From: Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45] 
Sent: Friday, April 6, 2018 11:07 PM


Faisal Basri: 
RI Utang Banyak Bukan untuk Infrastruktur
Far

--------------------------------------------------------------------------------


kumparanBISNIS
Selasa 03 April 2018 - 08:47

Faisal Basri di diskusi Menakar (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengkritik penggunaan utang luar negeri 
pemerintah yang selama ini dinarasikan untuk menggenjot pembangunan 
infrastruktur. Padahal, menurut data yang ia kumpulkan, utang luar negeri 
paling banyak digunakan untuk belanja pegawai.
Menurut datanya, proyeksi belanja pegawai pada 2018 adalah sebesar Rp 366 
triliun, atau naik 28% sejak 2014. Sementara di posisi kedua adalah belanja 
barang sebesar Rp 340 triliun atau naik 58% sejak 2014. 
Sementara infrastruktur, yang masuk dalam kategori capital, berada di urutan 
ketiga yakni sebesar Rp 204 triliun atau naik 36% sejak 2014.
"Infrastruktur itu paling banyak dibiayai dari utang BUMN, yang tidak masuk 
dalam kategori utang yang direncanakan," katanya di Kampus Universitas 
Indonesia Salemba, Jakarta, Selasa (3/4).
Proyek-proyek besar, menurutnya, kebanyakan dilakukan dengan penugasan kepada 
BUMN. Sebagian kecil dimodali dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) dan 
selebihnya BUMN disuruh mencari dana sendiri.
"Beberapa BUMN pontang-panting membiayai proyek-proyek pemerintah pusat dengan 
dana sendiri sehingga kesulitan cash flow, mengeluarkan obligasi, dan pinjaman 
komersial dari bank. Selanjutnya, BUMN menekan pihak lain dengan berbagai 
cara," katanya.
Sementara pengeluaran modal untuk sosial malah menurun sebesar 44% sejak tahun 
2014. Proyeksi expenditure untuk sektor ini adalah sebesar Rp 81 triliun pada 
2018.
"Kita termasuk negara dengan social safetiness terburuk se-Asia Pasifik," 
katanya.
Data Bank Indonesia hingga akhir Januari 2018 menunjukkan utang luar negeri 
Indonesia meningkat 10,3% (year on year/yoy) menjadi USD 357,5 miliar atau 
sekitar Rp 4.915 triliun (kurs: Rp 13.750). Rinciannya, Rp 2.521 triliun utang 
pemerintah dan Rp 2.394 triliun utang swasta.

Kirim email ke