*Sudah lewat waktu love-love, tetapi barangkali perlu diketahui untuk masa
selanjutnya.*.

http://www.panjimas.com/remaja/2018/02/15/jangan-tergiur-valentines-day-yang-bikin-hidupmu-

hancur/
<http://www.panjimas.com/remaja/2018/02/15/jangan-tergiur-valentines-day-yang-bikin-hidupmu-hancur/>


Jangan Tergiur Valentine’s Day yang Bikin Hidupmu Hancur
<http://www.panjimas.com/remaja/2018/02/15/jangan-tergiur-valentines-day-yang-bikin-hidupmu-hancur/>

15 Feb 2018

<http://www.panjimas.com/remaja/2018/02/15/jangan-tergiur-valentines-day-yang-bikin-hidupmu-hancur/>



*(Panjimas.com)* – Sampai sekarang masih menjadi tradisi bagi anak negeri
untuk latah ikutan merayakan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari
yang mereka sendiri belum tentu tahu atau tidak mau tahu apa yang
melatarbelakangi lahirnya hari itu. Era digital saat ini menjadikan kid
jaman now semakin liar. Mereka teramat sangat disibukkan dengan berbagai
aktifitas duniawi yang tanpa mereka sadari telah meracuni diri.

Jikalau kalian tahu sebenarnya hajatan Valentine’s Day ini sama sekali
kagak nyambung dengan latar belakang sejarahnya. Nah,biar kalian agak
sedikit tercerahkan akan saya tarik kembali ke masa lalu dimana St.
Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Konon kabarnya gegara dia
memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Peristiwa itu
terjadi di kisaran tahun 273 Masehi. Berawal dari sinilah Valentine’s Day
dirayakan untuk menghormati pengorbanan St. Valentine itu. Bahkan dalam
versi yang lain, diceritakan bahwa orang-orang Romawi pada awalnya
merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang diberi
nama Lupercalia. Perayaan ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada
Juno (Tuhan  wanita dan perkawinan) serta  Pan (Tuhan dari alam ini)
seperti apa yang mereka percayai. Tahu nggak apa yang mereka lakukan? Pria
dan wanita berkumpul, kemudian saling memilih pasangannya lewat kado yang
telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya (tukar kado). Selanjutnya?
Hura-hura sampai pagi. Astaghfirullah.

Seiring waktu berlalu, upacara penghormatan terhadap berhala ini kemudian
dipindahkan oleh pihak gereja (yang waktu itu dikuasai agama Kristen yang
mulai menyebar di Romawi) menjadi tanggal 14 Februari. Bahkan tujuannya pun
dibelokkan bukan lagi menghormati berhala akan tetapi untuk menghormati
seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Acaranya pun bukan disebut
Lupercalia, tapi Valentine’s Day. Lebih parahnya lagi perayaan itu kemudian
disebut hari kasih sayang sedunia. Duuuhhh,,,tambah runyam, kagak jelas dan
semakin kagak nyambung juga kan?

Melihat fakta sejarahnya yang nyata-nyata bukan dari ajaran Islam, karena
Valentine’s Day adalah produk peradaban Barat dengan paham sekulernya,
yaitu memisahkan agama dari  kehidupan. Masihkah kalian ingin ikutan gabung
untuk merayakannya?

Ingatlah akan firman Allah SWT dalam QS. Al Isra’ ayat 36 yang artinya :

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya..
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai
pertanggung jawabannya.”

Begitu juga dengan firman Allah SWT dalam QS. Al Kahfi ayat 49 yang artinya
:

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang
yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan
mereka berkata, ” Betapa celakanya kami, kitab apakah ini, tidak ada yang
tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan
mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan
Tuhanmu tidak mendholimi seorang jua pun.”

Sudah nampak sangat mengerikan aktifitas Valentine’s Day yang dibalut
dengan sebutan hari kasih sayang ternyata adalah perzinaan. Perayaan  ini
biasa dilakukan oleh paramuda yang  tidak diikat tali pernikahan. Pastinya
akan menghancurkan hidupmu wahai paramuda generasi bangsa. Na’udzubillah
min dzalik.

Allah SWT telah memperingatkan dalam QS. Al Isra’ ayat 32 yang artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan yang
keji, dan suatu perbuatan yang buruk.”

Dalam sebuah kaidah syara’ disebutkan bahwa, “Hukum asal dari perbuatan
manusia adalah terikat dengan hukum syara’. ”

Jika kalian ingin melakukan suatu amal perbuatan maka ketahuilah hukumnya
dulu bukan main samber aja. Banyaknya orang sedunia yang ikut merayakan
Valentine’s Day bukan berarti bahwa kita sebagai seorang muslim legal juga
untuk ikut merayakannya. Hal ini dikarenakan tolok ukur (standart
perbuatan) seorang muslim bukan pada banyaknya orang yang melakukannya,
akan tetapi harus dikembalikan lagi kepada syari’at Allah SWT.

Jangan jadi generasi baper (bawa perasaan) yang mudah goyah oleh godaan
dunia yang akhirnya jatuh pada aktifitas kemaksiatan. Jadilah generasi
baper (bawa perubahan), agent of change yang mampu mendobrak dunia dengan
semangat perubahan agar syari’atNya terterapkan.[RN]



Penulis, *Rindoe Arrayah*

Kirim email ke