https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180323153641-532-285393/ekonom-dana-asing-tak-akan-lari-jika-rupiah-stabil
Ekonom: Dana Asing Tak akan Lari Jika Rupiah Stabil

*Galih Gumelar*, CNN Indonesia | Jumat, 23/03/2018 17:43 WIB

Bagikan :

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di saat bank
di saat suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves. (CNN
Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).

Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku
bunga acuan di saat bank di saat suku bunga bank sentral Amerika Serikat
(AS) Federal Reserves naik dianggap tak akan menimbulkan arus modal keluar,
asal BI bisa menjaga volatilitas rupiah sepanjang tahun ini.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan sampai saat
ini belum ada potensi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang
cukup parah pasca pengumuman The Fed. Sebab, dampak kenaikan Fed Rate
ternyata tidak terlalu agresif jika dibandingkan ekspektasi sebelumnya.
Lihat juga:

The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Bps
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180322151402-532-285037/the-fed-naikkan-suku-bunga-acuan-25-bps/>


Ia berkaca pada pelemahan dolar AS terhadap beberapa mata uang. Tak hanya
itu, imbal hasil surat utang AS (US treasury yield) juga menurun pasca
pengumuman tersebut. Artinya, risiko kenaikan Fed Rate perlahan padam
dengan sendirinya.



"Kebijakan BI saat ini saya nilai tepat. Sekarang yang perlu dilakukan
adalah menjaga kurs. Kalau stabil paling tidak Indonesia bisa mengurangi
tekanan outflow," ujar Andry kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/3).

Pasalnya, dampak kenaikan Fed Rate sepanjang tahun ini sudah diantisipasi,
maka ia menilai nilai tukar rupiah akan bergerak menuju posisi
fundamentalnya.

Andry meramal, nilai tukar rupiah terhadap dolar berada pada posisi
Rp13.958 per dolar AS atau menguat dari posisi saat ini Rp13.737 sesuai
kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Di samping itu, inflasi juga diprediksi tak lebih dari 4 persen sepanjang
tahun ini. Artinya, peluang BI untuk menahan suku bunga acuannya sebesar
4,25 persen hingga akhir tahun sangat terbuka lebar.

"Meskipun begitu, kami masih melihat risiko domestik masih besar. Tekanan
kemungkinan dari defisit transaksi neraca berjalan yang bisa menekan rupiah
ke depannya," ungkap dia.
Lihat juga:

Tak Latah The Fed, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,25 Persen
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180322171635-532-285103/tak-latah-the-fed-bi-tahan-suku-bunga-acuan-425-persen/>


Senada, Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan keluarnya dana
asing dalam sebulan terakhir memang menekan rupiah. Tapi, ia menilai
volatilitas rupiah akan mereda seiring berkurangnya ketidakpastian di pasar
modal karena pelaku pasar sudah pasang kuda-kuda atas kenaikan Fed Rate di
tahun ini. Sehingga, harusnya keresahan pelaku pasar sudah tidak
menjadi-jadi.

"Melihat dari dot plot yang dirilis The Fed, sebagian besar anggota Federal
Open Market Committee (FOMC) tetap memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga
AS tahun ini sebesar 75 basis poin," ujar Josua.

Volatilias pada rupiah diperkirakan menurun seiring menyusutnya
ketidakpastian di pasar setelah The Fed mengeluarkan dot plot pada rapat
FOMC bulan ini.

Ia pun melihat inflasi masih berada sesuai target tahun ini. Sehingga, ia
juga menilai arah kebijakan BI ke depan tidak mengubah suku bunga acuan
7DRR.

"Jadi, mempertimbangkan tujuan BI yakni menjaga stabilitas harga dan nilai
tukar pada tahun ini, maka stance kebijakan moneter BI diperkirakan netral
dalam jangka pendek," papar dia.
Lihat juga:

OJK: IHSG Meradang Karena Kenaikan Bunga Acuan The Fed
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180323150815-78-285375/ojk-ihsg-meradang-karena-kenaikan-bunga-acuan-the-fed/>


Sebelumnya, BI menetapkan suku bunga acuan 7DRR tetap di angka 4,25 persen
pada Maret ini. Suku bunga simpanan (deposit ficility) dan suku bunga
pinjaman (lending facility) masing-masing juga dipertahankan masing-masing
sebesar 3,5 persen dan 5 persen.

Dari sisi domestik, keputusan BI menahan suku bunga acuan juga
mempertimbangkan kinerja pertumbuhan ekonomi yang hingga akhir tahun
mendatang diperkirakan di angka 5,1 persen hingga 5,5 persen. Bahkan, BI
memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal I lebih baik dibanding kuartal
sebelumnya.

Lebih lanjut, dari sisi perdagangan, BI mencatat neraca perdagangan yangd
efisit sebesar US$780 juta dalam dua bulan pertama tahun 2018. Selain itu
aliran modal masuk pun hanya US$300 juta. Sehingga, BI mengatakan bahwa
proyeksi defisit transaksi berjalan di angka 2 hingga 2,5 persen hingga
akhir tahun nanti, atau masih dalam batas tertinggi 3 persen. *(lav/bir)*

Kirim email ke