http://www.mediaindonesia.com/read/detail/151970-paskah-dan-compassio
*Paskah dan Compassio*

Penulis: *Otto Gusti Dosen Filsafat Politik dan HAM di STFK Ledalero,
Maumere, Flores, NTT, Alumnus Doktor di Hochschule für Philosphie,
Muenchen, Jerman* Pada: Kamis, 29 Mar 2018, 00:05 WIB Opini
<http://www.mediaindonesia.com/opini>


PADA 24 Maret 1980 Oscar Romero, uskup agung dari El Salvador, mati
terkapar diterjang peluru aparat militer ketika sedang merayakan ekaristi.
Oscar Romero ialah seorang pemimpin agama Katolik di Amerika Latin yang
getol membela nasib kaum miskin dan terpinggirkan.

*Keberpihakan Oscar Romero*
Keberpihakannya pada orang-orang miskin dan tertindas telah mengganggu
rezim El Salvador yang korup dan otoriter pada waktu itu. Untuk solidaritas
tanpa kompromi itu Oscar Romero harus membayar dengan nyawanya. Di mata
para penguasa dunia yang lalim dan tamak, khotbah-khotbah Oscar Romero
dianggap sangat provokatif dan berbahaya.

“Saya mengutuk kekayaan, hak milik pribadi sebagai sebuah absolutum yang
tak terbantahkan. Awas, jika Anda berani menyentuh pagar tembok gheto
orang-orang kaya dengan tegangan listrik tinggi, Anda akan hangus
terbakar!" (Jon Sobriono, 2013)
Demikian cuplikan khotbah Oscar Romero mengkritik gaya hidup mewah
segelintir orang kaya yang tak peduli terhadap mayoritas rakyat miskin di
El Salvador. Mereka ialah orang-orang beragama yang saleh secara
ritualistik, tapi minus pertanggungjawaban sosial imannya.Oscar Romero juga
menelanjangi para penguasa politik El Salvador yang menutup mata terhadap
penderitaan rakyat dan berlaku kejam terhadap rakyatnya sendiri. "Penguasa
memanipulasi masa rakyat sebab mereka membiarkan orang banyak hidup dalam
kelaparan. Saya tak akan pernah merasa lelah mengkritik ketidakadilan,
penangkapan sewenang-wenang, penghilangan paksa, dan penyiksaan. Kekerasan,
pembunuhan, penyiksaan, membunuh orang dan melemparkan ke dalam laut,
melempar orang dari pesawat terbang adalah praktik-praktik dalam kerajaan
neraka." (Jon Sobrino, 2013)

Untuk sikap profetis dan keberpihakannya terhadap masyarakat El Salvador
yang menderita dan diperlakukan secara tidak adil, Oscar Romero akhirnya
menemukan ajal secara tragis diterjang peluru aparat militer yang gajinya
dibayar dari uang pajak rakyat. Ia yakin bahwa umat Allah menghayati
imannya dalam realitas historis, sosiopolitik, dan ekonomi yang penuh
pertentangan.

Beragama dan menghayati iman secara radikal di tengah dunia yang diwarnai
penindasan, tipu muslihat, korupsi, dan ketidakadilan sosial akan bermuara
pada konsekuensi yang sama seperti Yesus Kristus sendiri yang mati di kayu
salib.

*Misteri Paskah*
Dalam perayaan Paskah umat Kristen sejagat mengenang peristiwa penderitaan,
wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus guna membebaskan umat manusia dari
belenggu penderitaan dan dosa. Inti dari perayaan Paskah ialah cinta. Cinta
yang tanpa pamrih serta mengatasi kebencian dan kematian.

Misteri cinta yang dirayakan dalam peristiwa Paskah tidak bersifat
melankolis, tapi politis. Cinta itu mencapai puncaknya dalam peristiwa
penyaliban Yesus. Bagi para pemimpin agama dan politik Yahudi pada masa
itu, hidup Yesus dianggap sangat provokatif.
Provokasi Yesus tidak bersifat kategorial, tapi total. Bersifat total
karena bertumbuh dari sebuah inkarnasi ke tengah dunia yang dikuasai
kejahatan dan kegelapan dosa. Dalam dunia seperti ini tak mungkin Yesus
bersikap netral sebab bersikap netral berarti membiarkan kejahatan
berkuasa. Atas nama Kerajaan Allah yang berpihak terhadap yang menderita,
Yesus beroposisi terhadap kerajaan kekelaman.

Bagi Yesus, pax romana bukan gambaran dunia yang dikehendaki Allah. Yesus
senantiasa menentang kekuasaan yang lalim. Maka dalam kacamata hukum yang
berlaku masa itu, kematian Yesus bukan kekeliruan. Itu konsekuensi logis
dari radikalitas cara hidup dan inkarnasi ke tengah dunia yang bertentangan
dengan Kerajaan Allah.
Yesus ialah seorang figur kontroversial, bahkan provokatif. Hidupnya
mengganggu kemapanan para penguasa. Maka, ia dibenci dan dihukum mati.
Provokasi Yesus tidak bersifat artifisial untuk sebuah pencitraan, tapi
eksistensial sebab Yesus atas nama Allah yang membebaskan dan berpihak pada
orang-orang miskin membongkar berhala-berhala para ahli taurat, orang-orang
farisi, dan kaum saduki.

*Compassio*
Penyaliban dan kematian Yesus merupakan konsekuensi logis dari cara hidup
dan keberpihakan-Nya (compassio) yang radikal kepada orang-orang miskin dan
para korban ketidakadillan. Pewartaan dan praksis hidup Yesus adalah
ancaman besar bagi para pemimpin agama dan politisi masa itu.

Untuk konteks masyarakat Indonesia yang plural, penderitaan korban dan
sikap Yesus yang berpihak pada para korban seharusnya menjadi basis etika
hidup bersama. Penderitaan merupakan locus yang mempertemukan pelbagai
etnik, ideologi, agama, dan kepentingan yang menempati rumah Indonesia.

Di tengah kondisi bangsa yang kian jauh dari toleransi dan rentan akan
kekerasan, narasi penderitaan para korban harus menjadi titik pijak semua
agama dan kelompok ideologis untuk bersama mencari dan mengatasi akar
segala penderitaan dan persoalan ketidakadilan.
Pertanyaan para korban dapat menjadi basis koalisi agama-agama dan ideologi
demi menyelamatkan dan mendukung compassio sosial dan politik di dunia
dewasa ini. Compassio lebih dari sekadar empati. Ia adalah kemampuan untuk
mengambil bagian dalam penderitaan sesama, terutama sesama yang asing dan
menderita.

Penderitaan adalah otoritas moral tertinggi yang menjadi basis terakhir
setiap diskursus dan kriteria setiap konsensus (Bdk. JB Metz, 2008). Dalam
jaringan masyarakat global, protes atas penderitaan yang tidak adil
merupakan elemen yang mempertemukan dan mempersatukan pelbagai agama dan
kebudayaan. Setiap kebudayaan, agama, atau ideologi yang cukup serius
sekurang-kurangnya mencoba untuk memberi jawaban atas persoalan penderitaan
dan kejahatan.

Otoritas etis wajah para korban bergaung melampaui sekat-sekat ideologi,
agama, dan budaya. Bukan konsensus yang menciptakan otoritas etos,
melainkan otoritas batiniah sebuah etoslah yang memungkinkan dan memberi
pendasaran terhadap konsensus universal. Otoritas dimaksud adalah otoritas
para penderita, para korban ketidakadilan sosial yang terus berjuang
melawan absurditas mencari keadilan dan kebenaran di negeri para mafia dan
preman.

Kirim email ke