https://tirto.id/hoaks-senjata-pemusnah-massal-lahirkan-invasi-as-ke-irak-cGq6
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
20 Maret 2003
Hoaks Senjata Pemusnah Massal Lahirkan
Invasi AS ke Irak
Hoaks Senjata Pemusnah Massal Lahirkan Invasi AS ke Irak Ilustrasi
Invasi AS ke Irak. tirto.id/Gery
3 Shares
<mailto:?subject=Hoaks%20Senjata%20Pemusnah%20Massal%20Lahirkan%20Invasi%20AS%20ke%20Irak&body=https://tirto.id:443/hoaks-senjata-pemusnah-massal-lahirkan-invasi-as-ke-irak-cGq6>
Reporter: Akhmad Muawal Hasan
<https://tirto.id/author/akhmadmuawal?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
20 Maret, 2018 /dibaca normal 4:30 menit /
* Dampak invasi: stabilitas Irak goyah, ISIS dan kelompok pemberontak
lain muncul, Timur Tengah koyak hingga hari ini.
/Dibumi hangus.
Perang tercetus dari
bual gedebus./
*tirto.id <https://tirto.id?utm_source=internal&utm_medium=Article> - *
“Aku tak peduli kau menyebutnya apa. Aku ingin kasih tahu. Mereka
(Presiden George W. Bush dan jajaran administrasinya) bohong. Mereka
bilang di sana (Irak) ada senjata pemusnah masal. Sebenarnya tidak ada.
Dan mereka tahu soal ini. Tidak pernah ada yang namanya senjata pemusnah
masal.”
Pernyataan yang dikutip /Vox /
<https://www.vox.com/2016/2/14/10988380/donald-trump-9-11>itu keluar
dari mulut Donald Trump, pada pertengahan Februari 2016, saat masih
menapaki tangga menuju kursi kepresidenan Amerika Serikat.
Barangkali normal jika dikatakan oleh seorang Demokrat. Tapi Trump
adalah Republikan. Partainya, dengan ideologi neokonservatif, dulu turut
memenangkan George W. Bush, si bebal yang memicu serbuan ke Irak pada
awal 2000-an.
Hari pertama invasi militer AS dan koalisinya—Inggris, Australia, dan
Polandia—terjadi pada 20 Maret 2003, tepat hari ini 15 tahun lalu.
Invasi berakhir 20 hari berselang atau pada 1 Mei 2003.
*Dalih Invasi*
AS, dengan bangga, menyebut invasinya sebagai “Operation Iraqi Freedom”.
Mereka ingin membebaskan rakyat Irak dari pemimpin saat itu yang
dianggap sebagai diktator berbahaya, Saddam Hussein.
Baca juga:Kematian Saddam Hussein, Tumbangnya Simbol Pan-Arabisme
<https://tirto.id/kematian-saddam-hussein-tumbangnya-simbol-pan-arabisme-cCt7>
Bush dan Perdana Menteri Inggris menambahkan dua tujuan besar lain.
Pertama, mengakhiri dukungan Saddam terhadap terorisme. Lebih tepatnya,
untuk kelompok Al-Qaeda yang dituding AS sebagai dalang aksi serangan 11
September 2001. Tragedi yang meruntuhkan Menara Kembar World Trade
Center, New York, dan merenggut lebih dari 6.000 nyawa.
Kedua, melucuti senjata pemusnah massal Irak. Alasan terakhir ini
tercatat menjadi yang paling kontroversial sebab hingga detik ini tidak
didasarkan pada bukti (yang jelas dan kuat).
Dari sekian banyak laporan investigasi dengan kesimpulan bahwa senjata
pemusnah massal Irak hanyalah hoaks, salah satu yang paling penting
datang dari administrasi pemerintahan AS sendiri, National Intelligence
Estimate
<https://www.scribd.com/doc/259216899/Iraq-October-2002-NIE-on-WMDs-unedacted-version?ad_group=Online+Tracking+Link&campaign=Skimbit%2C+Ltd.&content=10079&irgwc=1&keyword=ft500noi&medium=affiliate&source=impactradius>
(NIE).
Dalam laporan /Washington Post
<https://www.washingtonpost.com/news/fact-checker/wp/2016/12/13/the-pre-war-intelligence-on-iraq-wrong-or-hyped-by-the-bush-white-house/?utm_term=.b11dd235d314>/,
NIE dibentuk atas permintaan kubu Demokrat agar dibuatkan laporan
terkait tiga tuduhan utama pemerintahan Bush kepada Saddam, yakni
kepemilikan senjata nuklir, senjata biologis, dan senjata kimia. Pada
Oktober 2002, laporannya dirilis secara internal dan baru dibuka untuk
umum di tahun 2014.
Baca juga:Ekonomi Irak Saat dan Sesudah Saddam
<https://tirto.id/ekonomi-irak-saat-dan-sesudah-saddam-cefu>
Laporan ini ditujukan untuk jadi bahan pertimbangan sebelum jajaran
administratif di Gedung Putih melakukan pemungutan suara. Apakah AS
benar-benar akan menginvasi Irak, atau menyelesaikannya melalui jalur
diplomatik (jalur yang disarankan negara-negara aliansi AS).
Pertama, terkait senjata nuklir. Sejumlah badan intelijen menilai
pemerintah Irak sedang menyusun kembali program senjata nuklir. Namun
beberapa badan intelijen lain menyanggahnya. Perbedaan pendapat paling
mengemuka terjadi antara Biro Intelijen dan Riset Departemen Luar Negeri
AS dengan Departemen Energi. “Perselisihan substansial di dalam
komunitas intelijen” ini amat digaris bawahi NIE.
Irak disebut-sebut punya tabung yang biasa dipakai untuk program
pengayaan uranium. Departemen Energi AS meyakini barang itu tidak sesuai
untuk dipakai membuat senjata nuklir. Tabung-tabung itu hanya dipakai
untuk membuat roket artileri.
Kedua, tentang senjata biologis. Badan intelijen yakin Irak
mengembangkannya sejak akhir 1990-an dan awal 2000-an. Meski demikian,
NIE juga menitikberatkan bahwa muncul ketidaksetujuan dari kelompok
intelijen AS lain. “Kesenjangan intelijen” ini disebutkan secara
eksplisit dalam laporan NIE, namun tak dibawa ke pembahasan oleh
administrasi Bush.
Baca juga:Bagaimana CIA Merekrut Ilmuwan Asing Secara Rahasia
<https://tirto.id/bagaimana-cia-merekrut-ilmuwan-asing-secara-rahasia-cyzT>
Ketiga, soal senjata kimia. Banyak laporan yang masuk dan menyebutkan
jika Irak memiliki 100 hingga 500 metrik ton senjata kimia. Satu badan
intelijen menyatakan bahwa Saddam ingin mengembangkannya melalui
pembangunan industri kimia. Namun, per Oktober 2002, NIE menyatakan
bahwa tidak ada proses produksi terkait senjata kimia sebagaimana yang
dituduhkan.
Kebenaran dari berbagai klaim yang dikemukakan badan intelijen AS
kemudian datang terlambat. Ketika invasi berakhir, fakta-fakta anyar
yang menyangkal eksistensi tiga jenis senjata pemusnah massal
sebagaimana yang dikupas NIE baru ditemukan.
Kembali merujuk /Washington Post/
<https://www.washingtonpost.com/news/fact-checker/wp/2016/12/13/the-pre-war-intelligence-on-iraq-wrong-or-hyped-by-the-bush-white-house/?utm_term=.b11dd235d314>,
pemerintah AS mengetahui bahwa program senjata nuklir Irak telah
diakhiri sejak 1991. Irak juga tidak mengembangkan penelitian untuk
produksi senjata biologis sejak 1996. Sementara program pengembangan
senjata kimia sudah ditinggalkan pada 1980-an. Irak tak berniat untuk
membangkitkan ketiganya pada awal 2000-an.
Baca juga:Bagaimana Para Presiden AS Mengeksploitasi Krisis Politik di
Iran
<https://tirto.id/bagaimana-para-presiden-as-mengeksploitasi-krisis-politik-di-iran-cCQD>
Jika ingin main tuding-menuding, AS juga punya andil terhadap pemakaian
senjata kimia yang dilakukan Saddam Hussein kepada rakyatnya sendiri
pada era 1980-an. Menurut catatan /Vox/
<https://www.vox.com/2014/10/15/6981493/iraq-wmd-saddam-chemical-weapons-new-york-times>,
produksinya dibantu perusahaan asal AS. Pemakaian senjata kimia ini
dilanjutkan Irak saat berperang melawan Iran pada 1980-an.
Kemesraan AS-Irak berakhir saat Irak menginvasi Kuwait dan melahirkan
krisis politik baru di Timur Tengah. Pada 1991, AS mendukung Kuwait dan
sukses mengalahkan pasukan Saddam. Kekalahan ini membuat Saddam mau
menghentikan proyek senjata pemusnah massalnya. Ia mengizinkan PBB untuk
menonaktifkan gudang dan tempat produksi yang tersisa.
Sayangnya, pada 31 Oktober 1998 Presiden Bill Clinton menandatangani UU
Pembebasan Irak. Artinya AS mensponsori kelompok pemberontak Irak yang
ingin menggulingkan Saddam Husein.
Saddam geram. Di hari yang sama ia mengusir anggota PBB yang sedang
merampungkan tugas memeriksa fasilitas pengembangan senjata pemusnah
massal Irak. Beruntung, sebagian besar di antaranya sudah tak aktif dan
akhirnya terbengkalai.
*Kebodohan Bush, Kecerobohan Intelijen AS*
Jika memang senjata pemusnah massal adalah kabar hoaks, mengapa AS tetap
menggunakannya untuk menginvasi Irak?
Peta politik elite AS berubah sejak Bush naik. Ia dan jajaran
administrasinya menjajaki kebangkitan neokonservatisme yang sejak
1990-an amat bernafsu menggulingkan Saddam. Terlepas faktor ini,
ditambah ketepatan momentum usai aksi teror 9/11, invasi Irak adalah
hasil dari kekeliruan intelijen AS dalam menjaring informasi.
Jane Mayer mendalami kasus ini dalam bukunya, /The Dark Side: The Inside
Story of How the War on Terror Turned Into a War on American Ideals
<https://books.google.co.id/books/about/The_Dark_Side.html?id=w8-y8v99TCIC&redir_esc=y>/
(2009). Mayer mewawancarai Roger Chessey yang pernah bekerja di Dewan
Keamanan Nasional AS era Bush. Chessey mengungkapkan betapa buruknya
cara Bush mendapatkan informasi intelijen dari para anak buahnya.
“Kesalahannya bukan cuma analisis intelijen sebelum di serahkan ke
presiden. Tapi sebab tak ada filter. Kebanyakan analisis itu sampah. Tak
ada yang dipilah dengan baik atau disaring. Tapi langsung ke presiden
dan para penasihatnya, yang bukan pakar intelijen. Di situlah kesalahan
dibuat,” jelasnya.
Baca juga:Mengampuni Si Pembocor Rahasia Negara
<https://tirto.id/mengampuni-si-pembocor-rahasia-negara-bK1n>
Hoaks Senjata Pemusnah Massal Lahirkan Invasi AS ke Irak
share infografik
Dari awal kerjanya pun sudah bias. Tak lama usai pengeboman World Trade
Center, pencarian dalang teror dilandasi motif mengkambinghitamkan
Saddam Husein. Itu adalah titah langsung dari Bush.
Kondisi ini tidak sampai membuat para intelijen AS memalsukan informasi
ke telinga sang presiden, namun mereka cenderung hanya menganggap
penting informasi yang menguatkan ambisi Bush. Mirip bagaimana /framing/
sebuah media bekerja. Ini pula yang mengakibatkan perdebatan terkait
kredibilitas informasi antar intelijen, sesuai laporan NIE.
Mengutip laporan /Vox/
<https://www.vox.com/2016/2/16/11022104/iraq-war-neoconservatives>,
contohnya terjadi pada tahun 2001, saat intelijen AS amat mengandalkan
informasi dari seorang laki-laki bernama Ibn al-Sheikh al-Libi. Libi
dibawa dari Afghanistan, disiksa dulu di Mesir, kemudian baru dipindah
ke AS. Di AS ia berkata jika Saddam menyediakan pelatihan senjata kimia
dan biologis untuk Al-Qaeda.
Departemen Pertahanan AS sudah mengingatkan bahwa informasi dari Libi
tidak bisa dipercaya. Namun Bush tetap menggunakannya sebagai sumber
yang kredibel. Bush berulang kali menyebarkan informasi dari Libi ini di
panggung-panggung resmi. Padahal hasil temuan banyak lembaga investigasi
usai invasi menyangkal cerita-cerita Libi.
Baca juga:Bocornya Teknik Mata-mata CIA di Perangkat Teknologi
<https://tirto.id/bocornya-teknik-mata-mata-cia-di-perangkat-teknologi-ckuc>
AS juga amat menggantungkan analisis intelijennya pada Rafid Ahmed Alwan
al-Janabi, seorang warga Irak yang mengasingkan diri ke Jerman. Ia
mengklaim punya informasi langsung tentang program senjata pemusnah
massal Irak yang dijalankan secara rahasia.
Lagi-lagi, meski intelijen Jerman dan Inggris mengingatkan AS bahwa
informasi Janabi tak bisa diandalkan, AS justru menjadikannya salah satu
bukti kuat menuju invasi.
Pada 2011, Janabi baru mengakui bahwa informasi yang ia berikan palsu
belaka. Kepada /Guardian/
<https://www.theguardian.com/world/2011/feb/15/defector-admits-wmd-lies-iraq-war%20>ia
menjelaskan bahwa motif kebohongannya didorong keinginannya melihat
Saddam tumbang. Ia pernah punya masalah dengan rezim Saddam, sehingga
pada 1995 memutuskan pergi dari Irak.
Baca juga:Gonjang-Ganjing Referendum Kemerdekaan Kurdistan Irak
<https://tirto.id/gonjang-ganjing-referendum-kemerdekaan-kurdistan-irak-cwZ7>
Meski tinggal di negeri orang, cita-cita agar kekuasaan Saddam segera
berakhir selalu tersimpan di benaknya. Oleh sebab itu Janabi turut
gembira dengan kemenangan AS dan koalisi dalam invasi Irak. Ia senang
dulu punya kesempatan untuk membuat cerita bualan hanya agar dendamnya
terpenuhi.
“Aku dan anakku bangga dengan itu, dan kami bangga karena kami adalah
alasan Irak bisa mencicipi sedikit rasa demokrasi,” imbuhnya.
Janabi tidak sepenuhnya salah. Terutama jika yang ia maksud dengan
demokrasi adalah pendudukan militer AS (baca: Perang Irak) selepas
invasi, hingga baru benar-benar berakhir di tahun 2011.
Lagi pula, Janabi juga tak bisa mengelak dari fakta ini: labilnya
kondisi politik-sosial Irak setelah invasi, konflik sektarian yang
berkecamuk selama bertahun-tahun akibat munculnya ISIS dan kelompok
bersenjata lain, Timur Tengah yang terus terkoyak akibat manuver
kelompok-kelompok itu, juga puluhan ribu nyawa rakyat sipil yang
melayang sia-sia.
Baca juga artikel terkait PERANG IRAK
<https://tirto.id/q/perang-irak-kxS?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
<https://tirto.id/author/akhmadmuawal?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>
(tirto.id - awa/ivn)