https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030
Selasa 27 Maret 2018, 11:12 WIB
Kolom
Misteri Indonesia 2030
Anis Matta - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#>
Anis Matta <https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#> Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#> Share
*0* <https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#> 15
komentar <https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#>
Misteri Indonesia 2030 Anis Matta (Foto: istimewa)
<https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#><https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#><https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#><https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030#>
*Jakarta* - Diskursus tentang kemungkinan Indonesia bubar pada 2030 yang
dipicu oleh buku /Ghost Fleet/ (2015) dan dikomentari oleh politisi dan
para tokoh Indonesia ini menarik. Saya ingin menggunakannya sebagai
momentum mengukur ketegangan geopolitik dunia dan prospek kekuatan
Indonesia. Apa yang akan terjadi masih misteri. Sejumlah pemikir
strategis memperkirakan 2030 adalah titik persilangan antara menurunnya
dominasi Amerika Serikat dengan menguatnya China di bidang ekonomi,
teknologi, dan militer. Jika tidak ada interupsi, maka China akan
menjadi negara adidaya nomor satu dunia.
Di atas kertas sebenarnya AS masih jauh lebih unggul dari China, dalam
hal ekonomi, teknologi, apalagi militer. Namun, yang dilakukan China
sekarang adalah memperkecil jarak, seperti pelari di nomor dua yang
sedang bekerja keras menyusul pelari pertama. Pada 2030 itulah
diperkirakan mereka akan berlari seiring. Dalam perspektif strategi
perang, ini berarti China akan siap dan mampu menghadapi AS jika terjadi
eskalasi konflik yang serius di Asia dan dunia.
*Masalah di Amerika*
Amerika Serikat memang masih unggul dalam banyak ukuran namun ia
sekarang tengah bergelut dengan krisis legitimasi para pemimpinnya serta
konflik elite yang berlarut-larut sejak awal proses pemilihan umum
hingga terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Krisis ini menyebabkan
AS tidak mampu melakukan mobilisasi sumber daya besar-besaran karena
tidak solidnya kekuatan-kekuatan domestik. Jika Amerika memutuskan pergi
berperang, hambatan pertama yang akan dihadapi adalah penolakan
besar-besaran dari rakyatnya sendiri.
Amerika juga sedang mencari bentuk kebijakan luar negerinya. Slogan
Trump "/Make Amerika Great Again/" dan "/America First/" membuatnya
berorientasi ke dalam (/inward looking/) dengan cakrawala yang sempit.
Faktor ini yang menyebabkan barisan Amerika tampak belum rapi di tengah
konflik global yang terus naik tensinya.
Menurunnya kemampuan Amerika melakukan mobilisasi besar-besaran juga
disebabkan menurunnya kekuatan ekonomi. Jika dulu "Barat" menguasai
sekitar 70-80% ekonomi global, kini tinggal sekitar 40% karena direbut
oleh Asia, khususnya China dan India.
Amerika juga masih limbung karena belum pulih dari terpaan krisis
ekonomi 2008. Krisis yang dimulai dari kredit macet sektor properti ini
berkembang hingga memukul jantung kapitalisme, pasar bebas, dan secara
khusus meruntuhkan kepercayaan kepada sistem keuangan global. Satu per
satu raksasa keuangan Amerika tumbang, mulai dari Bear Sterns, Lehman
Brothers, hingga AIG. Kemudian muncul krisis utang di Eropa yang
meluluhlantakkan Yunani dan merembet ke Irlandia, Portugal, Spanyol, dan
Siprus. Bersamaan itu, mulai timbul krisis gelombang pengungsi ke Eropa.
Amerika kehilangan legitimasi di Eropa. Ini tampak dari sikap beberapa
negara, salah satunya Kanselir Jerman Angela Merkel yang dengan tegas
menyatakan sudah waktunya Barat tidak lagi tergantung pada kepemimpinan
Paman Sam. Di dalam negeri, Amerika tidak bisa melakukan konsolidasi
elite untuk melakukan agenda-agenda besar.
Kembali ke /Ghost Fleet/, buku ini bisa dibaca sebagai /warning/ dan
provokasi agar Amerika segera melakukan interupsi ketika masih dalam
posisi unggul. Ada pihak yang tidak menginginkan Amerika nantinya harus
masuk ke suatu konflik-bahkan perang --yang tak mungkin dimenangkannya.
*Masalah di China*
Dengan segala glorifikasi sebagai keajaiban ekonomi dari Timur, China
bukan tanpa masalah. Setelah mencapai puncak pertumbuhan ekonomi 14,2
persen pada 2007, mulai 2015 hingga sekarang angka pertumbuhan China
selalu di bawah 7 persen dengan tren menurun. Negeri Panda ini belum
mendapat momentum lagi untuk menggenjot roda perekonomiannya. Padahal,
dalam bahasa yang sederhana, tidak mudah memberi makan sekitar 1,4
miliar manusia. Konsekuensi dari perlambatan ekonomi adalah menurunnya
penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan sehingga ancaman revolusi
sosial terus membayangi negeri itu.
Masalah kesenjangan ekonomi pun semakin banyak ditulis oleh media
internasional. Pada akhir 2016, /Forbes/ mengutip penelitian dari
Nanjing Agricultural University, menggambarkan China yang terbagi dua:
tujuh provinsi pesisir, yaitu Shanghai, Tianjin, Jiangsu, Zhejiang,
Guangdong, Shandong, dan Fujian serta bagian Inner Mongolia adalah
daerah berpendapatan tinggi; sementara daerah lain di pedalaman adalah
daerah berpendapatan rendah. Pendapatan per kapita di daerah pedalaman
hanya 60 persen dari mereka yang tinggal di daerah kaya. Tak heran ada
yang menyebut, kota-kota pesisir yang berkilau seperti Shanghai,
Guangzhou, atau Shenzhen tak ubahnya ruang tamu yang indah untuk
menyembunyikan ruang dalam yang sederhana.
Namun, Presiden Xi Jinping lebih mampu melakukan konsolidasi ke dalam,
terutama setelah konstitusi negeri itu menghapus masa jabatan presiden.
Ia tidak memiliki masalah legitimasi kepemimpinan dan konsolidasi elite
seperti yang dihadapi Trump. Xi juga lebih mampu mengendalikan
masyarakat sipil untuk konsolidasi agenda-agenda besar.
Konsolidasi kekuatan militer tampak dari belanja persenjataan yang terus
naik. Data resmi menunjukkan pada 2016 belanja militer China USD 146
miliar (Rp 1.900 triliun), naik 11 persen dari USD 131 miliar pada 2014.
Angka ini menempatkan China sebagai nomor dua persis di bawah AS. Dari
sisi industri pertahanan pun China telah menjadi eksportir senjata
terbesar nomor tiga dunia, memasok persenjataan ke 35 negara dengan
pembelian signifikan dari Pakistan, Bangladesh, dan Myanmar.
Dalam perspektif kritis, agenda Xi memperkuat militer juga bertujuan
mengantisipasi kemungkinan terjadinya pembelahan sosial yang tidak
terkendali. Konsolidasi elite juga dilakukan dengan memberangus
lawan-lawan politiknya melalui isu pemberantasan korupsi.
China dengan cerdas memanfaatkan hamparan kontinen Asia untuk memperkuat
posisi geopolitiknya melalui pembangunan jalan dan rel kereta serta
jalur pipa gas. Belajar dari Barat, China juga memperkuat dominasinya
dengan membentuk lembaga keuangan raksasa Asian Infrastructure
Investment Bank (AIIB) dengan 67 negara anggota, termasuk sejumlah
negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Jerman, dan Israel.
China mengadopsi kapitalisme untuk menggenjot pertumbuhan ekonominya,
tetapi masih menetapkan komunisme dalam sistem ideologi dan politiknya,
seraya menjaga jarak terhadap kapitalisme global. China bahkan mulai
masuk ke isu sensitif seperti Palestina-Israel dan konflik Suriah.
* * *
Mengikuti alur di atas, jika tidak ada interupsi, China akan menjadi
negara adidaya nomor satu di dunia. Interupsi yang mungkin terjadi
adalah krisis ekonomi dalam skala besar atau perang. Itulah misteri yang
baru akan terjawab pada waktunya. Lalu, di mana Indonesia di tengah
konflik yang memanas ini? Katakanlah, jika Laut China Selatan mengalami
eskalasi, apa yang bisa kita lakukan?
Lebih penting lagi, bisakah Indonesia menjadi faktor interupsi agar
perimbangan kekuatan dunia tetap terjaga sehingga usia perdamaian bisa
lebih panjang? Itu yang harus dijawab oleh para pemimpin. Jika bisa
mengelola semua potensi yang dimiliki, seharusnya Indonesia duduk di
meja utama perundingan dunia.
*Anis Matta* /pengamat politik internasional
/