkapi berkas-berkas. 

“Harusnya dia sama-sama kami duduk. Ngapain [mengeluh begitu]? Dia pernah 
enggak telepon kami, datang ke saya? Yang mewakili malah wakil direkturnya,” 
ujarnya. 

"Kemarin sudah pak dilengkapi, saya tandatangan kasih ke Pak Michael,” kata 
Darjamun. 

Baca juga artikel terkait SUBSIDI PSO atau tulisan menarik lainnya Hendra 
Friana 
(tirto.id - hen/abd)

Kirim email ke