----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Senin, 19 Maret 2018 16.43.00
GMT+1Judul: [GELORA45] Demo FPI dan Sikap Kami
Demo FPI dan Sikap Kami
|
|
| |
Demo FPI dan Sikap Kami
Elik Susanto
Demonstrasi oleh massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap redaksi Tempo sudah
berlebihan.
|
|
|
Senin, 19 Maret 2018 08:05 WIB
Pemred Majalah Tempo, Arif Zulkifli (dua dari kiri), memberikan klarifikasi
kepada ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) yang berdemo di depan Kantor
TEMPO Media Grup, Jakarta, 16 Maret 2018. Di atas mobil komando FPI terdapat
juga Kepala Komunikasi Korporat Wahyu Muryadi dan Pemred Koran Tempo, Budi
Setyarso. TEMPO/Subekti.
Demonstrasi oleh massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap redaksi Tempo sudah
berlebihan. Kami mengkritik cara mereka mengekspresikan sikap secara
intimidatif. Polisi seharusnya memproses hukum pendemo yang telah bertindak
kebablasan.
Massa FPI yang menggeruduk kantor kami pada Jumat lalu tersebut bermaksud
memprotes kartun yang dimuat pada majalah Tempo edisi 26 Februari 2018. Mereka
menganggap kartun itu menghina pendiri FPI, Rizieq Syihab, yang pergi umrah dan
belum kembali ke Tanah Air setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.
Padahal gambar dan teks pada kartun itu tak langsung merujuk kepada seseorang.
Menjunjung kemerdekaan berekspresi, Tempo tak menutup mata terhadap kemungkinan
perbedaan interpretasi mengenai kartun tersebut. Karena itu, redaksi Tempo
menyatakan siap berdialog sejak FPI menyerukan “aksi damai” selepas waktu salat
Jumat tersebut. Sayangnya, utusan FPI malah menggunakan kesempatan berdialog
untuk mengintimidasi.. Di depan aparat, mereka menghardik, menggebrak meja, dan
sempat melemparkan gelas ke arah perwakilan redaksi Tempo.
Merujuk pada ketentuan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers, Tempo
berjanji memuat keberatan FPI sebagai hak jawab pada kesempatan pertama.
Jawaban ini tak meredakan kemarahan massa FPI. Mereka memaksa Pemimpin Redaksi
Majalah Tempo meminta maaf kepada seluruh umat Islam. Permintaan ini jelas tak
masuk akal. Bagaimana bisa FPI mengklaim semua umat Islam punya pandangan,
sikap, dan perilaku yang sama dengan mereka.
Di tengah kepungan massa FPI, Tempo akhirnya meminta maaf atas dampak pemuatan
kartun, bila hal itu menyinggung perasaan kelompok tertentu. Tapi Tempo tidak
meminta maaf—apalagi mengaku bersalah—karena memuat kartun itu.. Ihwal
penilaian “salah-benar” atas kartun tersebut, Tempo menyerahkan sepenuhnya
kepada Dewan Pers.
Bagi Tempo, kehati-hatian dalam menjalankan aktivitas jurnalistik merupakan
keniscayaan. Tapi karya jurnalistik bukanlah “produk final” yang seratus persen
pasti benar. Produk jurnalistik bisa menyimpan kekhilafan yang tak disengaja.
Karena itu, Tempo selalu menyediakan ruang untuk hak jawab dan hak koreksi.
Tempo pun selalu siap bermediasi di Dewan Pers serta mematuhi rekomendasi
lembaga tersebut.
Di luar forum Dewan Pers, tak ada alasan untuk tunduk kepada tekanan ala FPI.
Apalagi pelbagai ancaman telah menjadi bagian dari sejarah Tempo. Sejauh ini,
hal itu tak menyurutkan langkah Tempo untuk mempertahankan independensi ruang
redaksi.
Sikap Tempo untuk tidak tunduk kepada tekanan dan ancaman bukanlah karena punya
nyali berlebih. Kami hanya percaya, sekali intimidasi berhasil menentukan
keputusan redaksi, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi Tempo. Bila tak
dilawan, pelaku intimidasi bisa ketagihan. Korbannya bisa Tempo ataupun media
lain. Ini sangat membahayakan kemerdekaan pers dan hak publik atas informasi.