https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?
_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788
Kamis 29 Maret 2018, 14:46 WIB
Kolom
Menghadapi Kolonialisme Data
Tri Wahyuni - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/33whyn>
Tri Wahyuni <https://connect.detik.com/dashboard/public/33whyn>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
Menghadapi Kolonialisme Data Foto: DW (News)
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3943217/menghadapi-kolonialisme-data?_ga=2.217638609.690097316.1522345788-1433343978.1522345788#>
*Jakarta* -
/Data Is not the new oil. It is the new land that is being rapidly
colonised by corporations with the means to exploit this new resource/.
Begitu kalimat Joseph Smith pertengahan tahun silam dalam tulisan /Data
is New Colonialism/.
Data kini tengah dieksploitasi secara besar-besaran oleh
industri-industri, perusahaan teknologi, dan bahkan partai politik. Dan,
sialnya sangat sedikit dari kita yang menyadari hal itu.
Kita menyerahkan detail informasi pribadi kepada platform-platform media
sosial, berbagai aplikasi, dan lain sebaginya tanpa membaca betul /Terms
and Conditions/ (Syarat dan Ketentuan). Kita terlalu malas barangkali
untuk membaca panjang lebar, dan secara tidak sadar telah melepaskan hak
atas privasi diri.
Kemudian kita sudah berada di bawah kontrol dan permainan kolonialisme
data. Ketika sedang berkeluh-kesah, berdebat dengan orang lain yang
berlainan paham, atau apapun status yang kita buat di media sosial, para
pengontrol data tengah merencanakan pemasaran produk, strategi kampanye
politik, dan industri baru.
Investigasi /New York Times/ menggambarkan, Cambridge Analytica tak
hanya mempermainkan penduduk Amerika, juga telah bereksperimen di luar
negeri, di negara-negara dengan aturan privasi lemah atau bahkan tidak
ada. Sebelum dunia gempar dengan kasus permainan Cambridge Analytica
dalam kampanye politik Donald Trump, lembaga ini telah melakukan studi
kasus di banyak negara di Afrika, Asia, Timur Tengah, Eropa, Amerika
Utara, Amerika Latin, dan Karibia.
/Facebook/, /Twitter/, /Google/, dan perusahaan teknologi lainnya dapat
dikatakan telah memfasilitasi atau memperkuat pekerjaan perusahaan
semacam Cambridge Analytica. Yang kemudian terlibat dalam meracuni
demokrasi di seluruh dunia.
Di Sri Lanka, /Facebook/ telah dituduh mengipasi ujaran kebencian yang
menyebabkan kerusuhan anti-muslim. Memaksa negara itu untuk melarang
media sosial setelah bentrokan yang menyebabkan sedikitnya dua orang
tewas (/The Guardian/, 7/3/2018). Tim PBB yang menyelidiki genosida di
Myanmar mengatakan, /Facebook/ digunakan untuk menyebarkan /vitriol/
terhadap muslim Rohingya (/The National/, 17/3/2018).
Pertempuran politik di Kamboja antara tokoh oposisi dan perdana menteri
otoriter negara itu atas tuduhan /like/ palsu di halaman /Facebook/
telah diajukan ke pengadilan AS (/The New York Times/, 9/2/2018).
Kelompok teroris yang bermarkas di Somalia, Al-Shabab, menyiarkan
serangannya di /Twitter/ terhadap Mal Westgate di Nairobi pada 2013
(/Telegraph/, 22/9/2013).
Apakah menggunakan informasi yang telah diberikan itu salah? Terlepas
ada atau lemahnya perlindungan data pribadi di suatu negara, kejadian
semacam ini telah membawa dampak yang berbahaya dan buruk sekali.
Para pengontrol data, dan merekayasa suatu hal terhadapnya sangat tak
etis berkata, /who's put that out/? Sebagaimana ujaran Mark Turnbull,
Direktur Pelaksana Cambridge Analytica melontarkan pertanyaan balik
ketika ditanya wartawan. Ini bukan sekedar soal telah diberikannya akses
informasi terhadap data tersebut.
Pertama, kasus seperti penargetan psikografis dalam bentuk game di
/Facebook/, yang kemudian mengantongi data pengguna, dan dimanfaatkan
untuk kepentingan politik jelas telah melampaui syarat dan ketentuan
penggunaan data.
Kedua, perlu rasanya diterangkan kepada pengguna bahwa data mereka
sangat berharga, dan berhati-hatilah saat pemberian akses informasi.
McKinsey Global Institute menyebutkan, nilai ekonomi data kini berada
pada urutan 3 triliun USD. Angka yang tak pernah terbayangkan sebelumnya
bagi kita saat mendapat layanan media sosial yang gratis itu.
Dengan metode Cambridge Analytica, Donald Trump sukses mengumpulkan
sekitar 80 juta USD dana kampanye lewat pemanfaatan data ilegal.
Sedangkan ia, sebagaimana catatan Komisi Pemilihan Federal AS, merekrut
lembaga itu pada pertengahan 2016 hanya dengan membayar sebesar 6,2 juta
USD. Sungguh eksploitasi data ini begitu menguntungkan para pengontrol,
dan merugikan pengguna.
Saat ini belumlah terang apa yang terjadi di Indonesia. Namun, Cambridge
Analytica dalam situs /web/-nya menyebutkan mereka telah dikontrak untuk
mengelola kampanye pemilihan salah satu partai politik utama Indonesia
setelah pemulihan demokrasi pada 1999.
Kampanye ini sangat kompleks dan diperlukan untuk menarik lebih dari 200
juta orang di 40 bahasa di kepulauan Indonesia. Dengan krisis keuangan
Asia baru-baru ini dan keberangkatan mantan penguasa, Cambridge
Analytica memainkan peran penting dalam mengelola emosi yang ada di
masyarakat.
Ini bisa menggemparkan jagat politik nasional bila juga diinvestigasi.
Terkait perlindungan data pribadi dari penggunaan tanpa izin,
Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)
mensyaratkan bahwa penggunaan setiap data pribadi dalam sebuah media
elektronik harus mendapat persetujuan pemilik data bersangkutan.
Setiap orang yang melanggar ketentuan ini dapat digugat atas kerugian
yang ditimbulkan. Setiap penyelenggara sistem elektronik wajib
memberitahukan secara tertulis kepada Pemilik Data Pribadi jika terjadi
kegagalan perlindungan rahasia Data Pribadi dalam Sistem Elektronik yang
dikelolanya.
*Tri Wahyuni* /peneliti Institute for Population and National Security
/
*(mmu/mmu)
*