https://tirto.id/pergolakan-pemikiran-islam-keresahan-keresahan-ahmad-wahib-cGJD
31 Maret 1973
Pergolakan Pemikiran Islam:
Keresahan-Keresahan Ahmad Wahib
<https://tirto.id/pergolakan-pemikiran-islam-keresahan-keresahan-ahmad-wahib-cGJD>
Ilustrasi Ahmad Wahib. tirto.id/Gery
31 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
/Denyut islami. Pemikiran abadi selepas mati./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Bagaimana aku disuruh membenci kelompok
Kristen-Katolik. Aku pernah satu keluarga dengan mereka. Aku pernah tiga
tahun diasuh dan dididik oleh pastur. Aku pernah bertahun-tahun tidur,
bergurau, dan bermain bersama mereka,” sebut Ahmad Wahib dalam catatan
hariannya.
“Jadi, bagaimana mungkin aku bisa benci? Bayangkan lagi, aku pernah
diundang ke pesta Natal dan Paskah mereka,” lanjutnya seperti yang
tertulis dalam /Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib/
suntingan Djohan Effendi dan Ismet Natsir (2012: 30).
Saat masih menempuh studi di Yogyakarta pada pertengahan dekade 1960-an,
Wahib sempat menetap di Asrama Realino yang dikenal sebagai pencetak
kader Jesuit. Di rumah itu, selama tiga tahun ia diasuh oleh Romo H.C.
Stolk S.J. dan Romo Willenborg, juga kerap berinteraksi dengan para
penggiat Nasrani lainnya.
“Dalam pengalamanku, mereka semua, entah yang PNI, PKI, PSI, atau
Katolik ternyata tidak sejahat seperti pada (pikiran) teman-teman. Dalam
rumah-rumah orang Islam, aku melihat bayangan mereka yang jelek. Sedang
di rumah mereka sendiri, aku menyaksikan sendiri mereka bisa seperti
kita umumnya,” tulis Wahib (hlm. 31).
Baca juga:
* Berpulangnya Ulama Penggagas Islam Nusantara
<https://tirto.id/berpulangnya-ulama-penggagas-islam-nusantara-cmZ7>
* Willy Amrull Sang Pendeta, Adik Buya Hamka
<https://tirto.id/willy-amrull-sang-pendeta-adik-buya-hamka-clvm>
Wahib terkesan betul akan bimbingan dan kasih sayang dari kedua pastur
yang telah dianggapnya sebagai ayah itu. Romo Stolk dan Willenborg tulus
memberikan kasih sayang kepada Wahib meskipun berbeda keyakinan dengannya.
“Aku tak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukkan dua orang bapakku itu
ke dalam api neraka. Semoga tidak,” harap Wahib (hlm. 28).
Kemudian, ia pamit ke Jakarta dan menjadi calon reporter majalah
/Tempo/. Di ibu kota, pada 31 Maret 1973, tepat hari ini 45 tahun silam,
Ahmad Wahib meninggal dunia dalam usia yang masih muda, 30 tahun.
Pergolakan Batin Anak Kiai
Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, 9 November 1942. Ia berasal dari
keluarga santri yang sangat teguh dalam beragama. Ayah Wahib bahkan
seorang kiai yang memimpin pondok pesantren dan amat disegani serta
dikenal luas masyarakat.
Kendati begitu, sang ayah tidak terlalu membatasi pergaulan anaknya,
termasuk soal pendidikan. Wahib pun diizinkan menempuh sekolah umum.
Begitu pula saat ia ingin melanjutkan kuliah ke luar Madura, yakni di
Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Di Yogyakarta, Wahib tak hanya kuliah. Selain bergabung dengan Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), ia juga kerap terlibat dalam forum diskusi, salah
satunya yang digagas pada 1967 yakni “Lingkaran Diskusi Limited Group”.
Selain Wahib, anggota intinya ada Muhammad Dawam Rahardjo, Djohan
Effendi, Mukti Ali, dan lainnya.
Artawijaya dalam /Gerakan Theosofi di Indonesia/
<https://books.google.co.id/books?id=gGToDAAAQBAJ&pg=PA286&dq=ahmad+wahib&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwi8zMHZpIbaAhUD448KHeeRBEoQ6AEIRzAG#v=onepage&q=ahmad%20wahib&f=false>
(2010) mengibaratkan Lingkaran Diskusi ala Wahib dan kawan-kawan ini
seperti forum Selasa KIiwon yang digawangi Ki Hajar Dewantara, Ki Ageng
Suryomentaram, Ki Sutapa Wanabaya, dan para pemikir Jawa lainnya, pada
dekade kedua abad ke-20 (hlm. 286).
Baca juga:
* Hidup Bahagia ala Ki Ageng Suryomentaram
<https://tirto.id/hidup-bahagia-ala-ki-ageng-suryomentaram-cF81>
* Gaya Radikal Ki Hadjar Dewantara
<https://tirto.id/gaya-radikal-ki-hadjar-dewantara-cnsd>
Saban Jumat sore, Lingkaran Diskusi menggelar acara, biasanya bertempat
di rumah Mukti Ali. Tak hanya kalangan internal saja yang ikut.
Tokoh-tokoh macam Kuntowijoyo, Syamsuddin Abdulah, Deliar Noer, Nono
Anwar Makarim, W.S. Rendra, Lafran Pane, Niels Mulder, hingga James
Peacock, juga pernah diundang dan hadir.
Di kalangan rekan-rekannya, Ahmad Wahib memang cukup dikenal sebagai
sosok yang unik, kerap mengeluarkan pendapat yang tidak biasa. Mukti
Ali, yang sejak 1971 ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Menteri Agama,
menuturkan kesaksian terkait sosok Wahib di masa-masa itu.
“Dalam pembicaraan-pembicaraan di Lingkaran Diskusi, memang almarhum
Ahmad Wahib seringkali mengeluarkan pendapat-pendapat yang tidak biasa
didengar oleh banyak orang. Terutama yang berkaitan dengan masalah
agama,” cetus Mukti Ali dalam pengantar catatan harian Ahmad Wahib yang
pertama kali diterbitkan pada 1981 (hlm. ix).
“Kesan saya pada waktu itu,” lanjutnya, “almarhum (Ahmad Wahib) sedang
menghadapi pergulatan pikiran yang keras dalam proses pencariannya.”
Barangkali benar dugaan Mukti Ali. Ahmad Wahib kala itu sedang mengalami
pergolakan batin. Wahib tidak pernah menyangsikan dirinya sebagai
seorang Muslim, namun ia juga tidak serta-merta merasa di pihak yang
paling benar. “Tiap-tiap agama harus merasa bahwa dialah agama Allah.
Dialah yang universal dan abadi,” tulisnya.
“Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Buddha,
bukan Protestan, bukan westernis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan
inilah yang disebut Muslim,” urainya pula (hlm. 34).
Mati Muda di Ibukota
Ahmad Wahib meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta pada 1971.
Sebelumnya, ia memutuskan keluar dari HMI meskipun semula sangat aktif
bergiat di organisasi itu. Dalam catatan yang ditulisnya pada 21 Mei
1969, Wahib mengungkap alasan berpisah dengan HMI, yang tampaknya memang
ada perbedaan pandangan antara dirinya dan Djohan Effendi dengan anggota
HMI lainnya.
“Kata-kata Salman Karim atau Imaduddin dan kawan-kawan bahwa orang-orang
seperti saya dan Djohan (Effendi) sebetulnya tidak berhak ada di HMI,
adalah tidak begitu salah. Sebab sudah begitu lama garis yang ditempuh
HMI ini, terutama garis-garis yang ditempuh sejak awal 1967 sampai medio
awal 1969 ini, saya dan Djohan secara fundamental tak bisa menerimanya,”
tulis Wahib (hlm. 12).
Di Jakarta, Wahib kuliah lagi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF)
Driyarkara—studinya di UGM tidak selesai—sambil mencari pekerjaan.
Hingga akhirnya, ia mencoba peruntungan di majalah /Tempo/ sebagai calon
reporter.
Wahib sebenarnya tidak berniat berlama-lama menjadi jurnalis. Wahib
hanya ingin menjaga kualitas menulisnya, meskipun pada akhirnya ia
mengakui pekerjaan wartawan membuat otaknya semakin tumpul.
“Bagiku, pekerjaan wartawan mungkin tidak akan terlalu lama. Sekitar dua
tahun kiranya sudah cukup untuk meresapi suatu pengalaman dan menanamkan
kebiasaan menulis tanpa merusak mutu,” sebutnya (hlm. 361).
“Banyak hal-hal yang dulu hampir aku kuasai dengan baik, kini
seolah-olah barang asing setelah empat bulan aku menjadi wartawan. Tapi
apa hendak dikata. Aku mesti menekuni pekerjaan ini, (meskipun ada)
beberapa efek negatifnya,” imbuh Wahib.
Baca juga:
* Roestam Effendi: Penyair Pensiun yang Banting Setir jadi Politikus
<https://tirto.id/roestam-effendi-penyair-pensiun-yang-banting-setir-jadi-politikus-cElE>
* Jurnalis Lintas Zaman Rosihan Anwar
<https://tirto.id/jurnalis-lintas-zaman-rosihan-anwar-cmGs>
Memang benar, hanya sekitar dua tahun saja Wahib menjalani pekerjaan
wartawan—itu pun masih calon reporter. Pada 31 Maret 1973, Wahib
mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Wahib baru saja keluar dari kantor /Tempo/ malam itu. Di persimpangan
jalan Senen Raya-Kalilio, tiba-tiba muncul sebuah sepeda motor yang
dikendarai seorang pemuda melaju dengan kecepatan tinggi. Tabrakan pun
tak terelakkan. Wahib terkapar, bersimbah darah.
Beberapa gelandangan yang berada di situ bergegas menolongnya. Wahib
dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Namun,
kondisinya terlalu parah dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat
Cipto Mangunkusumo. Dalam perjalanan dengan ambulans, Ahmad Wahib
mengembuskan nafas penghabisan. Ia mati muda, wafat pada usia 30.
infografik mozaik ahmad wahib
“Hidup” Setelah Mati
Selama hidupnya yang relatif singkat itu, Ahmad Wahib sudah dikenal
sebagai sosok anak muda yang unik. Banyak pemikirannya yang dianggap
mengejutkan. Namun, itu hanya diketahui oleh sejumlah kalangan saja dan
tidak sampai menuai reaksi yang terlalu berlebihan karena memang belum
terpublikasikan secara luas.
Pemikiran Wahib hidup lagi justru beberapa tahun setelah wafatnya, pada
1981. Saat itu, Djohan Effendi, bersama Ismet Nasir selaku editor,
menyunting serta menerbitkan catatan harian Wahib yang menghimpun segala
pemikirannya, termasuk yang paling menohok.
Djohan mengakui, saat pertama kali mendengar kabar duka bahwa Wahib
meninggal dunia, ia langsung teringat catatan harian sahabatnya itu.
“Ketika saya bersama keluarga almarhum dan beberapa teman dari Tempo
membuka kamar yang disewanya di sebuah gang sempit di belakang Kebon
Kacang, catatan harian yang saya incar itu sudah tersusun rapi,” kenang
Djohan (hlm. xxiii).
“Aneh sekali,” lanjutnya, “seakan-akan Wahib sudah mempersiapkannya.
Juga tulisan-tulisannya sudah berbundel dengan baik dalam beberapa map.
Dengan seizin pihak keluarga, catatan harian Wahib beserta
tulisan-tulisannya itu saya bawa dan simpan. Catatan hariannya terdiri
dari 17 buku tebal dalam tulisan tangan.”
Setelah disunting sedemikian rupa, catatan harian Ahmad Wahib itu
kemudian diterbitkan dengan judul besar: /Pergolakan Pemikiran Islam/
<https://books.google.co.id/books?id=gGToDAAAQBAJ&pg=PA286&dq=ahmad+wahib&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwi8zMHZpIbaAhUD448KHeeRBEoQ6AEIRzAG#v=onepage&q=ahmad%20wahib&f=false>.
Kontroversi pun terpantik usai buku tersebut tersebar luas. Hingga kini,
buku itu masih diterbitkan ulang beberapa kali.
Ada yang pro dengan gaya berpikir Wahib, terutama dari kalangan
anak-anak muda, namun banyak pula yang kontra. Pemikiran Wahib rupanya
amat sulit diterima oleh sebagian kalangan, terutama orang-orang Islam,
seringkali muncul tudingan liberal bahkan sesat.
Baca juga:
* Tabariji, Sultan Ternate yang Terpaksa Pindah Agama
<https://tirto.id/tabariji-sultan-ternate-yang-terpaksa-pindah-agama-cBaS>
* Jalan Setapak Syekh Siti Jenar
<https://tirto.id/jalan-setapak-syekh-siti-jenar-cAMA>
Dalam keyakinannya, Wahib beberapa kali menunjukkan perhatian kepada
agama lain, dan sebaliknya, ia tidak jarang mengkritik Islam, bukan
dalam konteks ajaran, melainkan dalam hal penafsiran, atau kelakuan
sebagian orang Islam yang merasa dirinya (atau agamanya) paling benar.
Misalnya, Wahib menulis begini pada 16 September 1969: “Dalam gereja
mereka, Tuhan adalah pengasih dan sumber segala kasih. Sedang di masjid
atau langgar-langgar, dalam ucapan dai-dai kita, Tuhan tidak lebih mulia
dari hantu yang menakutkan dengan neraka di tangan kanannya dan pecut
api di tangan kirinya” (hlm. 29).
Atau begini, “Walaupun kita mengatakan diri kita seorang sebagai
penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai
Islam” (hlm. 3).
Masih seabrek pemikiran Wahib yang oleh sebagian orang dianggap
“menistakan” agamanya sendiri. Namun, Wahib berulangkali juga menegaskan
bahwa ia tetaplah beragama Islam, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha
Bijaksana dan sayang kepadanya.
Wahib menulis, “Kalau betul-betul Islam itu membatasi kebebasan
berpikir, sebaiknya saya berpikir lagi tentang anutan saya terhadap
Islam ini. Maka, hanya ada dua alternatif yaitu menjadi muslim sebagian
atau setengah-setengah, atau malah menjadi kafir” (hlm. 7).
“Namun,” tambahnya, ”sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa Tuhan
tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu
bertanya tentang Dia. Saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak
beku. Dia tak akan mau dibekukan.”
Dan, sampai matinya, Ahmad Wahib tetap seorang Muslim.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
<https://tirto.id/author/iswara?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Sosial Budaya)
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan