http://www.mediaindonesia.com/read/detail/151003-mendag-minta-impor-beras-jangan-dipolitisasi


*Mendag Minta Impor Beras Jangan Dipolitisasi*

Penulis: *Bayu Anggoro* Pada: Jumat, 23 Mar 2018, 15:30 WIB Ekonomi
<http://www.mediaindonesia.com/ekonomi>


<http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.mediaindonesia.com/read/detail/151003-mendag-minta-impor-beras-jangan-dipolitisasi>

<http://twitter.com/home/?status=Mendag%20Minta%20Impor%20Beras%20Jangan%20Dipolitisasi%20http://www.mediaindonesia.com/read/detail/151003-mendag-minta-impor-beras-jangan-dipolitisasi%20via%20@mediaindonesia>

[image: Mendag Minta Impor Beras Jangan Dipolitisasi]PEMERINTAH meminta
semua pihak tidak memolitisasi impor beras. Upaya mendatangkan komoditas
dari luar negeri ini dipastikan tidak merugikan petani lokal.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, saat ini muncul
pernyataan dari sejumlah pihak yang tidak setuju dengan impor beras. Mereka
menyebut kebijakan ini akan merugikan petani.

"Jangan pertentangkan beras impor dengan tidak menyejahterakan petani,"
kata Enggartiasto dalam Rapat Koordinasi Nasional Stabilisasi Harga dan
Stok/Pasokan Barang Kebutuhan Pokok Jelang Bulan Puasa 2018 yang digelar
Kementerian Perdagangan di Bandung, Jumat (23/3).Dia memastikan, petani
tidak akan dirugikan dengan adanya impor beras. Sebab, lanjut Enggartiasto,
pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) tetap akan membeli beras
dari petani lokal dengan harga yang ideal.

"Berapapun harganya turun, Bulog pasti beli. Dirut Bulog sudah
mempertaruhkan jabatannya kalau tidak mengambil beras dari petani, silakan
berhentikan," katanya.

Bahkan, menurutnya, Bulog membeli dengan harga yang lebih tinggi dibanding
tengkulak. "Yang jadi masalah kalau yang dibeli bukan dari petani. Petani
jual ke tengkulak Rp3.500 (per kg), Bulog beli Rp3.700," katanya.

Oleh karena itu, Enggartiasto menyebut penghembusan opini impor beras akan
merugikan petani merupakan upaya pembodohan masyarakat yang kental dengan
aroma politik.

Menurut dia, upaya itu tidak terlepas dari akan digelarnya sejumlah ajang
demokrasi pada tahun ini dan 2019. "Jelang pesta demokrasi, isu impor ini
terus digoreng elite politik untuk membodohi rakyat. Juga oleh ekonom yang
tidak ngerti," katanya.

Enggartiasto membenarkan pemerintah mengimpor 500 ribu ton beras dari
Thailand dan Vietnam. Saat ini, sudah terealisasi 281 ribu ton dan sisanya
akan segera terpenuhi.

Impor beras ini merupakan upaya pemerintah untuk menstabilisasi harga
barang pokok tersebut. Dia pun menyebut praktik impor ini merupakan hal
yang biasa dalam perdagangan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai bentuk
kelemahan.

Dia menyontohkan, meski mengekspor beras ke Indonesia, Thailand dan Vietnam
pun mengimpor beras dari Kamboja. "Begitu juga Myanmar. Itulah namanya
perdagangan, menjual dan membeli," katanya. (A-1)

Kirim email ke