Kalau tidak salah ingat tulisan ini yang saya postingkan dulu.
Masalah Irian Barat (PapuaBarat) Ketika kita bicara tentangPapua Barat, ada beberapa fakta sejarah yang tidak dapat dilupakan. 1. Indonesia dijajahBelanda sejak abad XVI. Sebelum Kemerdekaan 1945, wilayah yang diduduki disebutHindia Belanda. Dan Papua Barat termasuk. Mereka yang ingin membaca lebihlanjut tentang bagaimana Papau Barat merupakan bagian dari Indonesia sejakproklamasi kemerdekaan 1945 bisa mengklik links berikut ini. :http://www.kompasiana.com/kanis/menurut-bung-karno-papua-sudah-menjadi-nkri-walaupun-tanpa-pepera-bagian-2_550e7d35a33311b02dba81d1 2. Pemberontakan nasional pertama melawan kolonialisme Belanda diorganisasidan dipimpin PKI pada tahun 1926. Pemberontakan gagal, dan akibatnya ribuankomunis dibunuh, digantung, dipenjara dan dibuang ke kamp di Boven Digul, PapuaBarat. Di antara mereka yang jasadnya terbaring di Boven Digul adalah komunisterkemuka Aliarcham dan Najoan. Itu membuktikan juga bahwa Papua Barat beradadi bawah administrasi/pendudukan kekuasaan colonial Belanda. 3. Dua tahun kemudian, tanggal 26-28 Oktober 1928, dalam Kongres PemudaKedua yang diselenggarakan di Batavia, Indonesia Raya (Yang kemudian menjadilagu kebangsaan Indonesia) dinyanyikan dan dikeluarkan Sumpah Pemuda. Sumpahitu berbunyi: Kami poetera dan poeteriIndonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoewa,Kamipoetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsaIndonesia.Ketiga,Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasapersatoean, bahasa Indonesia”. Kenyataan bahwa tidak semua suku bangsa diwakili dalamkongres itu tidak mengurangi sifat nasional dari Kongres dan suku bangsa yang tidak diwakili (sepertimisalnya suku Dayak, suku Bugis, suku Sasak, suku Asmat dari Papua Barat) tidakberarti mereka tidak termasuk dalam semangat persatuan Kongres Pemudaitu.Ketika itu tidak mungkin mengirim wakil dari semua suku bangsa karenaperbedaan tingkat kesadaran dan tingkat perkembangan perjuangan untukkemerdekaan ketika itu. 4. Indonesia diduduki Jepang dari tahun 1942 sampai berakhirnya PDII tahun1945. Tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia memprokla-masikankemerdekaannya. PBB tidak mengakui kemerdekaan itu karena ia masih mengakuiBelanda sebagai kekuatan yang menguasai dan mengadministrasi Indonesia. Begitujuga Belanda menolak mengakui kemerdekaan Indonesia. Logis! Belanda tidak maukehilangan koloninya yang terbesar dan sangat kaya dengan sumber alam. Belandamelancarkan agresi militer pada tahun 1947 dan 1948 untuk menghancurkanRepublik Indonesia dan memulihkan dominasinya atas negeri kepulauan terbesar didunia itu. Tapi rakyat Indonesia tidak perduli akan pendapat PBBdan penolakan Belanda untuk mengakui kemerdekaannya. Rakyat sudah bertekad danmenganggap waktu untuk membebaskan diri dari pendudukan,penghisapan dan penindasan kolonialisme belanda tak bisa ditunda lagi.Perjuangan sudah dimulai tahun 1926! Rakyat Indonesia ingin merdeka sekarang!Dan Papua Barat merupakan bagian dari wilayah yang dianggap Indonesia ketikadiumumkan kemerdekaannya. Inilah yang dikatakan Sukarno dalam pidatonya tanggal4 Mei, 1963, di New Town, Jayapura: “…Dan apa yangdinamakan tanah air Indonesia? Yang dinamakan tanah air Indonesia ialah segenap wilayah yang duludijajah oleh pihak Belanda, yang dulu dinamakan Hindia Belanda, yang duludinamakan Nederlands Indië. Itulah wilayah Republik Indonesia. Dengarkan benarkataku, itulah wilayah Republik Indonesia. Itu berarti bahwa sejak 17Agustus 1945 Irian Barat telah masuk di dalam wilayah Republik Indonesia.Apa yang belum terjadi? Karenapenjajah Belanda di Irian Barat sesudah proklamasi itu masih berjalan terus, makaIrian Barat belum kembali termasuk di dalam wilayah kekuasaan RepublikIndonesia. Sehingga kita punya perjuangan yang lalu ialahSaudara-Saudara perhatikan benar-benar, bukan memasukan Irian Barat ke dalamwilayah kekuasaan Republik Indonesia. Kesalahan ini masih kadang-kadang dibuat.Orang masih berkata, berjuang memasukan Irian Barat kembali ke dalam wilayahkekuasaan Republik Indonesia. Tidak! Irian Barat sejak 17 Agustus 1945 sudah masuk dalam wilayah RepublikIndonesia. Orang kadang-kadang berkata, memasukan Irian Barat ke dalamwilayah Ibu Pertiwi. Salah! Tidak! Irian Barat sejak daripada dulu sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaanRepublik Indonesia…” . Siapapun yangmasih berpikir bahwa Indonesia menganeksasi Papua Barat harus mempertimbangkanfakta sejarah ini. Sejarah sebuah negeri dibuat oleh rakyatnya. Sejarah tidakbisa dilupakan apalagi diputar balik. Karena Belanda menolak untuk mengakuikemerdekaan kita tahun 1945 dan menolak meninggalkan Papua Barat, maka konfliktentang Papua Barat menjadi berlarut-larut dan akhirnya melibatkan AS dan PBB. Orang Papua yangmenentang perjuangan rakyat Indonesia untuk membela kedaulatan nasionalnyadisebabkan karena mereka berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda. Misalnyadalam “Manifesto from First Papuan People’s Congress, 1961” you will find this :”in accordance with theardent desire and the yearning of our people for our own independence, throughthe National Committee and our parliament, theNew Guinea Council, insist with the Government of Netherlands New Guineaand the Netherlands Government that as of November 1, 1961, a. our flag be hoisted beside the Netherlands flag;b. our national anthem (”Hai Tanahku Papua”) be sung and played inaddition to the Netherlands national anthem; Jadi apa yang dinamakan “KongresRakyat Papua Pertama, 1961” menginginkan agar bendera mereka berkibar disebelah bendera Belanda dan lagu kebangsaannya dinyanyikan setelah lagikebangsaan Belanda. Apa artinya ini kalau bukan memilih pihak penjajah Belanda?Tidakkah ini sama dengan kasus Republik Maluku Selatan yang didirikan tahun1950 dan menerima dukungan penuh Belanda? Herannya, salahseorang anggota dari Dewan Guinea Baru, Mr. E.J. Bonay kemudian menjadigubernur pertama Irian Barat pada tanggal 1 Mei, 1963. Ia dibantu oleh seorangwakil Indonesia dan wilayah itu diadministrasi sebagai sebuah provinsi RepublikIndonesia. Mereka yang ingin mempelajari keterlibatan PBB dalam kasus PapuaBarat dapat membaca dokumen resmi PBB dengan mengklik links di bawah ini, http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unsfbackgr..html Masalah lain yang harus diingatadalah bahwa kasus PapuaBarat tidak sama dengan kasus Timor Timur. Portugal adalah kekuatankolonial pertama yang berkuasa di Timor. Perjanjian tahun 1860 membagi Timormenjadi Timor Barat di bawah kekuasaan kolonial Belanda dan Timor Timur dibawah kekuasaan kolonial Portugal. Pada tahun 1974 kudeta di Lisabon melahirkanpolitik dekolonisasi. Tahun 1975 Portugal meninggalkan Timor Timur. Setelahperang dalam negeri yang tak terlalu panjang, bulan Juli 1976, Fretilin yangberhaluan kiri mendirikan Republik Demokratis Timor Rimur. Sembilan harisetelah deklarasi, setelah mendapat persetujuan AS, rezim fasis Suhartomelakukan agresi militer, menduduki dan menganeksasi Timor Timur. Australiaadalah satu-satunya pemerintah yang mengakui secara resmi aneksasi itu. Anehnyasementara aktivis separatis Papua Barat sekarang minta tolong kepada pemerintahAustralia untuk membantu usaha memisahkan Papua Barat dari Indonesia. Dalam artikelnyayang berjudul “West Papua: my people need Australia’s helpbefore it is too late”, Benny Wenda menulis “publik Australia jelas punya simpatibesar untuk Papua Barat dan usaha kami—baik secara historis dan sekarang.Australia mula-mula siap berperang melawan Belanda untuk menghindari agresi Indonesiaterhadap Papua Barat pada awal tahun 60-an. Sebagai akibat dari politiknyata Perang Dingin dan tekanan AS, Australia keluar dari konflik tersebut.Seperti dukungannya terhadap kontrol Indonesia terhadap Timor Timur sampaitahun 1999, pemerintah Australia sampai sekarang menolak untuk mengakuituntutan Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri karena khawatir merusakhubungannya dengan Indonesia. Seperti Timor Timur, hukum ada di pihak kami.Kalau Australia dapat mengubah posisinya tentang Timor Timur, ia dapat jugamengubah posisinya tentang Papua Barat.” Bagaimana BennyWenda bisa bicara tentang agresi Indonesia terhadap Papua Barat pada awal tahun60-an? Rupanya ia tidak tahu sejarah Indonesia. Kemudian dia bicara tentangTimor Timur seolah-olah Papua Barat sama statusnya dengan Timor Timur. 5. Tentang “ hak menentukan nasib sendiri” Mereka yangmendukung dan membela “Pembebasan Papua Barat” berargumentasi bahwa rakyatPapua Barat punya hak untuk menentukan nasib sendiri bahkan memisahkan diri.Terdapat beberapa masalah yang harus diteliti sebelum tergesah-gesah bicaratentang “pembebasan Papua Barat” atau “Pembebasan nasional Papua Barat”. Apakah ada sebuahstudi tentang bangsa/nasion di Papua Barat? Ketika kita bicara tentang“pembebasan Papua Barat”, apakah berarti pembe-basan untuk rakyat asli/pribumiPapua Barat? Bagaimana dengan orang Indonesia yang bukan suku bangsa Papua,tapi sudah tinggal cukup lama di Papua Barat sebagai akibat dari politiktransmigrasi Pemerintah? Bagaimana kita memperlakukan mereka? Hal inimengingatkan saya pada kasus Kosovo di mana orang-orang Serbian didiskriminasidan diperse-kusi oleh para penguasa Albania di Kosovo. Kita juga harustahu bahwa orang pergi ke pulau-pulau lain termasuk Papua untuk cari pekerjaandan kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya karena banyak tani di Jawa,Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi yang kehilangan tanahnya karena pembangunanmegaproyek infrastruktur dan perkebunan. Masalah lainadalah organisasi apa yang memimpin gerakan untuk “pembebasan Papua Barat”?Maksud saya posisi kelasnya. Apa programnya? Masyarakat apa yang ingin merekabangun? Hari depan seperti apa yang akan mereka tawarkan kepada rakyatnya?Apakah kita harus mendukung semua gerakan pemisahan diri atau separatis tanpamenganalisasi posisi kelasnya? Selanjutnya,apakah kita tidak harus mempertimbangkan kenyata-an bahwa sekarang sudah adagerakan rakyat yang sedang melan-carkan revolusi nasional demokratis? Kitaberusaha mempersatu-kan seluruh rakyat dari semua suku bangsa dan agama sertakepercayaan dan melibatkannya dalam proses ini. Kontradiksi pokok di Indonesiaadalah antara rakyat dengan rezim Jokowi-JK yang mewakili tuan tanah besar,kaum borjuasi birokrat dan komprador dan imperialism. SELURUH RAKYAT INDONESIApunya musuh yang sama, yaitu kapitalisme birokrat dan imperialisme. Apakahrakyat Papua tidak menghadapi perampasan tanah, pembangunan megaproyekinfrastruktur dan pertambangan besar yang mengancam kelanjutan hidup dan matapencahariannya? Ini yang dikatakanpendeta John Djonga dalam sebuah diskusi: ”..daerah yang dibanjiri pendatangbaru adalah Keerom. Dari segi pendidikan, kesejahteraan, kesejahteraan ekonomi,Keerom sangat diabaikan. Mayoritas orang Arso di Keerom sudah tidak punya tanahlagi. Perusahaan kelapa sawit (PTPN II) melakukan penipuan. Mereka bilangmau ambil 5000 hektar tapi yang diambil 50.000 hektar”. Andre Barahamindalam wawancaranya yang terakhir dengan “Green Christian” mengatakan:” Di Papua misalnya. Gereja menguasai tanah-tanahmilik orang asli yang proses penguasaan tanahnya begitu lekat denganmanipulasi. Sebab, ada relasi yang tidak setara antara gereja dengan warganya.Warga gereja dituntut harus submisif sehingga berpengaruh pada mandulnya dayakritis di tengah masyarakat. Belum lagi menyoal bagaimana para pendeta danpastur adalah orang-orang yang apolitis dan dungu. Mereka yang memandangKekristenan semata-mata sebagai urusan spiritual: surga-neraka belaka.Akibatnya, persoalan-persoalan esensial seperti konflik agraria tampak menjaditidak penting.” Dengan situasi perampasan tanah dan konflik tanah di Papua, apakah tidakseharusnya rakyat Papua juga berjuang untuk reform agraria sejati, sepertisaudara-saudara suku bangsa lain di pulau-pulau lainnya? Apakah “pembebasan Papua Barat” tidak mengalihkanperhatian rakyat Papua dari masalah sosial dan ekonominya, dari masalahperjuangan kelas? Apakah ini tidakmenciptakan hambatan serius kepada usaha mempersatukan rakyat dari semua sukubangsa. GSBI sudah ada diPapua sekarang. Apakah kita tidak harus mempertimbangkan apa yang ditulis Stalin dalam“Marxisme dan Masalah Nasional”? “Suatu bangsa punya hak untukmengatur kehidupannya secara otonomi. Ia bahkan punya hak untuk memisahkandiri. Namun ini tidakberarti di bawah semua kondisi itu harus diterapkan, bahwa otonomi ataupemisahan diri di mana-mana dan selalu akan menguntungkan bagi bangsa, artinyabagi mayoritas, yaitu lapisan rakyat pekerja. OrangTatar Transkaukasus,sebagai bangsa, mungkin berkumpul , katakanlah, di Majelis dan dipengaruhi olehgubernur dan mullah, mengambil keputusan untuk kembali ke orde lama danmemisahkah diri dari negara. Menurut pasal tentang menentukan nasib sendiri,mereka sepenuhnya punya hak untuk melakukannya. Tetapi apakah ini sesuai dengankepentingan lapisan rakyat pekerja bangsa Tatar? Dapatkah Sosial-demokrasi(maksudnya Partai Bolshewik) bermasa bodoh ketika gubernur dan mullah mengambil kepemimpinan terhadap massa dalammemecah-kan masalah nasional?” Berdasarkan pada apa yang dikatakanStalin, apakah kita tidak harus memeriksa watak kelas dan program dariorganisasi-organisasi Papua yang berjuang untuk memisahkan diri? Tidakkahseharusnya kita mempertanyakan bahwa banyak dukungan untuk “pembebasan PapuaBarat” datang dari pemerintah (seperti Vanuatu, Pulau Solomon, Fiji, Australia) dan organisasi serta tokoh politik, anggota Parlemen yang tidak dapatdikategorisasi sebagai anti imperialis? Tanggal 10 Januari, 2017,wartaplus.com memberitakan “Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yangberjuang untuk hak menentukan nasib sendiri untuk rakyat dan bangsa PapuaBarat”. Diantara poin-poin penting yang dikemukakan oleh Jenderal GoliathTabuni adalah seruannya kepada Negara-negara pendukung pembebasan PapuaBarat agar mendesak PBB supaya mintakepada basis militer AS di Darwin, Australia untuk mengirim pasukannya sebagai“penjaga perdamaian”. Apakah kalian mengharapkan rakyat Indonesia untuk percayapada “penjaga perdamaian” AS atau PBB? Ingatlah pengalaman perjuangan rakyatAfrika Selatan untuk emansipasinya. Bahkan Mandela dan ANC tidak mendatangkanmasyarakat yang lebih baik bagi rakyat pekerjanya. Mereka hanya menggantikanelit berkulit putih dengan elit kulit hitam. Apakah kita akan mengantar kelasistimewa dari masyarakat Papua ke panggung kekuasaan, menggantikan borjuasibirokrat dan komprador Indonesia (dari suku bangsa lain) dengan borjuasibirokrat dan komprador suku bangsa Papua? Selanjutnya Stalin menulis: “Solusi apa yang paling kompatibeldengan kepentingan massa pekerja? Otonomi, federasi atau pemisahan diri? Semua ini adalah masalah yang pemecahannya tergantung pada kondisisejarah kongkrit di mana bangsa itu hidup. Pemecahan masalah nasional hanyamungkin kalau dihubungkan dengan kondisi sejarah dalam perkembangannya. Kedua, dan ini adalah poin yang pokok, masalah pokok dalam kehidupanpolitik Rusia bukanlah masalah nasional tapi masalah agraria. Oleh karena itu, nasib persoalanRusia dan dengan demikian juga “pembebasan” dari bangsa-bangsa di Rusia terikatdengan pemecahan masalah agraria, yaitu penghancuran sisa-sisa feodalisme,yaitu demokratisasi negeri ini. Itu menjelaskan mengapa di Rusia masalah nasional bukan masalah yangindependen dan menentukan, tapi merupakan bagian dari masalah umum dan lebihpenting yaitu emansipasi negeri . Tetapi jelas bahwa masalah nasionaldi Rusia seluruhnya berada di tingkat lain. Bukan masalah nasional, tapi masalah agraria yangmenentukan kemajuan di Rusia. Masalah nasional adalah masalah yangtersubordinasi.” Saya tidak mengusulkan agar kita menjiplak secara dogmatis pengala-mandi Rusia. Tapi, tidak adakah persamaan dalam masalah pokok yang dihadapi rakyatRusia ketika itu dengan masalah pokok yang dihadapi rakyat Indonesia sekarang,terlepas dari suku bangsa mereka? Masalah agraria! Masalah tanah! “Bukan masalah nasional tapi masalah agrariayang menentukan nasib kemajuan di Rusia. Masalah nasional adalah masalah yangtersubordinasi”. Tidakkah kita lihat bahwa di Indonesia masalah pokok yangdihadapi rakyat sekarang adalah perampasan tanah, pembangunan megaproyekinfrastruktur dan pertambangan? Tuntutan Front Perjuangan Rakyat adalah reformagraria sejati. Apakah tidak jelas bahwa masalah “Pembebasan Papua Barat”merupakan masalah yang tersubordinasi? On Sunday, March 25, 2018 7:40 AM, "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Atas dasar apa Papua tidak boleh merdeka? On Sat, Mar 24, 2018 at 8:22 PM, Tatiana Lukman <[email protected]> wrote: Kalau dalam hubungannya dengan pelanggaran HAM, demo di manapun di dunia ini terhadap pemerintah, saya anggap positif. Tapi kalau untuk mendukung Papua Merdeka, nah, lain lagi soalnya. Silahkan orang-orang bule itu mempelajari dulu fakta sejarah Indonesia dengan benar. Jangan hanya mengulangi tuduhan "Indonesia menganeksi Papua" yang sama sekali tidak menghiraukan fakta sejarah. Kemudian juga belajar bahwa kasus Timor timur sama sekali berbeda dengan papua. Timor timur bukan jajahan Belanda. Dalam kasus Timor timur, Indoensia fasis suharto mengagresi dan menganeksi TT. On Saturday, March 24, 2018 7:32 PM, "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: Seperti dulu untuk kasus pelanggaran HAM di Timor Timur di New Zealand ada komite solidaritas untuk Papua, jadi tidak mengherankan kalau mereka demostrasi. Di New Zealnd orang bebas berdemonstarsi solidaritas seperti di Jakarta demonstasi untuk Palestina. #yiv9791226233 #yiv9791226233 -- #yiv9791226233ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp #yiv9791226233hd {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp #yiv9791226233ads {margin-bottom:10px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp .yiv9791226233ad {padding:0 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp .yiv9791226233ad p {margin:0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mkp .yiv9791226233ad a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ygrp-lc #yiv9791226233hd {margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ygrp-lc .yiv9791226233ad {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233actions {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity span {font-weight:700;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity span:first-child {text-transform:uppercase;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity span span {color:#ff7900;}#yiv9791226233 #yiv9791226233activity span .yiv9791226233underline {text-decoration:underline;}#yiv9791226233 .yiv9791226233attach {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;}#yiv9791226233 .yiv9791226233attach div a {text-decoration:none;}#yiv9791226233 .yiv9791226233attach img {border:none;padding-right:5px;}#yiv9791226233 .yiv9791226233attach label {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9791226233 .yiv9791226233attach label a {text-decoration:none;}#yiv9791226233 blockquote {margin:0 0 0 4px;}#yiv9791226233 .yiv9791226233bold {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9791226233 .yiv9791226233bold a {text-decoration:none;}#yiv9791226233 dd.yiv9791226233last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9791226233 dd.yiv9791226233last p span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9791226233 dd.yiv9791226233last p span.yiv9791226233yshortcuts {margin-right:0;}#yiv9791226233 div.yiv9791226233attach-table div div a {text-decoration:none;}#yiv9791226233 div.yiv9791226233attach-table {width:400px;}#yiv9791226233 div.yiv9791226233file-title a, #yiv9791226233 div.yiv9791226233file-title a:active, #yiv9791226233 div.yiv9791226233file-title a:hover, #yiv9791226233 div.yiv9791226233file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9791226233 div.yiv9791226233photo-title a, #yiv9791226233 div.yiv9791226233photo-title a:active, #yiv9791226233 div.yiv9791226233photo-title a:hover, #yiv9791226233 div.yiv9791226233photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9791226233 div#yiv9791226233ygrp-mlmsg #yiv9791226233ygrp-msg p a span.yiv9791226233yshortcuts {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9791226233 .yiv9791226233green {color:#628c2a;}#yiv9791226233 .yiv9791226233MsoNormal {margin:0 0 0 0;}#yiv9791226233 o {font-size:0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233photos div {float:left;width:72px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233photos div div {border:1px solid #666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233photos div label {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233reco-category {font-size:77%;}#yiv9791226233 #yiv9791226233reco-desc {font-size:77%;}#yiv9791226233 .yiv9791226233replbq {margin:4px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-actbar div a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg select, #yiv9791226233 input, #yiv9791226233 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg pre, #yiv9791226233 code {font:115% monospace;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-mlmsg #yiv9791226233logo {padding-bottom:10px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-msg p a {font-family:Verdana;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-msg p#yiv9791226233attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-reco #yiv9791226233reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ov li {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-sponsor #yiv9791226233ov ul {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9791226233 #yiv9791226233ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none !important;}#yiv9791226233
