https://dunia.tempo.co/read/1073079/eksklusif-hendromartono-setengah-abad-jadi-eksil-di-azerbaijan?
BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_5
EKSKLUSIF: Hendromartono, Setengah Abad Jadi
Eksil di Azerbaijan
Reporter:
Ahmad Rafiq (Kontributor)
Editor:
Maria Rita Hasugian
Minggu, 25 Maret 2018 15:15 WIB
0 komentar
<https://dunia.tempo.co/read/1073079/eksklusif-hendromartono-setengah-abad-jadi-eksil-di-azerbaijan?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_5#comments>
00214
#
#
#
#
RM Hendromartono lahir dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia,
menghabiskan setengah abad hidupnya sebagai eksil Azerbaijan.
<https://statik.tempo.co/data/2018/03/25/id_693344/693344_720.jpg>
RM Hendromartono lahir dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia,
menghabiskan setengah abad hidupnya sebagai eksil Azerbaijan.
*TEMPO.CO*, *Solo* - Raden Mas Hendromartono, demikian namanya, biasa
dipanggil Hendro. Pria yang lahir dua tahun sebelum kemerdekaan itu
menghabiskan setengah abad hidupnya sebagai eksil diAzerbaijan
<https://www.tempo.co/tag/azerbaijan>.
Masa kecil Hendro dihabiskan di Kampung Joyontakan, Solo, Jawa Tengah.
Menilik gelar Raden Mas di depan namanya, menunjukkan dia masih
keturunan ningrat. Keluarganya hidup berkecukupan, sehingga Hendro bisa
memperoleh pendidikan yang cukup layak.
Baca: Tokoh Eksil Indonesia, Ibrahim Issa, Tutup Usia
<https://nasional.tempo.co/read/754534/tokoh-eksil-indonesia-ibrahim-issa-tutup-usia>
Pada tahun 1962, Hendro berhasil menyelesaikan pendidikannya di Sekolah
Menengah Atas St Yosef, salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di
kota itu. "Setelah lulus, dapat tawaran beasiswa untuk kuliah di Rusia,"
katanya saat ditemui di rumahnya, Kamis 23 Maret 2018.
Tawaran beasiswa itu berasal dari Departemen Perindustrian Dasar dan
Pertambangan (Perdatam). "Pada masa itu Bung Karno memang banyak
menyekolahkan siswa-siswa berprestasi ke luar negeri," katanya. Hendro
merupakan salah satu siswa yang beruntung dan berhasil lolos seleksi.
Tidak lama, berangkatlah Hendro bersama sekitar 60 lulusan SMA yang lain
dari berbagai daerah ke Rusia. Mereka digembleng pelajaran Bahasa Rusia
selama empat bulan. Baru setelahnya, mereka dikirim ke beberapa
universitas, sesuai minat, bakat dan kebutuhan.
"Saya dikirim ke Azerbaijan," katanya. Dia ditempatkan di kampus yang
cukup mentereng, Institut Minyak dan Kimia, yang sekarang bernama
Azerbaijan State Oil Academy. "Indonesia saat itu memang sedang
membutuhkan ahli-ahli di bidang perminyakan," ujar Hendro.
Baca: Para Eksil Tragedi 1965 Rayakan HUT RI ke-70 di Belanda
<https://nasional.tempo.co/read/692534/para-eksil-tragedi-1965-rayakan-hut-ri-ke-70-di-belanda>
Saat itu, Azerbaijan memang dikenal sebagai sebuah kota penghasil
minyak. Hasil ladang minyaknya bahkan mampu memenuhi kebutuhan energi
bagi Uni Sovyet. Selain banyak perusahaan perminyakan, perguruan tinggi
di daerah itu juga banyak membuka program studi perminyakan.
Hendro dan puluhan kawan-kawannya yang berasal dari Indonesia mengikuti
perkuliahan dengan lancar. Bahkan, mereka sempat melompat dari tingkat I
hingga tingkat III lantaran sebagian mata kuliah sudah dikuasai sejak
masih semasa SMA.
Konsentrasi kuliahnya kemudian terganggu saat terjadi gejolak politik
yang terjadi di Indonesia, yakni dimulainya kekuasaan Orde Baru diawali
dengan penumpasan partai pendukung Sukarno yakni Partai Komunis
Indonesia (PKI). Kondisi itu memang membuat resah para mahasiswa
Indonesia di luar negeri yang identik sebagai orang-orang yang
disekolahkan Sukarno.
"Banyak dari mahasiswa yang ditangkap begitu pulang ke Indonesia,"
katanya. Kondisi itu membuat para mahasiswa yang berada di luar negeri
memilih tidak pulang. "Apalagi kami yang sekolah di negara-negara
komunis," katanya.
Baca: Ini Kerinduan Para Eksil Tragedi 1965 di HUT RI ke-70
<https://nasional.tempo.co/read/692550/ini-kerinduan-para-eksil-tragedi-1965-di-hut-ri-ke-70>
Beruntung, beasiswa bagi mereka masih tetap mengalir meski terjadi
pergolakan di tanah air. Mereka pun masih bisa tetap bisa melanjutkan
kuliahnya hingga selesai. Selanjutnya, mereka memilih untuk tetap
tinggal di luar negeri, menunggu situasi politik di Indonesia berubah.
Hendro, bersama beberapa kawannya kemudian bekerja di kampus tempatnya
kuliah. "Bukan sebagai dosen, namun peneliti," katanya. Hendro juga
mendapatkan seorang istri warna negara setempat.
Hendro juga berstatus sebagai stateless karena semua dokumen
kependudukannya sudah kadaluwarsa. Beruntung, Azerbaijan merupakan
negara yang tidak membeda-bedakan kewarganegaraan. "Mendapat hak yang
sama seperti warna negara setempat, kecuali hak politik," katanya.
Barulah saat kekuasaan Orde Baru tumbang, Hendro berani kembali
berkunjung ke Indonesia. Dia bisa kembali mendapatkan kewarganegaraan
setelah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Undang Undang
nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan. Lantas, pada 2012, barulah
dia terbang dariAzerbaijan
<https://www.tempo.co/tag/azerbaijan> untuk menetap di kampung asalnya,
Joyontakan.