Di Balik Komentar Keras Prabowo, Cara Naikkan Elektabilitas?
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo 
Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10/2017). Fotografer 
Kepresidenan/Agus Suparto
2 April 
2018https://tirto.id/di-balik-komentar-keras-prabowo-cara-naikkan-elektabilitas-cG63
Merujuk hasil sigi sejumlah lembaga survei, elektabilitas Prabowo masih berada 
di bawah Joko Widodo yang merupakan presiden petahana.tirto.id - Ketua Umum 
Partai Gerindra Prabowo Subianto kembali mendapat perhatian setelah memberi 
komentar soal elite politik Indonesia. Prabowo menyindir elite politik yang 
dianggapnya goblok dan bermental maling.

Prabowo awalnya mempertanyakan kondisi kehidupan ekonomi rakyat Indonesia yang 
ia nilai tak kunjung membaik. Ia berpendapat kondisi ekonomi rakyat saat ini 
berbanding terbalik dengan kekayaan alam Indonesia.

“Jangan-jangan karena elite kita yang goblok atau menurut saya campuran itu. 
Sudah serakah, mental maling, kemudian hatinya sudah beku. Tidak setia pada 
rakyat, hanya ingin kaya di atas penderitaan rakyat,” kata Prabowo.

Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) itu 
juga menganggap elite politik di DKI Jakarta banyak yang gemar menipu. Ia 
mengklaim lebih suka bertatap muka dengan kader dan warga di daerah daripada 
bertemu elite.

Pidato Prabowo yang disampaikan di Gedung Serbaguna, Istana Kana, Cikampek, 
Jawa Barat, Sabtu (31/3/2018) itu mendapat tanggapan dari elite partai politik 
di Jakarta. Prabowo diminta menjelaskan lebih rinci tudingannya.

Permintaan itu seperti disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati 
Ali Assegaf yang meminta Prabowo menyebutkan langsung identitas elite yang ia 
singgung. Penyebutan harus dilakukan agar masyarakat tak menyamakan sikap semua 
elite.

“Siapa yang dikritik harus lebih jelas lagi sehingga tidak menimbulkan 
tanggapan negatif," kata Nurhayati.

Keinginan agar Prabowo menunjuk langsung elite yang ia sindir juga disampaikan 
Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media Ace Hasan Syadzily. Menurutnya, Prabowo 
seharusnya tak menuduh orang tanpa menyebut identitas jelas.

“Ini seperti mengeluarkan jurus mabuk yang tak jelas mau menembak siapa,” kata 
Ace kepada Tirto, Senin (2/4/2018).


Baca juga: Prabowo Alergi dengan Stasiun Televisi Berinisial "M"
Sengaja Beri Pernyataan Tanpa Data
Munculnya reaksi terhadap pidato Prabowo itu dinilai wajar ahli komunikasi 
politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio. Menurut Hendri, pidato yang 
disampaikan Prabowo bias data.

Hendri balik menduga pidato itu merupakan cara Prabowo mengerek popularitasnya. 
“Ini hanya sekadar pernyataan untuk meningkatkan popularitas. Jadi yang 
diharapkan perbincangan masyarakat dari statement ini," kata Hendri kepada 
Tirto. 

Analisis Hendri berdasarkan polemik pernyataan Prabowo sebelumnya yang menyebut 
Indonesia akan bubar pada 2030. Pernyataan kontroversial itu beredar di publik 
pada pertengahan Maret 2018 dan sempat disoalkan karena tak ada data penunjang. 
Belakangan terungkap data yang dipakai Prabowo berasal dari novel Ghost Fleet 
karya fiksi Peter W. Singer dan August Cole.

Menurut Hendri, pernyataan-pernyataan itu menunjukkan Prabowo sedang mengejar 
perhatian publik. “Mungkin ini strategi agar lebih terlihat. Lempar isu dulu, 
data menyusul,” ujar Hendri.

Pernyataan Hendri bisa jadi benar. Merujuk hasil sigi sejumlah lembaga survei, 
elektabilitas Prabowo masih berada di bawah Joko Widodo yang merupakan presiden 
petahana.

Hasil survei Saiful Mujani Research Institute yang dirilis awal Januari 2018, 
menunjukkan elektabilitas Prabowo sebesar 10,5 persen, sedangkan Jokowi ada di 
angka 38,9 persen.

Survei Indo Barometer menunjukkan elektabilitas Jokowi unggul 34,9 persen 
sedangkan Prabowo hanya 12,1 persen. Riset lain dari Polmark Research Center, 
dirilis 18 Desember 2017, elektabilitas Joko Widodo unggul 50,2 persen dan 
Prabowo Subianto hanya 22 Persen.

Survei terbaru yang dilakukan Populi Centre pada Februari 2018 menunjukkan, 
elektabilitas Prabowo berada di kisaran 15,4 persen kalah jauh dibandingkan 
Jokowi yang memeroleh 52,8 persen.


Baca juga: Survei: Elektabilitas Prabowo Menurun Jika Gerindra Belum Deklarasi
Menyerang Jokowi dengan Pendekatan Emosi Massa
Analis politik dari dari Populi Centre Rafif Pemenang Imawan menerangkan, 
pernyataan Prabowo ini sebatas cara menarik simpati masyarakat dengan 
memanfaatkan sisi psikologis massa.

“Apa yang dipaparkan Prabowo tidak didasarkan pada pemahaman persoalan yang 
kuat. Ini ada kaitannya dengan elektabilitas dia,” ujar Rafif.

Alumnus Uppsala University ini melihat perubahan gaya komunikasi politik 
Prabowo yang menyentuh sisi psikologis massa mulai terjadi setelah kemenangan 
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Rafif menyebut pendekatan ini memang tak salah, hanya saja kebiasaan menyentuh 
dimensi emosi dibanding akal sehat dianggap tak berdampak positif terhadap 
perkembangan demokrasi.

Ia menduga, Prabowo kesulitan mencari kesalahan pemerintah sehingga akhirnya 
menggunakan pendekatan berbasis psikologis massa. “Prabowo belum menemukan 
titik masuk yang kuat untuk mengkritik pemerintah. Oleh karenanya dimensi emosi 
lebih banyak dimainkan,” ujar Rafif.

Apa yang dikatakan Prabowo, kata Rafif, bertumpu pada satu simpul. Prabowo 
sedang berusaha membawa pandangannya tentang ekonomi Indonesia yang sedang 
terpuruk ke tengah masyarakat.

“Ini titik tumpu dari banyak pengkritik kebijakan Jokowi. Ini simbolik 
sebenarnya, karena bagaimanapun juga, elite politik di Indonesia berkumpul di 
Jakarta," kata Rafif.


Baca juga: Elektabilitas Jokowi Selalu Tinggi, Siapa Mau Jadi Wapresnya?
Pemilihan Diksi Cerminkan Kualitas Prabowo

Pakar komunikasi politik dari Universitas Brawijaya Anang Sujoko punya 
penilaian lain terhadap pidato Prabowo. Menurut Anang, pemilihan kata dalam 
komunikasi politik yang dilakukan seseorang mencerminkan integritas dan 
kredibilitasnya.

Dalam konteks Prabowo, ia menduga politikus Gerindra itu kerap menggunakan 
diksi "keras" karena kebiasaannya di masa lalu.

"Kebiasaan dia di korpsnya dulu mungkin seperti itu. Begitu dia sudah keluar 
[militer] dan masuk dunia politik, saya pikir diksi yang digunakan kurang pas," 
ujar Anang.

Peraih gelar Doktor Komunikasi dari University of South Australia itu menilai, 
kemampuan Prabowo untuk berbicara di depan umum tidak terlatih. Ia dianggap 
memiliki cara berbicara yang bagus, namun tak pandai memilih kata.

Jika cara berbicara Prabowo tak diperbaiki, Anang memprediksi itu akan 
berpengaruh terhadap penerimaan publik terhadapnya. Menurutnya, bukan tidak 
mungkin masyarakat akan menilai negatif Prabowo karena gemar menggunakan 
kata-kata yang 'keras'.

"Di satu sisi mungkin loyalisnya jadi semakin kuat, tetapi pada lawan politik 
akan semakin panas. Kemudian [masyarakat] yang floating bisa jadi menilai 
negatif Pak Prabowo," kata Anang.


Baca juga: Belum Ada Kepastian Prabowo akan Maju Lagi di Pilpres 2019
Pembelaan Gerindra
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan pernyataan Prabowo soal 
elite merupakan hal wajar. Ia menyebut Prabowo hanya menyampaikan kritik atas 
elite yang tak bertugas sesuai harapan masyarakat.

Fadli tak menyebut secara jelas siapa elite yang ia dan Prabowo maksud. Ia 
hanya berkata, pidato Prabowo dianggap mengandung pesan agar elite segera 
memperbaiki kehidupan masyarakat dan menunaikan janji-janjinya.

Ia menyebut, ada salah satu elite politik yang berjanji tak akan melakukan 
kebijakan impor tapi kemudian melanggarnya. “Banyak janji-janji itu yang bagus 
tapi jangan hanya tinggal janji gitu. Misalnya [janji] tidak akan impor tapi 
akhirnya melakukan impor,” ujar Fadli.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Lalu 
Rahadian

(tirto.id - Politik) 

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Mufti Sholih

Kirim email ke